Minggu, 03 Juli 2022

A58. MEMBERI IMBALAN PSIKOLOGI KEPADA ANAK

 


Membaca, melihat  di medsos tentang pembelajaran di rumah. Perlakuan orang tua terhadap putera-puterinya. Ada yang mengeluh.  Ada yang marah-marah. Ada yang jengkel. Ada pula yang  sampai menganiaya anaknya, karena  anak kurang paham maksud dari orang tua, khususnya pada pelajaran matematika. Sebagai guru jadi sedih,  bahkan miris mendengarnya.

Hasil dari  pembelajaran dari rumah (BDR)  akhirnya  bisa membuka mata kita. Melihat dengan hati dan perasaan kita. Berbagai macam karakter orang tua jadi bisa terungkap. Terlihat jelas! Bagaimana  cara menerapkan  hubungan orang tua kepada  putera-puteri kesayangannya.

Menjadi Orang tua bukanlah tugas yang harus dijalankan denganp perasaan cemas,gelisah,  takut, bingung, jengkel atau ragu. Seharusnya  kita jalani dengan perasaan penuh  suka cita, syukur dan kasih sayang. Hubungan baik antara Ortu dan anak adalah  kunci keberhasilan dalam mendidik anak.Prestasi anak di sekolah bisa tergantung dari cara orang tua mendidiknya di rumah.

Contoh konkrit:

Putri adalah salah satu siswa  dari sebuah SD favorit di daerahnya. Dia mempunyai IQ bagus, di atas rata-rata. Ayahnya  pejabat. Mamanya juga orang penting di sebuah kantor. Secara finansial mereka  dipandang sebagai keluarga ‘berada’.  Tapi  putri anak semata wayang mereka  tidak pernah semangat di sekolah. Prestasinya pun bisa di pandang ‘buruk’.  Di sekolah hanya melamun saja.

Surat panggilan dilayangkan untuk orang tuanya.  Dengan sukacita orang tuapun datang. Mereka menceritakan bahwa dia sangat menyayanginya.  Dia akan mendapatkan ‘yang terbaik’ jika dia minta sesuatu.  Kami keluarga yang demokratis,  mandiri dan kami bahagia dalam keluarga kami”, itu kata dari orang tuanya Putri.

Kadang ortu beranggapan, jika semua kebutuhan anak dicukupkan, bahkan dilebihkan, akan membuat anak berprestasi?!. Ternyata ‘tidak!’.  Katakanlah, misalnya  sebuah hasil karya siswa berupa lukisan. Tugas sekolah, dengan serius ia membuatnya, dari guru dapat pujian dan nilainya bagus. Dengan penuh harapan , dia akan memamerkan haril karyanya ke orang tua untuk dapat ‘pujian’ berikutnya.

Begitu putri  antusias untuk ‘pamer’ hasil karyanya kepada orang tua, eh!!  ternyata orang tua, ‘cuek’. Bahkan  menyuruh dia pergi, karena orang tua lagi sibuk dan pesan untuk  tidak boleh ganggu.  Sekali, anak maklum. Dua kali kejadian sama, anak mulai sakit hati, ketiga kali  anak jengkel dan selanjutnya anak jadi frustasi atau  trauma. Akhirnya dia mendoktrinkan diri. Untuk apa saya repot-repot kerja keras. Percuma!.

Sifat alami manusia   suka menerima ‘pengakuan’ untuk hasil yang dicapainya. Sesuatu yang dibuatnya jika mendapatkan pujian pasti  ia akan semakin keras pula usahanya untuk maju. Ini yang namanya memberi imbalan psikologi kepada anak.

Bahagia sekali  guru sudah mulai mengajar di sekolah. Pandemi sudah berakhir.  Saat ini guru  sudah mengajar lagi di sekolah.  Orang tua tak pusing  lagi mengajar anak kandungnya sendiri.  Tugas  kita  (guru dan ortu)  tetap sama-sama mendidik, melatih dan mengajar anak kita dengan kasih sayang, perhatian dan penuh suka cita. Semoga anak kita selalu mendapat ‘pengakuan’ dan  imbalan psikologis dari orang tua.  Salam guru untuk orang tua.

 

 

 

 

#70harimenulis
#siapataujadibuku
#challenge - 58
#RumahLiterasiPMA
#LedwinaEti
#Senin,4Juli2022

  

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...