Frangky
dan Felia adalah satu kelas saat di SMA. Mereka dua sama-sama di kelas XII IPS
4. Sejak dari SMA mereka sudah ada kemistri.
Mereka pacaran. Para gurupun sudah tahu. Si Frangki dari keluarkan petani miskin,
sedangkan felia bapaknya adalah pejabat.
Ada jurang pemisah percintaan mereka. Yang jelas kami guru juga ikut prihatin. Frangki
orang ganteng, bersih sopan dan otaknya
cemerlang. Dia juga punya jiwa pemimpin yang bagus, terbukti di kelas XI dia
bisa terpilih jadi ketua OSIS.
Sedangkan Felia orangnya si memang cantik, Cuma pacarnya
banyak. Maklum deh orang berada dan pastinya dimanja dari ortunya. Dia adalah
perempuan satu-satunya dan 4 orang
saudaranya yang laki-laki. Frangki tahu banyak tentang latar belakang Felia. Singkat
cerita mereka sudah lulus. Felia kuliah di Jakarta, sedang Frangki kuliah di SBD,
Kota kelahirannya. Ternyata mereka masih LDR-an. Pas mereka pulang libur,
biasalah anak muda, mereka nongkrong-nongkrong di dermaga lama. Biasa
orang-orang muda mangkal. Felia berkata begini: “ Jujur aja ya Frangki “, kata felia. “ Memangnya ada apa ?”, tanya Frangki penasaran. “ Sebelum melamarku, aku ingin membuat pengakuan “. “ Gak apa-apa silahkan “.
“ Engkau mau menerima dan tidak itu hak kamu “, kata Felia selanjutnya.
“ Pasti menerima !“, jawab Felia tegas.
“ Ah yang bener aja “ , kata felia menyangsikan.
“ Iyaaaa !! “, Frangki tetap
tak berubah dan meyakinkan.
“ Jujur sejak lulus SMA aku punya pacarana juga dengan
Aber putranya Bp H. Datuk Langgi yang Setda di kota kita.
Kesan pertama orangnya baik. Aku sangat percaya segala ucapannya. Pada akhirnya
pada suatu malam
atas janji-janji manisnya, kuserahkan darah
perawanku padanya.
Dan……entah
sudah beberapa kali aku melakukannya.
Sampai Lupa.
Ketika
rasa cintaku memuncak,
Aber ternyata mengahimili teman dekatku. Hamil empat bulan sekarang. Sungguh!!!, aku
kecewa. Mau gila. Stress
karena patah
hati. Semenjak itu aku sebenarnya
ingin menutup hati untuk semua laki-laki. Termasuk kamu frangki…., kata Felia sambil menetekan
air mata dan menatap frangki dengan pandangan yang hampa. Itu
jujur pengakuanku…., maafkan akau. Tinggal engkau mau menerima aku atau tidak. Silahkan… Aku siap untuk mendengarkan apapun jawabanmu. “ Wajah Lia memerah. Bibirnya bergetar. Lubang hidungnya kempas kempis. Isak tangispun semakin keras. Kepala
tertunduk. Malu. Bahkan
takut memandang Frangki.
Di Dermaga itu
angin semakin semilir. Menyapu rambut Felia yang panjang dan halus. Frangki mendekapnya
pelan-pelan. Ia berbisik, “ Aku siap menerima kamu apa adanya. Trimakasih, engkau sudah jujuran padaku “
Waingapu, 24 April 2022
Tidak ada komentar:
Posting Komentar