Kamis, 23 Juni 2022

A48. BencanaBanjirBandangdanBadai SerojaNTT2021 Day48

 


 

Ketika itu ……………

Saat kutatap hamparan luas padang sabana,

Tempat ku mengabdi  sebagai abdi negara,

Di Tanah Marapu,  Matawai Amahu pada Njara Hamu,

 

Kulihat Bendungan yang saat itu hancur,

Luluh lantak dan porak poranda,

Rumah-rumah  tenggelam, banjir dengan ganas menerjang

Para penghuni rumah berlari kencang

Mencari aman di tanah ketinggian yang lapang.

 

Sedih… perih…. dan penuh duka lara

Cerita ini menolak lupa

Kisah bencana banjir bandang dan badai membuka ingatan di dalam sanubariku

Luka lama Corona  masih membekas, bencana lain datang

Hati masih terasa sakitdan  belum  tersembuhkan

 

Hati resah, pikiran gelisah, tugas tertunda  tidurku slalu terjaga

Jalan yang sering  kulalui tuk mencari nafkah rusak parah

Jembatan penopang kehidupan hancur tak tertahankan

Rebah terhanyut....

 Rumah   tempat  ku bernaung dihempas badai 

Dalam  kesendirian  menatapkan hamparan hampa

 

Gemuruh amukan alam sungguh mengerikan

Menabur duka dibumi flobamorata

Raga tak bersalah  banyak jiwa malang menjadai korban

Pekik bersahut tangisan

Ratapan  menggema dibukit Flobamorata

 

Ceria yang kemarin hilang

Tangisan  pilu, airmata  duka mengalir tak henti

Kematian saudara sungguh menyayat hati

kepadamu Tuhan kupanjatkan doa dan pengharapan

uluran tangan dan kasihmu  sangat berarti  bagiku

jamahan kasihmu akan membalut luka ini

sembuhkan lara hati ini agar bumi ini

kembali tersenyum

 

Kini,

Hari ini Jumat, 24 Juni 2022

Sumbaku sudah kembali berseri

Sebagai infrastruktur sudah terbangan kembali

Bendungan yang hancur tak tersisa kini sudah ada

Para petani tersenyum lega

 

Aktivitas mulai ada

Padi sayuran  ikut berseri tersenyum dihempas angin

Trimakasih kuucapkan kepada pemerintah

Trimakasih para pejabat yang sudah membangun kembali,

Kami rakyat kecil sudah bernafas lega

Siap melanjutkan tugas kami yang tertunda.

 

 

Catatan: Flobamorata

Flores, Sumba, Timor, Alor, Atambua

#70harimenulis
#70haripunyanaskah
#siapataujadibuku
#PMAchallenge - 48
#LedwinaEti  
#Waingapu, 24Juni 2022

Senin, 20 Juni 2022

“The Habits Manifesto” Model Gretchen Rubin (2)

 


.

Oleh : Cahyadi Takariawan

“As with dieting, exercising, and other somewhat painful activities, there’s no better time to start a writing habit than right now. It won’t magically become easier tomorrow or next week or next month” –Claire Splan, 2020.

.

Gretchen Rubin adalah penulis di New York Times, penulis buku The Happiness Project, Happier at Home dan Better than Before. Rubin telah melakukan banyak penelitian tentang kebiasaan dengan membawa berbagai studi perilaku ke dalam penilaian pribadinya. Ia menilai tentang apa yang berhasil membangun kebiasaan dan apa yang tidak berhasil.

Selanjutnya Rubin memaparkan apa yang dia sebut sebagai “The Habits Manifesto” atau Manifesto Kebiasaan berupa dua belas tip untuk menciptakan dan memelihara kebiasaan. Rumus ini ia peroleh dari riset dan pengalaman pribadinya. Ada beberapa poin menarik dalam The Habits Manifesto yang bisa menjadi inspirasi bagi kita semua.

Kita Bisa Mengelola Apa yang Kita Ketahui

“We manage what we monitor” –Gretchen Rubin.

Rubin menyatakan, bahwa manusia akan bisa mengelola hal-hal yang diketahui dan dipantaunya. Jika Anda tidakmengetahui dan tidak memantau sesuatu, Anda tidak akan dapat mengelolanya.

Misalnya terkait waktu. Sangat mungkin ada banyak waktu hangus dan hilang namun tidak Anda sadari. Anda merasa sangat sibuk dan tidak punya waktu untuk menulis. Padahal bisa jadi ada slot-slot waktu yang hilang begitu saja karena tidak Anda amati. Jika Anda mencermati semua penggunaan waktu dalam kegiatan keseharian, nisacaya Anda akan menemukan slot yang sesungguhnya luang dan bisa dimanfaatkan.

Demikian pula dalam proses menulis. Kapan waktu yang efektif bagi Anda untuk menulis, dimana tempat yang paling nyaman bagi Anda untuk menghasilkan karya tulis, dengan sarana apa Anda paling lancar menulis? Coba amati dengan seksama, maka Anda akan bisa mengelola dan mengatur semuanya.

“It seems to help a lot to track your writing habit and the more details you track, the better. It can be the number of words or pages written, the number of hours spent writing, or some other metric. However you measure it, write it down” –Claire Splan, 2020.

Claire Splan memiliki pengalaman pribadi tentang kebiasaan ini. Menurut Splan, “Melacak kebiasaan menulis akan sangat membantu, dan semakin banyak detail yang bisa Anda lacak, semakin baik untuk Anda”. Dengan mengetahui hal-hal detail dari kebiasaan menulis yang Anda miliki selama ini, Anda akan semakin bisa mengelola untuk bisa lebih produktif.

“Ini bisa berupa jumlah kata atau jumlah halaman yang berhasil Anda tulis, jumlah jam yang Anda habiskan untuk menulis, atau parameter lainnya. Bagaimanapun Anda mengukurnya, tulislah”, ungkap Splan.

Dalam buku How I Went from Writing 2,000 Words a Day to 10,000 Words a Day, Rachel Aaron menyatakan bahwa ia menyimpan spreadsheet yang melacak waktu mulai menulis, waktu berhenti, di mana ia menulis, dan berapa banyak kata yang ditulis pada setiap sesi. Dengan informasi detail itu, Aaron dapat menentukan ada waktu-waktu tertentu dalam sehari, tempat-tempat tertentu, dan jangka waktu tertentu yang ia menjadi lebih produktif.

Jika Telah Siap, Segera Mulai Sekarang

“Once we’re ready to begin, begin now” –Gretchen Rubin.

Penundaan adalah masalah sangat banyak orang. Dalam bidang apapun, selalu ada masalah penundaan. Termasuk dalam hal menulis. Banyak orang menyatakan ingin bisa menulis dan ingin memiliki karya tulis, namun selalu menunda untuk memulai.

“Seperti halnya diet, olahraga, dan aktivitas lain yang agak menyakitkan, tidak ada waktu yang lebih baik untuk memulai kebiasaan menulis selain sekarang”, ujar Claire Splan. Menunda hampir selalu punya arti tidak sama sekali. “Besok” atau “lusa” adalah kata-kata apologi untuk menyatakan tidak akan melakukannya sama sekali.

“Penundaan dari hari ini, tidak akan secara ajaib menjadi lebih mudah dikerjakan besok atau pekan depan atau bulan depan. Resistensi akan tumbuh ketika Anda menunda memulai”, lanjut Splan.

Gretchen Rubin sangat serius ketika ia menyatakan harus memulai sekarang. Kebiasaan apapun yang ingin Anda tumbuhkan dan Anda miliki, hanya akan bisa muncul dengan efektif apabila Anda memulai sekarang. Bukan besok, bukan lusa.

“Now is the time. Stop choosing to write. Just write. Write now” –Claire Splan, 2020.

Ketika Anda menghibur diri dengan mengatakan “aku akan menulis besok”, maka kalimat sama akan menjumpai Anda keesokan hari. Ketika Anda mengatakan “aku akan mulai menulis pekan depan”, maka kalimat sama akan Anda dapatkan pekan depan. Begitu seterusnya. Setiap penundaan akan diikuti dengan penundaan berikutnya, hingga akhirnya seseorang meninggal dunia tanpa melakukan hal-hal yang ingin dilakukannya.

Yang perlu Anda lakukan hanyalah menulis. Bukan ingin menulis. Bukan bercita-cita menulis. Bukan bermimpi untuk menjadi penulis. Anda hanya perlu menulis. Itu saja, maka Anda telah menjadi penulis.

“Gretchen Rubin mati-matian menjelaskan tentang ini. Sekaranglah saatnya. Berhentilah memilih untuk menulis. Tulis saja. Tulis sekarang”, ungkap Splan.

Anda sudah siap?

Bahan Bacaan

Claire Splan, Make Writing a Habit, Not a Choice, https://shutupwrite.com, 18 November 2020

Menciptakan Habit Menulis “8 Menit Setiap Hari” (2)

 


.

Oleh : Cahyadi Takariawan

“A writing sprint is an exercise in which you write as many words as you can in a limited amount of time” –Nissa Annakindt, 2019.

.

Mungkin selama ini Anda sudah rutin menulis setiap hari, dan bahkan menghasilkan “naskah jadi” setiap hari. Namun pertanyaannya, apakah kecepatan menulis Anda terukur? Apakah efektifitas dan efisiensi penggunaan waktu Anda meningkat? Ini menyangkut berbagai macam kegiatan yang harus Anda lakukan di luar menulis, yang juga harus diselesaikan.

Untuk itulah Anda perlu berlatih “writing sprint” atau sprint menulis. “Writing sprint” adalah latihan menulis kata-kata sebanyak mungkin dalam waktu terbatas. Tujuan dari “sprint menulis” adalah untuk meningkatkan jumlah kata yang berhasil Anda tulis dalam satuan waktu tertentu, sekaligus meningkatkan kecepatan dan efisiensi menulis.

Jika Anda berharap mampu lebih banyak menulis kata dalam satuan waktu tertentu, atau  sudah rutin menulis tetapi ingin memiliki lebih banyak waktu untuk mengerjakan hal-hal lain, maka ini adalah teknik yang bisa Anda coba. Jika Anda terlatih, maka waktu menulis Anda menjadi efektif, dengan jumlah kata yang meningkat.

“The purpose of a writing sprint is to encourage you to increase your word count and improve the speed and efficiency with which you write” –Nissa Annakindt, 2019.

Mengapa Anda tidak menulis secepat mungkin sampai akhir bab atau chapter tertentu? Cara seperti ini tidak memberi Anda tantangan. Tidak ada akhir yang pasti untuk batas waktu yang telah Anda habiskan. Jika Anda membatasi waktu, maka semua akan lebih terukur. Anda menjadi mengerti kecepatan menulis, dan bisa memperkirakan waktu yang diperlukan untuk menulis satu artikel atau satu cerpen.

Misalnya kecepatan menulis Anda adalah 20 kata per menit, maka untuk menulis artikel koran atau majalah sebanyak 1.000 kata, Anda memerlukan waktu 50 menit. Kurang dari satu jam. Jika Anda ingin menulis cerpen 2.000 kata, berarti Anda memerlukan waktu 100 menit, atau satu jam lebih 40 menit. Kurang dari dua jam.

Nah, dengan mengetahui hal ini, Anda bisa mengalokasikan waktu menulis di sela-sela kesibukan harian Anda yang sangat padat. Anda mengerti kebutuhan waktu untuk menyelesaikan satu naskah tertentu, maka bisa mengelolawaktu secara lebih efektif dan efisien untuk mengerjakan hal-hal lain.

The 8-Minute Writing Habit

“By setting a time limit, you are forcing yourself to finish in that time. And maybe you won’t finish, but you can still get as far as you can so that you have time to do other life things” –Nissa Annakindt, 2019.

The 8-Minute Writing Habit adalah sebuat teknik menciptakan habit menulis yang dikemukakan oleh Monica Leonelle. Tujuan teknik ini adalah melatih kebiasaan menulis harian, dalam satuan waktu tertentu yang singkat. Leonelle menyarankan satuan waktu menulis 8 menit.

Mari kita mulai berlatih “writing sprint” menggunakan model Monica Leonelle. Cukup delapan menit dalam setiap sesi menulis. Berikut rambu-rambu untuk menggunakan teknik “8 menit menulis”.

Pertama, pikirkan dan siapkan satu tema tertentu untuk Anda tulis. Tema bebas, bisa berupa cerita, pengalaman, kejadian, peristiwa, perasaan, keinginan, harapan, kritik, atau apa saja. Carilah tema yang mudah untuk Anda tuliskan. Hal ini agar saat menulis, Anda benar-benar sudah siap dengan segala sesuatu.

Kedua, Anda harus menulis tema tersebut dalam waktu 8 menit. Selesai atau tidak selesai, Anda harus berhenti menulis setelah 8 menit. Gunakan pewaktu untuk memastikan bahwa waktu menulis Anda benar-benar 8 menit.

Ketiga, Anda bebas menulis, boleh fiksi atau nonfiksi. Boleh berbentuk cerita, dongeng, berita, narasi, atau bentuk apapun yang Anda kuasai.Pilih bentuk dan gaya menulis yang paling mudah bagi Anda.

Keempat, Anda menulis dengan kecepatan wajar, sebagaimana kebiasaan masing-masing. Jangan berusaha mengebut atau mempercepat cara menulis. Yang dihitung bukan semata-mata kecepatan menulis, namun kemampuan rata-rata Anda menghasilkan tulisan per satuan waktu tertentu. Ini agar Anda mengetahui progres pertumbuhan kemampuan menulis dari waktu ke waktu.

Langkah Teknis

Dalam setiap sesi “8 menit menulis”, yang perlu Anda lakukan adalah hal-hal teknis sebagai berikut:

  • Pilih alat menulis sesuai kebiasaan Anda masing-masing, misalnya handphone, laptop, tab, komputer, buku tulis, dan lain-lain.
  • Atur penghitung waktu untuk 8 menit.
  • Aktifkan penghitung waktu, dan langsung mulai menulis selama 8 menit.
  • Berhenti menulis setelah tepat 8 menit, dan hitung jumlah kata yang berhasil ditulis.
  • Ulangi beberapa sesi dengan cara yang sama.
  • Hitung rata-rata  jumlah kata yang bisa Anda tulis dalam 8 menit.
  • Buat catatan untuk mengetahui perkembangan kemampuan menulis Anda.
  • Lakukan dalam beberapa hari.

Format laporan perkembangan, buat yang mudah dan sederhana saja, misalnya:

Hari, tanggal            : _______________________

8 Menit Pertama      = …. kata

8 Menit Kedua         = …. kata

8 Menit Ketiga         = …. kata

Rata-rata menulis    = …. kata / 8 menit = …. kata / menit

Jika Anda telah melakukan dalam beberapa hari, misalnya 7 hari, maka buatlah laporan rata-rata kemampuan menulis.

Rata-rata menulis hari pertama     = …. kata / 8 menit = …. kata / menit

Rata-rata menulis hari kedua        = …. kata / 8 menit = …. kata / menit

Rata-rata menulis hari ketiga        = …. kata / 8 menit = …. kata / menit

Dan seterusnya….

Rata-rata menulis dalam 7 hari     = …. kata / 8 menit = …. kata / menit.

Inilah kemampuan rata-rata menulis Anda dalam waktu tujuh hari. Jika Anda berlatih rutin setiap hari menulis 8 menit, kemampuan menulis Anda akan terus meningkat dengan sendirinya. Maka dari laporan perkembangan tersebut, Anda semakin mengetahui kemampuan menulis yang Anda miliki sesungguhnya.

Tantangan selanjutnya adalah Anda menulis setiap hari minimal satu sesi atau 8 menit. Jika sedang ada waktu lebih, boleh menulis lebih banyak, misalnya 2 X 8 menit. Bahkan jika sedang libur bisa lebih banyak lagi, misalnya 5 X 8 menit. Sampai Anda merasakan kebiasaan menulis harian sebagai hal yang ringan dan menyenangkan.

Rutinkan menulis setiap hari minimal satu sesi. Rasakan hasilnya.

Bahan Bacaan

Menciptakan Habit Menulis “8 Menit Setiap Hari” (1)

 


.

Oleh : Cahyadi Takariawan

“The problem with my daily writing habit is that I don’t have one. I mean to write every single day but then life happens—laundry, cooking, handling a sheep escape or a cat who wants to give birth in my lap, and writing is the thing that gets pushed out” –Nissa Annakindt, 2019.

.

Sangat banyak cara  untuk membangun kebiasaan (habit) menulis. Berbagai konsep dan teori telah dikeumkakan oleh para ahli dan praktisi. Anda tinggal memilih saja, yang  paling sesuai dengan kondisi dan kesempatan. Salah satu teknik membangun habit menulis adalah 8 Menit Menulis.

“The 8-Minute Writing Habit” adalah sebuat teknik menciptakan habit menulis yang dikemukakan oleh Monica Leonelle. Tujuan teknik ini adalah melatih kebiasaan menulis harian, dalam satuan waktu tertentu yang singkat. Leonelle menyarankan satuan waktu menulis 8 menit.

Mengapa 8 Menit?

“If you are trying to build a writing habit, but you know you have to do an hour or more at each writing session, it’s too easy to decide you just don’t have time for writing today” –Nissa Annakindt, 2019.

Mengapa 8 menit? Karena setiap orang pasti mempunyai waktu senggang minimal 8 menit dalam sehari. Sesibuk apapun Anda, pasti bisa mengalokasikan waktu 8 menit setiap hari.

Jika Anda seorang pejabat tinggi negara yang sangat sibuk, pasti bisa mengalokasikan waktu 8 menit setiap hari. Jika Anda pebisnis yang super sibuk, pasti Anda masih bisa mengagendakan waktu 8 menit setiap hari. Jika Anda artis laris yang sangat padat jadwal syuting, pasti masih bisa meluangkan waktu 8 menit setiap hari.

Artinya, 8 menit adalah waktu yang realistis bagi semua orang. Tak ada orang yang tidak bisa mengalokasikan waktu 8 menit setiap hari –sesibuk apapun dirinya. Bukankah makan siang memerlukan waktu lebih dari 8 menit? Bukankah shalat Duhur memerlukan waktu lebih dari 8 menit? Bukan membuka dan membalas chating bisa lebih dari 8 menit?

Jika ingin menciptakan habit menulis dengan misalnya 15 menit setiap hari, atau 30 menit setiap hari, atau bahkan 1 jam setiap hari, terlalu banyak orang yang mundur sambil mengatakan tidak memiliki waktu sebanyak itu. Namun jika hanya diminta 8 menit setiap hari, tak ada orang yang tidak bisa.

Jika Anda benar-benar sangat sibuk, Anda cukup mengalokasikan waktu 8 menit saja setiap hari, untuk menulis. Bukan untuk mengobrol atau menonton Youtube. Cukup menulis 8 menit saja, dan rutin satu kali sehari. Satu kali 8 menit, sangat singkat dan sangat pendek, bukan? Bahkan Anda akan merasa kurang.

Menurut riset Monica Leonelle, manusia justru lebih produktif ketika hanya mempunyai sekali waktu menulis dalam sehari, dalam satuan waktu yang pendek, yaitu 8 menit. Dibandingkan seseorang yang mengalokasikan waktu cukup panjang, misalnya 2 jam dalam satu sesi menulis, namun hanya dilakukan sepekan sekali.

Ketika Tak Memiliki Habit Menulis

“When I take a day or two off from writing, that leads to a writingless week or even more. Which tends to turn current writing projects into ones that aren’t going anywhere” –Nissa Annakindt, 2019.

Nissa Annakindt (2019) dalam blog www.myantimatterlife.wordpress.com menceritakan pengalaman pribadinya. “Masalah dengan kebiasaan menulis harian saya adalah –saya tidak memilikinya. Saya menulis setiap hari, tetapi kemudian kehidupan terjadi: mencuci, memasak, menangani domba yang melarikan diri atau kucing yang ingin melahirkan di pangkuan saya, sehingga menulis adalah hal yang terabaikan”.

Saat belum terbangun habit menulis harian, terlalu mudah bagi Anda untuk mengalihkan aktivitas menulis kepada aktivitas lainnya yang lebih mudah dilakukan. Walaupun punya waktu luang satu atau dua jam, namun tetap tidak menulis. Kalah oleh hal-hal lain seperti nonton Tiktok atau Youtube.

Celakanya, ketika berhenti menulis untuk beberapa hari, jadinya membuat makin berat untuk memulai menulislagi. “Ketika saya mengambil cuti satu atau dua hari dari menulis, itu mengarah ke minggu tanpa menulis atau bahkan lebih”, ujar Annakindt. Dampaknya, cenderung membuat proyek penulisan yang sudah dikarjakan saat ini menjadi stagnan, tidak ada progres yang bermakna.

Dengan alasan itulah Annakindt mulai mempraktekkan teori Monica Leonelle untuk membangun habit menulis rutin dalam satuan waktu 8 menit. Menurut Annakindt, “Jika Anda mencoba membangun kebiasaan menulis, tetapi harus melakukan satu jam atau lebih pada setiap sesi menulis, terlalu mudah untuk memutuskan bahwa Anda tidak punya waktu untuk menulis hari ini”.

Maka 8 menit bukanlah tantangan yang besar. “Saya pernah menulis 8 menit sebelum tidur ketika saya pikir otak saya sudah tertidur. Ternyata otak saya bangun dan melakukan tugasnya dengan sangat baik”, ungkap Annakindt. Jadi, dengan mudah ia bisa memulai kebiasaan rutin menulis 8 menit setiap hari.

“Tentang menulis 8 menit, pada praktiknya mengarah ke menulis yang lebih lama”, ujar Annakindt. Ternyata dimulai dari 8 menit, membuat Anda merasa asyikmenulis. “Jika Anda benar-benar berhasil, apakah Anda benar-benar akan berhenti pada 8 menit dan bahkan tidak menambahkan satu atau dua kalimat? Terkadang saya melakukan beberapa sesi 8 menit dan bahkan 20 atau 25 menit karena saya sangat ‘panas’”, ungkap Annakindt.

Pemanasan 8 menit berhasil. Annakindt memulai dari 8 menit sehari. Setelah mulai asyik, ternyata ia bisa menjalani 2 sesi 8 menit, atau bahkan 4 kali 8 menit. Ini menjadi kemajuan yang tidak terasa. Perlahan tapi pasti, menulis telah menjadi habit.

Bahan Bacaan

Monica Leonelle, How an 8-Minute Writing Habit Could Help You Write Your Book This Year, https://writingcooperative.com, 12 Januari 2020

Nissa Annakindt, Back to The 8-Minute Writing Plan, https://myantimatterlife.wordpress.com, 18 Juni 2019

Sabtu, 18 Juni 2022

A47. Tak kenal Maka Tak Sayang Day 47

 

Ku datang, Ku Menyapa, Akhirnya Ku Kenal Dia.

Kutulis agar aku tak lupa saat menjalankan tugas PKKS ( Penilaian Kinerja Kepala Sekolah)

Bersama  korwas dan para Cawas

Berbagai macam tipe pemimpin baru ku tahu dan rasa. Pengalaman indah yang tak akan lupa. Senang, Sedih, prihatin, suka cita dan bahkan terharu. 

Sebagai seorang tamu, tergantung penerimaan tuan rumah. Ada  tuan rumah  yang terlalu amat sangat baik hati sampai tak bisa diungkap dengan kata, “ Mudah dirasa sukar dikata” ada yang setengah baik,  ada pula tuan rumah yang  tidak  berkenan jika kita  ada.

Pengalaman adalah guru yang terbaik. Kalimat ini  mengandung makna yang mendalam, bahwa dalam hidup  ini dibutuhkan bekal pengalaman agar bisa menjalani dengan baik. Sehingga  kesalahan yang pernah dilakukan tidak terulang kedua kalinya.

Tak kenal maka  tak sayang, itu adalah istilah yang selalu ada  dalam kehidupan. Dalam kekeluargaan . Atau bahkan dalam persaudaraan. Tanpa kita datang bertamu atau mengenalkan diri mana orang akan kenal kita. 

Sebagai orang awam, Jika masuk di lingkungan baru, memang merasa ‘berbeda’.  Itu pasti.  Semoga dengan pengalaman orang akan menyesuaikan,belajar,dan beradaptasi. Dikandang ayam kita berkokok, di kandang kambing kita harus bisa mengembik. Katanya.

Saya  seorang ASN,  sudah beberapa kali kena mutasi  dari daerah konflik hingga daerah damai seperti saat ini. Dan merasakan  beberapa karakter kepemimpin. Jelas! Karakter setiap pemimpin berbeda. Dari kepemimpinannya pastilah akan berdampak kepada kemajuan lembaga yang dipimpinnya.

Saya adalah  guru bawahan, bukan siapa-siapa, bahkan  merasa tak berharga. Tapi saya sangat bersyukur  bisa mendapatkan kesempatan ‘berkunjung’ ke beberapa tempat sekedar mendampingi, menemani. Yah, seolah ikut  memantau, gitu. Terima kasih banyak untuk kesempatan yang sangat berharga  ini. Yang akhirnya banyak hal baru yang saya dapat.

Berbagai karakter pemimpin memang jadi nyata terlihat. Tipe juga bisa terbaca.  Rasa sosial kemanusiaan juga bisa menyentuh hati terasa. Gaya berhahasa pun terdengar indah  ditelinga saat menyapa. Jadi Pemimpin  memang tidak bisa dipandang  dengan sebelah mata.

Sebuah kuis singkat yang diterbitkan oleh Headway mampu melihat jenis pemimpin. Kapan pemimpin  harus menggunakan kelebihan dan bagaimana cara mengubah kelemahan menjadi peluang. Pemimpin atau leader ibarat otak dalam anatomi tubuh manusia, dia yang mengatur kerja organ lainnya.

Berikut ternyata  ada  6 tipe seorang pemimpin yang saya baca, jadi akhirnya  kita  bisa  membayangkan  ‘pemimpin’ yang kita kunjungi masuk  ‘tipe’ yang mana :

Ada yang #otoriter ( Kekuasaan) ,

#Militeristik ( Tuntutan kedisiplinan yang tinggi) ,

#Peternalistik ( Kebapakan yang tinggi),

#Karismatik (mempunyai daya tarik yang begitu besar sehingga tanpa diminta bawahannya akan memberikan penghormatan),

#Laissez Faire (membebaskan bawahannya melakukan hal sesuka hati nuraninya asalkan tujuan bersama dapat tercapai, hal ini karena anggapan bahwa organisasi akan berjalan dengan sendirinya).

Dan yang terakhir Tipe #Demokratis ( memberikan kebebasan pada anggotanya untuk berpendapat, menyampaikan aspirasi, serta mengembangkan bakat dan mempertimbangkan musyawarah untuk menetapkan suatu kebijakan kepada bawahannya).

 

Semua tipe adalah baik adanya, semua  menuju kebaikan dan kemajuan  suatu komunitas atau lembaga.  Hal ini  tergantung  masing-masing karakter setiap insan manusia.

Terimakasih banyak untuk yang   rela membaca  sampai habis. Ini sekedar ungkapan pengalaman baru saya yang tak akan kulupa di sepanjang masa.

 

#SalamHormat!
#Maju Bersama pasti Bisa! Semangat!


#70harimenulis
#siapataujadibuku
#challenge - 47
#Rumah literasi PMA
#LedwinaEtiWuryani 
#Waingapu,23Juni2022


A46. Just For twelve Sains Last Year Day 46

 


Seiring berjalannya waktu….
pernah hari-hari kita lalui  bersama
hingga pada penghujung waktu
ternyata kita  jadi berpisah

 
perpisahan ini
adalah awal  menuju ruang yang berbeda
untuk  kamu tetap  belajar mencapai  cita-cita
 
Aku tak pernah tahu
Seberapa yang kau mengerti
Dari apa yang telah aku berikan

 
Seberapa pun itu,  pasti akan  tetap berguna untuk tindak lanjutnya
Hanya  sebatas itu yang bisa kuberikan
Sedikit bekal kelak menjemput masa depanmu
 
 
Anakku…
Ada rasa kesal, marah,  bahkan kecewa pastinya
Mari kita saling  memaafkan “mungkin” ada yang tak berkenan

 
Tetaplah rendah hati dan mengandalkan Tuhan.
 
Salam untuk anak-anakku yang  #hebat.
Kelas XII  angkatan 2021/2022.
 
@*@*@*@*@*@*@*@*@*@*@*@
 
Kenang-kenangan kita  waktu kita  masih bersama
Bernyanyi,….bercanda,…..beganggu  dan  tertawa.
Senang, sedih, kecewa, ………pastinya  tak akan terlupa …….
 
Namamu,….selalu di hati ibu…..salam….
 
For you……..     
Peserta didik Duaribu duapuluh satu duaribu duapuluh dua
 
 
#70harimenulis
#siapataujadibuku
#challenge - 46
#RumahLiterasiPMA
#LedwinaEti
# WaingapuRabu22Juni  2022
 

 

A45. UJIAN HIDUP ITU IBARAT MINUM JAMU, ....PAHIT RASANYA, TAPI MENYEHATKAN Day 45

 


Pada Suatu hari, saat ku kecil umur 5 tahunan, masih  teringat  jelas dalam otakku.  Saat ku bermain peta umpet,  ditempat persembunyianku. Seorang nenek tua, tua sekali menghampiriku. Nenek itu sudah sangat lemah, pikun dan tak berdaya.  Anak-anaknya  dan cucu, cicitnya tak  ada yang mempedulikannya.

Dengan bahasa sederhana, dia bilang lapar. Tersentuhlah hatiku. Aku segera lari ke rumah, kuambil nasi, sayur dan lauk  di lemari dapur.  Kuambil daun pisang  di kebun  samping rumahku. Kubungkus rapi,  kulari menuju nenek tua tadi. Air mata menetes membasahi pipinya yang sudah keriput.  Tangan  gementar menerima pemberianku. Nenek menangis dan memelukku.  Akupun  merasakan kesedihannya. Umur nenek mungkin sudah di atas 100 tahun.  Badannya lemah dengan tongkat di tangannya.  Punggung sudah merunduk. Kepala lemah sudah ‘buyuten’, kata orang jawa.

Setiap 2 hari sekali, di sekitar jam 15.00 WIB nenek sudah duduk ditempat biasa.  Aku sudah  mengerti apa yang ia harapkan dariku. Seperti biasa akupun  mengambilkan  nasi beserta lauk yang ada di rumah.  Begitu bahagia rasanya saat itu aku bisa membantu orang lain. Trimakasih Tuhan,  hidupku tidak seperti nenek itu yang disengsarakan oleh keluarganya.

Disetiap pertemuan , nenek selalu mendoakanku.  Agar kelak jadi ‘orang’ baik, rendah hati dan hidup baik.  Semoga aku jadi orang yang berhasil. Sejuk... Teduh... bagai tersiram air es terasa dalam dada dan sanubaiku. Kalau nenek tak datang, aku jadi rindu sekali padanya. Hal itu terjadi sampai lebih 2 tahun, sampai nenek itu meninggal. Saya sangat kehilangan, saya  merasa terpukul. Sedih!. Tak terasa air mata pun mengalir deras di pipiku. Tak satupun orang tahu tentang  hubungan ini sampai hari ini. Aku akan ingat selalu nasehat-nasehatnya.

Dia selalu memberi nasehat. Mengajariku untuk selalu bersyukur. Hidup rendah hati dan mengandalkan Tuhan disetiap  nafas yang sudah Tuhan berikan. Itu kuingat jelas dan kulaksanakan sampai hari ini.  Bapak guru dan ibu di rumah saja.  Dengan penghasilan bapak sebagai guru. Saya dan adik-adik memang terlatih hidup sederhana. Mencukupkan gaji bapak yang  tak seberapa

Ayah  adalah guru SPG.  Tahun 1990 SPG diganti dengan SMA. Bersamaan dengan itu Juni 1989 aku lulus  kuliah.  Saat itu  pula di Timor Timur  membutuhkan guru dan kepala  sekolah. Seorang teman dari ayahku, Bp Margono adalah Dikmenum di Jakarta.  Telpon  ke bapak dan menawarkan pekerjaan. Pak Dayat! “Mau atau tidak kalau dijadilkan kepala sekolah?!!, tapi di Timor-timur!.” : pertanyaan pak Margono ke bapak saya. Akhirnya  bapak  menyetujuinya. Bersamaan dengan itu, Aku  lulus kuliah.  Bapak disarankan ke jakarta menemui beliau.  Sesuai persetujuan Bapak Margono akhirnya aku  diajak serta. Kami menuju ke Depdikbud RI. SK pun terbit.  Kami berdua ditempatkan  di suatu sekolah. SMA Negeri Maliana Bononaro tepatnya. Bapak sebagai kepala sekolah  dan aku sebagai guru biasa.

              Bulan Maret 1990  kami berdua pergi ke Tim tim dengan berbekal SK. Pada Tahun itu, Timor Timor masih  sangat ketinggalan. Kita pergi melewati  hutan  rimba, sungai  , tebing-tebing tejal.  Waktu tempuh dari kupang ke Maliana lebih dari 24 jam. Musim hujan Pula. Jalan licin, terjal dan penuh lumpur.  Jalan kiri tebing tinggi dan sebelah kanan jurang yang amat sangat curam. Ngeriii!!!. Kita semua  penumpang  rame-rame dorong kalau bis ‘selip’ di jalan. Sungai  banjir!. Tidak ada jembatan. Untuk melewati  kita harus  tunggu sungai  surut baru bis menyeberang. Kita tunggu dengan setia, hingga  bis bisa masuk menelusuri sungai.  Badan basah kuyup, mulut biru gementar menahan  dinginnya hujan. Sebelumnya kita tak tahu medan, jadi tak ada persediaan  mantel ataupun  jas hujan.

              Dengan berbagai duka, lara, nestapa penuh cerita.  Akhirnya sampailah kami di sekolah tujuan. SMA Negeri , di Kota Maliana, sekolah satu-satunya SMA di kabupaten Boborano. Kotanya sepi sekali. Ada pasar tradisional dan jualannya juga sangat  sederhana. Ya!, cukuplah untuk  kebutuhan  makan sehari-hari. Makanan pokok mereka  jagung. Ada juga ‘Paung’ makanan khas mereka. ( roti keras sebesar genggaman tangan yang terbuat dari terigu dan dibakar : red) Kita pun menyesuaikan dengan mereka.

              Waktu itu saya  umur 23 tahun,  murid saya  seumuran dengan  saya. Kalau pas mengajar mereka  tidak  memperhatikan  pelajaran yang saya bawakan  tapi melotot lihat saya. Saya dibuatnya gugup dan grogi setengah mati.

              Penduduk tidaklah banyak. Setiap ke pasar, ke gereja di jalan selalu ketemu oang yang sama. Bagaimana kita  tidak saling kena?l!! Polisi, tentara, dokter dan pegawai lainpun kita saling kenal. Guru di SMA semua orang Muda. Mereka dari berbagai  wilayah se-nusantara. Asyik!! Kami bergabung mengajar sesuai dengan  latar belakang pendidikan yang berbeda.

              Hari berganti hari, bulan  pun berganti.   Tak terasaa 2 tahun  sudah saya di SMA Negeri Maliana. Namanya  juga pegawai negeri. Tahun 1993 saya mutasi di SMA Negeri 3 Dili Timor Timur.  Habis menikah , jadi mengIkuti suami karena  suami kerja di Dili. SMA dekat pantai di kota propinsi.  Saat itu penduduk  masih aman tenteram dan damai.  Tak  ada gejolak. Anak-anak siswa masih manis-manis begitu menghargai guru. Waktu itu  selain mengajar kita  masih membantu menjadi tutor PGSD ( Pendidikan Guru sekolah Dasar) dan widya iswara di BPG ( balai Penataran Guru).

              Lima tahun  kemudian ........ Situasi Dili mulai memanas. Perbedaan  pendapat mulai kelihatan. Kericuhan  mulai ada. Antara  Pro kemerdekaan dan Pro Integrasi mulai terlihat nyata. Suasana  mulai tidak nyaman. Hari-hari mulai dengan pertikaian. Mulai terasa  antara  Pribumi dan pendatang. Murid-murid  SMA  ada yang pribumi ada juga pendatang. Sebagian besar siswa menyandang sebagai pro kemerdekaan. Mereka ingin Merdeka!. Mereka berharap ‘lepas’ dari Indonesia. Jadi!!, mulai  memperlihatkan ‘giginya’. Mulai kelihatan  membenci gurunya.  Di sekolah mulai tidak nyaman. Kadang  ada hal kecil saja, penyulutkan  suasana menjadi besar.

              Ada kejadian didalam kelas saya saat KBM (Kegiatan Belajar Mengajar). Saya ingat waktu itu  saya mengajar bahasa jerman di kelas II C. Ada anak  yang main lempar-lemparan dengan kapur. Sebut lah namanya Sarlota, Dia  terlempar  kapur di dadanya. Murkalah  sarlota.  Waktu itu  belum ada HP seperti sekarang ini. Nona itu lari di Tata Usaha pinjam telpon untuk telpon “harim” yang sekolah di SMA Negeri 2 Dili. Setelah  dengar  kabar dari sang  Nona.  Emosilah sang pacar!! Sang Pacar pun marah tak  bisa dibendung. Akhirnya dia anak  teman-teman “geng’ mereka  untuk datang ke SMA kami  untuk menyerang. Aksi pun jadilah. Ratusan siswa  menyerbu masuk di SMA Negeri3.  Kebetulan sekolah kami lantai 2.  Mereka mengamuk!, Teriak-teriak!! Melempari gedung dengan batu.  Kejadi sangat mengerikan. Kita semua panik. Guru pun tidak berdaya.  Suasana semakin mencekam. Tak lama kemudian  Brimop pun  datang 3 truk. Suasana  mencekam!. Sungguh  kejadian itu  membuat histeris beberapa  siswa,  guru termasuk saya.

              Saat kita menngajar PGSD, di Salah  1 SD di Comoro. Rombongan  orang tak dikenal menyerang kita. Meraka  rame-rame membawa senjata tajam. Teriaknya : “Usir pendatang!!!”.Sararan mereka adalah kita, karena kita  mayoritas pendapatang. Suasana jadi sangat mencekam. Kami  semua jadi berhamburan menyelamatkan diri. Lari sembunyi ke tempat yang aman untuk meyelamatkan diri. Setelah suasana mulai tenang kita pulang di rumah kita masing-masing.

              Kejadian lain di dalam kelas saat kita mengajar. Anak nakal menyalakan petasan. Kagetlah kita,  tertawalah mereka!. Tapi apa daya kita guru. Dari pada kita buat masalah yang  kurang berkenan di hati mereka. Sudahlah di’putih’kan saja. Ampuni mereka. Dia  kan tuan rumah kita adalah pendatang, jadi harus tahu diri.

              Kami orang Indonesia asli. Pelajaran dan kurikulum pun Indonesia punya. Jadi ada pelajaran Bahasa Indonesia, PKN (Pendidikan Kewarganegaraan), Sejarah. Nach itu!!  adalah pelajaran  ‘anti’ bagi sekelompok siswa. Apalagi  yang merasa bukan Warga Negera Indonesia. Terutama yang  anti intergrasi atau pro kemerdekaan. Kalau Guru mau masuk mengajar. Mereka bilang: “Ibu guru pulang saja ke Indonesia!. Saya bukan orang Indonesia. Tak usah bikin repot, akhirnya guru mundur lebih baik tak usah mengajar. Mereka mempunyai  komunitas  namanya Safari , Saya anak fretilin anti republik Indonesia.

              Pelajaran  di kelasku matematika,  diluar terdengat-ribut-ribut. Ehh! Ternyata ada  siswa nakal  naik sepeda sembarang melintasi kelas -kelas. Karena  kelas terganggu keluarlah semua warga sekolah dan jadi ribut semua.  Ehh!! anak nakal itu tidak  mau menyesali kesalahannya justru marah! Teriak-teriak! Ngajak teman geng mereka untuk membalik  motor dan mebakar  motor guru BK yang ‘terpaksa’ marah  karena ulahnya. Sedih!!. Begitulah!. Guru tidak berdaya menghadapi anak siswa sendiri. Anak sekolah biasa membawa senjata tajam. Dari  sekitar 30 guru hanya 1 orang yang  putra daerah. Berarti kita guru kan musuh mereka. Dari pada kita mati konyol lebih baik kita menghindar.

              Kelas 3 sudah lulus, biasanya kita ada perpisahan. Anak-anak Timtim  kan suka dansa-dansa. Ya, pesta dansa  biasa malam hari.  Maka mereka minta supaya perpisahan  diadakan malam hari. Kepala sekolah menolak. Demi keamanan, kepala sekolah akan mengadakan pagi hari saja. Anak-anak  kecewa mengamuklah mereka. Kaca-kaca  jendela  jadi ‘korban’. Mereka menghancurkannya. Hingga gundul. Licin! Bolonglah   jendela-jendela kelas. Akhirnya  diganti  besi 12 untuk jendela. Ya!! persis  seperti Penjara. Aminkan saja.

              Dengan  jendela  besi pun bukan kendala untuk anak-anak bolos dari kelasnya. Dengan kekuatan mereka yang luar biasa, dilipatlah  besi jendela ke atas hingga  cukup untuk kepala. Ya, tentunya  supaya mereka bisa keluar dari kelas untuk ‘lari’ boloscari kesenangan dan kebebasan. Sebagai guru perempuan saya tidak berani menegurnya. Biarlah.  Tuhan, Tabahkan dan sabarkan hati supaya  jangan ‘emosi’.

              Saat penerimaan siswa baru,  kebetulan nilai yang memenuhi  syarat adalah  banyak yang ‘pendatang’. Murkalah mereka yang ‘tidak’  bisa masuk di SMA 3 Dili. Mereka  jadi cari gara-gara. Mereka membuat ribut, teriak-teriak, maki!!  dan mengeluarkan  kata-kata yang tak sopan, kata-kata kotor yang ditujukan untuk kami para guru. Kita panitia  hanya bisa  diam seribu bahasa . Dari pada cari hal.  Kita tutup pintu!. Dari  pada kita babak belur kena lemparan??! Lebih baik cari selamat. Kami sembunyi di  ruang  paling aman  tanpa jendela kaca. Ya!! Di Laboratorium sekolah.  Setelah  situasi aman kita semua  pulang  dengan damai. Esoknya pendaftaran dibuka  kembali  bersama para polisi  demi keamanan. Alhamdulilah,aman untuk hari berikutnya..

              Guru STM Negeri, rumahnya persis di depan rumah saya. Ada  pemuda tak di kenal datang mau pinjam motor untuk pawai. Entah pawai apa. Mereka  gedor di rumahnya, teriak-teriak. Tuan  rumah keluar  dan minta maaf, motor  tidak bisa dipinjam karena mau dipakai untuk kedokter , anaknya sakit.  Wh..mereka  kurang mengerti,  marahlah. Dilemparilah  kaca rumahnya, hingga  otak kecil di kepala tuan tumah kena lem,paran batu samapai pinsa. Begitu pun di rumah say, pagar yang tinggi ,ereka naik pagar dan goyang-gotyahkan pagar  dengan kasar. Teriak-teriak mau pinjam motor. Kami keluar dari pada kita celaka kedua  motor kita pnjamkan. Padahal kitas tak kenal pemuda itu’ siapa’ dan ‘darimana’. Ahh, biar  yang penting  ‘elamat. Esoknya merek kembalisan dalam keadaan rusak, bahkan  tempat oli di isi pasir. Sedih!!. Perih !!,jadi seorang pendatang. Dianggapnya kami orang upahan.  Begitu terhina!.

              Waktu itu di SMP ketrampilan. Biasa terima raput  bukan guru. Polisi atau tentara di sekolah ‘tertentu. Salah sartu  pak guru memberanikan  diri  untuk membaginya. Ternyta anak ‘paling nakal’ di kelas itu tidak naik kelas. Saat pembagian rapotnya  ‘tiba’ , dibukalah rapotnya. Ternyta  dia ‘tidak’ naik kelas , dengan sebelah pisau dihunuskanlah pisau itu ke perut pak guru.  Darahpun mengalis, ususnya nyapun berderai. Tragis!!. Dilrikanlah pak gur itu ke rumah sakit.

              Saat KBM Juga  terdengar  konflik di kampus UNTIM, Univessitas Timor-Timur. Suasana Jadi  mencekap di sekolah kita. Biasa  ada semacam ‘demo’ dari pro kemesdekaan. Ngeri sekali karena biasanya selalu ada korban-korban atau kematian. Kita cari selamat, biar  sore samapai malam kita tunggu di sekolah. Dulu ada bisa kota, saya sudah lupa namanya.  Kalu bis sudah operasi berarti  suasana sudah aman, walau masih kondusif, jarak rumah saya ke sekolah sekitar7 km, kalau naik motor tidak aman berarti saya harus naik bus kota.

              Rumah saya di Becora. Kebetulan  disitu  mayoritas guru yang berpenduduk di situ. Komplek kami dekat LP ( lembaga pemasyarakatan). Sering  ada saja   kejadian  kejar-kejaran  antara  petugas dan  napi yang lari. Meraka  berteriak teriak. Tembak saja!! Lempar saja!!  Bunuh saja!!. Aduh  suara itu  samapi ketelinga nakku si kecil Anto dan Marcek yang waktu itu bewrumur 1 dan 3 tahun. 

Karean situ si yang tidak mendukung akhirnya nak saya  saya titipkan di Eyangnya di Muntilan, jawa Tengah. Dikampoungku tepatnya.  Cerita lucu  ternyata  di jawa bahasa-bahasa yang biasa di palkai di dili terbawa sampai di jawa. Tembak saja...!!!!,  Doarrr!! Doarrr!! Lempar saja...!! pukul saja,...!!  bunuh saja!!. Duh!! Samapi saya  malu  dengan  bahasa anak saya.  Tetangga  jadi  tertawa  dengan sikap anak-anak saya. Bahkan digereja, jadi anak  amat sangaaat pemberani dan tak tahu diri. Mereka berlari sampai di altar tempat  Pastor sedang meminpin Misa. Dor!! Doe!! Dorrr!!, berrka berlari.  Tuhaannnnn, adu saya jadi malu sendiri lihat anak saya. Saya mau naik ke altar pasti seluruh umat tahu kalau itu nakku. Ada tetangga  rumah bilang  s dengan suara pelas, tapi saya dengar. Eh!! Maklum  dasar anak dari Tiomor Timur. Saya  dengar  menoleh sambil senyum ke Orang itu. Kukasih koder ke anakku  supaya turun dari altar, yaaaa akhir nyata  banyak  umt yang menoleh ke arahkua, Betapa maluku. Muluku ada fimana! Merah mukaku bagai udang yang di rebus.

Gaya-gara  korban lingkungan  timor-timot ada llagi kejafian di pasar Muntilan. Anakku  tuh orangyang tak ada sedikitpun rasa takut. Super berani. Suatu ketika kami ajak berama-sama ke sarsar. Aku, Bapak, dan kediua orang tuanku dan ke2 anak ku,Kami ber enam. Kita  beriring-itringan berjalan mau  pilih  warung soto. Mau makan ceritannya. Saat kita  masuk salah satu  warung. Ehh!! Anakku yang pertama  tidak ada. Padahal tadi di gandenga eyang putri. Karena berjejal terlepaslah dari tangannya. Tahu kan!!. Namanya Pasar  fulll dengan  manusia. Cari-cari tak diketemukan. Kita hubungi lewat informasi, di koling-koling tidak ada jawaban. Panik;lah kita semua. Dari jam 10,00  hingga jam 15.00 kami tunggu. Tuhan,,,,,,dimana anak saya. Kami seperti orang berkabung karena  dula lara. Sedih...apalgi waktu itu ada  isu gosip anak ya hilang. Anak yang diculik. Ada lagi anak yang di karung karena organnya  dijual. Dan lain-lain. Dan sebagainya.

Ditengah  kesediah....om saya, yang rumahnya bersebelahan dengan saya kebetulan ketemu kami dan Dia tanya. Kenapa kok belum pulang. Akhirnya saya  cerita kalau marcel anakku hilang. Hah!! Dia ada di rumah. Dia ada main dengan Iko, teman sebayanya. Saya jadi senang, bingung campur-campur. Dan akhirnya kami buru-buru pulang  melihat fakta. Jarak rumah ke pasari sekita 10 km. Sampai di rumah , budeku cerita kalau marcel tapi di anat polisi. Ini si kecil  nyeberang jalan dengan percaya diri. Tapi samapi sekarang  saya belum Tahu kok bisa di antar ke rumah. Mungkin  ada tetangga yang   tahu.

Kejadian lain lagi cerita anakkua. Dia sudah TK, nol  kecil di TK Teresia Muntilan. Itu  Bersama ibu sy yang selalu setia  antar jaga sampai pulang. Sudah langganan, setiap pulang  kalau ibu mau belanja dipasar. Anak marcel dititip di warung. Kasih makan, harapan dia akan setia  , duduk manis  sambil tunggu eyansnya. Ehh!! Ada kejadia yang menarik ‘di luar’ warung ‘topeng monyet’. Keluarnlah dia tanpa sepengatuan pemilik warung, yang sudah diberi mandat oleh  eyangnay marcel untuk ‘menjaga’. Namanya anak kecil...karena  banyak orang  berdeskan dan tergeser-geser  kahirnya dia tak tahu lagi warung  bakso tapi dimana. Tetap PD anaku  mengukur jalan , nyeberang n jalan  taqnpa tujuan. Posili melihat nak kecil  ‘terlepas’.  Karena pake seragam  polisi langsung menuju TK. Karena sekolah tutup , tapi untung ada penjaga. Bertanyalah polisi ke penjaga. Untung Kepala sekolah adalah Suster dan  tinggal di rumah susteran dekat  dengan sekolah. Berjaran  200 m. Penjaga  menunjukkan rumah suster. Digandenglah anakku itu oleh polisi, dan polisi bertnya data anakku. Susr=ter hafal namanya. Marcelinus AN Hunga Meha. Anak Eks Timtim. Tinggal di rumah Eyangnya di Gejayan, Gondowangi, Sawangan , magelang,  Akhirnya Pak polis menganatarnya ke rumh. Sementara  ibu  stress beras mencari di pasar, anak sudah enak-enak di rumha. Saat ibu  pergi ke kantor polisi  mau minta tolong. Untung pak Polisi  yang mengantar mercel sudah pulang dan  memberikan informasi. Legalah ibu saya. Kejadian Ini di jawa, yang  berpenduduk  supaer padat. Bukan di Timor-timu yang pendudukknya sedikit, kalau ke padsar  sering ketemu orang yang sama.

Seiring berjalannya waktu. Dengan segala penglaman Duka , lara dan nestapa. Tapi puji Tuhan gaji  tetap lancar. Alhamdulilah, rejekipun  selalu dicukupkan. Biarlah  itu adalah pengalaman  yang sanagt berharga.,  Ibu adalah pengabdian untuk  anak bangsa , Untuk negara. Sebagai Negeri harus  bersedia ditemaptkan di seluruh pelosok Nusantara. Senag-tak senag  harus dijalani dengan setia  dan suka cita. Harus selalu bersykur  dengan apa yang Ada.Kerja dengan iklas dan bertanggung jawab.

Akhirnya konflik pun berlalu. Diakhiri denan Eksodus besar-besaran karena Timot Timor ‘Merdeka’. Nama pun  berubah menjadi ‘Timor Leste’. Kita  harus segera ‘pulang’ ke Indonesia. Suana sangat mengerikan. Pembakaran, pembunuhan pun terjadi. Ngeri!!,. Tangisan terjadi dimana-mana. Rumah dijual murah. Ada yang 10 juta. Motor baru di jual 2 juta, ...yagn penting jafi uang untuk berkal ‘lari’ pulang  ke tanah tumpah darah kita masing-masing. Masih beruntung dapat uang, yang  lain ada yang pulang dengan tangan hampa, hanya dengan tangisan dan deraiaan airmata.

Saya, waktu itu pulang sendiri. Berbekal SK PNS saya punya. Ikut rombongan bapak Korwar ( koordinator pengawas pendididikan dan kebudayaan. Beriring-iringan  dengan panglima perang pro Integrasi ‘ Eurici Guteres. Naik Mobil tentara. Tak lama kemudian ternyata  ratusn bahkn ribuan  mobil yang  berma-sama denga kami untuk eksodus. Kami tinggal di tambua . “Numapang’ di mes kepala sekolah sekitar 2 minggu. Lanjut kita ke kupang ‘numpang di rumah penjaga Dinas pendidikan dan kebudayaang Propinsi NTT di Kupang. Beruntung saya karena saya bersama-sama dengan pejabat jadi bisa numpang di tempat yang ‘agak’ terhormat. Teman-teman yang lain  di lapangan Polda dengan segala  kekurangannya. Sedih. Pilu. Makan juga tunggu belas kasihan. Seadanya.

Suami entah sudah sampai dimana. Dia menunggu rumah laku. karena run=mah ada yang mau beli.harga   rumah 20 juta Sang pembeli  akan memberi dulu uang 18 juta ,berjanji  seger akan dilunasi setelah depositu jatuh tempo tanggal 10 September 1999. Tapi ternyata suami tidak mau terima dulu, uang  disimpan dulu oleh pembeli, nati kalau sudah genap baru dikasih semua. Yah!!  Ternyata  pengumuman kemerdekaan dimajukan  3 hari. Semua  jadi berubah. Gedung-gedung pemerintah  di bakr. Bank pun juga dibakar. Paniklah kita semua. Boro-boro dibayar, gigit jari lah jadinya. Ya kita menghibur diri. Belum rejeki!.

Akhirnya ternyata suami  ketemu dan selamat.  Bisa pulang bersama dik Henreik ., anak pak korwas  dengan fuso mobil tentara indonesis. Di Kupang kami tinggal lama karean sambil menunggu SK pem=nempatan Semua  korban bencana Timor-timor boleh  minta mutasi dimana saja, Di jawa di Sumatra, kalimantan datu tempat lainnya. Semua teman-teman saya  orang jawa persija ( persatuan istri jawa) yang suaminya orang  luar jawa ikut istri pindah ke jawa. Ini pas giliran saya , saya ditanya pak kakanwil : Ibu  mau pidah kemana? Jawbku: Ke Sumba Timur,pak!. Bapk tua itu melihat saya seolah-olah tak percaya. Beliua menatap sdaaya. Melihat saya  dari  kaki ujung rambut. Ibu !...bertanya uaang sambil menatap: “Ibu sudah tahu  Sumab Timur?. Jawabku: “Ya Bapak!’ Tahu!. Benar, ibu  mau mutasi ke waingapu? Jawabku. : Ia Pak, benar.  Bap tua itu kahirnya memberi waktu  kepada  saya untuk em mikirkan ulang , besok baru kembali.  Esokya  saya datang  kemabli ke Kanwil dan dengan tekat bulat. Siap untuk mengikut suami di sumba Timur.

Saya dimutasi di SMA Negeri 2 Waingapu. Sebagai orang baru  saya  harus beradaptasi dengan kehidupan yang baru. Lingkungan yang baru dan suasana yang baru pula. Suami adalah keturunan bangsawan yang mempunyai banyak anak-anak yang harus jadi tanggung jawabnya. Pertama kami  tinggal  bersama lebih 20 orang. Beda lho bangsawan di jawa dengan di Sumba. Hewabn banyak tapi  bukan untuk makan tapi untuk adat. Hehe  ...saya tidak berani cerita tentang busa mereka, takut salah.

 BIsa bayangkan Gaji saya III/B waktu itu baru 219.200 ribu. Begitu juga suami. Anakku masih di jawa, saya  belu berani  panggil datang  untuk hifdup bersama, karena ternyata  kami pun masih hidup sengsaran. Rumah seisinya dan mobil  ditinggal  semua dan tak ada  harta yang terbawa. Hidup kembali ‘nol’. Ya  benar, mulai dari ‘nol’ bulat. Berdoa, puasa kujalani supaya  tidak  terpuruk terus dan mudah emosi.  Hidup  miskin siap dijalani. Tetapi harus  pasrah, iklas dan disyukuri. Dekat Tuhan terasa Indah. Memang, Saat  hidup sampai di titik ‘nadir’,  saya ingin lari dari kenyataan. Ingin lari pulang ke jawa. Ternyata benar kata pak kakanwil kalau hidup di Waingapu tidak seperti di jawa.

 

Saya harus bangkit. Saya harus bisa menerima kenyataan. Saya tak boleh putus asa. Tuhan ada. Tuhan menjaga dan senantiasa mendampingi kita. Aku harus kuat. Memang waktu itu saya  tak bisa makan 3 kali sehari mengingat  banyaknya tanggunan. Pagi tak bisa sarapan, pulang sekolah jam 2 baru  maulai masak jam 15 makan sing. Nati tenagh malan]m lagi batu makan sore. Begitu setrusnya. Badanku kurs kering. Tapi itu kujalni degan senang hati, yang jelas saya tidak berani  surhat  denga bapak dan ibuku yang di jawa. Barlah itu kutanggung sendiri. Itu adakah sebuah resiko dari keputusan.

Hari pun berganti. Bulan berjalan maju ke depan . bertambah  tahun ternyata  membuahkan perubahan. Suatu ketika saya berkunjung ke salah satu teman saya. Suami istri orang jawa, istri sakit parah. Sakit yang  menurut saya ‘aneh’. . Kasihan mereka  sebagai  orang rantau menderita begitu. Dari  situ akhirnya  saya rajin berkunjung. Memberi kekuatan. Sharing. Akhirnya  saya pun  secara pribadi  jadi ikut terhibur. Ternyata  kehidupan saya lebih baik, ada saudara, ada yang memperhatikan pastinya.

Hehe... sebagai  orang rantau meskit kita punya cerita. Pasti punya  pergumulan. Hidup  bagai roda yang berputar. Hidup adalah tantagan yang harus dihadapi setiap insan. Hidup tentunya punya kuajiban untuk dilakukan. Namun...hidup juga keindahan yang harus sekalu disyukuri.

Dari pengalaman itu akhirnya  saya dan teman tapi membentuk sebuah komunitas. Paguyunban jawa. Istri-stri jawa yang bersuami orang luar jawa. Ternyata  banyak sekarang sudah 32 orang. Kita adakan pertemuan setiap bulan minggu ketiga. Disitulah kita jadi terhibur, saling merindukan, cerita.  Saling memotifasi.  Semangat hiduppun jadi terasa. Hidup terasa lebih bermakna. Ternyata  banyak teman   dab banyak bergaul itu bisa membangkitkan semangat hidup. Teman baik  membuat hidup kita lebih baik

Kini, perhari ini pun kami masih bersama-sma dengan 20an orang  di rumah. Tapi karena  kita terima dengan suka cita, semua bisa terpenuhkan. Tuhan mencukupkan. Segala urusan  dimudahkan. Sepanjng kita memberikan dengan iklas Tuhan akan melipat gandakan berkat itu buat kita. Trimakasih Tuhan untuk ujiannya. Semua sudah berlalu dan tinggal cerita. Biarlah yang lalu supaya berlalu. Kita  pikir untuk ke depan yang lebih baik. Rela berbagi iklas memberi.

Ini sekedar cerita pengalaman saya. Cerita  sedernana. Curahan hati  yang dirangkai lewat kata kata  penulis pemula. Bahasa receh dan masih belum sempurna. Hidup  bukan tentang  mendapatkan  apa yang kamu inginkan,  tetapi tentang  menghargai apa yang kamu miliki. Dan sabarlah. Insa Allah Rejeki  akan menghampiri. Hidup juga teramat  singkat dan sungguh amat disayangkan  jika keberadaan  kita di dunia  hanya bisa dirasakan untuk pribadi.  Kita pasti akan  merasa puas jika hidup kita berguna  untuk banyak orang. Semoga!.

 

#70harimenulis

#siapataujadibuku

#challenge - 45

#RumahLiterasiPMA

# WaingapuSelasa21Juni  2022

 

 

 

 

 

 

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...