Kamis, 15 Oktober 2020

MENENTUKAN JALUR MENULIS, FIKSI ATAU NONFIKSI?

 


.

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Sebagian dari kita memiliki multi talenta. Bisa menulis fiksi maupun nonfiksi. Maka mereka yang bercorak seperti ini, bebas memilih, karena keduanya akan sama bagus hasilnya. Namun sebagian dari kita, hanya akan memiliki kecenderungan pada satu jalur saja. Ada yang cenderung kepada jalur fiksi, atau nonfiksi.

Bagaimana kita bisa mengetahui kecenderungan pilihan ini? Cara yang paling mudah adalah dengan mencoba keduanya.

Pertama, bacalah buku fiksi dan nonfiksi

Pertama kali Anda harus rajin membaca berbagai jenis buku. Bacalah buku fiksi yang cukup tebal, misalnya novel “Bidadari untuk Dewa” karya Asma Nadia. Amati dan rasakan, apakah Anda bisa menyelesaikan membaca dalam waktu singkat? Apakah Anda bisa menikmati? Apakah Anda mudah mengerti pesan yang terkandung di dalamnya? Apakah Anda merasa antusias.

Jika Anda tak sanggup menyelesaikan membaca novel, jika Anda mengantuk saat membaca, jika Anda sering bingung dibuatnya, ini sudah tanda-tanda. Namun jika Anda antusias membaca, bisa menangis saat membaca bagian sedih, bisa tegang saat membaca bagian konflik, bisa tersenyum saat bertemu bagian yang lucu dan happy, ini juga salah satu tanda.

Berikutnya, baca pula buku nonfiksi. Pilih buku populer saja, dan cukup tebal. Saya ambil contoh, buku “Greatness and Happiness” karya Jemy V. Confido. Cermati dan rasakan, apakah Anda bisa menyelesaikan membaca dalam waktu singkat? Apakah Anda bisa menikmati? Apakah Anda mudah mengerti pesan yang terkandung di dalamnya? Apakah Anda merasa antusias?

Cermati, amati, rasakan, buku mana yang paling enjoy Anda baca? Keduanya enjoy, atau salah satu dari kedunya, atau tidak dua-duanya?

Kedua, tulislah fiksi dan nonfiksi

Setelah Anda banyak membaca baik fiksi maupun nonfiksi, sekarang giliran Anda menuliskannya. Cobalah menulis fiksi yang sederhana saja, misalnya membuat satu cerpen. Tak perlu menulis yang rumit-rumit, buatlah cerpen dari kejadian yang sering Anda jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Rasakan, apakah Anda merasa kesulitan, ataukah Anda merasa lancar-lancar saja? Apakah Anda merasa sesak napas, atau Anda merasa sangat lega.

Berikutnya tulislah satu artikel. Bikin artikel pendek untuk blog, 500 kata saja, tidak perlu artikel panjang. Ambil tema yang mudah saja, sesuai kegiatan yang paling banyak Anda tekuni. Rasakan, apakah Anda merasa kesulitan, ataukah Anda merasa lancar-lancar saja? Apakah Anda merasa sesak napas, atau Anda merasa sangat lega.

Cermati, amati, rasakan, mana yang paling mudah Anda tuliskan? Apakah keduanya mudah, atau salah satu lebih mudah, atau keduanya susah Anda tuliskan?

Ketiga, cobalah berimajinasi out of the box

Cobalah berimajinasi, sebebas-bebasnya. Berkhayallah, out of the box. Jangan dibatasi apapun saat berimajinasi. Bebas saja, khayalkan tentang apa saja.

Apakah Anda merasa mudah berimajinasi, atau sulit berimajinasi? Apakah Anda memiliki banyak imajinasi, atau justru Anda merasa sesak nafas karena disuruh berimajinasi?

Semakin Anda pandai berimajinasi, semakin mudah Anda menulis fiksi. Salah satu keindahan fiksi adalah alur cerita maupun akhir yang tidak terduga. Cerpen dan novel akan membosankan pembaca apabila sangat mudah diduga endingnya. Kemampuan berimajinasi membuat Anda mudah membuat alur cerita yang tidak terduga.

Jika Anda sulit berimajinasi, tulisan Anda akan bercorak “terduga”. Untuk itu, Anda lebih cocok untuk menulis nonfiksi. Naskah artikel dan opini yang ada di koran dan majalah, bercorak terduga. Bisa ditebak akhirnya, namun pembaca ingin mengetahui ulasannya.

Anda boleh memilih untuk menjadi spesialis, menulis fiksi saja atau nonfiksi saja. Anda boleh menjadi generalis, menulis fiksi dan nonfiksi sesuka hati. Jadi, semua kembali kepada Anda. Jangan ikut-ikutan, dan jangan bingung.

Anda boleh menulis fiksi, boleh menulis nonfiksi, boleh keduanya. Yang tidak boleh adalah –tidak menulis apapun.

MENJALANI PROTOKOL, BUKAN MENJADI UNICORN

 


.

Oleh : Cahyadi Takariawan

“Your writer brain will throw up shiny new ideas when the going gets rough on your current work-in-progress. Write them down, but stay focused on your story” — Shaunta Grimes, 2017

.

“Apakah tulisanku bagus?” Adalah pertanyaan yang wajar. Sama dengan ketika kita hendak bepergian, apakah penampilanku sudah patut? Adakah yang aneh dari penampilanku? Tentu ini hal yang sangat wajar dan manusiawi.

Namun hal yang harus selalu kita ingat adalah, dalam menulis, bagus adalah proses. Mahir adalah proses. Lancar adalah proses. Mengalir adalah proses. Maka kita harus bersedia menempuh prosesnya.

Membayangkan, sekali menulis langsung lancar, langsung mahir, langsung bagus, adalah keinginan yang menyalahi ‘protokol’. Protokolnya adalah –untuk bisa menulis sampai level mahir, lancar, mengalir dan bagus, memerlukan latihan rutin. Setiap hari, tanpa henti.

Otot-otot Anda tak akan terbentuk jika Anda tidak rutin latihan. Bahkan ketika sempat latihan, kemudian berhenti. Saya baca artikel di CNN Indonesia (2 Januari 2018), James Ting, M.D, dokter Hoag Orthopedic Institute di AS,  mengungkapkan ketika seseorang berhenti latihan, tubuhnya tidak lagi atletis. Seberapa lama waktu ia tidak latihan, akan berpengaruh pada penurunan kondisi tubuhnya.

Artinya, untuk mendapatkan otot-otot tubuh yang bagus, harus rutin berlatih. Ini protokolnya. Demikian pula dalam menulis. Jika ingin otot-otot menulis Anda bagus, Anda harus berlatih menulis rutin setiap hari. Bukan sebulan sekali. Bukan dua bulan sekali. Tapi setiap hari.

Oleh karena itu, wajar saja sebagai pemula tulisan kita belum bagus, belum indah, belum ideal. Wajar saja jika membuat postingan pertama masih ‘belepotan’. Wajar saja jika mengirim artikel pertama ke koran masih ditolak. Wajar saja jika buku pertama masih belum ‘nendang’. Itu semua bagian dari proses.

Mitos Unicorn

Membayangkan tulisan pertama langsung hebat, postingan pertama langsung keren, buku pertama langsung ‘meledak’ di pasaran –boleh saja. Tapi itu tak lazim. Ada beberapa orang yang seperti itu, namun mereka itu —menurut Shaunta Grimes, adalah ‘unicorn’.

Anda tahu unicorn? Menurut mitologi Celtic, unicorn adalah makhluk yang mewakili kemurnian, keberanian, dan kekuatan yang tidak tertandingi. Bangsa Skotlandia menjadikan unicorn sebagai ‘hewan nasional’ mereka. Memberikan spirit, ingin menjadi bangsa unggul, tak tertandingi.

Saya dan mayoritas dari kita, hanyalah orang lumrah atau orang kebanyakan, dalam dunia tulis menulis. Kita bukan unicorn. Mungkin hanya ada beberapa gelintir manusia saja yang ‘berwujud’ unicorn itu dalam tulis menulis. Misalnya Harper Lee, J.K. Rowling, atau nenek Toyo Shibata.

Don’t talk to me about Harper Lee or J.K. Rowling. They aren’t normal people. They’re unicorns”, ungkap Shaunta Grimes. Ungkapan ini untuk mengajak kita memahami bahwa pada dasarnya kita tidak perlu berharap keajaiban. Hendaknya kita lebih berorientasi kepada proses yang konsisten untuk menjadikan tulisan kita semakin berkualitas dari waktu ke waktu.

Secara satire Grimes menyatakan, “Maybe you’re a unicorn, too, but the chances are about 99.9999 percent that you’re a regular old donkey like the rest of us. And that means that you have to keep writing and keep shipping your book out to the world”.

Menurut Shaunta Grimes, mungkin saja Anda termasuk unicorn itu, namun peluang itu hanya 0,00001 % saja. Sisanya, 99,9999 % adalah kita semua, orang biasa. Yang harus rajin berlatih menulis, dan bekerja keras untuk memasarkan buku kita ke berbagai tempat. Yang harus berusaha untuk melakukan proses perbaikan dari hari ke hari.

Kita adalah orang kebanyakan yang harus menerima realitas bahwa tulisan kita ada mungkin saja ada kesalahan, kekurangan, dan kelemahan. Inilah protokol sebagai manusia biasa.

Harus menerima realitas bahwa tulisan yang kita buat tidaklah sempurna. Selalu ada cacatnya. Selalu ada celanya. Hanya kitab suci yang “la raiba fihi”, tak ada keraguan, tak ada kecacatan.

Herlin Variani, penulis buku “Parents Smart untuk Ananda Hebat”, telah melakukan usaha luar biasa sebelum menerbitkan bukunya. Setelah melakukan self editing, ia serahkan kepada pihak editor profesional untuk meneliti naskah bukunya. Selesai proses editing di pihak profesional, kembali diperiksa ulang oleh Herlin.

Bolak-balik ia baca ulang seluruh naskah. Sampai merasa yakin tak ada lagi yang salah. Hingga akhirnya naskah diserahkan pihak layouter dan diterbitkan. Setelah buku terbit, ia baca keseluruhan dari awal hingga akhir. Ia kaget, masih ditemukan kesalahan tulisan. Meskipun hanya berupa kurung huruf. Padahal proses pemeriksaan sudah berulang kali dilakukan sebelum diterbitkan.

Inilah protokolnya –karena kita bukan unicorn. Kita hanya manusia biasa. Harus berlatih setiap hari untuk membentuk otot tubuh kita. Harus berlatih setiap hari untuk membentuk kualitas spiritual kita. Harus berlatih setiap hari untuk melatih kecerdasan otak kita. Pun harus tekun berlatih setiap hari untuk membuat tulisan yang mengalir dan indah menawan hati pembaca.

Tak perlu menjadi unicorn. Karena memang hanya mitos belaka. Mari menjadi manusia biasa saja. Yang bersedia menjalani protokol, terus belajar dan terus berusaha untuk menjadi lebih baik setiap harinya.

Bahan Bacaan

Selasa, 13 Oktober 2020

Doa Pagi ( bangun pagi )

 

Doa untuk buat  Souvenir

 

Doa pagi

Doa malam

Doa-doa yang  lain

 

Ya, Tuhanku  Bapa yang Maha baik

Puji Syukur  atas segla  penyertaanMu , disepanjang malam yang telah aku lalui,

Hingga di pagi hari yang indah ini. Aku  bangun dalam keadaan  sehat dan segar.

 

Syukur kepadaMu Ya Tuhanku,

sebab aku  masih bisa  merasakan  sejuk dan  indahnya  pagi  ini,

hasil karya dan ciptaanMu

 

Ya Tuhanku,

Berilah aku kemampuan untuk menghayati dan mengamalkan kasih di sepanjang hari ini.

Bimbingkah aku sepanjang hari ini,

tuntunlah  pikiran dan budiku, agar aku tak merancang  pikiran benci, dendam

dan melakukan hal-hal yang tak berkenan dihatimu dan sesamaku manusia.

 

Semoga aktifitasku hari ini  dapat berjalan dengan baik dibawah naungan dan bimbinganMu.

 

Tuhan yang Maha baik,

Tuntunlah segala tingkah laku dan perbuatanku di hari ini,

 agar tidak pernah  jemu untuk menolong sesama,

selalu ramah dan tahu terima kasih.

Bisa menghayati iman dan mengamalkannya dengan sekuat tenagaku.

 

Doa ini kami sampaikan kepadaMu dengan perantaraan Tuhan kami Yesus Kristus 

bersama bunda Maria bunda penolong kami . Amin.

 

 

 

Buku-Buku Kumpulan Doa

Untuk  Souvenir....ibu ayah suami dan  atau kematian yang lain

 

 

Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) Saat Pandemi Melanda.

 


Kita  melihat di medsos, fb atau WA,. Tentang  PJJ saat ini.  Terkhusus  siswa SD.  Anak  diajar oleh orang tuanya sendiri di rumah. Karena  orang tua merasa punya tanggung jawab,  yahh!, akhirnya mama  harus belajar. Berusaha belajar kembali  materi SD untuk anaknya.Setelah itu mengajar. Action di depan anaknya. Begitulah kira-kira.

Pada awal  kegiatan belajar mengajar antara  mama  dan anak begitu komunikatif dan penuh suka cita. Mesra. Biasa-biasa saja,  mereka masing-masing  saling  rukun. Karena anak  diajari  tidak cepat mengerti, pertama  masih  bisa di tegur dengan cara halus anak kesayangannya itu. Kemudian,  terus menerus anak  melakukan kesalahan dan tidak ngerti-ngerti, materi  yang disampaikan oleh ortunya.  Ortu  mulai kecewa.  karena,  yang di serap anaknya tidak sesuai dengan harapan orang tua.  Murkalah mama. Sapu pun diambilnya untuk persiapan memukul anaknya. Rasa takut, cemas,gugup dari anak sudah mulai timbul. Saling emosi pun mulai mereka rasakan.  Yachh! anak tambah stresss. Mamapun tidak kalah stress.  

Orang tua sudah  dengan penuh pengorbanan, merelakan waktu dan tenaga utk mengajari anak. Eh anak ndak ngerti-ngerti. Pussingg!! Kasihan.Ya, kasihan keduanya, ya ortu dan anak. Rasa bosan, jenuh mulai muncul. Kalau begini terus  apa sudah solusinya.

Baik kalau orang tua ada waktu, kalau orang tua tidak ada waktu. Bagaimana?

Bagi  guru pun mengalami kesulitan. Guru memberikan materi sudah memilih yang sederhana. Yang tidak menyulitkan siswa. Guru sangat memahami, karena merasa siswa harus   belajar mandiri. Tapi, itupun  siswa masih merasa sulit. Apalagi yang  mata pelajaran menghitung. Bagaimana  dengan  waktu yang terbatas bisa  menyelesaikan target kurikulum? Dengan waktu  pembelajaran  yang kurang , apakah  guru bisa memenuhi  beban mengajarnya. Atau  bagaimana  perhitungan beban mengajar. Mungkin ada pencerahan. Guru  juga jelas susah berkomunikasi dengan  orang tua. Baik kalau  siswa yang diampu sedikit. Guru mengajar bisa di atas lima puluh orang, kalau SMA sampai ratusan orang.

Pemerintah  memberikan solusi dalam hal ini,  Untuk Guru : ada guru berbagi ,  bimtek  daring,  webinar-webinar . Untuk Siswa  adanya  penyediaan  kuota  gratis,  belajar  dari rumah di TV RI, belajar di radio RRI (yang ada  TV dan radio) , lewat rumah  belajar.  Tapi? Apakah  solusi itu  sudah menjangkau untuk kita semua.  Apalagi di  kota kecil saya?  Apakah sudah efektif ?

Ini merupakan PR kita semua. Semoga  Pandemi cepat berlalu. Semoga pembelajaran segera  normal seperti  dulu. Apapun  upaya pemerintah  tidak  bisa efektif.  Guru,  Orang tua dan Siswa pusing semua. Salam literasi!.

 

Waingapu, 14 Oktober 2020

Senin, 12 Oktober 2020

The Power off ‘tak terduga’

 


 Di suatu perjalanan  jauh yang akan kutempuh.  Dalam hati ku berdoa. Tuhan lindungilah  perjalananku  saat ini.  Semoga perjalanan lancar sampai tujuan.

Saya pernah membaca, tapi lupa dimana. Tuhan akan memberikan  berkat kepada kita  saat kita rela memberikan energi  kebaikan  kepada orang-orang yang kita jumpai.

Di saat dalam perjalanan  saya mempraktekkan. Kujumpai seorang  tukang sepatu yang mangkal  dekat  rumahku. Tuhan,  berikanlah  rejeki  pada bapak tua ini. Semoga dia mendapatkan rejeki yang cukup untuk hari ini.Cukupkan makanan bagi  istri  dan anak-anaknya yang sedang menunggu di rumahnya.

Tak  berselang lama  kulihat  seorang pemulung yang sedang mengais-ngais  sampah  memilih  botol aqua  di atas mobil  sampah di pinggiran jalan yang kulewati.  Dari atas  kendaharaan yang kutumpangi, dalam  hati  ku berdoa untuknya. Tuhan, kasihanilah  dia, berikan berkat padanya  untuk hari ini  makanan yang secukupnya. Saya sedih melihatnya. Betapa  bahagianya saya, tidak melakukan pekerjaan yang  seperti   dilakukan oleh bapak tua itu.  Bukan  hal yang berat kalau saya berdoa untuknya. Mungkin bapak  tua   tidak sempat berdoa untuk hari ini.

 Kami pun melanjutkan perjalanan. Sebelum sampai bandara Mau Hau. Sebelum masuk jembatan, tiba-tiba  seorang perempuan  mengejar  mobil yang  kutumpangi.  Saya  penasaran, akhirnya kami berhenti. Mama tua  menggedor pintu mobil dan akhirnya  kubuka. Ada apa mama?: tanyaku penasaran.   Kasih saya uang!!,  Saya mau  beli nasi! Teriak mama tua  itu. Kusorong  selembar uang padanya. Terus mama tua itu mengucapkan terimakasih. Ia mengucapkan kata-kata yang lirih tak terdengar. Entah mama tua itu omong apa.   Mungkin kita mengatakan selamat jalan dan  semoga saya  juga mendapatkan berkat hari ini. Mungkin!. Kututup kaca jendela mobil. Mama tua melambaikan tangan  dan akhirnya kami terus melaju  melanjutkan perjalanan.

Sekitar dua jam kemudian sampailah ke tempat yang kami tuju. Tugas  kamipun berjalan lancar. Setelah saya pamit,benar sudah!. Akhirnya saya pun mendapat berkat yang tak terduga. Trima kasih banyak Tuhan.

Ternyata energi kebaikan yang saya berikan kepada orang lain akan berdampak juga kepada saya.

Ternyata benar adanya, Sepanjang kita memberikan ‘sesuatu’ dengan iklas kepada orang yang  membutuhkan. Mendoakan orang yang  berkekurangan. Tuhan akan melipat gandakan berkat itu buat kita.

 Inilah kebahagiaan  kecil  saya . Sederhana!. Bahagia bertumbuh  dengan mencapai  target-target kecil  yang diciptakan sendiri

Janganlah berhenti untuk berbuat baik. Semoga kita selalu diberkati dan diberikan rejeki oleh yang memberikan kehidupan.

Salam.

Waingapu, 13 Oktober 2020

 

Minggu, 11 Oktober 2020

Just For Eleven Sains Last Year

 


 

Seiring berjalannya waktu….

pernah hari-hari kita lalui  bersama

hingga pada penghujung waktu

ternyata kita  jadi berpisah

 

perpisahan ini

adalah awal  menuju ruang yang berbeda

untuk  kamu tetap  belajar mencapai  cita-cita

apalagi di kelas 12, kelas ujian,  menunggu detik-detik kelulusan…

 

Aku tak pernah tahu

Seberapa yang kau mengerti

Dari apa yang telah kau berikan

 

Seberapa pun itu,  pasti akan  tetap berguna untuk tindak lanjutnya

Hanya  sebatas itu yang bisa kuberikan

Sedikit bekal kelak menjemput masa depanmu

 

 

Anakku…

Ada rasa kesal, marah,  bahkan kecewa pastinya

Mari Kita saling  memaafkan “mungkin” ada yang tak berkenan

 

Tetaplah rendah hati dan mengandalkan Tuhan.

 

Salam untuk anak-anakku yang  #hebat.

Kelas XI IA angkatan 2018/2019.

 

@*@*@*@*@*@*@*@*@*@*@*@

 

Kenang-kenangan kita  waktu kita  masih bersama

Bernyanyi,….bercanda,…..beganggu  dan  tertawa.

Senang, sedih, kecewa, ………pastinya  tak akan terlupa …….

 

Maaaff yang tidak bias tampil gambar atau videonya satu persatu…

Namamu,….selalu di hati ibu…..salam….

 

For you……..XI IA  Smandu   

Duaribu Sembilan belas dua ribu dua puluh

BELAJAR MEMBUAT PARAGRAF PENDEK

 


.

Oleh : Cahyadi Takariawan

“Short paragraphs have a dramatic effect” — MasterClass, 2020

.

Telah sering saya sampaikan, bahwa di antara barrier bagi pembaca adalah paragraf yang terlalu panjang. Pembaca dibuat lelah oleh panjangnya paragraf yang bisa menyebabkan mereka memutuskan untuk tidak melanjutkan membaca. Karena sudah lelah terengah-engah di satu paragraf.

Pada tulisan terdahulu, Anda telah saya ajak untuk belajar membuat kalimat pendek, yaitu tidak lebih dari 20 kata. Simak kembali di sini. Sekarang saya akan ajak Anda belajar membuat paragraf pendek, agar lebih nyaman bagi pembaca.

Batasan Paragraf

Sebagaimana dalam membuat kalimat pendek, maka membuat paragraf pendek pun sesungguhnya tidak ada aturan bakunya. Satu paragraf berisi satu kesatuan pemikiran. Maka jika terlalu panjang, bisa jadi sesungguhnya ada beberapa kesatuan pemikiran di dalamnya.

Terdiri dari berapa kalimatkah, sebuah paragraf dikatakan sebagai pendek? Tentu ini sangat banyak jawaban, termasuk di dalamnya adalah kebiasaan penulis. Namun saya mencoba menggunakan standar, agar ada hitungannya. Meskipun tidak bersifat baku.

Saya cek di web MasterClass, mereka menyarankan tiga sampai lima kalimat. “As a general guideline, the length of a paragraph is three to five sentences. That said, one-sentence paragraphs are acceptable and often welcome when paired with longer paragraphs”.

Menurut web MasterClass, paragraf pendek adalah tiga sampai lima kalimat. Meskipun demikian, paragraf yang hanya terdiri dari satu kalimat dapat diterima terutama jika dipasangkan dengan paragraf lain yang lebih panjang (MasterClass, 2020).

Standar yang digunakan oleh MasterClass ini saya rasa tepat untuk menulis buku, atau tulisan yang tercetak seperti koran dan majalah. Namun untuk tulisan yang dimuat di blog atau web, saya menyarankan membuat paragraf jangan lebih dari empat kalimat. Bagusnya rata-rata dua hingga tiga kalimat saja.

Inipun dengan catatan, kalimat yang digunakan berkategori kalimat pendek –maksimal 20 kata setiap kalimat. Dengan demikian, paragraf akan simpel dan lebih nyaman bagi pembaca.

Manfaat Paragraf Pendek

Kita tidak sedang membahas soal aturan baku membuat paragraf. Namun kita sedang membahas pola tulisan yang lebih nyaman bagi pembaca. Menurut web MasterClass, ada empat manfaat paragraf pendek.

  • Lebih menarik perhatian pembaca

“Large chunks of text on a page can turn readers away, but shorter paragraphs with white space between is more welcoming for readers” (MasterClass, 2020). Paragraf panjang dapat membuat pembaca menjauh, sedangkan paragraf pendek menjadi lebih ramah bagi pembaca.

  • Paragraf pendek memberikan efek dramatis

Anda bisa menonjolkan pesan penting dengan cara membuat paragraf satu baris saja. Ini memberikan efek dramatis. Sekaligus memberikan penekanan ekstra pada pesan yang ingin Anda utamakan.

  • Paragraf pendek lebih mudah dibaca

“Condensing ideas into shorter paragraphs makes it easier for your target audience to read and scroll”. Memadatkan ide menjadi paragraf pendek akan memudahkan pembaca Anda untuk membaca dengan lebih cepat. Apalagi ketika dimuat di media online.

  • Paragraf pendek lebih mampu menggambarkan sudut pandang penulis

“Variable paragraph patterns illustrate a writer’s point of view and voice”. Setiap penulis memiliki sudut pandang dan posisi dalam menyajikan ide. Seorang penulis dapat lebih jelas menyampaikan pesan dengan memecah pemikiran menjadi paragraf pendek.

Demikianlah empat manfaat paragraf pendek, yang sangat powerful bagi tulisan kita. Mari kita berlatih membuat paragraf pendek.

Cara Memecah Paragraf Panjang

Jika Anda menulis –selalu saya katakan—berkonsentrasilah untuk menulis. Jangan mengedit, jangan menghitung jumlah kata, ataupun jumlah kalimat. Tulis semua sampai selesai.

Setelah naskah Anda selesai ditulis, saatnya Anda melakukan proses self-editing. Salah satu yang bisa Anda edit adalah paragraf. Perhatikan setiap paragraf, apakah ada yang terlalu panjang? Satu kalimat lebih dari empat, atau lebih dari lima paragraf, ini yang harus Anda edit.

Caranya dengan memecah paragraf panjang, menjadi beberapa paragraf pendek. Berikut saya berikan contoh, satu paragraf panjang yang bisa dipecah menjadi beberapa paragraf pendek.

——————-

Perkawinan Antar Suku

Oleh : Hotnida Sikumbang

Prak… Tiba-tiba ayah memukul meja. Aku terkejut melihat ayah. Kupandang wajah ibu. “Maafkan Ida buk. Azharilah yang terbaik.” Kataku pada ibu, sambil memohon dukungan. “Suku kita berbeda, ayah tidak izin,” ujar ayah. “Ibu juga tak izin,” ujar ibu. Aku menangis memohon pada ibu. “Tolong buk, tolong izinkan ida, azhari baik,” ucapku sambil terisak. “Apa buktinya,” kata Ayah. “Kamu pernah jumpa kelurganya? Tanya Ibu. Aku tercenung. Aku tak pernah jumpa kelurga bang Azhar. Aku hanya tau dia anak kedua dari sebelas orang saudara.Tiga orang ibu. Dua orang meninggal.Ibu pengganti yang masih hidup. Aku menggeleng, wajahku basah air mata. “ndak pernah,” jawabku. Kedua ayah ibu terpana.

———————————-

Cara penulisan di atas, tampak penuh sesak. Belum membaca saja sudah sesak dada kita. Membuat barrier bagi pembaca.

Coba kita hitung. Dalam satu paragraf di atas, terdiri dari sangat banyak kalimat, dengan total 104 kata. Ini menjadi barrier yang nyata bagi pembaca. Bolehkah menulis dengan cara seperti itu? Boleh saja, itu sesuai selera penulis.

Namun dengan bentuk paragraf yang sangat berdesak-desakan semacam itu, membuat tidak nyaman pembaca. Berikut, naskah saya jadikan beberapa paragraf pendek. Silakan simak.

——————————-

Perkawinan Antar Suku

Oleh : Hotnida Sikumbang

Prak…!

Tiba-tiba ayah memukul meja. Aku terkejut melihat ayah. Kupandang wajah ibu.

“Maafkan Ida buk. Azharilah yang terbaik,” kataku pada ibu, sambil memohon dukungan.

“Suku kita berbeda, ayah tidak izin,” ujar ayah.

“Ibu juga tak izin,” ujar ibu. Aku menangis memohon pada ibu.

“Tolong buk, tolong izinkan ida, azhari baik,” ucapku sambil terisak.

“Apa buktinya,” kata Ayah.

“Kamu pernah jumpa kelurganya? Tanya Ibu.

Aku tercenung. Aku tak pernah jumpa kelurga bang Azhar. Aku hanya tau dia anak kedua dari sebelas orang saudara.Tiga orang ibu. Dua orang meninggal.Ibu pengganti yang masih hidup. Aku menggeleng, wajahku basah air mata.

“Ndak pernah,” jawabku. Kedua ayah ibu terpana.

“Nak orang Batak itu pemarah, kasar,” bujuk ibu.

“Tapi Ida cinta buk, dia bisa jadi imam Ida” kataku. “Orangnya sholeh ayah,” tambahku.

“Baiklah, besok ajak dia ke rumah,” kata ayah.

Keesokan harinya aku mengajak bang Azhari. Belum sempat masuk rumah. Azan zuhur berkumandang.

“Ayok, ke mesjid,”  kata Ayah yang tiba-tiba muncul.

———————–

Nah, Anda lihat, setelah saya pecah menjadi beberapa paragraf, secara penampilan menjadi lebih indah dan lebih enak dibaca. Tampak rapi, longgar, dan tidak sesak. Pesan lebih mudah tersampaikan, dan pembaca merasa lebih nyaman.

Latihan Memecah Paragraf

Sekarang saatnya Anda berlatih. Berikut saya nukilkan tulisan karya peserta Kelas Menulis Online (KMO) Basic. Saya ambil satu paragraf saja. Anda akan lihat, betapa panjang paragraf ini.

Tugas Anda adalah memecah satu paragraf ini menjadi beberapa paragraf pendek.

——————-

Cinta di Pulau Biru

Oleh : Hasmawati

Setahun sudah aku bertugas di pulau ini. Pulau yang tadinya kupikir akan membosankan dan menakutkan untuk berdiam di sini. Bayangkan pulaunya kecil dengan didiami hanya sekira 50 kepala keluarga. Kondisinya pun sangat jauh dengan kota tempat tinggal ku. Aku lulus dalam persaingan dua ratus lebih peserta ujian PNS untuk menjadi guru terpencil. SK sudah kuterima dan jadilah aku menjadi staf pengajar di SMP Neg. 2 Pulau Palompong. Sekolah Satu-Satunya di Pulau ini,satu atap dengan SD Palompong Sepuluh tahun lalu aku datang dengan sebongkah harapan agar aku bisa melupakan Lukman. Pemuda satu kampus denganku yang telah memenjarakan hatiku selama empat tahun. Lalu ia pergi begitu saja dengan wanita idaman lainnya.

———————————

Selamat berlatih.

Bahan Bacaan

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...