Rabu, 13 April 2022

LOGIKA DAN CARA BERCERITA DALAM PENTIGRAF


Logika dan cara bercerita dalam pentigraf sangat penting agar cerita tidak terkesan dibuat-buat, tidak pula monoton. 


Berikut pembahasan yang disampaikan Bapak Tengsoe. Yuk, kita cermati. 


Pentigraf merupakan salah satu bentuk karya fiksi. Sebagai karya fiksi, pentigraf memang dibuat dan direka. Hanya saja pentigraf memang dibuat dan direka, tetapi tidak boleh dibuat-buat dan direka-reka. 

Pentigraf tetap dituntut logis, baik dari segi pemilihan tema, pengaluran, penokohan, dan pelataran.


Mohon maaf, untuk membahas logika dalam pentigraf saya mohon izin memakai pentigraf yang ditulis oleh Mirojul Asyarati. Ini saya pakai sebagai upaya untuk saling belajar dan mengkritisi demi kemajuan kita dalam menulis pentigraf.


RUMAH PRODEO


Fendy, pemuda berasal dari keluarga kurang mampu. Tekadnya sudah bulat untuk memperbaiki nasibnya dengan merantau ke ibu kota. Bayangan ibu kota yang menyediakan berbagai lapangan pekerjaan terpampang nyata di pikirannya. Kiranya berbalik seratus delapan puluh derajat, harapan mendapatkan pekerjaan masih jauh dari harapan. Untuk menyambung hidupnya, ia menjadi pemulung, tukang semir sepatu, kuli bangunan dan tukang parkir.

Saat menjadi tukang parkir, Fendy menggagalkan percobaan pencurian mobil milik pak Haris. Sebagai rasa terima kasih, pak Haris mengajak Fendy untuk tinggal di rumahnya. 


Awalnya, Fendy menolak akan tetapi hati selalu berbisik, "Terima saja Fen ajakan pak Haris, kamu kan Ndak punya rumah, dari pada mengontrak mendingan uangnya di tabung saja". Suara itu selalu membayangi hidupnya, akhirnya Fendy memutuskan untuk tinggal bersama pak Haris.

Pak Haris, orang yang kaya raya, rumahnya luas dan sangat megah. Berbagai mobil mewah berbagai merk, bersih dan mengkilat berjajar di bagasi rumahnya seperti layaknya showroom. Jantung Fendi berdecak kagum melihat harta kekayaan pak Haris, hingga suatu saat memberanikan diri bertanya tentang pekerjaan pak Haris. 


Akhirnya Fendy pun di rekrut menjadi anak buah pak Haris, dan secepat kilat Fendy menjadi kaya raya. Sebutan crazy rich ditambatkan padanya. Rumah mewah, mobil mewah, sepeda motor mewah telah diperolehnya. Tabungan bermilyar-milyar menggunung di rekening miliknya. Banyak wanita yang  mencoba mencuri hatinya, ada gula ada semut, begitu pepatahnya. Dengan harta kekayaan yang dimilikinya, tak ada satu wanita pun yang menolak cintanya. Pilihan pun tertambat pada seorang gadis cantik yang bernama Dina. Mereka hidup bergelimang harta, rasa bahagia terpancar di raut mukanya. Setelah delapan bulan menikah, tetiba polisi menangkap Fendy dengan dakwaan sebagai bandar judi online. Rumah prodeo sekarang menjadi tempat tinggalnya untuk beberapa tahun. Sudah jatuh tertimpa tangga pula, Dina istri Fendy melayangkan gugatan cerai padanya. Alangkah malang nasib Fendy, hidup sendiri meratapi nasib di rumah prodeo, tak memiliki apa-apa, ditinggalkan oleh orang yang dicintainya.



Terdapat kesan sangat dibuat-buat dan direka-reka dalam pentigraf tersebut. Fendy perantau miskin dari desa hidup menderita di ibukota. Karena dia berhasil menggagalkan pencurian mobil Pak Haris saat ia menjadi tukang parkir, ia pun diajak tinggal di rumah Pak Haris yang kaya raya. Ia pun akhirnya direkrut menjadi karyawan Pak Haris yang menjalankan bisnis judi online. Dalam tempo singkat Fendy pun kaya raya.


Bagian mana yang terkesan sangat dibuat-buat?

1. Pak Haris meminta Fendy, sang tukang parkir, tinggal di rumahnya. Semestinya tak segampang itu Pak Haris meminta orang yang baru dikenalnya tinggal di rumahnya.

2. Fendy diangkat jadi karyawan. Peristiwa ini juga terkesan amat tergesa-gesa, hanya karena penulis menghendakinya demikian.

3. Dalam tempo singkat kaya raya. Sebagai karyawan Pak Haris tentu saja tidak bisa secepat itu kaya raya, apalagi dalam bisnis judi online. Memperoleh uang yang cepat dalam judi biasanya cepat habis pula, sebab karakter orang dalam kisaran judi adalah boros, senang-senang saja, dan jahat.


Sebaiknya dalam menyusun pentigraf kita fokus pada satu tokoh maupun satu persoalan. Misalnya fokus pada saat Fendy ditangkap polisi, fokus pada saat istri Fendy minta cerai, atau lainnya. Karena tidak fokus, pentigraf tersebut menjadi semacam sinopsis singkat dari kisah panjang Fendy.


Misalnya:

DARI BALIK JERUJI BESI

Dari balik jeruji besi ia tatap Dina istrinya. Fendy sungguh tidak menyangka keputusan yang diambil Dina. “Aku rasanya tak mungkin akan terus menjadi istrimu, Mas. Aku malu pada orangtuaku telah menikah dengan seorang yang ditangkap polisi karena jadi Bandar judi online. Keputusan bulat. Kita cerai!”


Fendy tidak bisa berkata apa-apa. Ruang kecil di balik kaca berjeruji itu terasa semakin sempit saja. Sesempit masa depannya. Sungguh, seakan sudah jatuh tertimpa tangga pula. “Kamu ikut aku saja, Mas,” kata Pak Haris 5 tahun yang lalu, “Hidup sebagai tukang parkir hidupmu tak akan pernah berubah.” Fendy hanya mengangguk saat Pak Haris bermobil Mersedez Bens itu. Tak tahu mau bilang apa kecuali mengangguk. Dia membayangkan hidupnya akan berubah. Mimpinya untuk menjadi pemuda kampung yang sukses akan terwujud.


Lima tahun berjalan. Pundi-pundi tabungannya beranak-pinak. Ya, menjalankan bisnis judi online bersama Pak Haris ternyata sungguh menyenangkan. Dina, perempuan satu desanya dulu pun dinikahinya. Sebagai perempuan sederhana ia tidak pernah bertanya apa pekerjaan Fendy. Yang ia tahu, sore itu 3 orang polisi menangkap suaminya karena dituduh bersekongkol dengan Pak Haris menjalankan bisnis haram itu. Rasanya langit-langit runtuh menindihnya.



Nah, yang lebih penting lagi adalah cara bercerita. Pengaluran dalam bercerita tidak harus kronologis, dari A, B, C, dan seterusnya. Bisa saja urutannya C, A, B atau B, A, C, atau urutan lain. Pengaluran secara kronologis hanya membuat penceritaannya monoton dan penonjolan konflik menjadi tidak ada.

Mari, kita terus belajar bercerita yang sungguh-sungguh memukau. Pentigraf bukan hanya urusan elemen narasi, tetapi juga menyangkut teknik berceritanya bagaimana.


Salam 3 Jari

Tengsoe Tjahjono

Penemu Pentigraf

Selasa, 05 April 2022

STRESS MENANGGUNG MALU

 


Oleh : Ledwina Eti Wuryani

 

Pak Minggus adalah seorang guru  hebat. Sudah lima tahun berturut-turut sekolahnya menjadi juara umum setiap lomba Hardiknas tingkat  Kabupaten. Untuk meningkatkan  karirnya pak   Minggus dimutasi ke SMA . Sekolah  Favorit  melalui  seorang tokoh masyarakat. Pak Minggus  membuktikan jago  lagi 3 tahun berturut-turut  SMA baru itu.  Atas bimbingannya bisa menjuarai Karya Tulis Ilmiah ( KIR) hingga  tingkat Nasional dan mendapat  juara 1. SMA  1 tempat pak Minggus mengajar  semakin terkenal dan  jadi bahan pembicaraan  masyarakat. .

 

Nama Pak Mingguspu jadi terkenal.  Singkat cerita  ada deal-dealan agar dirinya  diangkat menjadi kepala sekolah negeri di SMA bonafidnya dan  disetujui. temannya "Pak Minggus tidak pernah ikut Tes Calon Kepala Sekolah, maka tidak sah sebagai kepala sekolah ." Protes beberapa teman guru. Pak Minggus mulai  gusar, maka jurus 3D (Duit, Dekat, Dekeng) digunakan. Demi ambisinya  dia lakukan dengan segala cara.  Pada tahun ke-2 sukses mendapat juara 1 provinsi pelaporan keuangan. Ambisi pun terus  menggelora.

Karier Pak Minggus  berjalan mulus.  Berkat lobi-lobi  dan  menyogok  akhirnya  dia  bisa menjadi Kepala Dinas Provinsi. Woww!!  Keren abis!.  Namun sayang. Akhirnya …….. dia tersandung masalah. Pak Minggus  harus menghadapi kenyataan pahit.  Pak Minggus   terbukti menyelewengkan keuangan Negara. Pak Minggus harus  mendekam dipenjara 5 tahun lamanya.  Dia juga  dipecat  dari PNS. Setelah 5 hari dipenjara ternyata pak Minggus ditemukan  bunuh diri dengan minum racun. Anak dan istrinya pinsan mendengar kabar pak Minggus meninggal mendadak.

                                                                                                Waingapu, 7 April 2022

 

Selasa, 29 Maret 2022

Ada 4 langkah dalam menulis (1)

 Oleh : Asep Maulana

“Hendaknya berbekal ilmu terlebih dahulu sebelum menulis. Kesulitan yang dialami oleh para pemula adalah karena minimnya ilmu” –Asep Maulana, 2022.

.

Keinginan menulis mulai muncul ketika saya  bersekolah di jenjang Sekolah Menengah Pertama. Tepatnya ketika saya baru mengenal mading (majalah dinding) sekolah. Karena madingnya persis di balik tembok sisi kanan kelas saya, pastinya sering terlewati dan saya mampir untuk membacanya.

Jadilah saya termasuk orang yang sering membaca berbagai tulisan di mading itu. Ada puisi, humor, cerita bergambar dan lain-lain. Melihat tulisan salah satu teman saya dimuat di mading, muncul ide dan keinginan saya untuk menulis. Saya pun ingin nama dan karya saya terpampang di mading tersebut.

Pengalaman Saya dalam Menulis

“Saat itu saya berpikir bahwa mengarang atau menulis itu hal yang sulit” –Asep Maulana, 2022.

Di sini sedikitnya ada dua momen ketika keinginan dan usaha saya untuk menulis. Bahwa dulu saya pernah menulis meskipun sangat sederhana sekali. Dan ternyata keinginan menulis itu muncul kembali saat ini.

Pertama, waktu itu saya coba menulis puisi humor tentang ‘angin’ dengan niat saya kirim supaya dimuat di mading sekolah. Namun karena kurang pede sehingga sy tak pernah mengirimkan  naskah tersebut. Hanya ada sebagian kalimatnya yang masih saya ingat sampai sekarang. 

Kedua, saat di SMA pun demikian, saya lumayan sering membaca berbagai tulisan di majalah dinding. Sampai-sampai saya sempat mengikuti episode puisi-puisi cinta kakak kelas saya tentang sang guru. Ternyata gayung bersambut, sampai setelah ia lulus sekolah akhirnya menuju pelaminan dengan pujaaannya. Benar-benar happy ending. It’s  real!

Saya pun termotivasi menulis puisi waktu itu. Dan kali ini saya coba mengirimkan naskah puisi saya itu. Namun karya saya tidak pernah muncul di mading. Saya tidak tahu mengapa? Mungkin tidak memenuhi kualifikasi.

Saya teringat, waktu itu ramai digandrungi kawula muda novel remaja ‘si Lupus’ karya Hilman Hariwijaya, yang kemudian difilmkan. Saya pun sempat terinspirasi untuk membuat cerpen model-model si Lupus itu. Akhirnya, saya sempat menulis cerpen lucu. Ini hasil imajinasi sendiri dengan tokoh saya sendiri dan dua orang teman. Benar-benar pendek ceritanya.

Itupun akhirnya kandas, hanya sebatas di buku saja. Entah di mana naskah itu sekarang, tetapi ide cerita masih saya ingat. Tidak ada kelanjutannya, seolah-olah seperti kehabisan ide dan bingung mau bagaimana. Saat itu saya berpikir bahwa mengarang atau menulis itu hal yang sulit.

Kesulitan menulis itu benar-benar saya rasakan, khususnya saat ada tugas atau ujian mengarang pelajaran Bahasa Indonesia. Sehingga untuk merangkai kata menjadi kalimat dan kalimat menjadi sebuah paragraf, kemudian menghasilkan tulisan yang panjang dan utuh, bagi saya saat itu rasanya berat sekali.

Jadi, dari pengalaman di atas, ada beberapa pelajaran berharga bagi saya. Di antaranya adalah:

  • Besarnya minat baca dan adanya keinginan untuk menulis
  • Terbatasnya media untuk pelatihan atau kursus menulis
  • Minimnya buku-buku bacaan yang  sesuai dan tersedia serta dibutuhkan saat itu
  • Mading di sekolah bisa menjadi media dan saluran dalam bidang tulis menulis
  • Pentingnya mentor untuk mengembang potensi bidang kepenulisan

Empat Langkah untuk Menulis

“Semakin banyak ilmu dalam menulis, akan banyak bermanfaat untuk kita, akan banyak kemudahan bagi kita untuk menulis dan terus menulis” –Asep Maulana, 2022.

Paling tidak, ada empat langkah penting untuk menulis,  yang mana keempat hal ini saling terkait satu sama lain, tidak terpisahkan. Empat langkah itu antara lain:

1. Ilmu

Peran ilmu sangat penting dalam dunia kepenulisan. Karena ilmu itu bisa diibaratkan cahaya yang menerangi jalan. Tanpa ilmu maknanya adalah kegelapan. Kegelapan itu sendiri menjadi sebab kebingungan, ragu, tidak bisa berjalan dengan lancar dan penuh ketidakpastian.

Hendaknya berbekal ilmu terlebih dahulu sebelum menulis. Kesulitan yang dialami oleh para pemula adalah karena minimnya ilmu. Sehingga ia bingung harus memulai dari mana. Atau menulis tentang apa. Dan kesulitan lainnya yang mungkin dihadapi tanpa tahu bagaimana solusinya.

Bakat pun akan sulit berkembang tanpa didukung dengan ilmu yang memadai. Sedangkan ilmu diperoleh dengan cara belajar dari seorang guru atau lebih. Ditambah buku dan literatur utama maupun penunjang lainnya.

Contoh yang sering kita alami, khususnya bagi pemula, adalah kesulitan dan kebingungan untuk mulai menulis. Maka cara, strategi, atau metode bagaimana mengatasi kesulitan dan kebingungan itulah yang disebut dengan ilmu.

Ketahuilah, caranya adalah dengan kita menentukan terlebih dahulu tujuan, temanya apa. Lalu detailkan tujuan itu dengan Who (untuk siapa tulisan tersebut) dan Do (apa yang diharapkan untuk pembaca).  Selanjutnya kita membuat kerangka tulisan.  Dari sini, barulah kita menulis berdasarkan kerangka tulisan tersebut, yang menjadi pedoman kita dalam menyelesaikan tulisan.

Untuk lebih mendalam, kita bisa membaca tulisan segar Pak Cahyadi Tariawan yang berjudul “Agar Tidak Bingung saat Menulis”.

Berikut ini, adalah beberapa contoh media pembelajaran dan sumber ilmu dalam menulis. Misalnya kelas-kelas kepenulisan yang diasuh oleh Pak Cahyadi Tariawan bersama timnya, seperti Kelas Basic Menulis, Kelas Buku Antologi, Kelas Buku Single atau lainnya.

Jika dalam hal-hal yang sederhana saja kita butuh ilmu, maka bagaimana lagi dengan menulis?! Ayo belajar terus dan jangan pernah berhenti! Semakin banyak ilmu dalam menulis, akan banyak bermanfaat untuk kita, akan banyak kemudahan bagi kita untuk menulis dan terus menulis.

2. Praktik

Setelah berilmu maka selanjutnya adalah praktik. Adalah suatu keharusan memperbanyak praktik dan latihan menulis setelah belajar berbagai teori. Karena buahnya dari ilmu itu adalah praktik. Akan sayang sekali dan tidak bermanfaat jika ilmu-ilmu yang sudah didapat tidak dipraktikkan.

Mengapa praktik menjadi begitu penting? Karena kita  tidak pernah akan menjadi seorang penulis tanpa praktik menulis. Tidak pernah seorang dikatakan expert atau ahli tanpa melalui berbagai praktik. Hal ini sebagaimana sebuah ungkapan,  “Practice Makes Us Perfect”. Maknanya, jika kita melakukan praktik dan berlatih  secara rutin, maka akan melahirkan kesempurnaan. 

Mari perbanyak praktik dan latihan-latihan! Menjadikan menulis sebagai habit;  kebiasaan dan keseharian kita. Tidak afdol rasanya jika dalam sehari kita tidak menulis apapun.

BERSAMBUNG.

Ada 4 langkah dalam menulis

 Oleh : Asep Maulana (alumni KMO Batch 50)

“Hal sangat penting dalam segala sesuatu adalah meluruskan niat atau motivasi. Luruskan niat Anda saat membuat buku” –Cahyadi Takariawan, 2022.

.

Cahyadi Takariawan dalam ebook “Langkah Mudah Membuat Buku” mengingatkan pentingnya meluruskan niat dalam menulis, “Hal sangat penting dalam segala sesuatu adalah meluruskan niat atau motivasi. Luruskan niat Anda saat membuat buku. Bahwa semua yang Anda lakukan adalah dalam rangka ibadah, dalam rangka ketaatan kepada Allah. Ini yang akan memperlancar proses penulisan buku Anda”.

Pada dasarnya ilmu bersifat universal sehingga siapapun bisa memiliki ilmu dengan mempelajarinya. Tidak terkecuali ilmu dalam menulis. Karena ilmu adalah cara termudah untuk mencapai tujuan. Kita bisa menulis tentang apa saja yang kita inginkan jika memiliki ilmu tentang menulis dan apa yang hendak ditulis.

Ilustrasinya sebagaimana kita akan menuju suatu kota yang masih asing. Kota Medan misalnya. Sedangkan kita tinggal di Jogja. Maka kita memerlukan beberapa pengetahuan tentang kota tujuan, alat transportasi untuk ke sana dan lain-lainnya. Nah, segala pengetahuan tersebut itulah yang dinamakan dengan ilmu.

Empat Nilai, Mengapa Ilmu Menulis Sangat Penting?

“Jika satu saja karya kita bisa memberikan manfaat bagi banyak orang maka kekayaan apalagi yang lebih berharga darinya? Itulah kekayaan yang sesungguhnya!” –Asep Maulana, 2022.

Paling tidak ada empat nilai yang bisa menjelaskan, mengapa ilmu menulis sangat penting untuk kita ketahui.

Pertama, menghilangkan kebodohan pada diri kita. Sebelumnya kita belum mempunyai ilmu pengetahuan tentang menulis. Mungkin kita punya banyak ide untuk ditulis. Memori di otak kita telah menyimpan banyak ilmu pengetahuan. Namun kita sering mengalami kesulitan untuk menuangkan dalam tulisan.

Lain halnya jika kita mengikuti kursus dan kelas-kelas menulis, membaca buku atau literatur apapun yang menunjang kebutuhan kita supaya bisa menulis. Akan banyak kemudahan yang didapat untuk memulai praktik menulis.

Hilang kebingungan, kebuntuan dan keraguan yang selama ini dirasakan ketika hendak  menulis. Ilmu itu membuat kita tahu teknik dan kaidah-kaidah menulis, tujuan menulis, jenis tulisan dan sampai bagaimana menerbitkan sebuah buku.

Kedua, untuk membantu orang lain yang ingin belajar menulis. Salah satu cara melestarikan ilmu menulis adalah dengan mengajarkannya.

Maka ilmu akan semakin bermanfaat jika diajarkan dan terus diajarkan. Ilmu bisa diajarkan secara personal atau klasikal atau bentuk lainnya seperti seminar atau workshop. Ilmu juga bisa ditulis menjadi buku yang bisa dibaca oleh siapapun.

Ketiga, untuk tujuan praktik. Pada dasarnya, siapapun orangnya, ketika belajar menulis maka salah satu tujuannya adalah untuk praktik menulis. Kita membayar kursus dan membeli buku-buku penunjang, tentunya untuk tujuan tersebut.

Jika mengikuti kelas menulis hanya sekedar berhenti pada ranah pengetahuan saja, tentu menjadi kurang bermanfaat, bahkan akan sia-sia. Karena terputus kemanfaatannya. Ilmu baru dikatakan bermanfaat jika dipraktikkan. Semakin besar lagi manfaatnya tatkala kita mengajarkannya kepada orang lain.

“Ilmu baru dikatakan bermanfaat jika dipraktikkan. Semakin besar lagi manfaatnya tatkala kita mengajarkannya kepada orang lain” –Asep Maulana, 2022.

Keempat, untuk tujuan melestarikan ilmu. Ilmu apapun yang tidak dipraktikkan dan diajarkan, lambat laun akan hilang. Termasuk ilmu dalam menulis, ia akan menjadi asing dan hilang sedikit demi sedikit. Karena itu, dengan tujuan yang mulia ini tentunya bisa menjadi motivasi bagi kita untuk belajar dan menggali ilmu dalam hal tulis menulis.

Demikianlah empat tujuan mengapa ilmu pengetahuan tentang menulis begitu penting bagi kita. Karena ilmu lebih berharga dari harta yang kita miliki. Seseorang yang merasakan betapa penting dan berharganya ilmu, ia akan rela berkorban apapun untuk ilmu.

Ilmu lebih besar nilainya dari segala pengorbanan yang dikeluarkan. Maka jangan pernah merasa sayang atau rugi mengeluarkan biaya untuk keperluan ilmu. Jangan pernah malas atau enggan untuk menyisih waktu dalam belajar.

Karena ilmu adalah investasi. Bahkan kita bisa mendapatkan lebih banyak dari apa yang kita duga. Mungkin popularitas, kekayaan, penghargaan atau lainnya yang bersifat duniawi.

Di sisi lain, tentunya ada yang tidak bisa dinilai dan dibandingkan, atau diganti dengan hanya sekedar nilai materi, yaitu kebahagiaan dan kepuasan batin. Terlebih lagi jika karya-karya kita bisa mengispirasi orang lain. Memberi solusi, menyembuhkan sakitnya. Atau apapun itu yang kemudian memberikan manfaat yang lebih luas. Padahal mungkin kita tidak memikirkan hal-hal itu sebelumnya.

Jika satu saja karya kita bisa memberikan manfaat bagi banyak orang maka kekayaan apalagi yang lebih berharga darinya? Itulah kekayaan yang sesungguhnya!

.

Sumber inspirasi dan rujukan:

Dr. Shalih bin Abdullah bin Hammad Al Ushaimi, Khulashah Ta’dhimil Ilmi, Riyadh, KSA, Cetakan Pertama, 2011/1432 H

Kedalaman Pikiran dalam menulis

 Oleh : Sukma Rona (Alumni KMO Basic Batch 49)

“Deep thinking atau berpikir mendalam merupakan modal yang sangat penting untuk membangun pandangan konstruktif bagi pembaca” –Sukma Rona, 2022.

.

Sepanjang sejarah, aktivitas literasi adalah hal yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Merangkai kata menjadi kalimat sehingga tersusun menjadi data, yang akhirnya tersajikan menjadi informasi. Semakin baik kemampuan dalam mengungkapkan pemikiran, akan menghasilkan informasi yang semakin baik pula.

Deep thinking atau berpikir mendalam merupakan modal yang sangat penting untuk membangun pandangan konstruktif bagi pembaca. Seorang penulis yang menuangkan pemikiran dengan pendalaman terhadap permasalahan, akan lebih mampu memberikan pembahasan yang bermakna.

Begitu banyak penulis ataupun pemikir yang menuangkan hasil pemikiran dengan mendalam, yang karya mereka bisa kita jumpai hingga hari ini. Sebut saja karya agung Imam Al-Ghazali dengan kitab Ihya Ulumuddin yang fenomenal. Ini adalah salah satu contoh kebersihan dan kedalaman pemikiran orang zaman dahulu.

Memulai dari Diri Penulis

“Pemikiran yang jernih akan mengalir menjadi ungkapan dan frasa yang indah” –Sukma Rona, 2022.

Pada dasarnya, kita tidak mungkin mampu menghidupkan pemikiran pembaca tanpa menghidupkan ruh dan pemikiran penulisnya terlebih dahulu. Mengaktifkan rasa yang bersemayam jauh di dalam relung jiwa penulis, adalah hal penting.

Melalui perenungan, pembahasan, filterisasi dari hikmah kehidupan, serta diskusi mendalam dengan orang-orang berilmu, akan bisa menjadi sarana membangun sistematika berpikir sehingga mencapai puncak kualitas karya. Pemikiran yang jernih akan mengalir menjadi ungkapan dan frasa yang indah.

Kepenulisan itu ajaib. Tulisan akan memasuki tempat di dalam benak pembaca yang tidak dapat dimasuki kecuali oleh kata. Mengapa? Sebab melalui tulisan akan melibatkan organ penglihatan dan syaraf yang terhubung dalam sistem.

Informasi yang masuk ke dalam otak manusia akan disaring menjadi pemahaman, yang selanjutnya akan berinteraksi dengan kecenderungan jiwa pembaca. Maka, orang yang rajin membaca literasi positif akan memberikan informasi positif pula terhadap gaya hidupnya.

Melakukan aktivitas tulis menulis dengan konsep tadabbur terhadap diri maupun alam sekitar, akan menghasilkan karya-karya literasi yang menyejarah. Para penulis dengan kesadaran akan tujuan tulisannya, tidak akan berhenti berjuang demi menghasilkan karya-karya berkualitas.

Sukma Rona

Sukma Rona dilahirkan di Desa Keluang, Kecamatan Musi, Banyuasin, Palembang, pada tanggal 23 Agustus 1984. Ayahnya Bernama Abd. Rachman P, dan ibunya bernama Sawinah. Masa kecil dari penulis pernah diberi nama Rilo Wibowo.Namun, kemudian diganti oleh ayahnya menjadi Sukma Rona.

KESEMPATAN SHARING IDE, MOTIVASI, TIPS DAN PENGALAMAN MENULIS

 

Ykh. Sahabat Ruang Menulis



Kami tim redaksi blog ruangmenulis.id membuka kesempatan kepada para sahabat semua untuk berkontribusi mengirim tulisan terkait ide, motivasi dan pengalaman menulis. 


Tulisan yang memenuhi kualifikasi tim redaksi, akan dimuat di blog ruangmenulis.id. Kesertaan dalam sharing tulisan ini bersifat suka rela, dengan motivasi untuk berbagi ide, tips, motivasi dan pengalaman menulis.


Ketentuan pengiriman tulisan:


1. Penulis naskah adalah peserta / alumni Kelas Menulis yang dikelola pak Cahyadi Takariawan (Pak Cah) atau bu Ida Nur Laila 

2. Naskah asli tulisan sendiri, dan tidak mengandung unsur plagiarisme

3. Panjang naskah antara 500 hingga 600 kata

4. Naskah berisi ide, tips, motivasi dan pengalaman menulis

5. Naskah dikirim melalui alamat email ruangmenulis60@gmail.com

6. Setelah mengirim naskah, mohon konfirmasi kepada Admin di nomer +6289528937771

7. Naskah yang dimuat akan mendapatkan e-sertifikat penghargaan kesertaan naskah dalam blog Ruang Menulis


Ditunggu partisipasi sahabat semua untuk saling berbagi, saling memotivasi dan saling menginspirasi. Semoga semakin produktif menulis. Sebelum dan sesudahnya diucapkan banyak terimakasih.


Yogyakarta, 16 Maret 2022


Tim Redaksi Ruang Menulis

Tidak Terlahir Sebagai Jenius ? Don't Worry. Menulis Rutin bisa Menggantikannya.

 Bagian Keempat


Oleh : Cahyadi Takariawan


“If you’ve planned to write every day, you’re not in a hurry anyway. And, as we’ve learned, practice is compounding. Start with the motor action. Keep it simple. The magic happens when you’re busy chopping wood” –Taylor Foreman, 2021.


.


Menurut Taylor Foreman, menulis menjadi salah satu sarana untuk meningkatkan kemampuan manusia dalam menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang lebih kompleks. Seseorang dengan kemampuan menulis yang baik, akan mampu mengerjakan hal-hal yang lebih kompleks, dibandingkan mereka yang tidak memiliki kemampuan menulis.


“Jika Anda tidak mengerti cara menulis, dunia akan terus bergerak lebih cepat dari apa yang dapat Anda tangani. Jika Anda mengerti cara menulis, Anda akan menulis setiap hari dengan baik, maka Anda memiliki kekuatan super”, lanjut Foreman.


Proses Pembelajaran yang Konkret


“No matter what you want to achieve in life, you can shrink it down until you find the actual motor action that needs to occur. Find this motor action and master it until it becomes second nature. Then move up to the next level” –Taylor Foreman, 2021.


Sangat banyak orang berhenti pada kata “ingin”. Misalnya seseorang mengatakan, saya ingin menjadi orang baik. Namun ia tidak melakukan tindakan yang bisa membuatnya menjadi orang baik. Seseorang mengatakan, saya ingin menjadi pengusaha sukses, namun tidak melakukan proses pembelajaran yang konkret untuk mencapai keinginannya.


Ketika berhenti pada kata “ingin”, bisa dipastikan mereka tidak akan sampai tujuan. Saya ingin ke Turki, tapi tidak menempuh langkah menuju Turki. Pasti saya tidak sampai Turki. Sama dengan seseorang ingin menjadi penulis tapi tidak melakukan proses pembelajaran yang konkret. Tentu mereka tak akan menjadi penulis.


Jika Anda menetapkan keinginan untuk menjadi penulis, maka tersedia sejumlah langkah pembelajaran yang konkret untuk ditempuh. Agar menulis tidak berhenti pada kata ingin. Agar benar-benar menjadi penulis yang menghasilkan karya tulis. Dengan alat atau sarana apa Anda menulis, ini tidak penting. Yang penting adalah, Anda benar-benar menulis.


“Saya tidak suka menulis dengan tangan (hand writing), jadi saya mengetik dengan laptop”, ujar Taylor Foreman. “Di awal pandemi, saya menyadari perlunya belajar cara mengetik dengan benar. Jadi saya belajar cara mengetik”, lanjut Foreman.


Ini adalah contoh, jika ingin mahir mengetik, maka Anda harus belajar cara mengetik. Proses pembelajaran yang konkret untuk membuat Anda mampu mengetik dengan baik dan benar harus ditempuh. Jika tidak, Anda hanya akan berhenti pada dataran ingin. Tidak akan mencapai tujuan yang Anda inginkan.


Pada intinya –Anda harus memulai proses belajar menulis secara konkret. Jangan hanya menyatakan ingin menjadi penulis, tanpa melakukan tindakan nyata. Anda bisa memulai belajar menulis fiksi, atau nonfiksi, atau keduanya sekaligus. Namun dilakukan secara konkret.


Proses yang Bertumbuh


“I went from 40 WPM to 80 WPM. Typing is not creative writing. But it is the first, concrete step along the way” –Taylor Foreman, 2021.


Setelah memulai langkah pembelajaran yang konkret, Anda harus berusaha untuk bertumbuh. Tidak puas hanya dengan pembelajaran yang sudah ada, namun menambah lagi langkahnya sehingga menjadi lebih nyata.


Salah satunya adalah dengan menetapkan target. Masing-masing Anda bisa menetapkan target harian baik berupa waktu (durasi) menulis, maupun hasil akhir tulisan dalam satuan waktu tertentu. Misalnya, di awal proses belajar menetapkan menulis 100 kata per hari, atau 1000 karakter per hari.


Setelah mulai merasakan ringan dengan target itu, Anda harus meningkat ke target berikutnya. Sekarang target menulis 200 kata per hari, atau 2000 karakter per hari. Tantangan ini membuat Anda terus bertumbuh, tidak berhenti pada satu kondisi yang sudah mapan.


“Saya berproses dari 40 WPM ke 80 WPM. Mengetik bukanlah menulis kreatif. Tapi ini adalah langkah pertama yang konkret di sepanjang proses menulis”, ungkap Foreman.


Yang dimaksud dengan 40 WPM (words per minute) adalah menulis 40 kata dalam setiap menitnya. Ini sudah menjadi ukuran produktivitas seorang penulis. Namun Foreman tidak mau berhenti hanya sampai dengan ukuran produktivitas rata-rata orang. Ia berjuang hingga akhirnya bisa mencapai 80 WPM, yang berarti dua kali lipat dari sebelumnya.


“Ketika kita tidak tahu apa yang harus dilakukan, kita harus mulai dengan dasar-dasarnya”, ujar Foreman. “Misalnya, bagaimana menjadi orang yang baik? Orang yang baik akan merawat teman dengan baik. Teman yang baik akan menelepon. Untuk menelepon, Anda harus mengangkat gagang telepon”, lanjutnya.


“Secara teknis, peganglah iPhone di genggaman tangan Anda, temukan nomer telepon teman yang belum pernah Anda kontak sejak lulus sekolah menengah, dan tekan tombol hijau”, sambung Foreman.


“When we don’t know what to do in life, we need to start with the basics. How do you be a good person? A good person is a good friend. A good friend calls. To call, you have to pick up the phone. Literally, grip the iPhone in your damn fingers, locate that friend you haven’t spoken to since high school, and press the green button” –Taylor Foreman, 2021.


“Tidak peduli apa yang ingin Anda capai dalam hidup, Anda dapat mendetailkannya sampai Anda menemukan tindakan motorik nyata yang perlu dilakukan. Temukan tindakan motorik ini dan kuasai hingga menjadi kebiasaan. Kemudian naik ke tingkat berikutnya”, ungkap Foreman.


Jika Anda berencana untuk menulis setiap hari, toh Anda tidak terburu-buru. Dan, seperti yang telah kita pelajari, latihan adalah peracikan. Mulailah dengan gerakan motorik. Tetap sederhana. Keajaiban terjadi ketika Anda sedang sibuk memotong kayu.


.


Bahan Bacaan


Taylor Foreman, 7 Reasons Daily Writing Can Make Up For Not Being Born a Genius, https://writingcooperative.com, 5 Maret 2021

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...