Oleh : Ledwina Eti Wuryani
Lakji adalah bunga desa di kampung Lamerib. Begitu
lulus SMK ia sekarang di rumah saja. Benar saja karena dia orang berpendidikan tak jarang lelaki yang ingin mempersuntingnya. Singkat
cerita akhirnya Umbu Behar yang beruntung, laki-laki yang terpilih mendapatkan
cintanya dari Rambu Lakji. Tak pikir Panjang akhirnya Umbu ijin orang tuanya untuk meminang Lakji. Umbu
Behar selain dia sudah punya penghasilan
sebagai supir truknya Ongo Juan, dia juga sudah punya rumah walau
sederhana. Yang jelas untuk urusan
finansil Umbu terhitung sudah punya
usaha dan mapan untuk ukuran orang kampung.
Orang tua dari kedua kedua belah pihak menyetui. Hari
pernikahan digelar. Pesta diadakan meriah di rumah keluarga perempuan. Tamu
banyak sekali yang datang. Maklum saja
dikampung jarang ada pesta. Saat pesta itu
yang mereka istilahkan dengan gantung periuk. Atau istilah romantic, rombongan makan gratis. Seperti
biasa jika musin-misin tertentu, musin
kawin para warga bergembira karena makan bergizi.
Saat pesta selesai tamupun pulang. Hati umbu Behar tak
sabar menunggu saat yang dinanti-nati tiba. Malam pertama adalah malam yang
paling ditunggu-tunggu bagai sang pemelai. Umbu Behar cepat-cepat masuk ke kamar pemngantin yang dihias dengan
berbagai bunga. Harum semerbak aroma melati. Sudah menyiapkan hati yang sudah
menggebu, sang mempelai belum juga masuk. Enatah buat apa Lakji di luar. Tak berapa lama Sang
istripun masuk. Didekapnya dengan
penuh cinta. Betapa kagetnya Umbu.
Perutlakji sudah buncit. Hati Umbu jagi
murka. Mata UB memerah. Ia hampir menampar pipi Lakji. Lakjipun akhirnya
berterus terang kalau dia sudah hamil 4 bulan. Dia hamil dengan perangkat desa
dikampungnya. Akhirnya…. Umbu Behar langsung keluar meninggalkan sang mempelai
Wanita pergi entah kemana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar