Sabtu, 23 April 2022

KASIH SAYANG SANG ABDI NEGARA

 


Oleh : Ledwina Eti Wuryani, S.Pd

 

"Jangan setengah hati menjadi guru, karena anak didik kita telah membuka hati sepenuhnya"

( Ki Hajar Dewantara )

 

            Bapak adalah seorang guru PNS pengangkatan sekitar tahun 1962. Bapak adalah sosok yang kukagumi. Dia begitu menyayangi anak-anaknya. Kami empat bersaudara tak pernah dibeda-bedakan. Setiap habis gajian ‘yang hanya sedikit’ itu  pasti kami langsung diajak berkumpul.  Bapak buka amplopnya kami duduk berkeliling di meja makan. Kami anak-anak disuruh menulis apa kebutuhan masing-masing. Jika ada yang kurang cukup bisa disharingkan. Jelas kami punya kebutuhan berbeda.

Saya adalah anak pertama. Saya harus bersikap dewasa dan siap mengalah. Yang kami ajukan dari uang sekolah,buku, pena, pengganti sepatu yang sudah jebol dan lain-lain. Kami sudah terlatih hidup mandiri, sekolah jalan kaki biar 7 km waktu SMP. Apalagi setelah kuliah, hanya saya yang  kuliah keguruan  di IKIP, ikatan Dinas pula. Ketiga adikku Jurusan 2 orang Teknik Sipil dan  1 Teknik Elektro ( UGM dan Atamajaya Jogya). Kami ber-4 tak pernah komplain atau saling iri.

            Bapak orangnya gigih dan pekerja keras. Untuk mencukupkan kebutuhan bapak sampai rela mengajar di tiga sekolah. SPG Van-lith, SMA Pendowo dan STM Pengudi Luhur di kota Muntilan. Pagi-pagi bapak sudah berangkat sekolah dengan motor tua L2S. Ibu sudah menyiapkan nasi yang dibungkus untuk bekal mengajar karena bapak selalu pulang sore hari. Melihat  jerih lelah dan susah payahnya bapak kami salut sekali dengan perjuangan beliau. Bapak tak pernah mengeluh. Semua tugas dikerjakan dengan hati.

            Dengan melihat sosok bapak ‘hanya’ aku yang tertarik jadi guru. Hanya aku yang kuliah  guru. Saat itu guru dipandang dengan sebelah mata. Guru gaji kecil, hidup bersahaja dan terlihat hidup susah. Dengan begitu maka guru disebut dengan ‘Pahlawan tanpa tanda Jasa’. Tak banyak orang yang suka punya cita-cita jadi guru saat itu, apalagi jika orang kaya alias berduit. Wah,  Itu  sepertinya susah!!

            Di IKIP Sanata Dharma aku mengambil jurusan matematika. Mengingat masih 3 adikku yang perlu biaya lebih besar aku mengambil jurusan D3 waktu itu. Berharap supaya cepat selesai dan ada subsidi juga.  Pikirku jika aku ambil jurusan matematika bisa sambil memberi les privat. Benar sambil kuliah aku sambil memberi les 2 orang kakak beradik tetangga kos. Saya dibayar Rp 25 ribu/bulan untuk 2 kali pertemuan per minggu.  Lumayan bagi anak kos, bisa untuk tambah beli kebutuhan hidup harian.

 

            Setelah lulus saya ditempatkan di Timor Timor. Langsung dapat SK CPNS  di SMA Negeri Maliana Bobonaro. Sebuah kota kecil dan tertinggal. Sebuah pengalaman berharga jadi guru baru. Gaji pertama saat itu  Rp 56.080,- cukuplah untuk seorang bujang. Sebuah kebahagiaan bisa untuk dikirm ke ibu, adik-adik dan kolekte di gereja. Karena guru langka saya juga dipercaya mengajar PGSD ( sekolah calon guru SD) Universitas Terbuka. Menjadi Tutor Buta aksara ( Pemberantasan Buta Huruf).

 

            Dukanya, karena di daerah konflik jadi seolah pikiran selalu was-was dan tidak tenang. Semua aktifitas terbatas. Makan seadanya. Seolah kesepian karena tak pernah ada hiburan dan tak bisa tebar pesona. Di Kota itu selalu ketemu orang yang sama, di pasar, di sekolah di gereja. Aktifitas hanya  itu-itu saja dan jelas tak bisa berkembang.

 

            Tiga tahun kemudian  saya dimutasi ke Dili Kota Provinsi. Suasana jelas lebih ramai. Anak-anaknya lebih ekstrim. Gesekan-gesekan sering terjadi. Keributan juga lebih sering terjadi. Sedikit ada masalah sepele akan menyulut kemarahan hingga perkelaian. Sampai pada pemberontakan. Pembakaran mulai terjadi dimana-mana. Sampai titik darah penghabisan. Hingga lepas dengan negara kesatuan Republik Indonesia. Akhirnya Timor-Timur Merdeka!.

 

Setelah Timor Timur menentukan nasibnya sendiri  alias merdeka berarti  penduduk yang asal Indonesia wajib hukumnya untuk pulang ke asalnya. Yaitu Indonesia. Penduduk dari Timtim Status baru. Saya yang nota bene seorang guru jadi punya status baru guru korban konflik bencana. Kita sudah tinggalkan semua harta benda. Kita tinggalkan semua kenangan pahit getir dan duka lara. Kita tinggalkan juga siswa-siswi tercinta walaupun kadang mengharu birukan hati.

 

            Dengan modal ‘nol’lagi  kami akan mulai menatap masa depan.  Dengan semangat  membara dan penuh harapan semoga di tempat yang baru akan mendapatkan suka cita. Ini bukan mengeluhkan nasib. Bukan juga pamer kesedihan. Atau minta belas kasihan. Tidak sama sekali. Hanya  mau curhat semata. Biar kisah ini tak hilang atau sirna ditelan masa. Tapi akan terpatri dalam aksara. Ini adalah kisah  nyata salah satu perjalanan hidup seorang abdi negara.  Cerita dari hati yang paling dalam. Sebagai seorang guru  sekaligus seorang istri yang setia. Sebagai seorang istri tentunya punya kuajiban untuk  mengikuti dimana saja suami bekerja. Tugasnya mengajar, melayani dan menjaga  buah kasih, yaitu siswa/i dan anak kandungnya.

 

            Tempat  mengajar yang baru di kota Waingapu. Semboyan itu “ Matawai Amahu Pada Njara Hamu” .  Kira-kira artinya sumber air yang jernih  tanah/padang yang luas  membentang tempat makan hewan yang banyak berkeliaran khususnya kuda. Sebuah  kota kecil yang  sungguh ‘asing’ bagiku. Kekeluargaan yang teramat sangat kental dengan adat tradisinya. Nama dan derajat masih dijunjung tinggi.  Makan tak makan yang penting berkumpul. Jadi  bagi penduduk asli seperti suami harus mengikuti adat yang ada. Adat yang sudah diwariskan leluhurnya. Dia punya kuajiban dan tanggungjawab untuk menghidupi anak-anak ‘dalam rumah’nya. Budaya itu sampai sekarang  masih sangat dihormati dan dipatuhi. Jadi tak heran  saat pertama saya datang, kami harus hidup bersama dengan 20-an orang lebih. Bisa dibayangkan! Berapa kg beras kami harus masak untuk setiap hari.

 

            Sebagai orang baru dan masih berstatus pendatang plus  bekas korban konflik, saya dan suami harus menanggung hidup dengan sekian orang. Ya Tuhan, aku  ingin menangis tapi kutahan. Aku ingin lari tapi tak mungkin. Mau mengeluh?? Mengeluh dengan siapa? Hanya untuk  makan  gajiku PNS saat itu, sangat tidak cukup.  Gaji saya Tahun 2000, dengan SK gol/pangkat  III/b Penata Muda Tk 1  Rp 291.200,- . Untuk mencukupkan hidup, kami sampai gali lubang  tutup lubang. Motor astrea grand puruk (sudah jelek) yang kami punya  kami sewakan untuk tambah beli beras. Sedih ya.

 

Selama 3 tahun pertama hidup penuh keprihatinan. Sebagai pakaian ganti  kami hanya bisa beli baju RB (rombengan). Pakaian KW yang masih layak pakai. Dari Timor Timur kami tak bawa baju yang cukup. Saat lari mengungsi hanya bawa bekal dan pakaian  seadanya. Setiap hari  makan tak pernah ada gizi. Yang penting ada nasi. Yah, lombok sayur hijau sudah cukup. Hanya itu yang terjangkau untuk dibeli.   Makan cukup 2x sehari. Pulang sekolah jam 14.00 WITA dan Sore jam 20.00 WITA. Karena motor disewakan berarti pergi ke sekolah jalan kaki dengan medan yang lumayan.  Daerahnya berupa perbukitan. SMA Negeri 2 Waingapu tempat mengajar letaknya agak diketinggian jadi harus memanjat dan merayap ditebing untuk lewat jalan pintas. Jarak tempuh rumah sekolah sekitar 2 km.

 

            Badanku kurus kering. Muka kelihatan lebih tua dari umurku yang waktu itu 34 tahun. Kulit keriput. Muka kusam tak ada semangat hidup. Tersenyum  susah maka wajah jadi tak menarik. Anto anak bungsuku juga saat periksa di puskesmas, dokter Rukmiati bilang berstatus ‘gizi buruk’.  Sungguh  sangat berbeda dengan Marcel  anak sulungku yang berada di Jawa bersama Bapak dan Ibu kandungku. Dia begitu dimanja. Disayang dengan segala yang ada.

 

            Cobaan hidup saat itu terasa berat. Hanya Doa yang bisa kudaraskan setiap hari. Itu yang menjadi kekuatanku. Sangat tidak mungkin aku mengeluh pada orang tuaku. Boleh dibilang saat di Timor Timur kami ‘sudah ada’ semua. Dari hasil kerja dan tabungan hingga punya rumah, mobil dan motor.  Tapi itu tinggal kenangan.  Itu semua kita tinggal  Timtim Kini di tempat baru harus siap menerima kenyataan. Hanya ratapan, rintihan bahkan tangisan pribadi dalam hati yang menemaniku.  Kesedihanku tak berani kutunjukkan kepada suami dan keluarganya. Aku berusaha tersenyum  walau terpaksa. Sebenarnya tak mampu tapi berusaha kuat. Hati terasa sakit  meratapi keadaan, tapi tak berdaya untuk mengungkapkan. Saya terasa sebatang kara karena orang jawa.

 

            Cerita di sekolah. Saat pertama kali saya menginjakkan kaki di SMA Negeri 2 Waingapu. Hati memang terasa damai. Saat masuk kelas tak kuasa aku menahan haru. Anak-anaknya manis dan taat. Mereka begitu hormat pada guru. Sungguh sangat berbeda dengan kelakuan anak Timtim ada yang suka mabuk, arogan dan tak menghormati guru. Profesi guru di Waingapu itu kujalani dengan penuh tanggungjawab dan setia. Guru matematika yang saat itu saya sendiri. Pak Tjangkui meninggal 2 tahun kemudian karena sakit.  Beliau guru matematika sebelum saya ada. Akhirnya saya yang menggantinya mengajar sampai  42 jam seminggu, padahal ideal guru mengajar 24 Jam. Caranya: masuk 1 kelas, kelas yang lain diberi tugas dan seterusnya. Ada juga ibu Atik yang membantu mengajar, beliau sebenarnya guru Kimia.

 

            Hari terus berjalan. Kami  hidup bersama puluhan orang di rumah. Dengan terpaksa aku minta pada suami supaya hidup pisah dengan keluarga besarnya. Aku akan ‘lari’  jika kali ini permintaanku yang pertama dan yang terakhir ‘tak’ dikabulkan. Akhirnya benar, kami memisahkan diri. Kami membangun gubuk. Ya benar gubuk, rumah kecil dengan lantai tanah.  Sedikit  lega. Penduduk rumah  terbagi. Sebanyak13 orang yang  ikut bersamaku. Biarlah. Selain sekolah mereka bisa membantu kerja rumah  untuk mewujudkan mimpi membuat rumah yang lebih layak.

 

            Lebih dari 4 tahun saya beradaptasi.  Berjuang dengan kemiskinan dan penuh pergumulan. Biar jelek rumah sudah berdiri. Ada orang bilang rumahku seperti kandang ayam karena memang  semua jendela kita tutup dengan rangkaian gedek bambu.  Atapnya seng taruh-taruh sembarang karena  usuknya belum cukup. Tak apalah, kami menikmatinya. Kehidupan sengsara akhirnya terbiasa menemaniku. Ada perasaan bahagia jika ada orang/teman yang memberikan undangan pesta.  Disitu  baru kami bisa menikmati rasa enaknya daging. Dalam hati,  makan dipesta  ibarat sebuah anugerah. Hal di atas membuat aku jadi  orang yang tahan banting dan panjang sabar. Jadi lebih tegar dan menghargai  arti  kehidupan berumah tangga sejati.

 

Bersyukurlah, akhirnya saya bisa menyesuaikan keadaan. Sebagai orang kota biasa menjadi tempat ‘numpang’ anak-anak keluarga dari kampung yang ingin sekolah. Ada yang SD, SMP, SMA/SMA bahkan ada yang kuliah. Rumahku seperti asrama, tapi gratis.  Mereka bukan anak orang yang mampu tapi orang tuanya ingin anaknya maju. Tapi mereka tak pernah berpikir bahwa biaya hidup di kota itu besar.  Saya dan keluarga harus mencukupkan kebutuhannya.  Ingin protes! Kami juga punya kebutuhan sebenarnya!! Tapi mereka ‘kurang’ mengerti!. Sudahlah!!, kalau mengeluhkan  tentang itu tak akan habis. Dalam doa semoga Tuhan selalu memberkati. 

 

Setiap orang pasti punya pergumulan. Mereka akan punya cerita masing-masing.  Suka duka selalu mewarnai hidup  setiap kita. Roda terus berputar tak mungkin  akan  terus dibawah. Akan bahagia jika selalu bersyukur dalam keadaan apapun. Doa adalah senjata ampuh untuk  jadi kekuatan hidupku. Iklas berbagi, rela memberi adalah  manusiawi. Tuhan memberikan cuma-cuma  berikanlah juga dengan cuma-cuma. Bahasa itu yang sejuk dan menghiburku. Aku selalu mencoba untuk tidak  mengeluh. Berkat pasti akan datang dariNya kalau kita tulus meyakini.

 

Tak terasa kini saya sudah 21 tahun tinggal di Waingapu. Hari terus berganti. Tahun demi tahun pun telah kulalui. Tahun baru 2022 kita sambut dengan penuh harapan dan lebih baik.  Bahagia akan mengikuti seiring berjalannya waktu. Secercah harapan akan semakin ada. Tuhan pasti akan selalu menunjukkan jalan. Nikmat Tuhan akan semakin nyata. Kutuliskan ceritaku ini yang berstatus sebagai guru. Perjalanannya hidup yang penuh dengan suka dan duka. Dari daerah konflik di TimorTimur hingga dimutasi di Waingapu , Sumba Timur, NTT  yang saat itu masih  tertinggal. Daerah padang sabana paling ujung timur Indonesia. Orang bilang NTT adalah Nasib Tak Tentu. Diberita koran juga pernah  tertulis NTT adalah  daerah penyumbang orang miskin nomor one di Indonesia. Kasihan e. Kualitas kebahagiaan bukan dari harta atau kekayaan. Kami menikmati kedamaian dan ketenteraman lahir batin.

 

Semua cerita perjalanan dan liku-liku kehidupan akan ada hikmahnya. Aku tetap guru. Sekolah  adalah ladang amalku. Tempatku mengabdi hingga purna bakti. Akan setia sampai waktu pensiun nanti.  Bersyukur baru-baru, bulan Desember 2021 tepatnya tanggal 15 saya dapat ‘anugerah’  Lencana Karya Satya dan piagam penghargaan tanda-tangan Presiden RI, Bapak Ir. Joko Widodo. Bangga dan bahagia!!. Trimakasih pak Presiden, kenangan ini akan saya ingat hingga putus nafasku.

Sekolah adalah ladang amalku. Semoga ilmu yang kita berikan mendapat Ridhonya Tuhan.  Kita para guru adalah seorang ‘abdi’.  Para abdi yang baik hendaknya  bisa menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab. Rela berbagi dan iklas memberi.  Ilmu yang tidak membuahkan perbuatan  laksana per=tir  dan guntur yang tak membawa hujan.

Tiada kekayaan lebih  utama daripada akal. Tiada  kepapaan lebih menyedihkan daripada kebodohan dan tiada warisan lebih baik dari pada pendidikan, ( Ali Bin Abi Thalib). Semga  Tuhan mudahkan para  guru Indonesia rela berjuang. Terus belajar dan berbenah. Selalu siap mengikuti tantangan jaman.  Semangat ikut serta memperbaiki  pola dendidikan untuk menghatarkan  para generasi  bangsa lebih gemilang dimasa yang akan datang. Semoga!

 

 

 

 

 

PROFIL PENULIS

 

 

 

 

 

Salam ...Saya,  Ledwina Eti Wuryani, S.Pd, Asli Magelang Jawa Tengah.   Tinggal di Timtim 10 tahun ( Kabupaten Bobonaro 3 tahun, Dili 7 tahun) dan di NTT sudah 21 tahun.  Seorang ibu 2 putra,  sekaligus  guru  di SMA Negeri 2 Waingapu Sumba Timur, NTT. Penulis suka menulis di media masa, majalah dan buku. Sudah 30 lebih  buku solo dan antologi  ber-ISBN yang sudah terbit. Penulis bisa dihubungi di ledwinaetiwuryai@gmail.com , ledwinaastiwi44@guru.sma.belajar.id , fb, IG dan You tube :  Ledwina Eti  dan blog  etiastiwi66.blogspot.com  HP WA 085 230 708 285 alamat rumah Jl. Trikora no: 11 RT/RW  010/003 Waingapu, Sumba Timur NTT.  Quotes :  Sebuah kebanggaan Jika  hidup bisa bermanfaat bagi sesama.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...