Membaca,
melihat di medsos tentang pembelajaran
di rumah. Perlakuan orang tua terhadap putera-puterinya. Ada yang mengeluh. Ada yang marah-marah. Ada yang jengkel. Ada
pula yang sampai menganiaya anaknya,
karena anak kurang paham maksud dari
orang tua, khususnya pada pelajaran matematika. Sebagai guru jadi sedih, bahkan miris mendengarnya.
Hasil
dari pembelajaran dari rumah (BDR) akhirnya
bisa membuka mata kita. Melihat dengan hati dan perasaan kita. Berbagai
macam karakter orang tua jadi bisa terungkap. Terlihat jelas! Bagaimana cara menerapkan hubungan orang tua kepada putera-puteri kesayangannya.
Menjadi
Orang tua bukanlah tugas yang harus dijalankan denganp perasaan cemas,gelisah, takut, bingung, jengkel atau ragu.
Seharusnya kita jalani dengan perasaan
penuh suka cita, syukur dan kasih sayang.
Hubungan baik antara Ortu dan anak adalah
kunci keberhasilan dalam mendidik anak.Prestasi anak di sekolah bisa
tergantung dari cara orang tua mendidiknya di rumah.
Contoh konkrit:
Putri
adalah salah satu siswa dari sebuah SD
favorit di daerahnya. Dia mempunyai IQ bagus, di atas rata-rata. Ayahnya pejabat. Mamanya juga orang penting di sebuah
kantor. Secara finansial mereka dipandang sebagai keluarga ‘berada’. Tapi
putri anak semata wayang mereka
tidak pernah semangat di sekolah. Prestasinya pun bisa di pandang ‘buruk’. Di sekolah hanya melamun saja.
Surat
panggilan dilayangkan untuk orang tuanya.
Dengan sukacita orang tuapun datang. Mereka menceritakan bahwa dia
sangat menyayanginya. “Dia akan mendapatkan ‘yang terbaik’ jika dia minta
sesuatu. Kami keluarga yang demokratis, mandiri dan kami bahagia dalam keluarga kami”, itu kata dari orang tuanya Putri.
Kadang
ortu beranggapan, jika
semua kebutuhan anak dicukupkan, bahkan dilebihkan, akan membuat anak
berprestasi?!. Ternyata ‘tidak!’. Katakanlah, misalnya sebuah hasil karya siswa berupa lukisan. Tugas
sekolah, dengan serius ia membuatnya, dari guru dapat pujian dan nilainya
bagus. Dengan penuh harapan , dia akan memamerkan haril karyanya ke orang tua untuk dapat ‘pujian’
berikutnya.
Begitu putri antusias untuk ‘pamer’ hasil karyanya kepada orang tua,
eh!! ternyata orang tua, ‘cuek’.
Bahkan menyuruh dia pergi, karena orang tua lagi sibuk dan pesan
untuk tidak boleh ganggu. Sekali, anak maklum. Dua kali kejadian sama,
anak mulai sakit hati, ketiga kali anak
jengkel dan selanjutnya anak jadi frustasi atau
trauma. Akhirnya dia mendoktrinkan diri. Untuk apa saya repot-repot
kerja keras. Percuma!.
Sifat
alami manusia suka menerima ‘pengakuan’
untuk hasil yang dicapainya. Sesuatu yang dibuatnya jika mendapatkan pujian
pasti ia akan semakin keras pula
usahanya untuk maju. Ini yang namanya memberi imbalan psikologi kepada anak.
Bahagia
sekali guru sudah mulai
mengajar di sekolah. Pandemi sudah berakhir.
Saat ini guru
sudah mengajar lagi
di sekolah. Orang tua tak pusing lagi mengajar
anak kandungnya sendiri. Tugas kita (guru dan ortu) tetap sama-sama mendidik, melatih dan
mengajar anak kita dengan kasih sayang, perhatian dan penuh suka cita. Semoga
anak kita selalu mendapat ‘pengakuan’ dan
imbalan psikologis dari orang tua. Salam guru untuk orang tua.
#70harimenulis
#siapataujadibuku
#challenge
- 58
#RumahLiterasiPMA
#LedwinaEti
#Senin,4Juli2022
Tidak ada komentar:
Posting Komentar