Minggu, 13 Maret 2022

SUARA HATI SANG PENDAKI MIMPI


Oleh : Ledwina Eti Wuryani, S.Pd

 

"Jangan setengah hati menjadi guru, karena anak didik kita telah membuka hati sepenuhnya"

( Ki Hajar Dewantara )

 

 

Jadilah pribadi yang apa adanya didepan orang disekitarmu. Tak perlu kita bersandiwara. Hidup sebenarnya tidak sulit. Kadang kita sendiri yang membuatnya jadi Sulit. Selalu bahagia dan bersyukur serta punya rasa ’kasih sayang’ yang akan membuat kita selalu sehat dan panjang umur.

            Setelah Timor Timur menentukan nasibnya sendiri  alias merdeka berarti  penduduk yang asal Indonesia wajib hukumnya untuk pulang ke asalnya. Yaitu Indonesia. Penduduk dari Timtim punya Status baru. Saya yang nota bene seorang guru jadi punya status baru guru korban bencana konflik . Kita sudah tinggalkan semua harta benda. Kita tinggalkan semua kenangan pahit-getir dan duka-lara. Kita tinggalkan juga siswa-siswi tercinta yang kadang menyakiti  dan mengharu birukan hati.

            Dengan modal ‘nol’  lagi kami akan menatap masa depan.  Aku berusaha membangun  semangat baru.  Semoga di tempat yang baru akan mendapatkan suka cita. Ini bukan mengeluhkan nasib masa lalu. Bukan juga menjual kesedihan. Atau minta belas kasihan. Tidak sama sekali!. Hanya  mau curhat semata. Biar kisah ini tak hilang atau sirna ditelan masa. Tapi akan terpatri dalam aksara.

Ini adalah kisah  nyata salah satu perjalanan hidup seorang abdi negara.  Cerita dari hati yang paling dalam. Sebagai seorang guru  sekaligus seorang istri yang setia tentunya. Tugas guru PNS harus rela ditempatkan diseluruh pelosok Indonesia. Sebagai seorang Istri setia punya kuajiban untuk melayani dan  mengikuti suami dimana saja suami bekerja. Guru tugasnya mengajar, mendidik , melayani  dan  mendampingi anaknya, yaitu siswa/i. Begitupun seorang ibu  untuk anak kandungnya. Tujuannya sama,  yaitu mengantar anak-anak menuju cita-citanya agar kelak mempunyai kehidupan yang lebih baik.

            Saat dimuatasi  ditempat baru, kami  belum tahu situasi dan kondisinya. Kedua anakku masih balita saat itu. Anak pertama berumur 4 tahun kutitipkan di ibu kandungku di Magelang, tempat kelahiranku. Anak kedua berumur 2 tahun kubawa di Waingapu, Sumba Timur. Pada tahun 2000, Waingapu bukan kota yang maju, masih jauh dari  keramaian  dan hingar bingar layaknya kota di Jawa.   Di Dili Timor Timur jauh lebih maju karena kota provinsi.  Cuman beda, di Dili sering terjadi gesekan-gesekan antar pendatang, polisi, TNI dengan putra daerah yang tak setuju dengan Integrasi. Tapi kualitas infrastrukturnya jauh hidup lebih baik dan lebih lengkap.

            Kota Waingapu  punya semboyan “ Matawai Amahu Pada Njara Hamu” .  Kira-kira artinya sumber air yang jernih  tanah/padang yang luas  membentang  sebagai tempat makan hewan.  Hewan banyak berkeliaran khususnya kuda (Kuda Sandelwod).  Waingapu adalah sebuah  kota kecil yang  sungguh ‘asing’ bagiku. Kekeluargaan  teramat sangat kental. Nama, status sosial dan derajat masih dijunjung tinggi.  Makan tak makan yang penting berkumpul. Jadi  bagi penduduk asli seperti suami harus mengikuti adat yang ada. Adat yang sudah diwariskan leluhurnya. Dia punya kuajiban dan tanggungjawab untuk menghidupi anak-anak ‘dalamrumah’nya. Budaya itu sampai sekarang  masih sangat dihormati dan dipatuhi. Jadi tak heran  saat pertama saya datang, kami harus hidup dan tinggal bersama dengan 20-an orang lebih. Itu menjadi tanggungjawab kami. Bisa dibayangkan! Berapa kg beras kami harus masak untuk setiap hari.

            Sebagai orang baru dan masih berstatus pendatang plus  bekas korban bencana konflik , saya dan suami harus menanggung hidup dengan sekian orang. Ya Tuhan, aku  ingin menangis tapi kutahan. Aku ingin lari tapi tak mungkin. Mau mengeluh?? Mengeluh dengan siapa? Hanya untuk  makan  gajiku PNS saat itu, sangat tidak cukup.  Gaji saya Tahun 2000, dengan SK gol/pangkat  IIIb, Penata Muda Tk 1  Rp 291.200,- . Untuk mencukupkan hidup, kami sampai gali lubang  tutup lubang. Motor astrea grand puruk (sudah jelek) yang kami punya,  kami sewakan harian untuk tambah beli beras. Sedih ya... Hidup penuh derita dan keprihatinan. Sebagai pakaian ganti  kami beli baju RB (rombengan) yang layak pakai. Dari Timor Timur kami tak bawa baju yang cukup. Saat mengungsi hanya bawa seadanya. Pasti orang lain tak pernah bayangkan pergumulan kami saat itu.

            Setiap hari  makan tak pernah ada gizi. Yang penting ada nasi. Yah, lombok sayur  sudah cukup. Hanya itu yang terjangkau untuk dibeli.  Sedikit beruntung  kalau ada ikan kering sesekali. Untuk memenuhkan, agar semua anggota keluarga kebagian lauk, maka ikan kering kita taruh air banyak2 lombok dan garam tinggi. Kami juga tak mampu makan pagi.  Jadi tidak pernah bisa sarapan pagi. Makan cukup 2 kali sehari. Pulang sekolah jam 14.00 WITA dan Sore jam 20.00 WITA. Karena motor disewakan berarti pergi ke sekolah jalan kaki dengan medan yang lumayan naik turun.  SMA  tempat mengajar letaknya diketinggian jadi ada harus naik tebing untuk lewat jalan pintas. Jarak tempuh rumah - sekolah kurang lebih 2  km.

            Badanku kurus kering. Muka kelihatan lebih tua dari umurku yang waktu itu 34 tahun. Kulit keriput. Muka kusam tak ada semangat hidup. Tersenyum  susah maka wajah jadi tak menarik. Anto anak bungsuku juga saat periksa di puskesmas, dokter bilang berstatus ‘gizi buruk’.  Sungguh  sangat berbeda dengan Marcel  anak sulungku yang berada di Jawa bersama Bapak dan Ibu kandungku. Dia begitu dimanja. Disayang dengan segala yang ada.

            Cobaan hidup saat itu terasa berat. Hanya Doa yang bisa kudasarkan setiap hari. Itu yang menjadi kekuatanku. Sangat tidak mungkin aku mengeluh pada orang tuaku. Ini fakta bukannya sombong, boleh dibilang saat di Timor Timur kami ‘sudah ada’ semua. Rumah tinggal, mobil dan motor, tapi semua kami tinggal karena harus lari  mengungsi untuk menyelamatkan diri.  Kini di tempat baru nasib sungguh menyedihkan. Hanya ratapan, rintihan bahkan tangisan pribadi dalam hati yang menemaniku.

Masih jelas dalam ingatanku saat ada tamu dan tak punya beras, tengah malam kami pinjam beras di pak Beni Ngongo teman dekat. Kami sudah merasa bersaudara, Kami sama-sama dari Timor Timur.  Tapi Pak Beni tidak ada tanggungan hidup seperti saya.   Kesedihan pribadiku tak berani kutunjukkan kepada suami apalagi keluarganya. Aku berusaha tersenyum  walau terpaksa.  Harus selalu siap menerima kenyataan. Sebenarnya tak mampu tapi berusaha kuat. Hati terasa sakit  meratapi keadaan, tapi tak berdaya untuk mengungkapkan. Karena saya terasa sebatang kara karena orang pendatang baru.

            Cerita di sekolah. Saat pertama kali saya menginjakkan kaki di SMA Negeri 2 Waingapu. Hati memang terasa damai. Saat masuk kelas tak kuasa aku menahan haru. Anak-anaknya manis dan taat. Mereka tertib, ramah dan disiplin.  Mereka begitu hormat pada guru. Sungguh sangat berbeda dengan kelakuan anak Timtim.  Ada yang suka mabuk, suka berkelai  dan tak menghormati guru.  

Profesi guru di Waingapu itu kujalani dengan penuh setia. Karena  kekurangan guru matematika yang saat itu saya sendiri. Pak Tjang guru matematika satu-satunya meninggal karena sakit.  Pak Tjangkui  adalah seorang anggota dewan. Beliau juga wakil kepala sekolah bagian humas. Beliau orang sibuk,  bendahara sekolah juga beliau tangani. Selain itu masih buka les privat  dari berbagai sekolah.  Akhirnya saya yang menggantinya mengajar sampai  45 jam seminggu. Cara mengajar masuk di kelas yang satu menerangkan tinggalkan tugas kemudian masuk di kelas berikutnya. Begitu seterusnya.

            Hari terus berjalan. Lebih dari 4 tahun kami berjuang dengan kemiskinan dan penuh pergumulan. Setiap orang pasti punya pergumulan. Mereka akan punya cerita masing-masing.  Suka duka selalu mewarnai hidup  setiap kita. Roda terus berputar tak mungkin  akan  terus dibawah. Akan bahagia jika selalu bersyukur dalam keadaan apapun. Doa adalah senjata ampuh untuk  jadi kekuatan hidupku. Iklas berbagi , rela memberi adalah  manusiawi. Tuhan memberikan cuma-cuma  berikanlah juga dengan cuma-cuma. Bahasa itu yang sejuk dan menghiburku. Aku selalu mencoba untuk tidak  mengeluh. Berkat pasti akan datang dariNya kalau kita tulus meyakini.

Saya Sadar penuh bahwa saya ini adalah ‘pendatang’. Hidup ditanah orang. Bersyukur karena digaji negara. Saya bekerja  sesuai dengan kemampuan yang ada. Jaga nama baik. Tetap berusaha sabar dan terus rendah hati. Terus belajar, semoga bisa bermanfaat bagi orang lain.  Janganlah banyak berharap. Janganlah  mimpi terlalu tinggi,   kalau jatuh sakit sekali. Pernah aku lulus tes  untuk melanjutkan S2  tahun 2007/2008 di UGM Prodi UMKM, biaya kementerian . Wah saat itu rasanya senang bukan kepalang. Terasa terbang dan tak injak tanah.  Dengan  ‘alasan’ dari pemda yang tidak jelas jadi tidak diijinkan. Tahun berikut  masih ada panggilan karena nama belum dicoret. Tetap tidak diijinkan. Tahun ketiga masih ada panggilan tapi  dari Pemda jawabannya masih sama. Yah,sudahlah.  Tak apa-apa. Biar anggap itu mimpi. Hanya curhat untuk kenangan saja. Kubur dalam-dalam kenangan  yang pernah terjadi. Hidup  ‘Enjoy’   ternyata lebih asyik.

Tak terasa kini saya sudah 22 tahun tinggal di Waingapu. Hari terus berganti. Tahun demi tahun pun telah kulalui.  Kebahagiaan mengikuti seiring berjalannya waktu. Secercah harapan selalu ada. Tuhan  selalu menunjukkan jalan. Nikmat Tuhan selalu nyata. Kutuliskan suara hatiku ini sebagai seorang guru ‘perantau’. Perjalanan hidup yang penuh dengan liku-liku. Dari daerah konflik hingga dimutasi di Waingapu. Indonesia Timur. Orang bilang NTT adalah Nasib Tak Tentu. Diberita koran pernah tertulis NTT adalah  daerah penyumbang orang miskin nomor one di Indonesia. Kasihan ya.

Semua cerita  kehidupan pasti ada hikmahnya. Aku tetap guru. Sekolah  adalah ladang amalku. Tempatku mengabdi hingga purna bakti. Akan setia sampai waktu pensiun menanti lima tahun lagi.  Sudah banyak merasakan asam dan garam dibidang pendidikan. Bersyukur baru-baru, bulan Desember 2021 tepatnya tanggal 15 saya dapat ‘anugerah’  Lencana Karya Satya dan piagam penghargaan tanda-tangan Presiden RI, Bapak Ir. Joko Widodo. Bangga dan bahagia!!. Trimakasih pak Presiden, kenangan ini akan saya ingat hingga putus nafasku.

 

 

PROFIL PENULIS

 

Salam ...Saya,  Ledwina Eti Wuryani, S.Pd, Asli Magelang Jawa Tengah.   Tinggal di Timor Timur 10 tahun ( Kabupaten Bobonaro 3 tahun, Dili 7 tahun) dan di NTT sudah 22 tahun.  Seorang ibu 2 putra dan menjadi guru  di SMA Negeri 2 Waingapu, Sumba Timur, NTT. Diwaktu senggang penulis suka menulis di mediamasa, medsos, majalah dan buku. Sudah 50 lebih  buku solo dan antologi  ber-ISBN yang sudah terbit. Penulis bisa dihubungi di ledwinaetiwuryai@gmail.com , ledwinaastiwi44@guru.sma.belajar.id , fb, IG dan You tube :  Ledwina Eti  dan blog  etiastiwi66.blogspot.com  HP WA 085 230 708 285 alamat rumah Jl. Trikora no: 11 RT/RW  010/003 Waingapu, Sumba Timur NTT.  Quotes :  Sebuah kebanggaan Jika  hidup bisa bermanfaat bagi sesama.

 


Kamis, 10 Maret 2022

BERLITERASI SAAT PANDEMI MELANDA NEGERI

 


Oleh : Ledwina Eti Wuryani

 

Jadilah terang tanpa memadam cahaya orang lain. Naiklah tinggi tanpa menjatuhkan orang lain. Capailah Bahagia tanpa melukakan hati orang lain. Dan paling penting Jadilah baik  tanpa memburukkan orang lain.

 

Saat  awal pandemi melanda semua orang bersedih. Hari demi hari diisi dengan  ketakutan dan kegelisahan. Hidup tak tenang dan harus terus waspada.  Badanpun terasa lelah, lesu dan lunglai. Orang sakit dimana-mana. Kematian juga  terdengar  setiap saat di sekitar kita.

Pandemi menyerang siapa saja. Miskin-kaya, pejabat-orang biasa, dia tidak   pandang bulu. Siapa saja siap diterjangnya.  Bahkan gaungnya pun  hingga  di seluruh dunia.  Situasi benar-benar terpuruk.  Corona mengguncang dunia. Dunia berduka.  Dampak itu juga sampai di Indonesia.  Di tempat tinggalkupun  terkena serangan  dari corona. Dia begitu mengganas. Kami begitu sedih!. Hati terasa perih,  sedu sedan dan  deraian  air mata   selalu  menemani.

Ya Tuhan  ampuni kami.  Kadang sampai saya berfikir…..jangan-jangan  Tuhan sedang  marah. Banyak  manusia  yang melupakanNya. Mungkinkah manusia  banyak tak lagi berdoa?. Alahu alam!. Barangkali ada juga menganggap perbuatan dosa  sudah dianggap biasa?.  Atau?! Banyak  yang  sudah menghalalkan segala cara demi kebahagiaataan semata.  Ini tentunya sebuah refleksi bagi setiap kita.

Saat itu….  Kami juga  berduka. Banyak keluarga dekat yang meninggal dunia.  Adik sepupu, mama mertua dari  adik kandungku, tetangga dekatku, teman guru .….semuanya berpulang.  Termasuk juga  ibu kandungku. Memang ibu bukan karena corona, tapi mungkin  karena  badan terlalu lelah memikirkan keadaan. Ibu sempat positif covid-19 tapi sembuh. Yah….  Semuanya harus diterima dengan lapang dada, agar mereka yang berpulang  aman  mengikuti jalannya lurus menuju Sorga.

Tangis dan  air mata belum kering, disusul  seluruh isi rumah terkena pandemi. Baik  keluarga yang di Jakarta, di Magelang dan saya sendiri di Sumba NTT. Suami paling parah karena beliau  ada komorbit sakit jatung.  Doa terus kudaraskan saat itu. Kekuatan dan penghiburan hanya dengan doa dan berusaha sesuai kemampuan yang ada. Keluarga  turut mendoakan.  Saudara/i dan handaitaulan juga tak ketinggalan selalu memberikan penguatan.  Suamiku….  nyawa hampir melayang, tetes-tetes air mata  menitikkan setia saat.  Kami sudah pasrah   dan tak bisa berbuat banyak.  Hanya doa dan terus berdoa  yang  kudaraskan.

Tapi  ternyata Tuhan masih  sayang pada kami. Suami disembuhkan. Kini  dia sehat Kembali. Senyumnya kini merekah dan berseri lagi. Tak henti-hentinya kami mensyukuri atas  anugerah yang Tuhan beri. Tuhan yang sungguh baik hati. Dua tahun sudah  kami  bersama pandemi ini.  Banyak sekali  cerita  yang mendukakan hati. Kenangan berharga untuk  kami selalu refleksi diri.

  Hidup itu tidak lama. Sebelum Tuhan memanggil pulang. Pasti  ada rasa bangga jika hidup ini berguna. Hati  akan bahagia jika hidup  kita ini berwarna. Ada rasa  senang juga jika hidup bisa menginspirasi sesama. Saat pandemi hidup terkungkum di rumah  saja. Pemerintah melarang kita beraktifitas diluar rumah.  Harus  selalu jaga  protokol kesehatan. Jaga jarak dan kurangi mobilitas.  Kadang ada rasa bosan dan jenuh. Jika  tak ada aktifitas tentunya pikiran bisa beku!. Apa yang harus kita kerjakan???

 

Pada suatu hari saya merenung. Saya membaca profil penulis di FB. Di situ ada penulis buku.  Saya membayangkan!. Ini seandainya saya  bisa menulis dan tulisan saya dibukukan ….. wow! betapa bangganya saya. Namaku tertulis indah, fotoku terpampang didalam covernya. Mimpi kali ya. Mimpi  boleh,  bermimpilah terus sepanjang  mimpi  belum dilarang oleh pemerintah. Tapi ketidakpercayaan diri dan ketakutan itu selalu melanda di hati. 

Saya ingat  tulisan dari Pak Cah, penulis hebat dan bert seller. Madeleine Lengle  mengatakan  bahwa  memublikasikan tulisan itu artinya menyiapkan diri  untuk mendapat serangan terbuka. Artinya,  jika kita berani menulis harus  siap menerima serangan itu. Hatiku sendiri jadi  ciut. Tapi kalau pasrah kapan mimpi itu bisa diwujudkan?. Syarat menggapai mimpi  harus berani  menanggung resiko yang akan terjadi. Harus  focus!

 Tak usah mimpi  terlalu tinggi. Kalau  jatuh  sakitnya setengah mati. Dengan  menulis saya hanya  ingin ‘dikenal’ segelintir orang saja. Itu sudah cukup. Tak usah  menjadi ‘unicorn’. Jalani  seperti air yang mengalir. Nikmati dan berusaha belajar sesuai dengan kemampunan yang kumiliki.  Tak perlu jadi orang lain. Jadilah diri sendiri supaya tak pusing.

            Benar  adanya. Kucoba menulis di FB. Maksudku untuk memperkenalkan saja dimedsos. Terserah apa tanggapan para pembaca tentang tulisanku. Kucoba lagi menulis di majalah, ternyata dimuat. Betapa senangnya hati saat itu.  Para pembaca menyemangatiku. Mereka mengapresiasi dan memotivasi. Ada yang langsung  koment di fb ada juga  yang japri. Dari sinilan muncul percaya diri alias PD. Artinya tulisanku bisa  dipahami. Tulisanku yang seorang penulis  pemula dimengerti dan bisa diterima oleh para pembaca.

Akhirnya aku bergabung di group menulis. Pertama di KMO (Komunitas Menulis Online) Alineaku. Kedua dengan WAG MBI ( Menulis Buku Inspirasi). Ketiga dengan Group PGRI. Dari sinilah akhirnya saya banyak kenal  para pegiat literasi Indonesia. Di KMO kenal dengan  penulis hebat pak Cahyadi Takariawan, Bu Nurlaila, Mbak Lina, pak Irfan dan teman-teman yang lain. Di Agupena NTT kenal dengan Bapak Thomas Sogen, Bunda Lilis, Ibu Lily, Pak Sahat  dan masih banyak lagi.  Di PGRI kenal dengan Om Jay ( Wijaya Kusumah, M.Pd), Ibu Kanjeng ( Dra Sri Sugiastuti , M.Pd ), Bu Mae dan tak bisa kusebutkan satu persatu saking banyaknya.

 Pertemanan dengan para penulis senior begitu  mesra dan indah. Walaupun aslinya belum pernah bertatap muka sama sekali. Kami hanya kenal lewat online saja. Lewat Group  whatsapp. Mereka begitu baik dan rela memberi iklas berbagi. Semuanya saling menyemangati. Saya pemula yang tadinya  ‘buta’  berubah  jadi ‘terbuka mata’. Walaupun pengetahuanku dalam menulis baru seujung kuku. Tapi cukup bangga.  Saya jadi salah satu orang yang berani menulis. Yang jelas  jadi orang harus mau belajar dan terus belajar. Jangan malu bertanya dan berani mencoba. Long Life learning. Menulis adalah sebuah keberanian yang tidak dimiliki semua orang ( Pramoedya Ananta Toer).

            Beberapa teman FBku menelponku. Mereka semua memberi semangat. Ini ada teman yang dari Jakarta, Kalimantan, Mataram dan dari tempat lain. Mereka salut padaku. Hmhm.. aku jadi malu dibuatnya.  Mereka ingin belajar bahkan ada yang memesan bukuku jika aku buat buku. Wowww!! Antara senang, gugup, bingung campur campur.  Saat itu juga tiba-tiba ada WA  masuk di HP-ku. Cerpenku  yang kukirim di Kreatory  masuk  rangking ke-22, artinya  masuk 30 besar tingkat nasional. Sebagai pemula aku jadi bangga luar biasa. Dapat Medali, hadiah buku, sertifikat. Hadiah itu kuposting di medsosku  Dengan begitu  banyak pujian dan motivasi dari teman-teman, keluarga dan sahabat medsos. Itu  awalnya aku jadi semangat menulis.

Aku mencoba membuat tulisan untuk dibukukan. Tulisn itu  berupa kumpulan  cerpen. Kupikir-pikir lagi, apakah mungkin bukuku nanti ada yang mau membaca? Apakah  ada yang membeli??  Ahh!!  jawaban itu kutepis. Tak boleh menyerah!. Jangan merasa kalah sebelum maju perang. Hehe….  menghibur diri. Terbukti nyata.  Buku Solo saya terbit. Buku itu berjudul ‘Mengungkap Rahasia’  Sebagai editor dan mengapresiasi  buku saya adalah Bunda Lilis ( Dra Lilis Herpianti Sutikno, SH) beliau adalah  seorang penulis best seller. Apresiasi editor sampai penerbitan buku adalah Ibu kanjeng (Dra Sri Sugiastuti), seorang pegiat Literasi, Bloger, Nara Sumber Penulis Nasional, Kepala SMK  dan masih banyak jabatan lain. Beliau berdua  yang jadi motivator saya.

            Terbit juga buku Solo Kedua, yaitu kumpulan resume dari pelatihan bersama group PGRI bersama Om Jay ( Wijaya Kusumah , M.Pd) Sang  blogger nasional, Nara sumber, penulis hebat, guru Labs Scholl, Motivator, dll. Judul  bukuku adalah ‘Trik Jitu Menjadi Penulis Masa Kini’. Disusul Buku solo ketiga,  Kumpulan Resume Bersama pak Naf ( Nafrizal Eka Putra, M.Pd) berjudul ‘Bangga Menjadi Seorang Penulis’. Solo Yang ke-4 berjudul ‘Dari Goresan pena Mengukir Prestasi’. Buku ini berisi tentang  naskah dan artikel yang pernah terbt di majalah, di buku antologi dan yang pernah masuk  Cerpen 30 besar even Nasional dari Kreatory.

            “Semua berawal dari Mimpi, gantungkan yang tinggi  agar semua terjadi”. Kini buku solo dan  buku antologi yang ber-ISBN dijumlahkan  sudah lebih dari 50 buah.  Saya dipercaya ibu kanjeng  menjadi kurator buku “ Pandemi Bukan Mimpi” dan buku antologi pentigraf berjudul ‘Tiga Tapak Rona Kehidupan’. Menjadi editor buku ‘Lelaki Pematik  Mimpi’ Mengendors beberapa buku  teman-teman penulis. Banyak juga teman yang pesan buku saya. Semua itu sungguh membanggakan saya. Biarlah semua  seperti air yang mengalir. Tuhan sudah atur semuanya. Kita  harus setia menjalani hidup sesuai dengan kehendakNya.

Trimakasih Tuhan, trimakasih teman, sahabat dan handai taulan yang sudah jadi motivatorku. Trimakasih pembelajaran Online ( IG, WA, fb). Semoga ini akan menjadi kenangan yang indah. Semoga buku-buku yang sudah  terbit  terus beredar  dan  bisa menginsipirasi.  Buku kami juga bermanfaat bagi para pembaca yang setia dengan literasi Indonesia. Majulah negriku dengan literasi yang berseri.

            Benar saja, ternyata  adanya pandemi,  membawa dampak yang baik. Saya jadi punya profesi baru. Jadi salah salah  pegiat literasi negeri.  Mungkin kalau  tak ada pandemi saya tidak punya  karya. Pastinya saya  hanya berkutat di sekolah jadi guru saja. Tugasnya mengajar siswa hanya  tekun membuat perangkat dan  sebagai sorang  ibu yang mengurus rumah tangga.

            Akhirnya, ini yang bisa aku ceritakan. Berliterasi saat pandemi melanda negeri. Sebagai catatan, semua kejadian dan peristiwa itu pasti ada hikmahnya bagi kita. Ada sisi negatif, tapi perlu kita menyikapi sisi positifnya. Hidup lebih bermakna jika kita isi dengan warna indahnya pelangi. Mejikuhibiniu, Merah, jingga, kuning, biru, nila dan ungu. Warna yang mempesonaku. Bisa selalu senyum setiap hari. Senyum akan membuat hati suka cita. Hati bahagia membuat kita panjang usia. Dengan umur panjang kita  bisa terus berkarya. Bisa terus mengabdi  dan rela melayani  keluarga, agama dan  tentunya abdi negara dengan setia. Kiranya bisa terus berkarya, menebar inspirasi yang mempesona untuk keabadian. Mengukir asa untuk generasi muda kita. Semoga!.

 

 

Penulis:  Ledwina Eti Wuryani, S.Pd, Asli Magelang Jawa Tengah, jadi guru di Timor Timur -+ 10 Tahun dan di NTT sejak 22 tahun yang lalu.  Seorang ibu 2 putra, Marcel dan Anto. Penulis adalah ibu rumah tangga  sekaligus  guru  Matematika  di SMA Negeri 2 Waingapu Sumba Timur. Penulis alumni SDK Kamal Pagersari, SMPK Muntilan, SMAK Stella Duce 1 Yogyakarta dan IKIP Sanata Dharma Jogyakarta. Beberapa tulisannya dimuat di Media masa, majalah dan buku. Sudah lebih  50 buku solo dan antologi  ber-ISBN yang sudah terbit. Penulis juga dipercaya jadi editor  dan penyunting buku di MBI (Menulis Buku Inspirasi) NTT yang diprakarsai oleh penulis best seller Bunda Dra Lilis Herpianti Sutikno, SH, Mengisi Endors di beberapa buku dan menjadi kurator buku  dibawah naungan bunda Dra. Sri Sugiastuti, M.Pd, (pegiat literasi Nasional, Narsum nasional, Motivator, penulis dan  kepala SMK). Penulis bisa dihubungi di surel ledwinaetiwuryai@gmail.com , ledwinaastiwi44@guru.sma.belajar.id , fb, IG dan You tube :  Ledwina Eti  dan blog  etiastiwi66.blogspot.com  HP WA 085 230 708 285 alamat rumah Jl. Trikora no: 11 RT/RW  010/003, kel. Hambala, Kec. Kota Waingapu, kab. Sumba Timur NTT.  PO Box. 87112. Quotes :  Sebuah kebanggaan Jika  hidup bisa bermanfaat dan menginspirasi  sesama.


 

Selasa, 08 Maret 2022

KOK TEGA-TEGANYA…….

 


Oleh : Ledwina Eti Wuryani

 

Panggil saja Umbu  Datuk Langgi. Orangnya baik dan dermawan. Beliau adalah  anggota DPRD selama 3 periode. Tapi saat ini beliau sudah tidak menjabat lagi. Istrinya punya karisma  inner beauty.  Walaupun suami seorang  pejabat tapi  sang istri tetap rendah hati dan suka menolong. Umi Datuk biasa dipanggil. Keluarga itu  mempunyai 4 anak, hanya 1 saja yang perempuan. Namanya masing-masing adalah : Umbu Jeffri (Uje), Umbu Brizen (Ube), Umbu Kenji (Uka) dan Tamu Rambu Reiana (Ambu Rei). Kakaknya sudah nikah semua, sisa si bungsu yang  belum Nikah.  Jumat, minggu depan  dia rencana menikah. Uka adalah  Sarjana Arsitek. Calon istrinya adalah  seorang calon dokter,  dara manis dari Malang. Putri dari Bapak Noto Prayugo  kepala  SMA Negeri di Malang.  Kedua keluarga besar sudah saling bertemu.  Mereka sudah saling sepakat  bahwa pernikahan nanti akan diadakan di Sumba dan di Jawa. Acara resepsi diadakan di Sumba terlebih dulu, dipihak laki-laki.

 

Seperti biasa,  adat sumba jika ada yang punya hajatan (pesta) biasa mengadakan acara ‘kumpul tangan’.  Acara tersebut  artinya  keluarga besar berkumpul  untuk membicarakan anggaran perhelatan  tersebut. Masing-masing keluarga punya kuajiban menyumbang untuk acara tersebut.  Bapak Umbu Datuk berjanji untuk menyiapkan 4 ekor sapi untuk lauk-pauk acar besar itu. Sebagai orang kota Umbu Datuk Langgi sejak tahun 2012 sudah menitipkan sapi sebanyak 9 ekor di kampung. Hitung-hitung sebagai tabungan saat beliau  masih menjabat anggota dewan. Sebagai pertimbangan nanti kalau  ada ‘acara’ tinggal  ambil saja. Selain  membantu kehidupan orang kampung pasti hewan itu akan beranak pinak, pikirnya. Dikota susah cari rumput dan tenaga kurang.

 

 Karena Pernikahan akan digelar minggu depan, maka Datuk Langgi  pergi ke kampung. Selain bersilaturahmi dengan orang kampung yang pelihara hewan sekalian  rencana ambil  sapi  yang sudah beliau janjikan di rapat keluarga. Jarak tempuh kota ke Tabundung kira-kira 60 km dengan medan yang lumayan sulit. Sampai di rumah bapa Tua yang memelihara sapi… rumah itu sepi sekali. Ada  anaknya laki-laki bujang yang  seorang diri. Bapaknya lagi ke hutan katanya. Umbu Datuk menunggu sudah lebih 4 jam. Tak ada tanda-tanda baik. Tak lama kemudian ada seseorang yang menghampiri Umbu Datuk. Disitu Umbu cerita maksud kedatangannya. Ternyata diluar dugaan , orang yang baru datang cerita bahwa  semua hewan  sudah habis dijual dan tak bersisa. Mereka  pake untuk main judi dan untuk biaya hidup. Umbu Datuk Langgi tak bisa  menahan  emosi. Dada terasa sesak. Jantungpun berdebar sangat kencang hampir berhenti berdetak. Dengan hati serasa teriris sembilu tekanan darah naik tak terbendung. Kebetulan Umbu Datuk punya riwayat tekanan darah tinggi. Saking tak kuasa menahan emosinya akhirnya beliau terjatuh dari bale-bale rumah.  Kejadian itu hanya berdua. Kampung sangat sunyi. Penduduk kampung sangat jarang dan berjauhan.  Persatu  km baru ada rumah. Karena lambatnya pertolongan bapak tua menghembuskan nafasnya yang terakhir. Pilu sedih kejadian itu. Umbu Datuk akhirnya dibawa pulang ke Kota dalam keadaan tak bernafas lagi. Sampai dikota betapa sedihnya semua warga yang mendengar kronologi ceritanya. Minggu depan  mau ada perhelatan besar untuk putera bungsunya dengan persiapan yang special.  Ternyata Tuhan menentukan cerita yang berbeda. Oh Tuhan…!, ternyata acara pernikahan yang akan membawa tawa kebahagiaan itu berubah menjadi deraian air mata kesedihan. Ribuan  tamu yang melayat  turut menangis sedih. Isak tangis terdengar setiap kita yang hadir. Bapa/mama besan datang dari Malang bersama calon istrinya Uka.  Mereka   pingsan di depan jenazah Bapak Datuk diikuti semua anak-anak kandungnya juga ikut berjatuhan. Semua tamu yang hadir sungguh merasa terharu dan sedih. Oh Tuhan…..  ampunkanlah orang kampung yang tega menyalahgunakan kepercayan orang baik ini. Semoga mereka dipanjangkan umurnya dan mau bertobat.

 

 

Waingapu,  7 Maret 2022

 

 

Sabtu, 05 Maret 2022

AYAHKU ADALAH TELADAN HIDUPKU

 


Oleh : Ledwina Eti

Bapak berpesan, kerjakan tugasmu dengan senang hati. Jagalah kepercayaan yang diberikan oleh atasanmu. Jalani hidup ini dengan  hati penuh ucapan syukur, hadapi dengan senyuman dan keiklasan  maka kamu akan merasakan anugerah kehidupan yang luar biasa.

 

            Kami sekeluarga tinggal di sebuah kampung kecil. Nama kampungya Gejayan, Gondowangi, Sawangan, Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Kampung udik dan  jauh dari hingar bingarnya kota. Hidup sederhana. Sejak SD hingga SMP kami ( aku dan 3 adikku) sekolah dengan berjalan kaki. Di SD jarak tempuh dari rumah 4 km, sedangkan SMP jarak tempuh dari rumah ke sekolah sekitar 7 km. Kami berjalan dengan menyeberang 2 sungai besar salah satu namanya pabelan, yang satu lagi lupa Namanya. Kami menyusuri  bentangan persawahan yang luas. Jalan dengan kaki kosong tanpa alas. Sepatu di simpan dalam tas, setelah mau dekat sekolah baru dipakai agar tak cepat rusak. Kasihan orang tua jika kami boros dan tidak bisa ikut  prihatin.

Sejak masih kecil saya pribadi  mengagumi figur  bapak yang berprofesi sebagai seorang guru. Sejak tahun 1963 – 1990 bapak mengajar di SPG Van-lith. Sekolah ber-asrama. Sebuah sekolah peninggalan Belanda. Gedungnya indah dan megah hingga sekarang.  Peserta didiknya dari seluruh pelosok Indonesia. Bahkan kepala sekolah pertama adalah Pastor Misionaris orang Belanda. Muridnya  sopan, ramah dan begitu menghormati guru. SPG kependekan dari Sekolah Pendidikan Guru. Tentunya di sekolah itu diajarkan tentang pembelajaran pedagogik, ilmu keguruan.  Saya kecil dulu sering diajak bapak ke sekolah. Saya disayang-sayang oleh muridnya bapak. Diajari menulis, menyanyi, diberi hadiah, dikasih makanan. Yah, layaknya aku dianggap  seorang murid pra-sekolah yang setia, …wkwk.  Begitu kali ya. Ya pokoknya terkesan deh  saat itu.

Bapak pergi mengajar dengan naik motor L2S butut. Tapi kami bangga. Pengalaman naik motor tua saat  itu  tak  pernah saya lupakan.  Setiap tanggal gajian pasti kami, sekeluarga diajak makan sate, gule tongseng daging kambing bu Mirah di depan terminal Muntilan. Makanan favorit keluarga kami.   Motor satu dinaiki full 5 orang, wow!!.  Seru!! Coba sudah ada foto seperti sekarang ini pasti saya dokumentasikan. Saya posting haha… Itu rutin bapak lakukan setiap bulan habis gajian. Betapa senangnya, betapa merindukannya kebersamaan  saat itu.

Bapak sejak muda memimpikan  semua anaknya sekolah  di Jogya.  Walaupun bapak tahu dan sadar bapak hanya guru dan saat itu gaji guru teramat sangat kecil. Bapak berprinsip:  Biarlah  hidup prihatin, sederhana dan pinggang diikat kencang yang penting semua anaknya bisa sarjana. Jika sudah punya ijasah sarjana artinya sudah punya SIM untuk bekerja. Bisa untuk modal  hidup lebih layak nantinya. Harapan bapak supaya hidup anaknya lebih baik dari orang tuanya. Dan yang jelas agar kelak  tak akan ada lagi yang  menuntut dan berebut warisan setelah orang tua  meninggal dunia.

      Benar saja, semua kami anaknya lulusan Jogya, dari SMA sampai  kuliah. SMA Stella Duce, SMA De Britto dan SMA Gama. Kuliah:  2 orang di UGM, 1 Sanata Dharma dan 1 Atma Jaya. Akhirnya semua kita, mantu dan  cucu juga almamater ‘Ngayojokarto Hadiningrat’.  Dua orang kuliah UGM, 3 orang di Atmajaya, anak mantu 1 UPN, 2 Sanata Dharma. Biar kami sudah  terpencar  di NTT  dan Jakarta  semua kuliah di Jogya. Ibu dan bapak yang sudah ‘sepuh’ (tua) jadi senang semua  anak cucunya semua  kumpul di saat tertentu. Semua kami  menimba ilmu di kampung halaman.

Semua warga Sudayat mengambil jurusan teknik sipil, arsitek, dokter, ekonomi dan komunikasi.  Hanya saya yang  jurusan kependidikan, yang berprofesi guru seperti bapak. Saat itu  guru adalah  profesi yang sering dihindari karena ‘kesederhanaannya’. Orang  melihat dengan sebelah mata. Teringat Figur pak ‘Umar Bakri’.  Seorang guru yang naik sepeda ontel, hidup pas pasan, penuh kesederhanaan dan dengan mencari penghasilkan  tambahan kerja serabutan demi mencukupkan kebutuhan rumah tangganya.

Bapak adalah guru di SPG , pada tahun 1990 SPG ( Sekolah Pendidikan Guru)  ditutup diganti dengan SMA ( Sekolah Menengah Atas). Saat itu ketiga adikku masih kuliah. Jelas gaji tak cukup karena  ibu hanyalah seorang ibu rumah tangga dan petani biasa yang mengelola sawah warisan dari mbah Kakung. Adik-adik saya  bisa saja  terancam DO gara-gara  uang kuliah tak bisa terbayarkan.

Rejeki memang tak salah alamat. Teman Bapak  waktu masih  sekolah di SGA (Sekolah Guru Atas) di Jogya bernama Bapak  Drs. Margono, M.Si. Beliau Pejabat di Dikmenum ( Pendidikan Menengah Umum) di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan RI. Beliau menawarkan bapak untuk  menjadi kepala sekolah di Timor Timur. Provinsi Indonesia yang terakhir. Saat itu Tim Tim masih membutuhkan Kepala sekolah dan guru. Saat yang sama, saya lulus kuliah . Bapak mengajukan  permohonan untuk saya ditempatkan di Tim Tim Juga. Benar saja, akhirnya saya diberi SK  di SMA Negeri Maliana Bobonaro Timor Timor. Bapak sebagai ‘kepala sekolah’ dan saya sebagai ‘guru biasa’. 

Selama tiga tahun kami bertugas di Maliana,  Bapak dimutasi di SMA Negeri 1  dan saya dimutasi di SMA Negeri 3 Dili, Timor Timur. Banyak cerita, sedikit suka dan banyak duka selama  mengajar di Tim Tim. Saat itu Dili adalah daerah konflik. Daerah belum aman, tentara Indonesia masih terus berjaga setiap saat. Pemberontakan-pemberontakan kecil sering terjadi hanya karena masalah kecil atau kesalahpahaman. Sebagai pendatang seperti dibuat kurang tenang dan tak nyaman menjalani kehidupan. Sering anak siswa  buat ulah. Mereka  kadang tidak menghargai guru. Gurupun kadang jadi sasaran kenakalan mereka.  Perkelaian sering terjadi antar  murid. Situasi dan kondisi membuat  hati selalu was was. Situasi sering membuat  tegang dan takut.  Tapi….namanya ‘abdi negara’  harus tetap setia dengan tugas dan tanggung jawabnya. Hidup bersama bapak serasa bahagia walau kadang terpaksa.  Senyum meringis menghadapi suasana yang sering genting. Ibu tidak bersama kami di Dili karena itu  menjaga adik-adik  yang masih sekolah dan kuliah sambil terus menggarap sawah.

Sebuah pengalaman berharga bagi Bapak. Beliau sempat  diberi tugas untuk studi banding ke Australia. Wow!!  Sebuah sejarah yang bisa dikenang oleh anak cucu. Sebuah kebanggaan bagi kami keluarga. Bapak cukup disegani saat jadi kepala Sekolah SMA Negeri 1 Dili Timor Timur. Sekolahnya maju. Pembelajarannya ala Luar negri dengan Jadwal Class moving. Kini Foto-foto kenangan saat di Austraslia, saat didatangani Menteri Pendidikan masih terpampang jelas di ruang tamu rumah di kampung.

Suamiku namanya Adi Ch. Muhu, orang NTT. Kuliah se-almamater, cuma jurusan berbeda. Dia mengambil jurusan PDU ( pendidikan dunia usaha). Setelah nikah dia  tes PNS di Timor Timur dan Lulus. Lengkaplah kami bertiga mengabdi di daerah konflik itu. Selama 9 tahun.  Berjuang sebagai abdi negara. Tulus dan iklas  untuk turut serta mencerdaskan anak bangsa. Hingga titik darah penghabisan karena akhirnya Timor Timur ‘merdeka’ dan  lepas dari Indonesia.

Benar. Tepatnya bulan September tahun 1999 Tim-tim jajak pendapat. Di Luar dugaan Pro Integrasi/ pro Indonesia  ‘kalah’. Para guru, pegawai dan warga Indonesia berarti harus ‘pulang’ ke tanah asalnya. Bapakku, Heribertus Sudayat saat itu sedang urus MPP ( Masa Persiapan Pensiun Di Jakarta). Rumah di Perumahan USINDO Comoro, rumah kos 12 kamar,  di rumah tinggal di Becora. Semuanya  kutinggalkan  beserta isinya. Kami lari menyelamatkan diri. Kami pergi mengungsi. Saat itu Dili jadi lautan api. Harta benda nanti bisa dicari, yang penting lari, daripada mati! Saya  mengungsi saya terpisah dengan suami. Kuselamatkan surat-surat penting. Ada juga kami mobil taxi,  karena tak bisa nyupir ya tinggalkan saja biar  orang yang pakai, hitung-hitung amal. Pergi hanya dengan baju secukupnya yang bisa ditenteng saat mengungsi. Beruntung saat itu bapak  sudah di Jawa karena mengurus purna bakti.  Bapak  tidak merasakan piruk pikuknya paska jajak pendapat. Bapak beruntung tidak ikut lari menyelamatkan diri. Tidak merasakan suasana pembakaran, pemberotakan yang mencekam dan  memakan korban ratusan orang. Kami  warga sipil Indonesia lari terbirit-birit cari tumpangan otto, kapal, truk, fuso ( mobil tentara) atau angkutan apapun untuk keluar dari Tim Tim.

Saat itu kami minta dimutasi di Waingapu, Sumba Timur tempat lahirnya suami. Ke- NTT tak ada container. Jadi kami hidup mulai dari ‘nol’ lagi. Beruntung masih ada surat-surat penting sebagai modal kehidupan selanjutnya. Masih bersyukur Tuhan masih memberikan nafas dan kehidupan. Masih diselamatkan. Masih bisa melarikan diri ke zona aman. Terus bersyukur untuk cinta dan berkat Tuhan. Semuanya pasti akan baik-baik saja. Biarlah itu menjadi kenangan dan sejarah hidup. Maka  kugoreskan disini dengan tinta emasku, untuk kenangan anak, cucu, cicit, cecet…… semoga kelak masih mengingat  bahwa neneknya adalah bekas korban konflik bencana.

Sejak Timtim merdeka, kami semua pulang ke Indonesia. Bapak menikmati pensiun bersama ibu di Muntilan, Jawa tengah. Saya bersama Suami di Waingapu NTT. Semua adikku terhitung sudah mapan. Syukurlah. Mereka  tinggal di Jakarta dengan kehidupannya sendiri-sendiri.  Waktu terus berjalan. Kehidupanpun  jadi berbeda.  Semua berubah  sesuai dengan   falsafah hidup Jawa “kumpul ra kumpul, sing penting iso mangan’ artinya biar kita tidak  berkumpul dalam satu rumah besar, tapi masing-masing bisa makan. Mereka masing-masing punya rejeki dengan cara yang berbeda. Tak perlu saling  mengharapkan orang lain. Selalu bisa  mandiri dan tak perlu saling merepotkan satu sama lain.

Pada Suatu hari  ibu sedang  pergi  kondangan (acara pernikahan) keluarga. Bapak di rumah sendiri. Pada suatu hari dibulan maret 2007. Bapak sementara  menonton televisi.  Tiba-tiba   gebyok rumah terlepas dari kunci kaitnya. Bruakkk!!! Terdengar bunyi sangat keras tentunya. Saking kerasnya hingga tetangga semua berdatangan.  (gebyok : Dinding papan  jati  isi ukuran 3x6 m2).  Tepat mengenai bapak yang sementara asyik menonton TV. Bapak kejatuhan benda super berat itu. Posisi ibu  tidak ada di rumah. Kejadian yang mengerikan membuat panik warga kampung yang menyaksikan. Akhirnya bapak dilarikan ke rumah sakit. Ibu tahu setelah pulang dari kondangan.  Bapak koma, tak sadarkan diri selama 4 hari.  Sejak kejadian itu bapak  pikiran terganggu. Mungkin karena  benturan yang terlalu  keras di kepala, bapak gegar otak. Sedih dan pilu kami mendengarkan kabar itu.  Setiap hari bapak hanya duduk, diam dan berdoa sampai bapak meninggal di bulan september 2009.

 Selamat jalan bapak, ibu dan anak-anak sangat mencintai bapak. Kenangan bersamamu tak kan pernah lupa hingga putus nafasku. Jasamu  terukir  indah dihatiku. Nasehatmu akan kuingat selalu.  Semua akan kami dilaksanakan dengan sepenuh hatiku.  Kami terus berdoa untuk bapak semoga bapak  sudah tenang di Sorga. 13 tahun kemudian, tepatnya tanggal 16 Oktober 2021 ibu menyusul Bapak pulang. Bapak dan Ibu sudah tenang di alam keabadian.

 Kini kami sudah hidup mandiri. Kami siap menghadapi setiap tantangan hidup yang ada. Sebuah permata tidak akan dapat dipoles tanpa gesekan, demikian juga seseorang. Kami sadar  tidak akan  ada orang yang  sukses tanpa tantangan dan perjuangan. Tetaplah semangat menjalani kehidupan, Tuhan selalu menyertai. Teruslah berkarya , semoga bisa bermanfaat bagi sesama.

 

Waingapu, 5 Maret 2022   22.07

 


Penulis:  Ledwina Eti Wuryani, S.Pd, Asli Magelang Jawa Tengah, jadi guru di Timor Timur -+ 10 Tahun dan di NTT sejak 22 tahun yang lalu.  Seorang ibu 2 putra, Marcel dan Anto. Penulis adalah ibu rumah tangga  sekaligus  guru  Matematika  di SMA Negeri 2 Waingapu Sumba Timur. Penulis alumni SDK Kamal Pagersari, SMPK Muntilan, SMAK Stella Duce 1 Yogyakarta dan IKIP Sanata Dharma Jogyakarta. Beberapa tulisannya dimuat di Media masa, Majalah dan buku. Sudah lebih  46 buku solo dan antologi  ber-ISBN yang sudah terbit. Penulis juga dipercaya jadi editor  dan penyunting buku di MBI ( Menulis Buku Inspirasi) NTT yang diprakarsai oleh penulis best seller Bunda Dra Lilis Herpianti Sutikno, SH, Mengisi Endors di beberapa buku dan menjadi kurator buku  d ibawah naungan bunda Dra. Sri Sugiastuti, M.Pd, (pegiat literasi Nasional, Narsum nasional, Motivator, penulis dan  kepala SMK). Penulis bisa dihubungi di ledwinaetiwuryai@gmail.com , ledwinaastiwi44@guru.sma.belajar.id , fb, IG dan You tube :  Ledwina Eti  dan blog  etiastiwi66.blogspot.com  HP WA 085 230 708 285 alamat rumah Jl. Trikora no: 11 RT/RW  010/003, kel. Hambala, Kec. Kota Waingapu, kab. Sumba Timur NTT.  PO Box. 87112. Quotes :  Sebuah kebanggaan Jika  hidup bisa bermanfaat dan menginspirasi  sesama.

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...