Selasa, 26 Januari 2021

MENULIS MAMPU MEMPERJELAS KESADARAN DAN KONSEP DIRI

 


.

Writing for Wellness – 24

Oleh : Cahyadi Takariawan

“Opportunities and strengths are the things that get you excited. Weaknesses and threats are the ones that cause concern” — Paul Boag, 2018.

.

Siapakah Anda? Siapa sesungguhnya jati diri Anda? Bagaimana Anda menjelaskan tentang diri Anda? Inilah yang disebut sebagai konsep diri atau self-concept.

Courtney E. Ackerman, mengutip pendapat Neill (2005), menjelaskan konsep diri adalah pandangan menyeluruh tentang diri seseorang secara fisik, emosional, sosial, spiritual, dan aspek lain yang membentuk jatidirinya. Pada dasarnya menusia membangun konsep diri sejalan dengan pertumbuhan usia dan pengalaman kehidupan.

“Self-concept is an overarching idea we have about who we are—physically, emotionally, socially, spiritually, and in terms of any other aspects that make up who we are” –Neill, 2005.

Roy Baumeister (1999) mendefinisikan konsep diri sebagai keyakinan individu tentang dirinya sendiri, termasuk atribut orang tersebut dan siapa serta apa dirinya. Rosenberg (1979) menyatakan konsep diri adalah totalitas pikiran dan perasaan individu yang mengacu pada dirinya sendiri sebagai objek.

Bagaimana cara membangun konsep diri? Ada sangat banyak cara yang direkomendasikan para ahli. Salah satunya adalah dengan menulis. Courtney E. Ackerman menyatakan, menulis adalah salah satu metode untuk memperjelas konsep diri.

Demikian pula dengan kesadaran diri (self-awareness). Kesadaran diri bisa dipertajam dengan menulis. Kendra Cherry (2020) menjelaskan, kesadaran diri (self-awareness) adalah komponen pertama dari konsep diri (self-concept).

Menurut Cherry, meskipun kesadaran diri adalah sesuatu yang penting bagi diri Anda, namun bukan berarti menjadi hal yang selalu Anda fokuskan setiap saat. Kesadaran diri terbangun ke dalam definisi siapa diri Anda, dan bisa muncul pada titik yang berbeda tergantung pada situasi dan juga kepribadian Anda.

“Self-awareness is one of the first components of the self-concept to emerge. While self-awareness is something that is central to who you are, it is not something that you are acutely focused on at every moment of every day. Instead, self-awareness becomes woven into the fabric of who you are and emerges at different points depending on the situation and your personality” – Kendra Cherry, 2020

Apa yang bisa ditulis untuk membangun konsep diri dan kesadaran diri? Ada banyak pilihan. Salah satunya adalah dengan menuliskan ‘who am I’, untuk membongkar diri sendiri, melalui metode analisa SWOT. C. Karthik Deepa telah merekomendasikan untuk menggunakan analisa SWOT dalam menguatkan self-awareness.

Identifikasi “Who Am I” Menggunakan SWOT Analysis

Menuliskan konsep diri “siapa aku”, membuat seseorang lebih detail memahami dirinya. Dalam membangun konsep diri, Anda harus secara jujur membongkar diri sendiri. Di antara alat yang bisa digunakan untuk mengenali diri adalah dengan menggunakan analisa SWOT.

Paul Boag (2018) menjelaskan, SWOT adalah singkatan dari Strength, Weakness, Opportunity and Threat, yang mencerminkan reaksi naluri Anda dalam fase penemuan. Peluang dan kekuatan adalah hal yang membuat Anda bersemangat. Kelemahan dan ancaman adalah penyebab kekhawatiran.

“SWOT stands for Strengths, Weaknesses, Opportunities and Threats. That mirrors the gut reaction you have in a discovery phase. Opportunities and strengths are the things that get you excited. Weaknesses and threats are the ones that cause concern” — Paul Boag, 2018.

Jodie Shaw (2017) menyatakan, analisa SWOT dapat membantu Anda lebih memahami bagaimana menggunakan kekuatan Anda dan mengelola kelemahan Anda, serta mengungkap peluang untuk berkembang dan menghilangkan ancaman yang dapat menghalangi Anda untuk bergerak maju.

“A SWOT can help you better understand how to play to your strengths and manage your weaknesses, as well as uncover opportunities for growth and eliminate threats that could keep you from moving forward” – Jodie Shaw, 2017

Langkah Menulis Identifikasi Diri

Situs Skills You Need memberikan petunjuk langkah-langkah dalam menuliskan analisa SWOT sebagai berikut.

1. Identifikasi tujuan yang ingin Anda capai

Apa tujuan yang hendak Anda capai dalam kehidupan? Defisnisikan tujuan dengan spesifik. Anda perlu menentukan target waktu pencapaian, serta indikator keberhasilan yang Anda harapkan. Ini adalah langkah awal memulai membongkar diri untuk mengenali siapa diri Anda saat ini.

Tuliskan dengan detail tujuan yang hedak Anda capai. Bukan hanya dengan membayangkan atau meletakkan tujuan dalam pikiran. Anda harus mewujudkan dalam bentuk tulisan.

2. Identifikasi kekuatan pribadi Anda yang bisa membantu mencapai tujuan

Strength (kekuatan) adalah bersifat internal. Ini tentang diri Anda sendiri. Bukan tentang orang lain. Semua orang memiliki kekuatan.

Tuliskan sebanyak mungkin kekuatan yang ada dalam Anda. Kekuatan ini bisa meliputi aspek spiritual, emosional, moral, fisik, finansial, sosial maupun skill. Berbagai capaian dalam kehidupan Anda, juga merupakan kekuatan yang patut dihargai.

3. Identifikasi kelemahan pribadi Anda yang dapat menghalangi tercapainya tujuan

Weakness (kelemahan) adalah bersifat internal. Ini tentang diri Anda sendiri. Bukan tentang orang lain. Semua orang memiliki kelemahan dalam dirinya. Ini sangat manusiawi.

Bongkar diri Anda untuk bersedia mengakui adanya kekurangan dan kelemahan. Sisi kelemahan bisa dilihat dari aspek spiritual, emosional, moral, fisik, finansial, sosial maupun skill. Pengalaman kegagalan, bisa Anda jadikan sebagai bahan evaluasi, apa kelemahan yang ada pada diri Anda sehingga gagal.

4. Identifikasi peluang yang dapat membantu Anda mencapai tujuan

Peluang (oportunity) bersifat eksternal, terkait dengan lingkungan dan orang-orang di sekitar Anda. Tuliskan berbagai peluang yang ada di sekitar Anda, yang bisa Anda gunakan untuk mencapai tujuan. Peluang ini juga dapat Anda manfaatkan ketika telah mencapai tujuan.

Dengan menuliskan peluang, Anda semakin mengerti hal-hal yang bisa Anda gunakan sebagai jalan dan sarana mencapai tujuan. Jangan hanya digambar dalam pikiran atau dirasakan dalam hati, namun harus Anda tuliskan dengan detail.

5. Identifikasi ancaman yang bisa mengganggu tercapainya tujuan Anda

Ancaman (threat) adalah hal dan peristiwa eksternal yang mengkhawatirkan Anda, atau yang bisa menghalangi Anda untuk mencapai tujuan. Ada pihak-pihak di luar diri Anda yang berpotensi menjadi ancaman terhadap tercapainya tujuan, maka Anda harus mewaspadainya.

Semakin detail Anda bisa mengidentifikasi dan menuliskannya, akan semakin hati-hati pula Anda dalam melangkah. Tentu Anda tidak ingin gagal dalam mencapai tujuan kehidupan.

6. Tinjau ulang dan tetapkan prioritas

Dalam setiap aktivitas pengembangan diri, apalagi terkait dengan aspek pemikiran strategis, semestinya Anda meninjau kembali analisis Anda. Tanyakan kepada diri sendiri, apakah unsur-unsur kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman telah Anda tuliskan dengan jujur dan benar? Apakah masih ada yang terlewatkan?

Bagian mana yang paling penting bagi diri Anda, dalam masing-masing kategori SWOT? Cobalah meninjau kembali satu atau dua poin, dari kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman yang menurut Anda akan paling penting dalam upaya mencapai (atau menghalangi) tujuan Anda. Area tersebut akan menjadi prioritas tindakan Anda.

Which areas are most important in each of the four categories in the analysis? Try to highlight one, or at most two, things from each of strengths, weaknesses, opportunities and threats that you think will be most important in achieving (or preventing you from achieving) your goal. Those areas will be your priorities for action – SkillsYouNeed.com

Selamat menulis, selamat menemukan kesadaran diri dan konsep diri yang utuh.

Bahan Bacaan

MENULIS UNTUK MERAIH KEDAMAIAN JIWA

 



.

Writing for Wellness – 23

Oleh : Cahyadi Takariawan

“While reliving traumatic events may initially feel agonizing, writing down our worst experiences can also offer a way to cope with some of life’s horrors” – Angela Matthews (2019)  

.

Ketika mengalami peristiwa kedukaan, pada umumnya manusia akan melewati lima tahapan. Ini teori tua yang dikemukakan oleh Kubler-Ross, namun sampai hari ini masih dianggap relevan. Seberapa lama manusia berada dalam tiap tahapan, tergantung pada sangat banyak faktor.

Berbagai studi menunjukkan, manusia yang tengah mengalami kedukaan, bisa dipercepat proses melewati tahap demi tahap, dengan aktivitas menulis. Banyak studi menunjukkan, menuliskan kedukaan memberikan pengaruh positif bagi manusia. Mereka akan bisa mendapatkan kedamaian dan ketenteraman, karena telah melepas beban yang menghimpit.

Mengenang kembali peristiwa traumatis yang pernah terjadi di masa lalu, awalnya terasa menyiksa. Namun dengan menuliskan pengalaman suram tersebut, ternyata mampu mengatasi kengerian dalam hidup. Studi dilakukan Angela Matthews (2019) tentang seorang ibu yang tengah berduka karena kehilangan anak tercinta. Ia menemukan, menulis mampu menghadirkan kedamaian.

Writing Through Grief

Angela meyakini, menuliskan perasaan kedukaan, mampu mengungkapkan pemahaman dan membuat penerimaan yang lebih baik. Dengan menuliskan pemikiran dan perasaan kedukaan, membuat seseorang bisa berdamai dengan kedukaan tersebut. Berbagai masalah kompleks dan menyakitkan, seperti kematian, kesedihan, dan kehilangan, bisa diatasi dengan terapi menulis.

Angela merekomendasikan strategi serupa untuk orang-orang yang mengalami persoalan rumit dalam kehidupannya. Rekomendasi serupa telah dilakukan oleh situs Modern Loss. Situs ini mengajak pembaca untuk menuliskan pengalaman kesedihan, kedukaan dan kehilangan, dalam rubrik Writing Through Grief.

Melalui rubrik ini, pembaca diajak berdamai dengan kedukaan yang dihadapi. Ternyata menuliskan kedukaan mampu mereduksi perasaan sedih. Salah seorang kontributor situs tersebut memberikan kesaksian.

“Writing through my grief has helped me transition from the person I was when I first faced that blank page to the one I am now. Writing provided me with clarity and some inner peace. I know I will continue to be sideswiped with conflicting feelings, but the pain isn’t as sharp. Now, when I look up into the sky, I’m relieved to see Orion, the Pleiades, or Cassiopeia, comforted by all of my memories of Rob, the whole complex mix of them” – Debbie Leaman (2019)

Debbie Leaman (2019) menuliskan kedukaan yang dialami melalui situs tersebut. Ia menyatakan, “Menuliskan kesedihan telah membantu saya beralih dari diri saya saat pertama kali menghadapi kedukaan itu, menjadi diri saya yang sekarang. Menulis memberi saya kejelasan dan kedamaian batin. Saya sadar akan terus diganggu oleh perasaan yang saling bertentangan, tetapi rasa sakitnya tidak lagi menyiksa. Sekarang, ketika saya melihat ke langit, saya bisa merasa lega….”

You don’t have to be a great writer, or get published. But writing may help you to sort out your thoughts and to express your emotions.

Anda tidak harus menjadi penulis yang hebat. Tulisan Anda juga tidak harus dipublikasikan. Akan tetapi, menulis dapat membantu Anda memilah pikiran dan mengekspresikan perasaan. Anda bisa menulis puisi atau cerita pendek, atau hanya diary tentang perasaan Anda. Ini bisa menjadi terapi. Setelah beberapa pekan menulis, Anda dapat melihat kemajuan yang terjadi.

Rekomendasi Harvard Medical School

Menuliskan kedukaan merupakan salah satu metode terapi yang direkomendasikan oleh Harvard Medical School. Mereka meyakini, menuliskan kedukaan adalah terapi yang efektif untuk membantu meringankan beban bagi orang-orang yang mengalami kedukaan.

“Truly let go. Write down how you feel and why you feel that way. You’re writing for yourself, not others. Don’t worry about grammar or sentence structure” –Harvard Medical School, 2016.

Meskipun menulis tentang kedukaan dan kehilangan dapat memicu emosi yang kuat – seperti menangis atau merasa sangat kesal – namun menulis menjadi aktivitas yang berharga dan bermakna. Harvard Medical School menyatakan, telah banyak orang melaporkan merasa lebih baik setelah menuliskan kedukaan.

Caranya sederhana. Berpikirlah bebas merdeka dalam menuliskan kedukaan. Benar-benar lepaskan semua kesedihan Anda. Tuliskan bagaimana perasaan Anda dan mengapa bisa merasa seperti itu. Anda menulis untuk diri sendiri, bukan untuk orang lain. Maka jangan khawatir tentang tata bahasa atau struktur kalimat.

Saran dari Harvard Medical School, cobalah menulis selama 15 hingga 30 menit setiap hari, dalam kurun tiga hingga empat hari, atau sepekan. Anda juga dapat menulis 15 sampai 30 menit sepekan sekali, selama satu bulan. Sebuah penelitian menemukan bahwa menulis ekspresif memiliki efek yang lebih kuat jika dilakukan selama beberapa hari. Bukan hanya sekali atau dua kali.

Kedukaan Anda akan semakin berkurang. Tidak lagi menjadi beban yang menekan kehidupan Anda. Maka Anda akan merasakan kedamaian dan ketenteraman dalam kehidupan.

Selamat menulis, selamat menikmati kedamaian.

Bahan Bacaan

MENULIS MENUMBUHKAN KEJUJURAN

 



.

Writing for Wellness – 22

Oleh : Cahyadi Takariawan

“If you’re not really being yourself, then you’re being dishonest in your writing” –Nat Russo, 2014

.

Sangat banyak manfaat positif dari aktivitas menulis. Pada dasarnya, jika kita ingin mendapatkan manfaat positif, maka kita harus menulis dengan sudut pandang positif. Sepanjang kita menghendaki manfaat kebaikan, maka menulis mampu menumbuhkan sangat banyak sisi kebaikan.

Di antara manfaat menulis adalah, melatih kejujuran. Sikap jujur (honesty) adalah sebuah nilai yang akan memberikan kemuliaan pada pemiliknya. Tidak ada kemuliaan yang bisa tumbuh di atas kebohongan. Kejujuran akan mengangkat harkat kemanusiaan, sehingga menggapai kemuliaan.

Najma Khorrami (2017) menyebutkan, paling tidak ada lima alasan mengapa kita harus selalu jujur. Pertama, kejujuran membersihkan hati nurani. Ketidakjujuran akan memaksa pelakunya untuk terus berlaku tidak jujur. Kebohongan akan selalu ditutupi dengan kebohongan berikutnya. Ini akan merusak hati nurani.

Kedua, kejujuran menjadikan Anda mampu membuat keputusan yang lebih baik. Bersikap jujur ​​akan membantu Anda mengambil keputusan secara benar, berdasarkan fakta yang sesungguhnya. Jika terbiasa memanipulasi data dan fakta, keputusan yang dibuat akan cenderung ngawur.

Ketiga, kejujuran membuat Anda lebih mudah mendapat kepercayaan. Semua jenis hubungan,  bisa bertahan dan berkembang dengan kejujuran. Persahabatan, keluarga, bisnis, organisasi, dan semua jenis ikatan, dijalin dengan landasaran saling percaya. Jujur membuat Anda dipercaya semua orang.

Keempat, kejujuran membuka jalan untuk sukses. Dunia kerja memerlukan orang-orang yang jujur dan bisa dipercaya. Sekali Anda tidak jujur, selanjutnya akan kesulitan untuk mendaki tangga sukses.

Kelima, kejujuran akan menghadirkan kebahagiaan dalam jiwa. Jika Anda selalu jujur, akan lebih mampu menghargai diri sendiri. Penghargaan terhadap diri sendiri, memungkinkan Anda menemukan emosi positif lainnya, seperti kepercayaan, harga diri, dan penerimaan. Inilah yang mampu memproduksi kebahagiaan lebih besar dan lebih konsisten.

Bagaimana Menulis Menumbuhkan Kejujuran?

Menulis yang dilakukan dengan positif, akan melatih Anda bersikap jujur. Pertama, jujur dengan kualitas tulisan Anda sendiri. Seperti apapun kualitas tulisan Anda, seperti apapun corak dan gaya bahasa Anda, itu adalah karya Anda sendiri. Tidak perlu malu, jika kualitas tulisan Anda belum bagus. Di titik ini Anda berlatih jujur, dengan menjadi diri sendiri dalam menulis.

Menurut Nat Russo (2014), jika Anda tidak benar-benar menjadi diri sendiri, maka Anda tidak jujur ​​dalam tulisan. Menjadi diri sendiri dalam menulis, artinya menggunakan cara dan gaya bahasa yang khas pada diri Anda sendiri, bukan gaya penulis favorit Anda. Anda tidak mencontek gaya orang lain. Anda jujur dengan ‘suara jiwa’ Anda sendiri.

Kedua, jujur terhadap keyakinan pribadi. Johnny B. Truant menyarankan agar jujur ​​terhadap keyakinan Anda. Maka baginya, jujur bukan berarti harus selalu menggunakan nama asli dalam menulis. Truant biasa menulis dengan beberapa nama pena. Menurutnya, ia lebih bisa memiliki kejernihan pikiran saat menggunakan nama pena.

Bagi Truant, nama pena memberikan ruang mental untuk terus maju dan jujur dalam menulis hal-hal yang kadang dianggap sensitif bagi orang lain. Ia merasa leluasa untuk menulis tentang keyakinan dirinya –yang mungkin berbeda dengan orang lain, ketika menggunakan nama pena.

Tentu saja Anda boleh memilih menggunakan nama asli untuk menuliskan keyakinan Anda. Yang penting Anda menulis dengan melandaskan diri pada etika kepenulisan, sehingga tidak berpotensi melanggar UU ITE yang bisa menjerat penulis dengan tuduhan pencemaran nama baik atau ujaran kebencian.

Ketiga, jujur menyatakan pikiran dan perasaan. Menurut Steve Kowit, menulis dengan jujur artinya Anda bersedia menyatakan yang sebenarnya tentang perasaan dan pikiran Anda. Namun Kowit memberikan catatan, tidak berarti Anda harus menyatakan semua hal tentang kehidupan pribadi. Jujur bukan berarti Anda harus menulis autobiografi yang mengungkapkan  semua hal tentang diri Anda.

To write honestly means that you are willing to tell the truth about your feelings and perceptions, but that doesn’t mean you have to say anything about your own life that you wish not to – Steve Kowit

Menurut Kowit, kejujuran berarti Anda dapat menerima dan merasakan marah, sedih, dan kecewa dalam diri dan pikiran. Anda memiliki keberanian untuk menyelami perasaan dan pikiran Anda sendiri. Dan hal ini tidak berarti harus menulis kondisi diri Anda dengan cara tidak sesuai dengan keinginan Anda.

Keempat, jujur dengan kutipan yang Anda ambil. Jika Anda mengutip, entah mengutip istilah, kalimat, atau pargraf, Anda harus jujur menyatakannya. Misalnya, kalimat yang saya kutip di awal tulisan. “If you’re not really being yourself, then you’re being dishonest in your writing”. Ini saya ambil dari artikel Nat Russo di blog Erindorpress (2014).

Mengutip tulisan orang lain tanpa menyatakan bahwa itu kutipan, adalah kebohongan. Mengutip karya orang lain tanpa mencantumkan sumber rujukannya, adalah kebohongan. Kita telah melakukan tindakan plagiarisme yang tercela. Mengakui karya orang lain sebagai karya kita.

Menulis positif, mengharuskan kita jujur menyatakan kutipan, sumber rujukan atau daftar pustaka. Ini adalah pertanggungjawaban akademis dalam dunia tulis menulis. Maka dengan menyatakan sumber rujukan atau daftar pustaka, kita telah berlatih jujur. Kita berlatih menghindari kebohongan dalam tulisan.

Kelima, jujur dengan melakukan sendiri. Pada kalangan guru yang diharuskan membuat laporan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), misalnya, sikap jujur artinya Anda benar-benar melakukan tindakan penelitian, dan benar-benar menuliskan laporan sesuai ketentuan. Bukan ‘menjahitkan’ kepada pihak lain agar hasilnya bagus.

Jujur artinya Anda bisa confident dengan hasil tulisan yang Anda buat sendiri. Bukan tulisan yang dibuat oleh orang lain. Mungkin Anda kurang puas, mungkin Anda kurang ‘sreg’, namun Anda telah jujur dengan benar-benar melakukan tindakan penelitian dan benar-benar menuliskan laporan.

Selamat menulis dengan jujur, selamat menikmati kejujuran.

Bahan Bacaan

MENULIS MAMPU MENINGKATKAN RASA SYUKUR

 


.

Writing for Wellness – 21

Oleh : Cahyadi Takariawan

“When we reflect on positive experiences, it may be worthwhile to think about what we’ve given to others, not only what we’ve received” –ScienceDaily, 2012

.

Menulis memiliki kemanfaatan yang amat sangat luas. Bukan hanya dalam konteks kesehatan mental dan kesehatan fisik, namun juga memberikan manfaat untuk membangun sikap hidup positif. Salah satunya, menulis dapat meningkatkan rasa syukur (gratitude) dalam kehidupan manusia.

Sebagai insan beriman, kita semua meyakini pemberian Allah dan karuniaNya yang tiada terhingga dalam keseharian kita. Syukur adalah kewajiban sebagai hamba yang mengakui dan merasakan banyak nikmat Allah dalam kehidupan. Meskipun kita tidak akan dapat menghitung semua nikmat Allah, namun harus selalu mensyukuri dengan sepenuh hati.

Semua kebaikan yang kita dapatkan, semua rezeki yang kita nikmati, semua kebahagiaan yang kita reguk, adalah karunia dan pemberianNya. Mengingat nikmat dan karunia tersebut, merupakan aktivitas yang meningkatkan rasa syukur. Apalagi ketika nikmat dan karunia tersebut dituliskan, akan semakin terasa kesyukuran kita.

Menulis Meningkatkan Rasa Syukur

Gregory Ciotti (2014) mengutip hasil sebuah studi, bahwa orang yang merefleksikan hal-hal baik dalam hidup mereka dalam bentuk tulisan, menjadi lebih positif dan termotivasi dalam menjalani kehidupan di masa sekarang dan di masa yang akan datang.

Studi tersebut menunjukkan, menulis tentang hal-hal baik dalam hidup kita, memiliki pengaruh yang besar dalam pembentukan sikap hidup. Menuliskan berbagai kebaikan, membuat kita benar-benar mengingat, merasakan dan menghayati kebaikan tersebut. Wajar jika membuat pelakunya bisa memiliki jiwa yang mudah bersyukur.

Misalnya menulis, “Alhamdulillah, aku masih diberikan kesempatan menikmati kehidupan di hari ini. Aku bisa bangun pagi, beribadah, merasakan kesegaran oksigen, merasakan hangatnya sinar matahari. Luar biasa indahnya hidup ini”. Contoh tulisan yang berisi refleksi kebaikan yang dirasakan.

Contoh lainnya, “Alhamdulillah aku memiliki keluarga yang baik. Dengan keluarga yang baik ini, aku merasa berarti. Bangun pagi, menyiapkan sarapan, menikmati roti dan teh panas bersama keluarga, betapa nikmatnya”. Tulisan seperti ini, membangkitkan kesadaran yang penuh untuk selalu bersyukur.

Maka biasakan menulis hal-hal baik dan positif yang dirasakan sebagai karunia Tuhan dalam kehidupan. Dengan menuliskan, akan semakin terasa nikmat dan karunia tersebut dalam hidup kita. Nikmat dan karunia terasa semakin jelas dan nyata, dengan menuliskannya.

Penelitian lain menunjukkan hal serupa, bahwa mengingat dan mencatat kebaikan yang kita miliki, membuat kita lebih bahagia dan memotivasi untuk berbuat kebaikan berikutnya. Studi tersebut dilaporkan dalam Psychological Science (2012), yang menunjukkan bahwa mengingat apa yang telah kita berikan kepada orang lain, membuat kita menjadi lebih senang membantu orang lain.

Memberi Lebih Menguatkan Syukur

Sebuah studi dilakukan oleh Adam Grant dan Jane Dutton. Mereka mengamati dampak menulis ekspresif terhadap perilaku prososial. Grant dan Dutton menemukan, ketika seseorang merenungkan kebaikan yang telah diterima dari orang lain, tidak memotivasi untuk memberi. Para partisipan yang diminta menuliskan bantuan kebaikan yang pernah mereka terima dari orang lain, tidak membuat mereka tergerak untuk memberi.

Namun ketika partisipan diminta merefleksikan bantuan kebaikan yang telah diberikan kepada orang lain, justru mampu memperkuat identitas dirinya sebagai individu yang peduli, sehingga memotivasi untuk memberikan kebaikan lagi. Ternyata, memberi memiliki pengaruh yang lebih mendatangkan kebahagiaan dan kesyukuran.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa menulis ekspresif berisi refleksi diri tentang memberi, dapat menjadi sarana yang ampuh untuk memotivasi perbuatan baik berikutnya. Partisipan yang menuliskan hal-hal baik yang ia berikan kepada orang lain, membuat dirinya termotivasi untuk mudah membantu dan menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain.

Hal ini memberikan penjelasan, bahwa memberi bantuan jauh lebih baik daripada menerima bantuan. Memberi lebih membahagiakan daripada menerima.

Kebahagiaan dan kesyukuran yang lebih bisa didapatkan dari aktivitas memberi dan berkontribusi. Maka menulis ekspresif tentang kontribusi kebaikan yang pernah diberikan, memberikan dampak positif bagi pelakunya.

Selamat menulis, selamat bersyukur.

MENULIS MEMBUAT ANDA LEBIH BIJAKSANA

 


.

Writing for Wellness – 20

Oleh : Cahyadi Takariawan

The last reason to write about life: it helps you study your emotions, which makes you wiser, faster –Drake Baer, 2013

.

Ada sangat banyak kemanfaatan menulis dalam kehidupan manusia. Sejak dari kemanfaatan secara akademik, kesehatan, manajerial maupun sosial. Amat disayangkan jika kita masih mengabaikan kegiatan menulis, mengingat banyaknya manfaat yang bisa kita dapatkan darinya.

Drake Baer (2013) menyatakan, alasan penting untuk rutin menulis adalah, bisa membantu mengenali kondisi emosi Anda, yang membuat Anda lebih bijaksana dan lebih cepat dalam mengambil keputusan.

Bagaimana Menulis Bisa Meningkatkan Kebijaksanaan?

Menurut ahli saraf Antonio Damasio, “Apa yang kita bangun sebagai kebijaksanaan dari waktu ke waktu sebenarnya adalah hasil dari menumbuhkan pengetahuan tentang bagaimana emosi kita berperilaku, dan apa yang kita pelajari darinya.”

Ini memperkuat cara yang direkomendasikan pemenang Hadiah Nobel, Daniel Kahneman. Ketika Michael J. Mauboussin bertemu Kahneman, ia bertanya bagaimana cara terbaik untuk meningkatkan pengambilan keputusan? Kahneman menjawab tanpa keraguan: Pergi ke toko obat, beli buku catatan.

“Go down to a local drugstore and buy a very cheap notebook and start keeping track of your decisions. Pergilah ke toko obat dan beli buku catatan yang murah saja, dan mulailah mencatat keputusan Anda”, ujar Kahneman.

Mauboussin menjelaskan, “Kapanpun Anda akan membuat keputusan, luangkan waktu sejenak untuk berpikir. Tuliskan apa yang Anda harapkan akan terjadi dan mengapa Anda mengharapkannya terjadi? Tuliskan juga perasaan Anda tentang situasi tersebut –baik secara fisik maupun emosional, bagaimana perasaanmu? Misalnya, aku merasa lelah, aku merasa baik-baik saja, atau kegiatan ini benar-benar menguras tenagaku –tulis apapun yang Anda pikirkan”.

Whenever you’re making a consequential decision, just take a moment to think, write down what you expect to happen – Michael J. Mauboussin.

Drake Baer menjelaskan, mengapa menulis bisa meningkatkan kebijaksanaan. Menurutnya, “Writing helps us absorb information better and learn significantly more”. Menulis membantu kita menyerap informasi dengan lebih baik dan belajar lebih banyak.

Saat menulis, kita bisa melihat rencana dengan lebih jelas. Di saat yang sama kita juga mampu menyerap informasi dengan lebih detail dan belajar lebih banyak. Hal ini telah dijelaskan dalam berbagai studi, bahwa mahasiswa yang mencatat perkuliahan menyerap informasi penting lebih banyak daripada mereka yang hanya mendengarkan kuliah dan tidak menulis apapun.

Pemikiran yang Jernih

There’s a reason why so many successful people write everyday — whether it’s a diary they keep or a blog they write. Writing things down forces you to clarify your thoughts into more concrete representations. It takes a lot of effort. But over time, it’ll become easier, and you start to notice that your thoughts become more crispy. You’ll also have fewer doubts about your own thoughts – Claudia Altucher 

Claudia Altucher, penulis buku “Become An Idea Machine” (2015) menjelaskan, “Ada alasan mengapa begitu banyak orang sukses menulis setiap hari –baik berupa buku harian ataupun blog. Menuliskan sesuatu akan memaksa Anda untuk mengklarifikasi pikiran menjadi representasi yang lebih konkret”.

“Hal ini memerlukan banyak usaha. Seiring berjalannya waktu, menulis akan menjadi lebih mudah Anda lakukan. Anda mulai merasakan bahwa pikiran Anda menjadi lebih jernih. Anda juga akan memiliki lebih sedikit keraguan tentang pemikiran Anda sendiri”.

Dengan cara berpikir yang jernih, ditambah dengan semakin yakin akan kualitas pemikiran, membuat Anda semakin bijaksana dalam mengambil keputusan. Semakin bijaksana pula dalam bertindak.

Selamat menulis, selamat meraih kebijaksanaan.

Bahan Bacaan

Minggu, 17 Januari 2021

MENULIS MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBAHASA

 


.

Writing for Wellness – 17

Oleh : Cahyadi Takariawan

Writing is one of the most important exercises related to language learning — Shannon Kennedy (2018)

.

Sudah sangat banyak saya sampaikan manfaat menulis dalam kehidupan manusia. Berbagai keterangan dari survei para ahli telah menempatkan menulis sebagai aktivitas yang sangat kaya manfaat. Dari berbagai tinjauan, menulis memberikan benefit yang powerful. Amat sayang jika Anda mengabaikannya.

Menulis dan Kemampuan Berbahasa

Di antara manfaat menulis adalah meningkatkan kemampuan berbahasa. Saat menulis, Anda akan berpikir tentang pilihan kosa kata, tata bahasa, ejaan, struktur kalimat, paragraf dan lainsebagainya. Meskipun Anda menulis yang paling sederhana sekalipun, tetap akan melibatkan pengolahan kata dan kalimat.

Dengan rajin menulis, kemampuan berbahasa Anda akan semakin meningkat. Shannon Kennedy (2018) menyatakan, menulis adalah salah satu latihan terpenting yang berhubungan dengan pembelajaran bahasa dan cara yang sangat efektif untuk mengolah kosa kata. Manfaat lainnya adalah meningkatkan kemampuan mengolah tata bahasa, terutama ketika melakukan editing tulisan.

Melalui kegiatan menulis, Anda telah belajar berbahasa. Kemampuan berbahasa Anda akan semakin terasah dari rutinitas menulis. Dalam sebuah studi ditemukan, kemampuan menulis ternyata juga meningkatkan kemampuan berbahasa secara lisan.

Marielle Zagada mengutip hasil sebuah studi tahun 2015 yang mengungkapkan bahwa partisipan yang memiliki keterampilan untuk menghasilkan bahasa akademik dalam tulisan, mereka dapat dengan mudah mentransfer keterampilan argumentatif ke keterampilan berbicara. Artinya, jika Anda mengembangkan keterampilan menulis, di saat sama akan meningkatkan kompetensi dalam berbicara.

Pertanyaan pentingnya adalah, untuk apa kemampuan berbahasa? Apa guna kemampuan berbahasa dalam kehidupan manusia?

Kemampuan Berbahasa Meningkatkan Kemampuan Akademik dan Sosial

Kim Eckart (2018) menyatakan, penelitian menunjukkan bahwa penggunaan kosakata dan tata bahasa tidak hanya memberikan kemahiran lisan dan tulisan, tetapi juga meningkatkan kinerja di bidang lain. Kemampuan berbahasa terbukti membantu kesuksesan akademis dan sosial, sebagaimana dijelaskan oleh Amy Pace dari University of Washington.

“A lot of other research focuses on math, science and literacy, and they don’t even consider that language could be playing a role,” ujar Amy Pace. Banyak penelitian berfokus pada matematika, sains, dan literasi, dan tidak menganggap bahasa sebagai hal penting.

Studi ini melihat berbagai keterampilan kesiapan sekolah dan menentukan mana yang menjadi faktor paling kuat dari kesuksesan anak di kemudian hari. Ditemukan, faktor paling kuat adalah bahasa, kemampuan menggunakan kata-kata dengan lancar dan merangkai menjadi kalimat. Demikian dinyatakan Kathy Hirsh-Pasek dari Temple University.

Amy Pace menjelaskan, berbahasa adalah kemampuan untuk mengolah kata-kata dan menggunakan tata bahasa yang kompleks untuk berkomunikasi dalam ucapan dan tulisan. Itulah mengapa kemampuan berbahasa bisa memengaruhi area pengembangan akademik dan sosial.

“Kemampuan berbahasa secara konsisten muncul sebagai faktor penting perkembangan akademis dan sosial,” ujar Pace.

Situs The Educator melaporkan, para peneliti dari Institute for Learning & Brain Sciences (I-LABS) menemukan bahwa mempelajari bahasa dapat membantu siswa memperoleh nilai yang lebih tinggi secara signifikan dalam pelajaran matematika dan seni. Studi ini juga semakin menguatkan studi Amy Pace dan tim, bahwa kemampuan bahasa mampu meningkatkan kemampuan akademik.

Di Australia, telah dikembangkan desain pendidikan bahasa untuk menunjang kemampuan akademik siswa. “Pengenalan ke bahasa dan budaya lain dapat memiliki manfaat perkembangan yang signifikan pada anak-anak, misalnya dikaitkan dengan bahasa Inggris yang lebih baik dan keterampilan pemecahan masalah,” ungkap Simon Birmingham, Menteri Pendidikan Federal di Australia.

Sudah sangat jelas bukan, bagaimana kemampuan berbahasa mampu meningkatkan kemampuan akademik dan sosial, termasuk kemampuan memecahkan masalah. Selamat menulis, selamat berkarya.

Bahan Bacaan

Don’t Tell Me You Can’t!

 




Oleh : Cahyadi Takariawan



“Saya tidak bisa” adalah kalimat yang kerap dijadikan alasan banyak manusia untuk tidak melakukan sesuatu. Padahal, “saya tidak bisa” –secara teknis—adalah tidak ada. Sebab, keyakinan, harapan dan kesungguhan, akan membuat mereka bisa melakukannya.


Adalah Juan Jose 'Juanjo' Mendez Fernandez, ia telah membuktikan. Bahwa “saya tidak bisa” itu tidak ada. Maka dengan yakin ia mengatakan, “Don’t tell me you can’t!” 


Juanjo mulai terjun di dunia balap sepeda ketika berusia 14 tahun. Namun sebuah kecelakaan sepeda motor pada tahun 1992 membuat karir itu harus terhenti. Tragis. 


“Saat itu aku dinyatakan mati secara klinis. Aku koma selama dua puluh hari”, ujar Juanjo. 


“Ketika aku siuman, aku belum menyadari bahwa aku kehilangan satu lengan dan satu kaki. Aku baru sadar ketika duduk”, lanjutnya. 


“Setelah sekian lama putus asa, aku memutuskan untuk menerimanya. Titik. Aku berkata pada diriku sendiri untuk melanjutkan hidupku," ungkap Juanjo. 


Ia memerlukan waktu dua tahun untuk bisa mulai bersepeda balap lagi. Setelah memutuskan untuk kembali bersepeda, dalam kurun 17 tahun berikutnya, ia telah menjadi juara balap sepeda internasional. Ia telah menjadi juara Paralimpiade dan memimpin klub sepeda bernama Piratas.


Selengkapnya -

https://www.kompasiana.com/pakcah/6004452fd541df501521d792/don-t-tell-me-you-can-t

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...