
.
Oleh : Cahyadi Takariawan
“You should be playing with the kids, washing dishes, dusting light bulbs, or basically anything else besides putting words to paper. Kids grow so fast, you fear you might miss a moment, that smile, those dimpled fingers” –Jewel Eliese, 2018.
.
Apa alasan Anda untuk tidak menulis? “Saya hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa, yang sibuk dengan urusan kerumahtanggaan”, mungkin sebagian dari Anda akan menyatakan demikian. Menjadikan status sebagai ‘ibu rumah tangga’ sebagai alasan untuk tidak menulis.
Jewel Eliese (2018), seorang bloger produktif menyatakan, Anda mungkin menjadi ibu rumah tangga yang sekaligus penulis, namun menghadapi beragam jenis kendala. Seperti apa profil ibu rumah tangga yang sekaligus penulis? Eliese menggambarkan beragam kondisi ibu rumah tangga yang ingin produktif menulis.
“Ketika Anda mengunci diri di kamar mandi untuk menulis”, ungkap Janie Miller-Saylor, penulis buku The Road Yuo’ve Traveled. Menggambarkan betapa rempong urusan seorang ibu rumah tangga dalam kehidupan kesehariannya. Sampai-sampai tak ada waktu untuk menulis, kecuali di saat mengunci diri di kamar mandi.
“You may be a writer mom when you lock yourself in the bathroom to write” –Janie Miller-Saylor.
Sebagian dari ibu rumah tangga yang sekaligus penulis, “berencana untuk menulis dan tidak bisa karena balita Anda muntah-muntah dan perlu pertolongan segera”. Sebagian yang lain lagi “sudah sangat lelah sehingga tidak bisa berpikir jernih untuk mengeluarkan inspirasi”. Sampai tidak memiliki “me time” karena kesempatan me time digunakan untuk menulis.
Sebagian ibu rumah tangga memiliki rasa bersalah yang berlimpah saat harus menulis. “Anda harus bermain dengan anak-anak, mencuci piring, membersihkan bola lampu, atau apa pun selain meletakkan kata-kata di atas kertas. Anak-anak tumbuh begitu cepat, Anda takut akan kehilangan momen, senyum itu, jari-jari berlesung pipit itu”, ujar Eliese.
Menjadi ibu rumah tangga, benar-benar menguras sangat banyak waktu, pikiran dan tenaga. Namun benarkan ibu rumah tangga tidak bisa produktif menulis dan menghasilkan karya hebat mendunia? Tentu saja mereka bisa, dan sudah banyak contohnya.
Ibu adalah Penulis Hebat
“Being a mother has made me a better writer” –Barbara Kingsolver.
Ada banyak ibu rumah tangga yang memiliki karya mendunia. Salah satunya adalah Barbara Kingsolver. Sembilan bukunya terpilih sebagai best seller New York Times. Tentu saja ini adalah capaian yang sangat prestisius. Sangat banyak penulis dunia bercita-cita mendapat penghargaan best seller NY Times, dan Kinsolver mendapatkannya.
Penulis buku The Lacuna, Unsheltered, Prodigal Summer dan belasan buku lainnya ini, memiliki pengalaman menulis yang unik. Kingsolver mulai menjadi penulis buku saat bayi pertamanya dibawa pulang ke rumah, setelah melahirkan di rumah sakit. Kisah ini diangkat oleh James Clear dalam blog pribadinya, “The Daily Routines of 12 Famous Writers”.
Apakah menjadi penulis sukses dan ibu rumah tangga yang bahagia merupakan pilihan? Bahwa Anda hanya bisa memilih salah satu dari keduanya? Tidak bisakah keduanya menyatu menjadi satu pribadi yang utuh –menjadi penulis produktif sekaligus menjadi ibu yang bahagia? Kingsolver akan menjawab sesuai pengalaman pribadinya.
“Menjadi ibu membuat saya bisa menjadi penulis yang baik,” ujar Kingsolver. “Saya terbiasa bangun sangat pagi. Terlalu dini. Jam empat adalah standar. Saya berusaha untuk tidak kedahuluan oleh terbitnya matahari,” lanjutnya. Tampak Kingsolver sangat disiplin dengan waktu menulis.
Sebelum matahari terbit, ia sudah bangun bahkan sudah menulis. Sebagai ibu sekaligus penulis buku, setiap hari selalu menemukan ide baru. Kehidupan di dalam keluarga bersama suami dan dua anaknya, membuat Kingsolver mendapat banyak hal yang bisa ditulis. Semua yang dilihat, semua kejadian, bisa menjadi ide untuk dituliskan.
Aktivitas kehidupan di rumah bersama keluarga, adalah bahan-bahan untuk ditulis. “Saya melakukan rutinitas itu, karena kepala saya terlalu penuh dengan kata-kata. Saya harus mengeluarkannya. Saya hanya perlu ke meja kerja dan mulai memindahkan kata-kata ke dalam file”, ujar Kingsolver.
Sangat banyak hal berdesakan di kepalanya, ingin segera dikeluarkan. “Saya selalu bangun dengan kalimat yang mengalir deras di kepala. Ketika menuju meja kerja setiap pagi, seakan keadaan darurat yang panjang”, ujarnya. Begitulah ketika telah memiliki habit sebagai penulis. Tak ada yang perlu ditunggu.
Karena ia telah menjalani kebiasaan menulis setiap pagi, maka dirinya justru heran saat ada teman-teman yang bertanya –bagaimana Kingsolver bisa mendisplinkan diri untuk menulis? Baginya, itu adalah ritme kehidupan. Setiap pagi, selalu begitu. Seperti kebiasaan orang lain, ada yang tiap pagi joging, gowes, atau memasak. Itu sudah tidak perlu pendisplinan diri. Sudah habit yang dinikmati.
Maka ia menjadi geli atas pertanyaan ini. “Orang sering bertanya, bagaimana saya mendisiplinkan diri untuk menulis? Saya tidak dapat memahami pertanyaan ini. Bagi saya, disiplin adalah mematikan komputer dan meninggalkan meja kerja untuk melakukan hal lain”, ujarnya. Sebuah jawaban yang sangat menggelitik.
Bagi orang lain, disiplin itu artinya memaksa diri untuk menulis pada jam yang telah ditentukan. Namun bagi Kingsolver, disiplin itu adalah saat ia harus tega mematikan komputer dan meninggalkan meja menulis, agar bisa mengerjakan hal lain dalam kehidupan.
Kingsolver bisa produktif menulis, dan menghasilkan banyak karya. Di saat yang sama, ia adalah ibu yang bahagia. Bagaimana dengan Anda?
Bahan Bacaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar