Pelajaran
matematika itu identik dengan berhitung.
Menurut Kamus besar Bahasa Indonesia, matematika adalah ilmu tentang bilangan,
hubungan antara bilangan dan prosedur
operasional yang digunakan dalam penyelesaian masalah mengenai bilangan.
Matematika merupakan ilmu universal yang berperan penting dalam berbagai disiplin dan mengembangkan daya pikir siswa. Namun, masih banyak siswa yang
menganggap matematika adalah pelajaran yang
‘sulit’. Ada juga yang menganggap
matematika itu ‘momok’ yang menakutkan. Matematika tidak menarik, abstrak dan susah dimengerti. Dengan
anggapan begitu mereka jadi tersugesti. Dampak dari hal itu akhirnya siswa tidak tertarik untuk belajar.
Setiap ada materi yang ‘tidak paham’
dibiarkan, tanpa bertanya. Akibatnya materi semakin banyak makin banyak pula
yang tidak ‘jelas’ atau tidak ‘mengerti’..
PR
dari guru tak kerja. Materi yang tidak paham tak mau bertanya. Catatan
asal-asalan, bahkan salah mencatat karena tidak teliti. Dengan gurunya tidak
suka. Ada saja siswa yang ingin menghindar jika jadwalnya adalah matematika. Ia
berusaha
mbolos . Ya?!! Mana akan bisa?
Dengan
berbagai ‘pernyataan’ diatas apa yang harus dilakukan supaya ‘bisa’.
Ada beberapa penyebab dasar kesulitan siswa menurut Cooney
(1975),yaitu:
1.
Faktor Phisiologis
Dampak phisiologis dan kesulitan
belajar misal terganggu penglihatan. Terganggu pendengaran. Ada juga gangguan
neurologis. Yaitu gangguan karena sistem koordinasi syaraf. Hal ini berdampak
gangguan dalam menerima dan
mengembangkan bahan ajar bagi siswa,
2.
Faktor Sosial
Tidak semua orang tua peduli terhadap keberhasilan anaknya. Ada
orang tua yang peduli berlebihan ada pula orang tua yang ‘cuek’ atau tak pernah
memperhatikan anaknya. Begitu pula faktor kepedulian di kelas atau di sekolah.
Itu juga berpengaruh terhadap kelancaran atau kesulitan belajar siswa. Jadi lingkungan belajar di sekolahpun
merupakan salah satu faktor sosial.
3.
Faktor Emosional
Siswa yang sering gagal dalam
matematika mudah berfikir ‘tidak’ rasional. Mereka punya perasaan takut, cemas, benci pada
pelajaran matematika. Akibatnya siswa kurang perhatian terhadap pelajaran matematika. Mereka jadi mudah mengalami depresi mental ,
emosional akibatnya ‘kurang minat’ membaca buku matematika. Malas berlatih
soal-soal dan tidak menyelesaikan PR yang diberikan oleh guru.
4.
Faktor Intelektual
Akibat rendahnya tingkat kecerdasan yang dimiliki siswa akan berdampak pada keslitasn
memahami materi. Siswa jadi kesulitan
menguasai konsep, algoritma dan prinsip matematika. Mungkin sudah
berusahanuntuk mempelajari, karena memang
tingkat kecerdasannya kurang, ya
akhirnya susah memahami.
5.
Faktor Pedagogik
Kurang tepatnya seorang guru dalam
mengelola pembelajaran juga merupakan faktor kesulitan belajar siswa. Guru
yang kurang memperhatikan kemampuan awal
yang dimiliki siswa akan menyebabkan apa yang diajarkan ‘sulit’ dipahami. Cara
guru memilih pendekatan dalam mengajar
dan ‘kecepatan’ guru dalam menjelaskan
konsep matematika akan berpengaruh
terhadap ‘daya serap’ siswa. Guru yang tidak menggunakan struktur pengajaran matematika dengan baik akan
membingungkan siswa. Guru yang ‘kurang’
memberikan motivasi belajar pada siswa
serta kurang mengelola PR dengan baik,
akan menyebabkan siswa ‘kurang’ tertarik
belajar matematika.
Dalam
upaya menanggulagi kesulitan
belajar siswa perlu kerjasama antara
guru, siswa dan guru BK ( Bimbingan konseling). Begitu pula orang tua dan
kepala sekolah berperan dalam mananggulangi kesulitan belajar
siswa. Salah satu tugas pokok
guru adalah membantu siswa dalam
menyerap secara optimal ilmu
pengetahuan yang dipelajari. Jika hal ini belum terjadi maka kesulitan yang dihadapi siswa perlu disadari oleh guru. Guru membantu untuk
memecahkan masalah ini dengan pendekatan
yang relevan dan perlu upaya yang
optimal.
Bagi
siswa kesulitan yang dihadapi perlu diatasi dengan usaha yang kuat dari diri
siswa. Sebab upaya guru seperti apapun
juga tidak dapat membuahkan hasil jika motivasi siswa untuk memecahkan kesulitannya tidak tumbuh dari dalam diri
siswa itu sendiri.
Dialog
merupakan cara terbaik untuk mengetahui kesulitan siswa, Cara tes
tertulis kadang tidak memberikan gambaran yang jelas tenang sumber kesulitan siswa. Namun
keterbukaan siswa dan kejelian guru dapat
berguna bagi guru dalam mengembangkan strategi untuk menentukan ‘bagaimana’ yang masih belum
dikuasai oleh siswa. Dengan berbagai cara pendekatan ternyata belum berhasil,
maka perlu dikaji lagi pendekatan apa yang lebih sesuai untuk membantu
memecahkan kesulitan belajar siswa.
Sebagai kesimpulan dari uraian diatas adalah guru perlu lebih jeli dalam mencari
penyebab kesulitan belajar siswa. Guru
matematika perli lebih menyadari dan
melaksanakan misinya secara tepat dalam
mengelola pembelajaran matematika. Siswa
diharapkan termotivasi dan senang dengan pelajaran matematika.
#70harimenulis
#siapataujadibuku
#challenge - 68
#RumahLiterasiPMA
#LedwinaEti
#Selasa,13Juli2022
Tidak ada komentar:
Posting Komentar