Sabtu, 04 Juni 2022

Apa Alasan Anda untuk Tidak Menulis? (1)

 

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

When you say you don’t have the time, what you are really saying is: Something else is more important right now than writing” –Victoria Lynn Schmidt, Ph.D.

.

Sangat banyak alasan yang dikemukaan banyak kalangan untuk tidak menulis. Salah satunya adalah, tidak memiliki cukup waktu. Ini alasan paling klasik, paling banyak, dan paling umum. Dengan mudah, seseorang menyatakan tak ada waktu untuk menulis.

Benarkah Anda tidak punya waktu? Sama sekali tidak demikian, menurut Victoria Lynn Schmidt, Ph.D. Semua manusia punya waktu yang sama, tak ada yang lebih tak ada yang kurang. Hanya saja, ada yang mampu mengelola dengan baik, dan ada pula yang tak bisa mengelola.

Sebagian orang tidak menyadari soal prioritas. Mereka ingin melakukan semua hal, tanpa memahami keterbatasan diri. Bahwa tidak mungkin kita bisa melakukan semua hal. Tidak mungkin kita bisa perfect dalam semua urusan. Semua orang pasti memiliki prioritas, disadari ataupun tidak.

Maka jika Anda merasa tidak memiliki waktu untuk menulis, bisa jadi itu adalah persoalan prioritas yang tidak Anda sadari. “Jika Anda mengatakan tidak punya waktu untuk menulis,” ujar Lynn Schmidt, “Sesungguhnya Anda tengah mengatakan: ada sesuatu yang lain lebih penting untuk aku lakukan sekarang dibandingkan menulis”.

Inilah kebenaran yang sesungguhnya. Bukan karena tidak punya waktu, namun karena Anda menganggap ada banyak hal lain jauh lebih penting daripada menulis. Pada waktu itu mungkin Anda sedang mengurus anak, sedang mengajar di sekolah, sedang gowes, sedang memasak, sedang memancing, atau sedang berenang.

Untuk itu, menurut Lynn Schmidt, “Jika semua aktivitas lain yang Anda lakukan menurut Anda lebih penting daripada menulis, maka berhentilah menyalahkan diri sendiri tentang tidak menulis, dan berhentilah membaca tulisan ini”.

Spirit Menulis di Malam Hari

So finally I decided to begin writing at night. Nights can be trickier to write for as there are more distractions. I decided if I’m committed to writing I need to take that time even if there are other things to do. My time was 10:30 PM – 01:00 Am” –Zander Shores, 2018.

Tentang waktu, mari kita bedah. Tidak ada keharusan, kapan Anda harus menulis. Semua kembali kepada situasi dan kondisi masing-masing. Sebagian penulis memilih waktu pagi hari. Ada pula yang menulis di malam hari.

Jadi, bagaimana Anda mengatakan tidak punya waktu? Bukankah Anda punya waktu pagi, siang, sore, dan malam hari? Mungkinkah setiap hari selama sepekan, 24 jam waktu Anda telah habis sama sekali hingga tak ada waktu sedikitpun untuk tidur dan untuk menulis?

Jika Anda tidak bisa menulis pada waktu pagi, coba lakukan pada siang hari. Jika Anda tidak bisa menulis pada waktu siang, coba lakukan pada sore hari. Jika Anda tidak bisa menulis pada sore, coba lakukan pada malam hari. Jika awal malam tidak bisa, lakukan di pertengahannya, atau pada akhir malam.

Zander Shores (2018), kontributor blog menulis Medium, menceritakan pengalamannya dalam menentukan waktu menulis. Ketika mencoba menulis pada pagi hari untuk blog Medium, ternyata ada sangat banyak sumbatan. Ia tidak bisa lancar menulis. Sangat sedikit kata bisa dituangkan pada pagi hari.

Zander Shores benar-benar bukan manusia pagi. Ia sangat sulit mendapatkan kesegaran saat pagi. Bawaannya selalu mengantuk sehingga membuatnya tak bisa berkonsentrasi. “Hanya ada 80 kata yang tertuang di halaman kosong saya”, ujar Shores. Ini sangat sedikit, padahal ia sudah mengalokasikan waktu yang cukup.

“Untuk menjadi seorang penulis, saya perlu meluangkan waktu setiap hari, tetapi tidak ada yang berhasil saya lakukan,” lanjutnya. “Saya dulu mencoba menjadi penulis pagi. Bangun jam 8.00, dan mulai menulis sesegera mungkin. Sebenarnya tulisan saya baik-baik saja, tetapi ada beberapa masalah,” kenang Shores.

“Pertama, saya tidak bisa berhenti tertidur di waktu pagi. Saya benar-benar bukan manusia pagi,” ujar Shores. Ini pengakuan jujur, bahwa setiap kita harus mengetahui  tipe diri kita. Apakah Anda menusia pagi? Apakah Anda manusia malam? Kapan Anda merasa optimalmenghasilkan karya? Semua darikita bisa berbeda.

Sebenarnya, Shores sudah memiliki waktu tidur yang cukup. “Setiap malam saya tidur delapan jam,” ujarnya. Namun saat pagi hari –meski sudah bangun dan berkegiatan, ia selelu diserang rasa kantuk berlebihan.

“Pada pagi hari, meskipun saya bangun, namun tidak dapat menjaga diri untuk tertelungkup ke komputer”, ungkapnya. “Di pagi hari, tulisan saya sering terlambat selesai, karena tubuh saya selalu mengajak untuk kembali ke tempat tidur”. Ini persoalan kebiasaan diri.

Namun ada masalah lain jika memaksakan menulis pagi hari. “Masalah lainnya, tulisan saya lebih lambat dan lebih membosankan”, ujarnya. Dengan kondisi tubuh tidak fit dan tidak fresh, maka Shores tidak bisa menghadirkan tulisan yang segar. Ia merasa terjebak dalam formalitas yang sangat membosankan.

“Semua yang saya tulis tampak ‘profesional’. Mungkin Anda berpikir, benarkah bisa menjadi penulis profesional hanya dengan menyetel alarm waktu?” ungakp Shores. “Yang saya maksud adalah tulisan saya terasa seperti wawancara kerja dengan petugas formal”, lanjutnya. Ia merasa sedang diinterogasi, sehingga hasilnya menjadi kaku.

Shores merasa, tulisan yang hadir di pagi hari tampak seperti sebuah wawancara yang formal, kaku dan beku. “Seperti saya sedang berbicara dengan ayah mertua”, ujar Shores. Itu yang selalu ia rasakan setiap kali menulis pada pagi hari.

Untuk itulah ia memutuskan menulis malam hari, pada tengah malam yang sunyi. Bagaimana dengan Anda? Manusia pagikah Anda, atau manusia malam?

Bahan Bacaan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...