Sabtu, 09 Juli 2022

A68. Apakah pelajaran matematika ditakuti siswa?

 

      Pelajaran matematika  itu identik dengan berhitung. Menurut Kamus besar Bahasa Indonesia, matematika adalah ilmu tentang bilangan, hubungan antara bilangan dan prosedur  operasional yang digunakan dalam penyelesaian masalah mengenai bilangan.

      Matematika merupakan  ilmu universal  yang berperan penting dalam berbagai disiplin dan mengembangkan daya pikir siswa. Namun, masih banyak siswa yang menganggap matematika adalah  pelajaran yang ‘sulit’. Ada juga yang menganggap matematika itu ‘momok’ yang menakutkan. Matematika  tidak menarik, abstrak dan susah dimengerti. Dengan anggapan begitu mereka jadi tersugesti. Dampak dari hal itu  akhirnya siswa tidak tertarik untuk belajar. Setiap  ada materi yang ‘tidak paham’ dibiarkan, tanpa bertanya. Akibatnya materi semakin banyak makin banyak pula yang tidak ‘jelas’  atau tidak ‘mengerti’..

      PR dari guru tak kerja. Materi yang tidak paham tak mau bertanya. Catatan asal-asalan, bahkan salah mencatat karena tidak teliti. Dengan gurunya tidak suka. Ada saja siswa yang ingin menghindar jika jadwalnya adalah matematika. Ia  berusaha  mbolos . Ya?!! Mana akan bisa?

      Dengan berbagai ‘pernyataan’ diatas apa yang harus dilakukan  supaya ‘bisa’.

 

Ada beberapa penyebab dasar kesulitan siswa menurut  Cooney  (1975),yaitu:

1.     Faktor Phisiologis

Dampak phisiologis dan kesulitan belajar misal terganggu penglihatan. Terganggu pendengaran. Ada juga gangguan neurologis. Yaitu gangguan karena sistem koordinasi syaraf. Hal ini berdampak gangguan dalam  menerima dan mengembangkan bahan ajar bagi siswa,

2.     Faktor Sosial

Tidak semua orang tua  peduli terhadap keberhasilan anaknya. Ada orang tua yang peduli berlebihan ada pula orang tua yang ‘cuek’ atau tak pernah memperhatikan anaknya. Begitu pula faktor kepedulian di kelas atau di sekolah. Itu juga  berpengaruh terhadap  kelancaran atau kesulitan belajar siswa.  Jadi lingkungan belajar di sekolahpun merupakan  salah satu  faktor sosial.

 

3.     Faktor Emosional

Siswa yang sering gagal dalam matematika mudah berfikir ‘tidak’ rasional. Mereka  punya perasaan takut, cemas, benci pada pelajaran matematika. Akibatnya siswa kurang perhatian terhadap pelajaran matematika.  Mereka jadi mudah mengalami depresi mental , emosional akibatnya ‘kurang minat’ membaca buku matematika. Malas berlatih soal-soal dan tidak menyelesaikan PR yang diberikan oleh guru.

4.     Faktor Intelektual

Akibat rendahnya  tingkat kecerdasan  yang dimiliki siswa akan berdampak pada keslitasn memahami materi. Siswa jadi kesulitan  menguasai konsep, algoritma dan prinsip matematika. Mungkin sudah berusahanuntuk mempelajari, karena memang  tingkat kecerdasannya kurang, ya  akhirnya susah memahami.

 

5.     Faktor Pedagogik

Kurang tepatnya seorang guru dalam mengelola pembelajaran juga merupakan faktor kesulitan belajar siswa. Guru yang  kurang memperhatikan kemampuan awal yang dimiliki siswa akan menyebabkan apa yang diajarkan ‘sulit’ dipahami. Cara guru memilih pendekatan  dalam mengajar dan ‘kecepatan’  guru dalam menjelaskan konsep matematika akan berpengaruh  terhadap ‘daya serap’ siswa. Guru yang tidak menggunakan struktur  pengajaran matematika dengan baik akan membingungkan siswa.  Guru yang ‘kurang’ memberikan motivasi belajar pada siswa  serta kurang mengelola PR  dengan baik,  akan menyebabkan siswa ‘kurang’ tertarik belajar matematika.

            Dalam upaya menanggulagi  kesulitan belajar  siswa perlu kerjasama antara guru, siswa dan guru BK ( Bimbingan konseling). Begitu pula orang tua dan kepala sekolah  berperan  dalam mananggulangi kesulitan belajar siswa.  Salah satu  tugas pokok  guru adalah membantu siswa  dalam menyerap secara optimal  ilmu pengetahuan  yang dipelajari. Jika  hal ini belum terjadi maka kesulitan  yang dihadapi siswa  perlu disadari oleh guru. Guru membantu untuk memecahkan masalah  ini dengan pendekatan yang relevan dan  perlu upaya yang optimal.

            Bagi siswa kesulitan yang dihadapi perlu diatasi dengan usaha yang kuat dari diri siswa. Sebab upaya  guru seperti apapun juga tidak dapat membuahkan hasil jika motivasi siswa untuk memecahkan  kesulitannya tidak tumbuh dari dalam diri siswa itu sendiri.

            Dialog merupakan  cara terbaik untuk  mengetahui kesulitan siswa, Cara tes tertulis  kadang tidak  memberikan gambaran yang jelas  tenang sumber kesulitan siswa. Namun keterbukaan  siswa dan kejelian  guru dapat  berguna bagi guru dalam mengembangkan strategi untuk  menentukan ‘bagaimana’ yang masih belum dikuasai oleh siswa. Dengan berbagai cara pendekatan ternyata belum berhasil, maka perlu dikaji lagi pendekatan apa yang lebih sesuai untuk membantu memecahkan kesulitan belajar siswa.

 

Sebagai kesimpulan  dari uraian diatas adalah  guru perlu lebih jeli dalam mencari penyebab  kesulitan belajar siswa. Guru matematika perli lebih  menyadari dan melaksanakan misinya secara tepat  dalam mengelola pembelajaran  matematika. Siswa diharapkan termotivasi dan senang dengan pelajaran matematika.

 

#70harimenulis

#siapataujadibuku

#challenge - 68

#RumahLiterasiPMA

#LedwinaEti

#Selasa,13Juli2022

  

 

 

     

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...