Kamis, 03 Desember 2020

Curhatan Pak Naf yg menginspirasi

 [20.41, 3/12/2020] +62 812-6693-4560: Saya baru mulai menyukai dunia menulis saat indonesia dilanda Corona, mungkin skitar akhir februari kmaren. Sebelumnya saya tidak tertarik dengan dunia menulis. Dulu pernah terfikir oleh saya untuk menjadi seorang penulis, tapi saya bingung mau menulis apa. 


Akhirnya saya ikut bergabung di sebuah group menulis bersama om Jay. Awalnya cuma iseng. Lama kelamaan jadi ketagihan. Saya sangat bersyukur bisa mendapatkan materi dari orang2 hebat di indonesia dg gratis. Dari group itulah saya mulai menjadikan menulis sebagai hobi. 


Apalagi ada Blog, sangat membantu saya dalam menulis, setiap hari saya menulis di blog. Setiap kegiatan disekolah dan tugas resume saya tulis di blog. Sehari saja tidak menulis, ada yg kurang rasanya.


Pak Brian adalah guru blog saya, mksih pak Brian. Beliau juga ada digroup ini. Kumpulan tulisan dari blog saya gabung jadikan buku. Alhamdulillah puji tuhan, dari blog tersebut terbit 2 buah buku. 


Ini alamat blog saya :

https://nafrizalekaputra.blogspot.com/?m=1


Tulisan yang ada di blog saya lumayan banyak. Saya pilih tulisan yang temanya sama lalu saya gabung, makanya saya dapat 2 buku. 


Tema 1 tentang kegiatan disekolah (siswaku penyemangatku).

Tema 2 tentang resume menulis bersama om jay (menjadi penulis itu keren). 


Sampai saat ini, saya sudah menerbitkan 8 buah buku. 

3 Buku solo

5 Buku antologi


Saya tidak pernah menyangka bisa sejauh ini menekuni dunia menulis. Jujur saja saya kurang akan ilmu tata aturan dalam menulis. Tapi saya memiliki keberanian untuk memulainya. Bahkan saya berani membuat sebuah komunitas menulis "teachers club". Dari komunitas inilah saya membuat buku antologi dengan penulis lainnya. Setiap bulan kami menerbitkan sebuah buku. 


Jadi bapak ibu tidak ada alasan untuk tidak menulis. Apa saja bisa kita tulis, selagi itu tidak mengandung SARA, merendahkan atau menghina orang lain. 


Tulislah apa yang terasa, tulislah apa yg sudah kita alami, hal tersebut sangat mudah kita tuangkan dalam bentuk tulisan. 


Menulis itu bisa dibuku diari, FB, IG, laptop, atau Blog. Seperti bunda lilis, beliau menulis di FB. Kumpulan dari statusnya itu digabung menjadi buku. Apalagi ibu2 yg hobi memasak. Nanti poto masakannya lalu posting kemudian beri narasi dari poto maka jadi tulisan. 


Untuk pemula, tidak perlu memikirkan tanda ini, tanda itu, aturan ini itunya. Cukup tau ajja dimana titik dan koma. Saya kalo memikirkan aturan menulis jadi hilang mod saya untuk menulis. Saya tulis saja apa yang terasa lalu saya baca lagi kemudian saya edit, jadi deh tulisannya. 


Jangan pikirkan hasil akhir. Yg penting menulis, ada karya. Tulisan atau buku itu akan baik dan sempurna seiring waktu berproses. Selagi kita mau menulis. Tidak ada yang instan. Semua butuh proses. 


Jadi bapak ibu.... 


Tidak perlu menunggu jadi pejabat untuk hebat. 

Tidak perlu menunggu ahli untuk berbuat. 


Semua kita memiliki kesempatan yang sama. Kebaranian untuk menghasilkan karya. Jangan pikirkan apakah karya kita nanti dihargai atau tidak. Tapi yakinlah ada yang slalu bijak dalam menghargai karya kita yaitu sang maha pencipta. Setiap karya sama halnya dg manusia. Memiliki takdirnya masing-masing.


Mari bapak ibu, yakinkan dihati kita bisa. Mari berkarya. Jangan pernah takut untuk memulai. 


Mulailah dari pengalaman sendiri. Karena dari pengalaman itulah kita akan menulis dari hati. Apabila menulis dg hati, maka hasilnya pun akan sampai ke hati. Dan pada saat itulah bapak ibu akan yakin dan percaya bahwa Menjadi Penulis Itu Keren

[20.41, 3/12/2020] Moderator MBI: Pengalaman Uda Naf, mengikuti kelasnya Omjay dulu dari para nara sumber-nara sumber yang inspiratif. Salah satunya Bu Guru Cantik Bunda Lilis, Sang Pendekat Literasi dari NTT

[20.42, 3/12/2020] Moderator MBI: Mantap... benar sekali... jangan gara gara aturan menulis trus ndak jadi nulis...

MENULISLAH DENGAN HATI

 

        Perjalanan sesorang tidak pernah diduga, kadang berjalan seperti air, mengalir dan terus mengalir. Begitu juga ilmu yang terus akan mengalir kepada orang-orang yang mengamalkan ilmunya demi kemanusiaan. Hal ini sesuai dengan judul paparan “Menulis Dengan Hati”, yang akan dikupas habis oleh Bapak Sahat dari Sumut seorang Guru IPA, Penulis Buku, Editor dan Kurator buku. Narsum mengibaratkan dengan organ tubuh HATI yang memiliki fungsi sebagai pembersih darah, menetralkan racun juga tempat menyimpan nutrisi, vitamin dan protein.

Namun  HATI juga berarti cinta, kasih sayang juga dalam HATI akan ada kejujuran, ketulusiklasan, juga kebenaran. Untuk itu menulislah dengan hati karena akan menimbulkan kejujuran, bisa menetralisir pikiran negatif dalam menulis, karena menulis juga menyimpan enegi yang memberikan aura luar biasa bagi pembacanya.

    Sebait kata bijak terlontar dari Ibu Lilis Menulislah dengan hati dan berdoa dengan hati maka buku kita akan sampai pada pembaca dengan hati pula. Lain lagi Bapak Firman Nofeksi mengatakan Menulislah dengan kepolosan dan kesederhanaan hati dan kejujuran, pemikiran itulah nyawa bagi mata pena dan akan memberikan kata-kata baik.

Untuk itu Menulis dengan HATI memberikan makna Harapan, Asa, Tulis, dan Ide

HARAPAN

Dalam menulis harus memiliki tujuan, agar tulisan lita memiliki makna dan mencapai harapan, sehingga jika tujuan sudah jelas, dalam menulis tidak terombang ambing dan konsisten. Karena dalam menulis akan diperoleh tujuan yang meliputi orientasi material tertuju pada materi, harapan eksistensial menuju pada popularitas, orientasi personal tentang perasaan pribadi, orientasi sosial untuk membangun peradaban dan orientasi spiritual untuk beribadah, memperoleh pahala untuk bersama-sama gemar menulis.

ASA

Dalam menulis tidak terlepas dari jiwa fight, petaung, semangat dan tidak mudah menyerah, komitmen untuk menulis setiap hari, banyak membaca, ikut komunitas, bersama menulis buku antologi dan buku solo.

TULiS

Segeralah menulis, cepatlah menulis jangan sampai ide-ide kita hilang. Ikatlah ide-ide itu agar bermakna menjadi sebuah tulisan.

IDE

Tulisan bisa berasal dari aktifitas sehar-hari, pengalaman pribadi, lingkungan sekitar, membaca buku, media sosial dan berbagai sumber lainnya. Ikatlah ide langsung tancap gass untuk ditulis. Maka slogan 3M harus dilakukan mulai, mulai, mulai dan menulis, menulis dan menulis.

       Dalam menulis jelas memiliki beberapa manfaat diantaranya : Melatih kreatifitas, karena sering mengasah otak kita berpikir. Wadah untuk meluapkan segala rasa, rasa sedih, gembira, senang, segala kisah dan berbagai kejadian. Hidup lebih terorganisir karena terlatih dalam kerangka berpikir. Menambah daya ingat antara otak kiri dan kanan. Meningkatkan kemampuan literasi dalam tata Bahasa. Mendapatkab poin dan koin.

    Dalam menulis diperlukan niat atau kemauan, tekun, konsisten, untuk tetap menulis. Di dalam menulis bukan ditentukan siapa yang ahli, tapi siapa yang mau. Menulislah dengan hati maka tulisan kita akan menyentuh hati pembaca.

    Dari beberapa pertanyaan yang disharingkan bahwa tidak selamanya menulis diawali dengan pemilihan tema, tergantung dari ide yang akan mau ditulis, jika pengalaman pribadi, kejadian yang dialami, tidak perlu melalui tema. Namun jika menulis artikel, buku wajib ada tema agar tidak meluas. Agar ide kita tidak hilang terutama dikala blank, maka perlu menulis dengan fokus, cepat menulis apa yang kita pikirkan jangan biarkan ide itu menghilang. Dan selalu fokus pada tema yang kita kan tulis.  Kadang diawali dengan ketidak tarikan akan menulis, namun lambat laun kesukaan itu muncul terus, menjadi ketagihan untuk menulis. Pengaruh dan motivasi teman sangat luar biasa dalam motivasi menulis, narsum dan tokoh-tokoh . Diakhir penyampaiannya narsum mengatakan Menulislah dengan Hati, gapailah Harapan dengan Asa yang terus membara, langsungkan Tulisan selagi ada Ide.

 MENULISLAH DENGAN HATI

        Perjalanan sesorang tidak pernah diduga, kadang berjalan seperti air, mengalir dan terus mengalir. Begitu juga ilmu yang terus akan mengalir kepada orang-orang yang mengamalkan ilmunya demi kemanusiaan. Hal ini sesuai dengan judul paparan “Menulis Dengan Hati”, yang akan dikupas habis oleh Bapak Sahat dari Sumut seorang Guru IPA, Penulis Buku, Editor dan Kurator buku. Narsum mengibaratkan dengan organ tubuh HATI yang memiliki fungsi sebagai pembersih darah, menetralkan racun juga tempat menyimpan nutrisi, vitamin dan protein.

Namun  HATI juga berarti cinta, kasih sayang juga dalam HATI akan ada kejujuran, ketulusiklasan, juga kebenaran. Untuk itu menulislah dengan hati karena akan menimbulkan kejujuran, bisa menetralisir pikiran negatif dalam menulis, karena menulis juga menyimpan enegi yang memberikan aura luar biasa bagi pembacanya.

    Sebait kata bijak terlontar dari Ibu Lilis Menulislah dengan hati dan berdoa dengan hati maka buku kita akan sampai pada pembaca dengan hati pula. Lain lagi Bapak Firman Nofeksi mengatakan Menulislah dengan kepolosan dan kesederhanaan hati dan kejujuran, pemikiran itulah nyawa bagi mata pena dan akan memberikan kata-kata baik.

Untuk itu Menulis dengan HATI memberikan makna Harapan, Asa, Tulis, dan Ide

HARAPAN

Dalam menulis harus memiliki tujuan, agar tulisan lita memiliki makna dan mencapai harapan, sehingga jika tujuan sudah jelas, dalam menulis tidak terombang ambing dan konsisten. Karena dalam menulis akan diperoleh tujuan yang meliputi orientasi material tertuju pada materi, harapan eksistensial menuju pada popularitas, orientasi personal tentang perasaan pribadi, orientasi sosial untuk membangun peradaban dan orientasi spiritual untuk beribadah, memperoleh pahala untuk bersama-sama gemar menulis.

ASA

Dalam menulis tidak terlepas dari jiwa fight, petaung, semangat dan tidak mudah menyerah, komitmen untuk menulis setiap hari, banyak membaca, ikut komunitas, bersama menulis buku antologi dan buku solo.

TULiS

Segeralah menulis, cepatlah menulis jangan sampai ide-ide kita hilang. Ikatlah ide-ide itu agar bermakna menjadi sebuah tulisan.

IDE

Tulisan bisa berasal dari aktifitas sehar-hari, pengalaman pribadi, lingkungan sekitar, membaca buku, media sosial dan berbagai sumber lainnya. Ikatlah ide langsung tancap gass untuk ditulis. Maka slogan 3M harus dilakukan mulai, mulai, mulai dan menulis, menulis dan menulis.

       Dalam menulis jelas memiliki beberapa manfaat diantaranya : Melatih kreatifitas, karena sering mengasah otak kita berpikir. Wadah untuk meluapkan segala rasa, rasa sedih, gembira, senang, segala kisah dan berbagai kejadian. Hidup lebih terorganisir karena terlatih dalam kerangka berpikir. Menambah daya ingat antara otak kiri dan kanan. Meningkatkan kemampuan literasi dalam tata Bahasa. Mendapatkab poin dan koin.

    Dalam menulis diperlukan niat atau kemauan, tekun, konsisten, untuk tetap menulis. Di dalam menulis bukan ditentukan siapa yang ahli, tapi siapa yang mau. Menulislah dengan hati maka tulisan kita akan menyentuh hati pembaca.

    Dari beberapa pertanyaan yang disharingkan bahwa tidak selamanya menulis diawali dengan pemilihan tema, tergantung dari ide yang akan mau ditulis, jika pengalaman pribadi, kejadian yang dialami, tidak perlu melalui tema. Namun jika menulis artikel, buku wajib ada tema agar tidak meluas. Agar ide kita tidak hilang terutama dikala blank, maka perlu menulis dengan fokus, cepat menulis apa yang kita pikirkan jangan biarkan ide itu menghilang. Dan selalu fokus pada tema yang kita kan tulis.  Kadang diawali dengan ketidak tarikan akan menulis, namun lambat laun kesukaan itu muncul terus, menjadi ketagihan untuk menulis. Pengaruh dan motivasi teman sangat luar biasa dalam motivasi menulis, narsum dan tokoh-tokoh . Diakhir penyampaiannya narsum mengatakan Menulislah dengan Hati, gapailah Harapan dengan Asa yang terus membara, langsungkan Tulisan selagi ada Ide.

 

Membuat P U I S I

 [20.28, 30/11/2020] Pak Irfan KMO: MEMBUAT PUISI


Menurut KBBI puisi atau disebut juga dengan sajak adalah ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait. Puisi juga diartikan sebagai gubahan dalam bahasa yang bentuknya dipilih dan ditata secara cermat sehingga mempertajam kesadaran orang akan pengalaman dan membangkitkan tanggapan khusus lewat penataan bunyi, irama, dan makna khusus.


Puisi memiliki dua unsur penting yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Berikut adalah ulasan singkatnya.


1. Unsur intrinsik (unsur yang ada di dalam puisi)


Unsur intrinsik puisi adalah unsur-unsur yang terkandung dalam puisi dan mempengaruhi puisi sebagai karya sastra. Yang termasuk unsur intrinsik puisi adalah diksi, imaji, majas, bunyi, rima, ritme, dan tema.


Diksi atau pilihan kata. Dalam membangun puisi, penyair hendaknya memilih kata-kata dengan cermat dengan cara mempertimbangkan makna, komposisi bunyi dalam rima dan irama, kedudukan kata di tengah konteks kata lainnya, dan kedudukan kata dalam puisi keseluruhan.


Daya bayang atau imaji. Yang dimaksud dengan daya bayang atau imaji ketika membangun puisi adalah penggunaan kata-kata yang konkret dan khas yang dapat menimbulkan gambaran imaji, perasaan/penghayatan dan pemikiran/renungan


Gaya bahasa atau majas. Gaya bahasa atau majas atau bahasa figuratif dalam puisi adalah bahasa yang digunakan penyair untuk mengatakan sesuatu dengan cara yang tidak biasa atau menggunakan kata-kata yang bermakna kiasan atau lambang/simbol.


Bunyi. Bunyi dalam puisi mengacu pada digunakannya kata-kata tertentu sehingga menimbulkan efek nuansa tertentu.


Rima. Rima adalah persamaan bunyi atau perulangan bunyi dalam puisi yang bertujuan untuk menimbulkan efek keindahan.


Ritme. Ritme dalam puisi mengacu pada dinamika suara dalam puisi agar tidak dirasa monoton bagi penikmat puisi.


Tema. Tema dalam puisi mengacu pada ide atau gagasan pokok yang ingin disampaikan oleh pengarang melalui puisinya.

[20.28, 30/11/2020] Pak Irfan KMO: 2. Unsur ekstrinsik (unsur diluar puisi)


Unsur ekstrinsik puisi adalah unsur-unsur yang berada di luar puisi dan mempengaruhi kehadiran puisi sebagai karya seni. Adapun yang termasuk dalam unsur ekstrinsik puisi adalah aspek historis, psikologis, filsafat, dan religious.


Aspek historis mengacu pada unsur-unsur kesejarahan atau gagasan yang terkandung dalam puisi.


Aspek psikologis mengacu pada aspek kejiwaan pengarang yang termuat dalam puisi.


Aspek filsafat. Beberapa ahli menyatakan bahwa filsafat berkaitan erat dengan puisi atau karya sastra keseluruhan dan beberapa ahli lainnya menyatakan bahwa filsafat dan karya sastra dalam hal ini puisi tidak saling terkait satu sama lain.


Aspek religius puisi mengacu pada tema yang umum diangkat dalam puisi oleh p…

[20.28, 30/11/2020] Pak Irfan KMO: Ok sekarang kita lanjut pada bagaimana cara menyusun puisi yang benar dan contohnya.


Bagaimana cara membuat puisi?


Membuat puisi sejatinya tidak sulit karena puisi merupakan salah satu bentuk ekspresi pengarangnya. Pengarang bebas mengeluarkan apa yang dipikirkan serta dirasakannya dan menuangkannya dalam bentuk puisi.


Hanya saja, agar puisi yang dibuat itu menarik dan menimbulkan kesan tertentu bagi siapapun yang membaca atau mendengarnya maka seorang pengarang harus mampu merangkai kata-kata dengan baik serta menggunakan imajinasi sekreatif mungkin.


Dengan demikian dapat dikatakan bahwa puisi merupakan sebuah karya yang lahir dari kreativitas pengarangnya. Sebagai sebuah proses kreatif, membuat puisi harus melalui berbagai tahapan.


Beberapa ahli puisi mengatakan ada 4 tahap pembuatan puisi meliputi tahap persiapan, tahap inkubasi, tahap iluminasi, dan tahap verifikasi.


Tahap persiapan adalah tahap dimana pengarang mencari ide sebagai sumber tulisan. Setelah ide didapat, ide tersebut kemudian diendapkan untuk dilakukan perenungan dan penyusunan lebih lanjut. Tahap inilah yang disebut dengan tahap inkubasi. Tahap selanjutnya yaitu tahap iluminasi adalah tahap dimana pengarang mengejewantahkan semua ide tersebut ke dalam bentuk tulisan. 


Terakhir, tahap verifikasi adalah tahap dimana pengarang melakukan penilaian terhadap puisi yang telah dibuatnya.

Syara Puisi yang baik

 Dari ulasan singkat di atas, cara membuat puisi yang benar adalah sebagai berikut.


1. Mencari ide


Sebelum menulis puisi, pengarang harus memiliki ide terlebih dahulu. Ide-ide yang dapat dijadikan sebagai sumber pembuatan puisi sangatlah banyak. Misalnya, ide yang bersumber dari pengalaman pribadi atau orang lain. Selain pengalaman, ide juga dapat bersumber dari peristiwa atau kejadian yang menimbulkan kesan tertentu, imajinasi pengarang sendiri, perasaan, lingkungan sekitar, hewan kesayangan, seseorang, dan lain sebagainya. Proses pencarian ide ini dapat dilakukan dengan cara perenungan secara mendalam terhadap berbagai macam kegiatan atau aktivitas seperti membaca, mengamati dan lain sebagainya.


2. Mengendapkan ide


Setelah ide didapat, langkah berikutnya adalah mengendapkan ide tersebut atau inkubasi untuk diproses lebih lanjut. Proses pengendapan ide ini dilakukan dengan cara mengolah berbagai informasi atau materi yang telah diperoleh dan menyusunnya ke dalam bentuk tulisan. Pada tahapan ini, pengarang sebaiknya memiliki serta menguasai berbagai macam kosa kata serta gaya bahasa. Hal ini dimaksudkan agar pengarang dapat dengan leluasa memilih kata-kata yang tepat dan gaya bahasa sesuai dengan tema puisi yang dibuat.


3. Menuangkan ide


Langkah berikutnya adalah menuangkan ide-ide yang telah diendapkan tersebut ke dalam bentuk tulisan atau iluminasi. Di sini, pengarang harus mampu merangkai kata-kata serta gaya bahasa yang telah dipilih  dan mewujudkannya dalam bentuk tulisan. Pada tahapan ini, pengarang bebas menulis puisi sesuai dengan keinginan sendiri. Dalam arti tidak harus terpaku pada banyaknya bait atau banyaknya baris dalam bait. Karena, di era sekarang, penulisan puisi tidak lagi berpatok pada kaidah penulisan puisi lama yang meliputi irama, persamaan bunyi atau sajak, pengelompokkan baris, pemilihan kata-kata yang tepat, jumlah baris pada setiap bait serta banyaknya suku kata pada setiap baris. Kini puisi dapat ditulis dalam bentuk prosa, paragraf, atau bentu-bentuk lainnya.


4. Penilaian


Setelah puisi ditulis sesuai dengan keinginan pengarang, langkah berikutnya adalah pengarang melakukan pemeriksaan kembali terhadap tulisan yang telah dibuatnya. Hal ini sangat penting dilakukan jika dalam puisi ditemukan kata-kata yang kurang sesuai. Pemeriksaan ini dapat dilakukan oleh teman atau mereka yang ahli dan bertujuan untuk menetukan apakah puisi tersebut layak diterbitkan atau tidak.

 

MEMBUAT TULISAN YANG BAGUS DAN BERKUALITAS – 4

  .

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Menulis adalah sebuah proses. Sampai bisa membuat tulisan yang bagus dan berkualitas, bukanlah peristiwa instan. Butuh ketekunan dan konsistensi dalam belajar dan berlatih. Memerlukan waktu dan kedisiplinan.

Menurut saya, tulisan yang bagus dan berkualitas itu jika dirumuskan, memenuhi lima unsur yang saya sebut dengan istilah MULIA. Yang dimaksud Mulia adalah unsur-unsur M – mudah  dipahami, U – unik dan orisinal, L – logis, I – inspiratif dan motivatif, dan A – akurasi tinggi.

Pada postingan sebelumnya telah saya sampaikan poin pertama dan kedua, yaitu M – mudah dipahami, serta U – unik dan orisinal. Berikutnya saya sampaikan poin ketiga, yaitu L – logis.

Ketiga, Logis

Tulisan disebut bagus dan berkualitas apabila logis atau nalar. Seliar-liarnya Anda berfantasi atau berkhayal saat menulis cerita fiksi, Anda tetap harus bisa menjelaskan secara logis.

Dalam menulis cerpen atau novel, Anda harus membangun nalar yang bisa diterima oleh pembaca. Dengan penjelasan yang logis, hal-hal yang semula dianggap tidak masuk akal, menjadi diterima akal.

Demikian pula dalam karya tulis nonfiksi, Anda harus menjaga agar keseluruhan isi tulisan dari awal hingga akhir bernilai logis dan bisa diterima akal sehat. Karya nonfiksi harus bisa dipertanggungjawabkan secara akademik, karena berada dalam ranah yang nyata atau benar-benar terjadi.

Kepandaian penulis untuk memberikan argumen, bisa membuat sesuatu hal yang semula tampak mustahil, menjadi hal yang bisa diterima secara logika. Misalnya, dalam dunia sains dan teknologi.

Saat seseorang mengajukan konsep ‘teknologi komunikasi yang tidak perlu menulis dan bicara’. Cukup dengan membatin saja, orang lain sudah bisa mengerti maksud kita. Bisa jadi, sebagian masyarakat akan mengatakan hal itu sebagai tidak logis. Namun ketika mampu dijelaskan menggunakan perangkat ilmu pengetahuan, akan bisa diterima sebagai sesuatu yang logis.

Tidak Emosional

Salah satu lawan dari logis adalah emosional. Tulisan yang emosional –berbeda dengan tulisan yang mengaduk-aduk emosi. Tulisan emosional itu cenderung tidak logis. Cenderung menabrak nalar akal sehat.  

Si penulis mengemukakan kemarahan, kebencian, kegalauan, dengan bahasa dan kalimat yang vulgar bahkan kasar. Kalaupun si penulis berada pada pihak yang benar, tulisan yang bernada emosional itu tidak bisa memunculkan rasa simpatik. Justru pembaca akan apatis, karena menganggap si penulis terlalu emosional.

Lontaran kemarahan yang ditulis dan dipublikasikan, bisa menyeret penulis ke ranah hukum. Dengan suasana sangat emosi karena merasa dizalimi, seseorang menulis caci maki kepada pimpinan dan perusahaan yang telah mem-PHK dirinya. Ketika tulisan itu diunggah ke media, bisa menyeret si penulis ke meja hukum karena tuduhan pencemaran baik.

Kejadian serupa sudah banyak terjadi. Lyra Virna, salah satu artis nasional, pernah dilaporkan oleh pemilik agen travel ke kepolisian, karena tulisan yang cenderung emosional. Kejadian berawal saat Lyra Virna melakukan ibadah umrah bersama Ada Tour.

Ia mengeluhkan pelayanan dari pihak travel yang membuat para jamaah terkatung-katung. Keluhan tersebut ia tulis di akun instagram pribadi. Manajemen Ada Tour melaporkan Lyra ke Polda Metro Jaya atas dugaan pencemaran nama baik 

Logika Bahasa

Nilai logis dari tulisan, tidak selalu identik dengan logika formal dalam struktur berpikir manusia. Logika matematika adalah contoh logika formal yang konsisten. Dari dulu sampai kapanpun, 2 ditambah 2 hasilnya 4. Dari dulu, 4 dikalikan 4 hasilnya 16. Ini contoh logika formal yang konsisten.

Namun, bahasa memiliki logika yang khusus. Samsudin Berlian (2016) menyatakan, “Logika bahasa mengandalkan intuisi, tidak konsisten. Kalau rasanya benar, ya, benarlah. Kalau dirasakan artinya harus itu bukan ini, ya, itulah. Begitulah bahasa dari dahulu sampai sekarang”.

“Logika bahasa mengandalkan intuisi, tidak konsisten. Kalau rasanya benar, ya, benarlah. Kalau dirasakan artinya harus itu bukan ini, ya, itulah. Begitulah bahasa dari dahulu sampai sekarang” – Samsudin Berlian (2016)

Saya suka penjelasan ini. Logika bahasa mengandalkan intuisi, bukan konsistensi. Artinya, jangan terlalu takut bahwa secara tata bahasa tulisan Anda tidak sesuai dengan kaidah formal berbahasa. Bahwa Anda harus menulis dengan tata bahasa yang konsisten. Menulis itu, bukan soal konsistensi tata bahasa.

Bahasa itu sangat kuat unsur intuisi. Maka yang lebih penting adalah, isi tulisan Anda tersusun dengan sistematis dan logis. Bisa dimengerti oleh pembaca. Tidak membingungkan pembaca.

Oke, sudah paham kan makna logis? Anda suka berkomentar ‘masuk akal’ ketika usai membaca sebuah tulisan atau mendengar sebuah penuturan. Anda biasa berkomentar ‘logis’ setelah membaca novel atau artikel.

Selamat menulis dengan logis.

MEMBUAT TULISAN YANG BAGUS DAN BERKUALITAS – 6

 


.

Oleh : Cahyadi Takariawan

Sebuah penelitian yang dilakukan selama enam tahun dari 8.800 penduduk Australia memberikan data yang mengejutkan. Peneliti menemukan, setiap jam yang dihabiskan untuk menonton televisi, meningkatkan risiko kematian 18 % karena penyakit kardiovaskular, dan 9 % karena penyakit kanker.

Mereka yang menonton televisi lebih dari empat jam sehari, menghadapi risiko kematian 80 % lebih besar karena penyakit kardiovaskular. Mereka yang menyaksikan televisi kurang dari dua jam setiap harinya tidak menghadapi risiko serupa.

Apa respon Anda membaca tulisan di atas? Dengan cepat Anda akan mengatakan, tulisan tersebut sudah kedaluwarsa. Expired. Mengapa? Karena membahas hal yang cenderung sudah lewat. Saat ini, masyarakat lebih lengket dengan gadget. Bukan dengan televisi.

Ini menyangkut akurasi dan kekinian informasi. Tulisan yang bagus dan berkualitas itu jika dirumuskan, memenuhi lima unsur yang saya sebut dengan istilah MULIA. Yang dimaksud Mulia adalah unsur-unsur M – mudah  dipahami, U – unik dan orisinal, L – logis, I – inspiratif dan motivatif, dan A – akurasi tinggi.

Pada postingan sebelumnya telah saya sampaikan poin M – mudah dipahami, U – unik dan orisinal, L – logis, serta I – inspiratif dan motivatif. Berikutnya saya sampaikan poin kelima, yaitu A – akurasi tinggi.

Kelima, Akurasi Tinggi

Tulisan Anda disebut memiliki akurasi tinggi, salah satunya adalah apabila memuat informasi kekinian. Isi pesan Anda tidak ketinggalan zaman. Tulisan Anda tersambung dengan data kekinian. Bukan saja istilah, namun juga konteks.

Di waktu sekarang ini – sejak April 2020— berkembang istilah ODP, PDP, WFH, lockdown, pandemi, rapid test dan lain sebagainya, sudah harus Anda akrabi, sehingga tulisan Anda tentang apapun tidak ketinggalan konteks kekinian.

Pasti Anda akan menangkap sesuatu yang janggal, ketika saya menulis informasi seperti ini:

“Kehadiran teknologi komunikasi melalui SMS telah menimbulkan banyak sisi negatif. Di Kota Depok Jawa Barat, Pengadilan Agama mengeluarkan data, bahwa 70 % perceraian disebabkan karena SMS. Suami yang asyik ber-SMS dengan perempuan lain, atau perempuan yang asyik ber-SMS dengan laki-laki lain, telah menimbulkan keretakan dalam rumah tangga. 30 % lainnya, perceraian dipicu oleh faktor ekonomi”.

Di saat masyarakat sudah sangat akrab dengan komunikasi melalui chatting, memang masih ada manusia jadul yang menikmati SMS. Namun akan menjadi pertanyaan besar, apabila dinyatakan 70 % perceraian di Kota Depok dipicu oleh SMS.

Anda akan berkomentar, “Pak Cah ngawur. Mana mungkin SMS di zaman sekarang menimbulkan kasus perceraian sebanyak itu?” Bisa jadi, itu adalah data 20 tahun lalu di tahun 2000, bukan tahun 2020.

Nah informasi tentang kasus perceraian Kota Depok itu jelas tidak kekinian. Dengan sangat mudah, Anda akan menyimpulkan, tulisan Pak Cah tidak berkualitas, karena tidak kekinian. Tulisan saya tertinggal duapuluh tahun dari realitas hari ini. Begitu kesimpulan Anda.

Termasuk dalam konteks kekinian, misalnya ketika Anda menulis konstitusi RI, yaitu Undang-Undang Dasar tahun 1945. Jika Anda menulis dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, disingkat UUD NRI Tahun 1945, maka Anda trelah memiliki konteks kekinian.

Jika Anda menulis dengan UUD 1945, maka ini cara penulisan lama yang sudah resmi diubah. Jika Anda menulis dengan UUD NKRI Tahun 1945, maka ini cara penulisan yang salah. Mengapa salah? Karena tidak sesuai konsensus nasional yang berlaku saat ini.

Demikian pula, ketika Anda menuliskan, “Kalimat yang saya gunakan ini sudah sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan atau EYD”. Ini menandakan Anda ketinggalan zaman. Karena EYD sudah dinyatakan tidak berlaku lagi, dan diganti dengan Pedomen Umum Ejaan Bahasa Indonesia, atau PUEBI.

Inilah contoh informasi kekinian, yang membuat pembaca melihat Anda update dengan hal-hal mutakhir. Oke ya, Anda sudah mengerti apa yang dimaksud dengan informasi kekinian.

Akurasi Data dan Informasi

Selain akurat secara waktu atau kekinian, juga harus akurat secara nilai informasi. Pada contoh berita perceraian di Kota Depok yang saya kutip di atas, dengan mudah Anda akan menyimpulkan bahwa data saya tidak akurat.

Informasi yang saya contohkan di atas, tidak menyebutkan waktu dan sumber pengutipan. Informasi tersebut menjadi akurat apabila saya berikan tambahan keterangan yang meyakinkan. Misalnya,

“Kehadiran media sosial telah menimbulkan banyak sisi negatif. Di Kota Depok Jawa Barat, Pengadilan Agama mengeluarkan data, bahwa 70 % perceraian disebabkan karena media sosial, terutama whatsapp dan facebook.

Kepala Humas Pengadilan Agama Kota Depok, Dindin Syarif mengatakan, perceraian di Kota Depok sangat tinggi. Data tahun 2019 menunjukkan, perceraian di Kota Depok berada pada peringkat 10 di Provinsi Jawa Barat dan peringkat 41 di Indonesia.

Demikian laporan yang diunggah di web resmi Pemerintah Kota Depok, www.depok.go.id pada tanggal 10 Februari 2020”.

Informasi ini memuat data yang lebih akurat dibandingkan dengan informasi sebelumnya tentang SMS. Misalnya, menyebut data tahun 2019, nama Kepala Humas PA Kota Depok, sumber pengambilan data dari web resmi, menyebut tanggal posting di web, dan sebagainya.

Pembaca akan merasakan akurasi yang tinggi, apabila mereka melacak ke link web yang saya cantumkan, dan benar-benar menemukan informasi seperti yang saya posting tersebut. Inilah tulisan yang memiliki akurasi tinggi.

Namun jika link yang saya cantumkan tidak bisa dibuka, atau setelah dibuka isinya berbeda, atau bahkan tidak memuat informasi sebagaimana yang saya sampaikan, maka pembaca akan mengutuk saya sambil marah-marah. Ternyata informasi itu hoax, misalnya.

Untuk selanjutnya, pembaca akan menandai saya sebagai salah satu penulis yang melakukan kebohongan, atau penipuan, atau asal-asalan dalam pencatuman data. Ini tentu saja merusak reputasi saya sebagai penulis.

Demikianlah lima unsur yang membangun pengertian tulisan yang bagus dan berkualitas. Anda boleh tidak setuju, dan boleh membuat batasan sendiri tentang kriteria tulisan yang bagus dan berkualitas. Agar unik dan orisinal dari Anda sendiri. Agar menjadi penulis yang mulia, dengan menerapkan konsep MULIA.

Selamat berkarya. Tetap produktif di masa pandemi. Semangat #WriteFromHome.

MEMBUAT TULISAN YANG BAGUS DAN BERKUALITAS – 5

 


.   

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

“Jika semua yang kita kehendaki terus kita miliki, dari mana kita belajar ikhlas? Jika semua yang kita impikan segera terwujud, dari mana kita belajar sabar? Jika setiap doa kita terus dikabulkan, bagaimana kita dapat belajar ikhtiar?”

Anda pernah membaca tulisan di atas? Ya, itu karya Dahlan Iskan dalam buku Sepatu Dahlan. Apa yang Anda rasakan setelah membaca kutipan tersebut? Menginspirasi, memotivasi, menyemangati, memberikan energi.

“Bagus banget”, kata seorang pembaca. “Mengapa Anda sebut bagus?” tanya saya. “Karena sangat menginspirasi dan memotivasi”, ujarnya.

Demikianlah, tulisan yang bagus dan berkualitas itu jika dirumuskan, memenuhi lima unsur yang saya sebut dengan istilah MULIA. Yang dimaksud Mulia adalah unsur-unsur M – mudah  dipahami, U – unik dan orisinal, L – logis, I – inspiratif dan motivatif, dan A – akurasi tinggi.

Pada postingan sebelumnya telah saya sampaikan poin pertama, kedua, dan ketiga. Yaitu M – mudah dipahami, U – unik dan orisinal, serta L – logis. Berikutnya saya sampaikan poin keempat, yaitu I – inspiratif dan motivatif.

I – Inspiratif dan Motivatif

Tulisan disebut sebagai bagus dan berkualitas, apabila mampu memberikan inspirasi atau motivasi kebaikan bagi pembaca. Kadang kita membaca tulisan pendek, namun memberikan inspirasi dan motivasi yang sangat besar. Ini akan menjadi tulisan berkesan.

Di antara buku yang masih berkesan, padahal saya baca lebih dari 20 tahun yang lalu, adalah “Perbarui Hidupmu” karya Muhammad Al Ghazali, serta buku “Berpikir dan Berjiwa Besar” karya David Schwartz. Tulisan yang membangkitkan inspirasi dan motivasi, cenderung memberikan kesan mendalam.

Bukan soal seberapa panjang tulisan, namun seberapa kuat menginspirasi dan memotivasi pembaca. Itu sebabnya, kutipan kalimat motivasi, atau quotes, menjadi menarik dan berkesan. Meskipun bukan tulisan yang panjang, namun mampu memberi inspirasi dan motivasi.

Tulisan Anda akan bisa memberikan inspirasi dan motivasi, apabila memiliki beberapa unsur berikut ini.

  • Kepedulian

Pembaca akan merasa ‘hangat’, saat tulisan Anda peduli dengan kondisi mereka. Itu sebabnya, novel berisi kisah sedih, sangat diterima pada banyak kalangan masyarakat yang memiliki kisah serupa. Mereka merasa disapa dan dipedulikan melalui tulisan itu.

Demikian juga, tulisan berisi pemberontakan dan protes keras atas kebijakan penguasa, diterima dengan antusias oleh kelompok yang merasakan penderitaan. Tulisan itu bisa  mewakili kepedihan mereka yang menderita akibat kebijakan penguasa. Kelompok yang merasa dimarginalkan, menjadi tersapa oleh tulisan seperti itu.

Jika Anda menulis untuk memperjuangkan hak-hak kelompok masyarakat, akan mendapat sambutan hangat dari mereka yang merasa terwakili. Mereka merasa dipedulikan dan diperhatikan, maka tulisan Anda menjadi sangat inspiratif bagi mereka.

  • Antusias

Jika Anda memiliki kepedulian, maka akan memunculkan sikap antusias. Misalnya, jika Anda peduli dengan petani yang gagal panen, akan menimbulkan sikap antusias dalam memperhatikan dan membela mereka.

Kita ingat pepatah “enthusiasm is contagious”, antusiasme itu menular. Jika Anda memiliki sikap antusias terhadap sesuatu, maka tulisan yang Anda buat akan bisa menularkan antusias itu kepada khalayak luas.

Sebuah kedai kecil bisa menjadi laris lantaran banyak netizen menulis dan mereview kedai tersebut dengan antusias. Sebuah tempat wisata baru yang belum banyak dikenal orang, mendadak ramai lantaran banyak ditulis dan direview oleh netizen dengan penuh antusias.

  • Menyentuh emosi pembaca

Tulisan inspiratif dan motivatif cenderung menyentuh sisi emosi pembaca. Bukan sisi logika. Maka, kisah dalam bentuk cerpen atau novel, menjadi efektif memasuki wilayah emosi, yang mampu menginspirasi.

Saat pembaca telah tersentuh sisi emosinya, mereka tidak lagi menuntut, ‘apakah ini logis?’ Mari saya ajak kembali membaca bagian dari buku Sepatu Dahlan, karya Dahlan Iskan berikut ini.

Ketika kerjamu tidak dihargai, maka saat itu kamu sedang belajar tentang ketulusan. Ketika usahamu dinilai tidak penting, maka saat itu kamu sedang belajar keikhlasan. Ketika hatimu terluka sangat dalam, maka saat itu kamu sedang belajar tentang memaafkan.

Ketika kamu lelah dan kecewa, maka saat itu kamu sedang belajar tentang kesungguhan. Ketika kamu merasa sepi dan sendiri, maka saat itu kamu sedang belajar tentang ketangguhan. Ketika kamu harus membayar biaya yang sebenarnya tidak perlu kau tanggung, maka saat itu kamu sedang belajar tentang kemurahan hati.

Tetap semangat. Tetap sabar. Tetap tersenyum. Karena kamu sedang menimba ilmu di Universitas Kehidupan.

Membaca kutipan di atas, membuat pembaca tersentuh sisi emosinya. Mereka merasakan kesejukan, namun juga semangat. Pembaca yang telah tersentuh sisi emosinya, tidak lagi mempertanyakan, “Benarkah itu semua?”

  • Yakin

Anda tidak akan mampu menginspirasi dan memotivasi pembaca, jika tidak yakin dengan apa yang Anda tuliskan. Keyakinan akan membangun kekuatan logika. Jika tidak yakin, semua logika yang sudah Anda bangun, mudah terpataskan.

“Jika Anda rutin minum madu dicampur perasan jeruk nipis, jinten, bawang putih dan jahe, kemungkinan Anda bisa kebal dari Covid. Tapi saya tidak yakin, karena belum mencoba. Juga belum ada testimoni dari orang lain. Silakan saja kalau mau mencoba agar mengetahui apakah informasi tersebut benar”.

Tulisan yang penuh ketidakyakinan seperti di atas, sulit untuk menginspirasi dan memotivasi pembaca. Maka tulislah hal yang Anda yakin, karena dengan itu Anda bisa memberikan energi kepada pembaca.

  • Berikan Alasan Penjelas

Tulisan inspiratif dan motivatif, tidak selalu harus berorientasi menyentuh sisi emosi. Anda bisa juga menyentuh sisi logika, namun harus disertai dengan alasan penjelas.

Ketika Anda menulis bahwa Covid bisa dilawan dengan hati bahagia, Anda harus memberikan alasan penjelas. Mengapa harus bahagia di masa pandemi corona? Apa alasan Anda mengajak para pembaca untuk menjaga kebahagiaan? Berikan alasan Anda.

Semakin logis alasan yang Anda kemukakan, membuat pembaca semakin terinspirasi dengan pesan yang Anda sampaikan.

Selamat berkarya. Selamat menginspirasi dunia.

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...