Ketika itu ……………
Saat kutatap hamparan luas padang
sabana,
Tempat ku mengabdi sebagai abdi negara,
Di Tanah Marapu, Matawai Amahu pada Njara Hamu,
Kulihat Bendungan yang saat itu
hancur,
Luluh lantak dan porak poranda,
Rumah-rumah tenggelam, banjir dengan ganas menerjang
Para penghuni rumah berlari kencang
Mencari aman di tanah ketinggian
yang lapang.
Sedih… perih…. dan penuh duka lara
Cerita
ini menolak lupa
Kisah
bencana banjir bandang dan badai membuka ingatan di dalam sanubariku
Luka
lama Corona masih membekas, bencana lain
datang
Hati masih terasa sakitdan belum tersembuhkan
Hati
resah, pikiran gelisah, tugas tertunda
tidurku slalu terjaga
Jalan
yang sering kulalui tuk mencari nafkah rusak
parah
Jembatan penopang kehidupan
hancur tak tertahankan
Rebah
terhanyut....
Rumah tempat
ku bernaung dihempas badai
Dalam kesendirian
menatapkan hamparan hampa
Gemuruh
amukan alam sungguh
mengerikan
Menabur
duka dibumi flobamorata
Raga
tak bersalah banyak jiwa malang menjadai
korban
Pekik
bersahut tangisan
Ratapan
menggema dibukit Flobamorata
Ceria
yang kemarin hilang
Tangisan
pilu, airmata duka mengalir tak henti
Kematian
saudara sungguh menyayat hati
kepadamu
Tuhan kupanjatkan doa dan pengharapan
uluran
tangan dan kasihmu sangat berarti bagiku
jamahan
kasihmu akan membalut luka ini
sembuhkan
lara hati ini agar bumi ini
kembali
tersenyum
Kini,
Hari ini Jumat, 24 Juni 2022
Sumbaku sudah kembali berseri
Sebagai infrastruktur sudah
terbangan kembali
Bendungan yang hancur tak tersisa
kini sudah ada
Para petani tersenyum lega
Aktivitas mulai ada
Padi sayuran ikut berseri tersenyum dihempas angin
Trimakasih kuucapkan kepada
pemerintah
Trimakasih para pejabat yang sudah
membangun kembali,
Kami rakyat kecil sudah bernafas
lega
Siap melanjutkan tugas kami yang
tertunda.
Catatan:
Flobamorata
Flores,
Sumba, Timor, Alor, Atambua
#70harimenulis
#70haripunyanaskah
#siapataujadibuku
#PMAchallenge - 48
#LedwinaEti
#Waingapu, 24Juni 2022
Tidak ada komentar:
Posting Komentar