Oleh :
Ledwina Eti Wuryani
Tuhan merangkai hidup ini tak seindah
apa yang kita pikirkan. Tak sepahit yang kita bayangkan. Tuhan merajut kita
dengan kasih yang besar. Tapi Tuhan kadang menguji kita. Tangis dan senyum sudah biasa ada disetiap kita. Teruslah
menebar kebaikan agar bermanfaat bagi sesama.
Umur
6 tahun saya dimasukkan oleh ibuku di SD
Kanisius Kamal. Sekolah kampung yang jaraknya
3 km. Saat itu jalan masih tanah belum diaspal . Setiap hari ke sekolah dan
hari minggu yang libur. Anak sekolah lugu, polos tak beralas kaki. Untuk
menghemat waktu menuju sekolah lewat
jalan pintas. Yaitu lewat pematang sawah. Saat itu kita ke sekolah tidak
diwajibkan pakai sepatu. Maklum orang kampung. Tapi kami tetap percaya diri saja. Hehe… karena panas sudah biasa pulang sekolah mandi
rame-rame bersama kawan. Ditengah perjalanan pulang kami melewati
sungai besar dan airnya jernih. Dengan
polosnya dan tanpa malu-malu saat itu
kami mandi. Kalau ingat jadi merasa lucu sendiri.
Bapak
saya adalah seorang guru PNS, ibu di rumah saja. Kami ada sawah peninggalan
nenek, jadi ibu kerja sawah sebagai petani. Kegiatan sampingan bapak adalah
ketua Seni Budaya Jawa. Di rumah kami punya
seperangkat gamelan (musik Jawa: red). Jadi setiap semimggu 2 kali,
yaitu Senin dan Kamis rumah kami dipakai untuk kerawitan. Nama kelompoknya
adalah Eko Budaya. Disitu kegiatannya adalah : menabuh gamelan, Ketoprak dan
tarian Jawa.
Saya
adalah anak pertama dari 4 bersaudara. Dari situ tersalurlah hobi saya yaitu
menari. Bapak, ibu dan adik saya tak suka menari. Untuk menyalurkan hobiku, tak
tanggung-tanggung bapak menyewakan 3 guru
tari padaku. Yaitu Pak Darman, Pak Sastro kayat dan Mbak Budi mereka datang
bergantian dengan tarian yang berbeda, seminggu 2 kali. Tak heran kalau aku
menguasai banyak tarian, antara lain Tari Gambyong, tari Sri Rejeki, tari
gambir anom, tari Bondan, Seto Kumitir,
Minak Jinggo Dayun, klana topeng dan lain-lain. Aku biasa ngajak teman-temanku di kampung ikut belajar menari bersamaku.
Di
Sekolah juga ada latihan menari. Tapi seminggu sekali, waktupun sangat terbatas
hanya 2x35’ JP per minggu. Dengan begitu
teman-teman tak bisa menguasai tarian
dengan baik. Ibu guru tari tahu kalau aku sudah menguasai banyak tarian. Bapak
kepala sekolah menyuruh aku untuk melatih teman-teman. Itulah rasa banggaku muncul. Masih kecil sudah jadi guru
temanku sendiri. Lebih bangganya temanku ada yang mbayar sama aku saat itu Rp
25,- per orang. Sebenarnya sukarela saja tidak diwajibkan. Aku malu tapi mau
saja. Hihi… karena mereka bayar ya aku terima. Hitung-hitung untuk bantu beli bensin genzet atau cas accu untuk tape recorder.
Pada
jaman dulu dikampung listrik belum ada. Saat
di kampung yang punya TV baru di rumah saya. Masih kuingat, kalau malam akan
ada acara Ketoprak Roro Jonggrang atau Aneka Ria Safari. Dari siang para
tetangga terkhusus yang sudah lanjut sudah menyiapkan tempat untuk nonton
malam. Kebetulan rumah kami luas. Rumah
peninggalan Kakek. Kata orang kakek adalah pedagang tembakau yang sukses jadi
bapak yang mewarisi rumahnya, karena bapak anak bungsu. Pakde (kakak dari
bapak) juga sudah ada rumah masing-masing.
Lanjut
ceritaku saat itu selain aku kecil jadi guru menari juga sering diundang menari
saat ada hajatan. Ada yang menikah, acara syukuran. Acara perpisahan di kantor atau sekolah. Yang jelas
itu yang bikin aku senang karena di pesta pasti makan enak kalau pulang diberi amplop pula. Betapa bahagianya, uang
bisa kutabung untuk beli barang-barang kebutuhanku yang aku suka. Bapak dan ibu
tak pernah mengganggu uangku. Aku disuruh menyimpan sendiri. Sayang foto-foto menari saat itu sudah rusak. Kami
tinggal dekat lereng gunung merapi. Daerahnya dingin dan lembab jadi foto-foto atau dokumen cepat rusak. Coba saat itu sudah ada fb atau You tube pasti
bisa jadi kenangan. Selain bisa menari,
kami sekeluarga juga bisa menabuh
gamelan ( musik Jawa : red). Ada yang namanya gong, saron, bonang, kethuk, kendang,
siter dan lain-lain. Asyik deh saat itu.
Dari kecil kami sudah
dilatih untuk mandiri. Ibu kerja sawah, kami
rajin membantu. Ibu menanam padi, lombok atau sayuran. Saat panen kami yang jual. Baik ditetangga atau di
pasar. Nanti ibu memberi persen pada kami. Bapak dan pakde adalah perokok. Wah dari pada saya
disuruh-suruh beli terus. Akhirnya saya beli 1 slop isi 20 bungkus, rokok sigaret kretek 76 dan gudang garam. Dengan
demikian kalau bapak/pakde suruh beli rokok, ya kulayani punyaku.
Lumayan dapat untung.
Ibu petani ulung, ulet dan
tak kenal lelah. Jika saatnya padi akan panen, sebagai ucapan syukur pada Dewi
Sri ( dewi padi) biasa keluarga
mengadakan bancak’an. Kami masak nasi banyak , buat urap, jajanan pasar dan potong
ayam untuk buat sesajen. Kami keluarga
mengundang ‘kaum’ atau pendoa dan orang-orang disekitar untuk makan rame-rame makan
bersama. Berbahagia karena sudah mau panen padi. Tradisi ini dilestarikan
karena peninggalan leluhur katanya.
Yang paling membanggakan
saya saat SD ( Sekolah Dasar). Kami ( Eti, Rita, Edi, Rudi) anak kesayangan guru.
Kami yang selalu langganan jadi juara kelas. Hehe.. mungkin karena bapak saya juga guru kami jadi penurut.
Sampai sekarang kami masih ingat
persis guru SD kami. Bapak Supomo, Ibu Sri, Pak Maryatno , Pak
Dawud, pak Rabio Rismantoro. Beliau sudah sepuh sekali ( Usia lanjut) sekitar
80-an tahun tapi masih ingat jika kami
ketemu di gereja atau dimana saja. Aduuhh
itu adalah sebuah kebanggaan yang luar biasa. Kadang saya terharu hingga menitikkan air mata. Oh guru….
Saat masih kental, istilah guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Digugu
dan ditiru. Hormatku selalu hingga habis nafasku.
Dulu kecil sekitar umur 5
tahun saya masih ingat ada nenek-nenek yang usianya sudah lebih 100 tahun.
Nenek itu kurang diperhatikan oleh
keluarganya. Saya ingat sekali saya selalu datang menghampiri. Saya sering curi
nasi dan lauk dilemari. Hehe… ambil nasi tanpa ibu tahu. Saya bungkus rapi
dengan daun pisang yang kupetik di kebun
lalu kuantar mbah Sarmi. Mbah canggah.
Biasa sebut mbah itu. Kadang saya
antar uang hasil dari uang saku yang
kusisihkan. Saya duduk manis dan mendekat erat disamping mbah Sarmi itu.
Dia mengelus-elus kepala saya dan mbah itu selalu berkata: “ Tak
dongakke yo duk, mugo-mugo kowe sesuk
dadi cak apik, pinter, bojo bagus dan cukup uripmu”. Adem dan rasa damapi di
dalam dada. Waaahh… begitu senang dengan
doanya mbah itu. Yang jelas
setiap saya datang dia selalu memberikan doa restu untuk saya dan katanya
berjanji akan mendoakan masa depan saya.
Dengan begitu saya ‘yakin’ dengan ketulusan mbah Sarmi akan membawa hasil Nyata.
Benar saja, hidup
memang pasti tidaklah selalu mulus. Tapi
setidaknya berkat doa-doa orang terdekat kita tentunya membuat jadi semangat
menjalaninya. Ternyata doa dan rasa tenang dan bahagia itu memberikan dampak yang luar biasa dalam
kehidupan kita. Dengan menjalani hidup
selalu bersyukur membuat damai itu terasa ‘nyata’. Walaupun hidup itu banyak
cobaan, hambatan Tuhan akan selalu mendampingi, memberkati dan senantiasa
melindungi kita setiap saat.
Masih cerita kecil dulu,
sebagai cucu dari mbah Padmorejo. Saat
menghadapi bulan puasa, kami para cucu selalu berlomba untuk berpuasa. Setiap
tahun jika puasanya tak pernah bolong,
Simbah selalu memberi hadiah spesial. Hadiah itu adalah Baju dan sepatu baru. Saat puasa mulus dan tak putus itulah ‘anugerah’
datang. Saya yang langganan jadi
juaranya. Walaupun saya orang Katholik. Semua kita rukun dan aman-aman
saja. Saya taat puasa. Simbah memberikan
2 baju dan 2 sepatu baru plus tas. Kereenn….
Saat lebaran dengan banganya kami pergi bersilahturahmi ke saudara dan tetangga sambil tebar pesona
dengan penampilan pakaian yang serba
baru.
Saat SD kelas 3 saya di
fonis sakit tipus. Saat itu dianggap penyakit sangat berat. Saya opname di
rumah sakit sebulan lebih. Badan kurus,
kering dan pucat. Rambut sampai rontok semua. Badan lemas tak berdaya.
Sekitar setengah tahun saya tidak
sekolah, tapi atas kebaikan Bapak ibu
guru SD saya tetap naik kelas. Itulah kenangan saya yang tak akan pernah lupa
seumur hidup saya.
Itulah kenanganku saat
kukecil dulu. Tak ada yang istimewa. Tulus murni saya juga bukan siapa-siapa.
Hanya orang biasa yang selalu bersyukur untuk
nikmat Tuhan. Yang ingin bisa bermanfaat bagi sesama. Hidup mandiri, rela
berbagi dan iklas memberi. Dalam hidup selalu mengandalkan Tuhan dalam segala
hal. Ingin berusaha bisa menyenangkan hati Tuhan dan sesama. Semoga.
Trimakasih Bapak dan ibuku.
Trimakasih guruku. Trimakasih semua yang sudah mengajariku untuk menjalani hidupku masa lalu. Kini bapak dan ibuku sudah
tiada. Namun kenangan tak pernah sirna tetap terpatri di dalam hati. Saat ini
secara kasat mata, berkat jasa mereka saya dan adik-adik sudah bisa hidup
dicukupkan dari-Nya. Sekarang dan nanti
akan tetap bersyukur dan terus bersyukur dengan yang ada. Buat hidup
menjadi bermanfaat untuk sesama. Bahagia jika mampu menjadi penyalur berkat dan
rela berbagi iklas memberi. Niat yang tulus, iklas walau hidup sederhana tapi akan membuat bahagia.
Ledwina Eti Wuryani,
S.Pd. Lahir di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah Pada tanggal 14 April. Pada
tahun 1975 menginjakkan kaki di SD Kaninisus Kamal, Pagersari Mungkid dan masuk
SMP K Muntilan pada Tahun 1982. Setelah
itu melanjutkan di SMA K Tarakanita Stella Duce, Yogyakarata jurusan IPA. Lulus
SMA kuliah di IKIP Sanata Dharma
Fakultas Matematika. Penulis sudah menerbitkan 4 buku solo dan 30-an buku
antologi. Mottonya: Selalu bersyukur
jika hidup bisa bermanfaat bagi sesama.
CP: ledwinaetiwuryai@gmail.com
, ledwinaastiwi44@guru.sma.belajar.id
, fb, IG dan You tube : Ledwina Eti dan blog
etiastiwi66.blogspot.com HP WA
085 230 708 285 alamat rumah Jl. Trikora no: 11 RT/RW 010/003 Waingapu, Sumba Timur, NTT PO BOX:
87112
Tidak ada komentar:
Posting Komentar