Minggu, 31 Januari 2021

MENULIS MAMPU MEREDUKSI GANGGUAN MAKAN


.

Writing for Wellness – 28

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Sudah sangat banyak manfaat menulis bagi kehidupan manusia, yang ditemukan melalui serangkaian metode riset ilmiah. Banyak hal mengejutkan ditemukan dalam berbagai studi tersebut, yang menemukan aneka manfaat menulis yang tidak terbayangkan sebelumnya. Salah satu hal mengejutkan adalah, menulis bermanfaat untuk mengurangi gangguan makan.

Gangguan makan bisa disebabkan oleh berbagai macam faktor. Salah satunya adalah kecemasan akan tubuh yang tidak ideal akibat makanan, atau khawatir akan munculnya penyakit akibat makanan. Dampaknya, ada orang yang takut untuk makan, dan berakibat mengalami gangguan makan.

Ternyata kecemasan yang memicu gangguan makan bisa diatasi dengan menulis ekspresif. Danielle Arigo dan Joshua M. Smyth (2011) melakukan studi untuk mengeksplorasi pengaruh tulisan ekspresif terhadap kesehatan mahasiswi. Banyak dijumpai mahasiswi, atau wanita muda pada umumnya, yang mengalami gangguan makan akibat kecemasan tertentu.

Hasil studi Arigo dan Smyth menunjukkan bahwa menulis ekspresif mampu mengurangi kesulitan tidur, mengurangi gangguan makan serta mengurangi rasa ketidakpuasan terhadap kondisi fisik. Penyaluran emosi negatif melalui tulisan, mampu mereduksi berbagai kecemasan. Dampaknya, gangguan makan bisa dikurangi.

Studi serupa pernah dilakukan oleh Philippa East dan tim (2010), yang melakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh menulis ekspresif terhadap gangguan makan. Para partisipan diberikan tugas membuat tiga tulisan yang berbeda. Hasilnya, diketahui menulis ekspresif bisa mengurangi gangguan makan.

Para partisipan mendapat manfaat dalam memperbaiki beberapa keluhan yang terkait dengan kesulitan makan. Ini semakin menguatkan penjelasan terkait manfaat menulis untuk kesehatan mental dan fisik. Gangguan makan bisa berkurang bahkan dihilangkan dengan menulis rutin dalam waktu tertentu.

Studi yang dilakukan oleh Ashli M Gamber dan tim (2013) menunjukkan, partisipan yang mengalami gangguan makan, berpotensi mendapatkan kemanfaatan dari panduan dalam memproses peristiwa traumatis dan keadaan afektif mereka. Di antara panduan dalam memproses peristiwa traumatis adalah dengan menulis ekspresif.

Bagaimana Menulis Bisa Mengurangi Gangguan Makan?

Jurnal Eating Disorder Review Vol. 29 No. 4 melaporkan, bahwa metode menulis ekspresif telah diterapkan pada pasien dengan gangguan makan dan terbukti mampu membantu selama pemulihan. Beberapa penelitian disebutkan dalam jurnal tersebut, bahwa menulis ekspresif dapat mengurangi stres pada pasien dengan gangguan makan.

Bagaimana menulis ekspresif bisa mengurangi gangguan makan? Emily Page Lockamy (2019) menjelaskan, banyak gangguan makan yang muncul dari rasa cemas dan depresi. Kekhawatiran yang berlebihan terhadap pengaruh makanan, justru membuat seseorang mengalami gangguan makan.

“Writing is a medium that can help people speak the unspeakable and accept the unacceptable, especially as it pertains to parts of themselves that they have disowned” –Emily Page Lockamy, 2019.

Emily menyatakan, model menulis terapeutik adalah salah satu pendekatan yang telah direkomendasikan oleh berbagai penelitian mutakhir untuk meningkatkan perasaan positif, mengurangi depresi dan kecemasan. Depresi dan kecemasan adalah kondisi yang sering memicu gangguan makan.

Menurut Emily, penulisan terapeutik dapat menumbuhkan fleksibilitas psikologis pada pasien dengan gangguan makan. Fleksibilitas ini akan membantu mengatasi kecemasan “harus” atau “tidak boleh” yang membuat mereka berada dalam perilaku tidak adaptif. Ini yang membantu mereka secara perlahan mengatasi gangguan makan.

Menulis adalah media yang dapat membantu orang berbicara tentang hal-hal yang tidak dapat diungkapkan, dan menerima hal-hal yang tidak dapat diterima, terutama yang berkaitan dengan bagian-bagian diri mereka yang tidak mereka akui. Sisi ini, menurut Emily, yang bisa membantu pasien mengatasi kesulitan makan.

Menulis dapat mengarah pada integrasi yang lebih efektif dari berbagai bagian diri dan pengalaman sulit. Ini mampu membantu memfasilitasi munculnya penerimaan, makna, dan kedamaian batin, serta meningkatkan kesejahteraan emosional dan relasi yang penting.

“Writing can lead to more effective integration of these different parts of self and of difficult experiences, which helps facilitate the emergence of acceptance, meaning, and inner peace, improving emotional well-being and important relationships” –Emily Page Lockamy, 2019

Selamat menulis, selamat menikmati makanan tanpa gangguan kecemasan.

Bahan Bacaan


MENULIS UNTUK MENCIPTAKAN PERUBAHAN

 


.

Writing for Wellness – 29

Oleh : Cahyadi Takariawan

You’ve got the words to change a nation / But you’re biting your tongue / You’ve spent a life time stuck in silence / Afraid you’ll say something wrong / If no one ever hears it how we gonna learn your song? / So come on, come on – Emely Sande

.

Lirik di atas adalah lagu Emely Sande, “Read All Bout It, Pt. III” yang sangat populer. “Anda memiliki kata-kata untuk mengubah suatu bangsa. Tapi sayang, Anda hanya menggigit lidah. Anda telah menghabiskan waktu seumur hidup dalam keheningan. Takut akan mengatakan sesuatu yang salah. Jika tidak ada yang pernah mendengarnya, bagaimana kami akan belajar dari lagu (suara / pendapat) Anda?”

Sebuah lirik yang sangat menyentil. Kita semua memiliki banyak kata-kata, yang apabila dituliskan akan mampu menciptakan perubahan. Sayang, banyak orang tidak melakukannya. Padahal perubahan yang bisa diciptakan melalui tulisan, sangat menakjubkan.

Tulisan Benar-Benar Mampu Menciptakan Perubahan

Meredith Maran adalah penulis 11 buku fiksi maupun nonfiksi. Di antaranya adalah Class Dismissed (2000), Dirty (2004), serta novel A Theory of Small Earthquakes (2012). Buku terbaru di tahun 2020 berjudul Why We Write: 20 Acclaimed Authors on How and Why They Do What They Do.

Saat ditanya, “Does writing change anything?”, Maran menjawab, “Saya sangat percaya itu. Menulis telah mengubah saya. Hanya sedikit orang yang mengatakan bahwa mereka tidak pernah diubah oleh buku. Saya yakin menulis mengubah banyak hal; dengan berbagai jenis tulisan. Saya telah tergerak oleh fiksi sebagaimana tergerak oleh nonfiksi, untuk mengubah sesuatu atau untuk melakukan sesuatu”.

“I really believe it does. It’s changed me. I don’t know too many people who would say they’ve never been changed by a book. I think writing changes a lot of things; different kinds of writing, too. I’ve been as moved by fiction as I have by non-fiction to change something or do something about something” – Meredith Maran

Maran menyebut satu contoh spesifik, tentang buku Class Dismissed yang ditulis tahun 2000. Buku itu mengulas tentang sekolah menengah di Berkeley, California, tempat sekolah anak-anak Maran. Dampak dari buku yang ia tulis, terjadi banyak perubahan pada sekolah menengah tersebut.

Tim Denning (2018) mengatakan, ungkapan “Anda memiliki kata-kata untuk mengubah suatu bangsa”, adalah mantra yang digunakan dalam kehidupannya. Menurut Denning, “Faktor yang menyebabkan tulisan dapat mengubah suatu bangsa adalah seberapa besar Anda dapat menginspirasi dan memotivasi orang yang membaca tulisan Anda”.

“In the end, what will cause your writing to change a nation will be how much you can inspire and motivate everyone that reads your message” – Tim Denning (2018)

Denning meyakini, kata-kata benar-benar memiliki kekuatan untuk mengubah suatu bangsa. Untuk itu, Anda harus menggunakannya untuk kebaikan. Untuk memperbaiki bangsa, untuk memajukan bangsa, untuk membangun bangsa. Gunakan kata-kata untuk menginspirasi orang lain dan menambah nilai pada kehidupan orang. Inspirasi selalu mengarahkan kepada perubahan positif, yang menjadi harapan setiap orang.

“Words truly do have the power to change a nation, and you should use them for good. You should use words in everything you do to inspire others and add value to people’s lives. You should use words to live your purpose” – Tim Denning (2018)

Bagaimana Tulisan Menciptakan Perubahan?

“When I was a little girl I thought I could change the world with my writing. Now that I am a woman I know that I can” –Meghan Tschanz

Bagaimana sebuah tulisan bisa menciptakan perubahan? Meghan Tschanz menuliskan pengalaman yang sangat menarik. “Di antara postingan blog saya yang tampak tanpa komentar atau share, saya mendapat email dari salah satu pembaca yang mengatakan bahwa tulisan saya menginspirasi mereka. Bahwa karena sesuatu yang saya tulis, mereka melakukan sesuatu yang berani, penuh petualangan dan kebaikan”.

“Every once in a while, in between the blog posts with no comments or shares, I get an email from one of my readers telling me that I inspired them; that because of something I had written they did something bold, adventurous, and good” – Meghan Tschanz

Tschanz menambahkan, “Melalui tulisan, saya telah melibatkan pembaca dalam perang melawan perdagangan seks, atau mendamaikan hubungan yang rusak. Bahkan saya mengajak pembaca mengemas tas mereka bepergian ke luar negeri untuk membantu orang miskin”.

Dengan sepenuh keyakinan, Tschanz menyatakan kita semua bisa mengubah dunia melalui tulisan. “Dulu ketika saya masih kecil, saya berpikir akan bisa mengubah dunia dengan tulisan saya. Setelah saya dewasa, saya tahu bahwa saya bisa. Dan saya yakin Anda juga bisa”, ujarnya.

“I’ve had readers get involved in the fight against sex-trafficking, readers reconcile lost relationships. Shoot, I’ve even had readers pack up their bags and move to foreign countries to help the poor. All because I wrote –Meghan Tschanz.

Nina Amir (2019) menyatakan, tidak semua penulis memulai sebagai penulis. Beberapa dari mereka memulai sebagai orang yang ingin membuat perbedaan atau perubahan. “Not all writers start out as writers. Some of them begin as people who want to make a difference”, ujarnya.

Nina Amir meyakini, buku memiliki kekuatan luar biasa untuk mengubah kehidupan dan menginspirasi banyak orang untuk bertindak. Buku yang populer, yang berbicara kepada khalayak, terus menerus dibaca dan dibagikan. Buku semacam itu bisa menginspirasi tindakan.

Menurut Nina Amir, Anda dapat menulis perubahan melalui buku Anda. Para pembaca mulai mendiskusikan dan berbagi pemikiran yang Anda tuliskan. Semakin banyak orang membaca buku dan mengajak orang lain yang setuju pemikiran Anda, maka semakin banyak pula orang bergabung dalam gerakan perubahan yang Anda kehendaki.

Dimulai Dari Perubahan Diri Sendiri

Perubahan bisa dimulai dari diri sendiri. Justin Harmon menyatakan, “Menulis telah mengubah dunia saya sepenuhnya. Menulis telah mengubah cara saya memandang diri saya dan cara saya berinteraksi dengan orang lain. Menulis telah membuat saya menemukan hal yang paling saya sukai”.

“Melalui tulisan, saya dapat mengabarkan hasrat saya untuk mengubah dunia. Saya dapat menunjukkan kepada orang lain bahwa mereka mampu melakukan berbagai hal yang mereka inginkan”, lanjut Harmon.

“For me, writing has completely changed my world. It has changed the way I view myself and how I interact with others. Writing has allowed me to find what it is I am most passionate about” – Justin Harmon

Harmon memberikan resep sederhana. DImulai dari diri sendiri, akan bisa mengajak orang lain. “Dengan melakukan apa yang Anda sukai dan menunjukkan kepada orang lain bagaimana melakukan hal yang sama, Anda memulai reaksi berantai dari orang-orang di mana saja. Anda telah mengubah cara mereka memandang dunia menjadi lebih baik, dan bahkan akan mengubah dunia mereka sepenuhnya”, ujarnya.

“Because of writing, I know I will be able to share with the world my passion for changing the world. I will be able to show others that they are capable of doing anything they want” – Justin Harmon

Seperti saat Rocky Balboa memenangkan pertarungan besar melawan Ivan Drago, dalam film Rocky IV. Rocky menyatakan, “Jika saya bisa berubah, dan Anda bisa berubah, maka semua orang bisa berubah.”

Melalui tulisan, menurut Harmon, seakan kita telah menyatakan, “Lihat, jika saya dapat mengubah dunia saya dan Anda dapat mengubah dunia Anda, maka setiap orang dapat mengubah dunia mereka, yang akan membantu seluruh dunia untuk berubah”. Beginilah tulisan dapat mengubah dunia. Satu kata, satu pesan, satu ungkapan pada satu waktu, kita bisa saling membantu.

“See, if I can change my world and you can change your world, then everyone can change their worlds, which will help the entire world to change” – Justin Harmon

Selamat menulis, selamat menikmati perubahan.

Bahan Bacaan

TULISAN, ANTARA SPONTAN DAN PERENCANAAN

 


.

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Menulis Spontan

Proses menulis ada sangat banyak jenisnya. Ada proses menulis spontanitas, untuk mengabadikan hal-hal yang dilihat, dirasakan atau dipikrkan saat itu. Bisa pula untuk mengabadikan peristiwa yang terjadi saat itu. Atau untuk melepaskan beban yang menghimpit.

Jenis tulisan yang seperti ini, bisa dilakukan kapanpun dan dimanapun. Tanpa perlu persiapan dan perencanaan. Kita bisa menulis sambil antre di loket, atau sambil menunggu keberangkatan kereta api, atau dalam perjalanan darat, laut maupun udara. Intinya, menulis bisa dilakukan di sembarang tempat dan waktu.

Tulisan spontan seperti ini, bisa dikumpulkan dan kelak dibukukan. Saya pernah menulis buku “Memoar Cinta” yang berisi kumpulan tulisan spontan. Tulisan itu saya buat dalam lawatan perjalanan mengunjungi wilayah Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat, pada kurun 2000 – 2005.

Tulisan itu muncul secara spontan di setiap usai melaksanakan kegiatan. Saya hanya menangkap pesan penting dari setiap kejadian, peristiwa maupun momentum. Karena saya yakin, tidak ada yang sia-sia dalam kehidupan. Tidak terasa, ternyata cukup banyak naskah berhasil saya tuliskan. Maka bisa saya jadikan sebuah buku.

Menulis Terencana

Ada pula jenis tulisan yang memerlukan persiapan dan perencanaan serius. Contohnya ketika kita membuat tulisan yang panjang, seperti novel, cerita bersambung, dan berbagai jenis buku nonfiksi. Kekuatan perencanaan menjadi salah satu kata kunci untuk kelancaran proses penulisan.

Penulis legendaris asal Yogyakarta, SH. Mintardja, terbiasa melakukan persiapan dan perencanaan yang totalitas. Hal ini bisa kita lihat dari karya yang dihasilkannya, berupa cerita silat berbasis sejarah kerajaan Mataram. Kisah paling monumental adalah Nagasasra Sabuk Inten yang terdiri dari 32 jilid, serta kisah Api di Bukit Menoreh yang terdiri dari 396 jilid.

Untuk mendapatkan unsur-unsur dalam persilatan Jawa yang akan menjadi bahan tulisannya, SH. Mintardja pun menyempatkan diri untuk belajar silat Jawa. Ia mempelajari filosofinya. Ia juga melakukan survey tempat-tempat yang akan dijadikan setting lokasi dalam cerita. Seperti Bukit Menoreh dan sekitarnya, yang menjadi pusat setting cerita Api di Bukit Menoreh.

Bukan hanya merencanakan plot dan setting tulisan, namun SH. Mintardja juga memerlukan second opinion serta penilaian. Maka ia meminta kepada sang istri untuk menjadi orang pertama yang membaca naskah setelah selesai ditulis. Jika istrinya belum setuju dengan ceritanya, SH Mintardja belum akan menyerahkan naskah tersebut kepada redaksi. Terutama untuk jenis naskah sandiwara radio.

Menghadirkan Feel Tulisan

Untuk jenis tulisan yang terencana, kita bisa menghadirkan feel tulisan. Merencanakan itu sebenarnya mengasyikkan. Namun banyak orang yang tidak mengetahui betapa asyik perencanaan. Suatu ketika, saya dan beberapa teman ingin menulis tentang bencana di Sulawesi Tengah, untuk mengetuk hati masyarakat luas guna membantu korban bencana.

Untuk itu, saya dan teman-teman berangkat ke Palu, Donggala dan Sigi yang menjadi lokasi bencana gempa, tsunami serta liquifaksi. Kami berkeliling ke pusat-pusat bencana, mencoba merasakan kedahsyatan kejadian, mendengarkan secara langsung kisah-kisah dari para korban, dan mengetahui kebutuhan mereka. Perjalanan ini gratis karena ada pihak yang menjadi sponsor penulisan kami.

Dengan menyaksikan secara langsung keporakporandaan daerah bencana, kami mendapatkan feel dari peristiwa, untuk kami angkat menjadi tulisan. Kami habiskan waktu untuk berkeliling dari satu titik ke titik lainnya, sambil menghayati suasana kedukaan yang masih sangat kuat melanda. Ini adalah perjalanan kemanusiaan, namun memiliki nilai yang mengasyikkan karena bisa menghadirkan feel tulisan.

Saya juga datang langsung ke Kedai Kopi Menoreh milik Pak Rahmat untuk menghadirkan feel tulisan. Saya berkali-kali menulis tentang nikmatnya kopi Menoreh, yang kita seruput di Bukit Menoreh. Sembari aneka jajanan tradisional, seperti yang dikisahkan dalam cerita Api di Bukit Menoreh. Saya menyebut sebagai ekspedisi Ngopi di Bukit Menoreh.

Dengan duduk menyeruput kopi di Kedai Kopi Menoreh, kami mendapatkan feel dari Menoreh untuk diangkat menjadi rangkaian tulisan. Inilah yang saya sebut, bahwa merencanakan itu mengasyikkan. Membuat hidup menjadi lebih hidup.

TULISAN, ANTARA SPONTAN DAN PERENCANAAN

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Menulis Spontan

Proses menulis ada sangat banyak jenisnya. Ada proses menulis spontanitas, untuk mengabadikan hal-hal yang dilihat, dirasakan atau dipikrkan saat itu. Bisa pula untuk mengabadikan peristiwa yang terjadi saat itu. Atau untuk melepaskan beban yang menghimpit.

Jenis tulisan yang seperti ini, bisa dilakukan kapanpun dan dimanapun. Tanpa perlu persiapan dan perencanaan. Kita bisa menulis sambil antre di loket, atau sambil menunggu keberangkatan kereta api, atau dalam perjalanan darat, laut maupun udara. Intinya, menulis bisa dilakukan di sembarang tempat dan waktu.

Tulisan spontan seperti ini, bisa dikumpulkan dan kelak dibukukan. Saya pernah menulis buku “Memoar Cinta” yang berisi kumpulan tulisan spontan. Tulisan itu saya buat dalam lawatan perjalanan mengunjungi wilayah Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat, pada kurun 2000 – 2005.

Tulisan itu muncul secara spontan di setiap usai melaksanakan kegiatan. Saya hanya menangkap pesan penting dari setiap kejadian, peristiwa maupun momentum. Karena saya yakin, tidak ada yang sia-sia dalam kehidupan. Tidak terasa, ternyata cukup banyak naskah berhasil saya tuliskan. Maka bisa saya jadikan sebuah buku.

Menulis Terencana

Ada pula jenis tulisan yang memerlukan persiapan dan perencanaan serius. Contohnya ketika kita membuat tulisan yang panjang, seperti novel, cerita bersambung, dan berbagai jenis buku nonfiksi. Kekuatan perencanaan menjadi salah satu kata kunci untuk kelancaran proses penulisan.

Penulis legendaris asal Yogyakarta, SH. Mintardja, terbiasa melakukan persiapan dan perencanaan yang totalitas. Hal ini bisa kita lihat dari karya yang dihasilkannya, berupa cerita silat berbasis sejarah kerajaan Mataram. Kisah paling monumental adalah Nagasasra Sabuk Inten yang terdiri dari 32 jilid, serta kisah Api di Bukit Menoreh yang terdiri dari 396 jilid.

Untuk mendapatkan unsur-unsur dalam persilatan Jawa yang akan menjadi bahan tulisannya, SH. Mintardja pun menyempatkan diri untuk belajar silat Jawa. Ia mempelajari filosofinya. Ia juga melakukan survey tempat-tempat yang akan dijadikan setting lokasi dalam cerita. Seperti Bukit Menoreh dan sekitarnya, yang menjadi pusat setting cerita Api di Bukit Menoreh.

Bukan hanya merencanakan plot dan setting tulisan, namun SH. Mintardja juga memerlukan second opinion serta penilaian. Maka ia meminta kepada sang istri untuk menjadi orang pertama yang membaca naskah setelah selesai ditulis. Jika istrinya belum setuju dengan ceritanya, SH Mintardja belum akan menyerahkan naskah tersebut kepada redaksi. Terutama untuk jenis naskah sandiwara radio.

Menghadirkan Feel Tulisan

Untuk jenis tulisan yang terencana, kita bisa menghadirkan feel tulisan. Merencanakan itu sebenarnya mengasyikkan. Namun banyak orang yang tidak mengetahui betapa asyik perencanaan. Suatu ketika, saya dan beberapa teman ingin menulis tentang bencana di Sulawesi Tengah, untuk mengetuk hati masyarakat luas guna membantu korban bencana.

Untuk itu, saya dan teman-teman berangkat ke Palu, Donggala dan Sigi yang menjadi lokasi bencana gempa, tsunami serta liquifaksi. Kami berkeliling ke pusat-pusat bencana, mencoba merasakan kedahsyatan kejadian, mendengarkan secara langsung kisah-kisah dari para korban, dan mengetahui kebutuhan mereka. Perjalanan ini gratis karena ada pihak yang menjadi sponsor penulisan kami.

Dengan menyaksikan secara langsung keporakporandaan daerah bencana, kami mendapatkan feel dari peristiwa, untuk kami angkat menjadi tulisan. Kami habiskan waktu untuk berkeliling dari satu titik ke titik lainnya, sambil menghayati suasana kedukaan yang masih sangat kuat melanda. Ini adalah perjalanan kemanusiaan, namun memiliki nilai yang mengasyikkan karena bisa menghadirkan feel tulisan.

Saya juga datang langsung ke Kedai Kopi Menoreh milik Pak Rahmat untuk menghadirkan feel tulisan. Saya berkali-kali menulis tentang nikmatnya kopi Menoreh, yang kita seruput di Bukit Menoreh. Sembari aneka jajanan tradisional, seperti yang dikisahkan dalam cerita Api di Bukit Menoreh. Saya menyebut sebagai ekspedisi Ngopi di Bukit Menoreh.

Dengan duduk menyeruput kopi di Kedai Kopi Menoreh, kami mendapatkan feel dari Menoreh untuk diangkat menjadi rangkaian tulisan. Inilah yang saya sebut, bahwa merencanakan itu mengasyikkan. Membuat hidup menjadi lebih hidup.

TULISAN, ANTARA SPONTAN DAN PERENCANAAN

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Menulis Spontan

Proses menulis ada sangat banyak jenisnya. Ada proses menulis spontanitas, untuk mengabadikan hal-hal yang dilihat, dirasakan atau dipikrkan saat itu. Bisa pula untuk mengabadikan peristiwa yang terjadi saat itu. Atau untuk melepaskan beban yang menghimpit.

Jenis tulisan yang seperti ini, bisa dilakukan kapanpun dan dimanapun. Tanpa perlu persiapan dan perencanaan. Kita bisa menulis sambil antre di loket, atau sambil menunggu keberangkatan kereta api, atau dalam perjalanan darat, laut maupun udara. Intinya, menulis bisa dilakukan di sembarang tempat dan waktu.

Tulisan spontan seperti ini, bisa dikumpulkan dan kelak dibukukan. Saya pernah menulis buku “Memoar Cinta” yang berisi kumpulan tulisan spontan. Tulisan itu saya buat dalam lawatan perjalanan mengunjungi wilayah Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat, pada kurun 2000 – 2005.

Tulisan itu muncul secara spontan di setiap usai melaksanakan kegiatan. Saya hanya menangkap pesan penting dari setiap kejadian, peristiwa maupun momentum. Karena saya yakin, tidak ada yang sia-sia dalam kehidupan. Tidak terasa, ternyata cukup banyak naskah berhasil saya tuliskan. Maka bisa saya jadikan sebuah buku.

Menulis Terencana

Ada pula jenis tulisan yang memerlukan persiapan dan perencanaan serius. Contohnya ketika kita membuat tulisan yang panjang, seperti novel, cerita bersambung, dan berbagai jenis buku nonfiksi. Kekuatan perencanaan menjadi salah satu kata kunci untuk kelancaran proses penulisan.

Penulis legendaris asal Yogyakarta, SH. Mintardja, terbiasa melakukan persiapan dan perencanaan yang totalitas. Hal ini bisa kita lihat dari karya yang dihasilkannya, berupa cerita silat berbasis sejarah kerajaan Mataram. Kisah paling monumental adalah Nagasasra Sabuk Inten yang terdiri dari 32 jilid, serta kisah Api di Bukit Menoreh yang terdiri dari 396 jilid.

Untuk mendapatkan unsur-unsur dalam persilatan Jawa yang akan menjadi bahan tulisannya, SH. Mintardja pun menyempatkan diri untuk belajar silat Jawa. Ia mempelajari filosofinya. Ia juga melakukan survey tempat-tempat yang akan dijadikan setting lokasi dalam cerita. Seperti Bukit Menoreh dan sekitarnya, yang menjadi pusat setting cerita Api di Bukit Menoreh.

Bukan hanya merencanakan plot dan setting tulisan, namun SH. Mintardja juga memerlukan second opinion serta penilaian. Maka ia meminta kepada sang istri untuk menjadi orang pertama yang membaca naskah setelah selesai ditulis. Jika istrinya belum setuju dengan ceritanya, SH Mintardja belum akan menyerahkan naskah tersebut kepada redaksi. Terutama untuk jenis naskah sandiwara radio.

Menghadirkan Feel Tulisan

Untuk jenis tulisan yang terencana, kita bisa menghadirkan feel tulisan. Merencanakan itu sebenarnya mengasyikkan. Namun banyak orang yang tidak mengetahui betapa asyik perencanaan. Suatu ketika, saya dan beberapa teman ingin menulis tentang bencana di Sulawesi Tengah, untuk mengetuk hati masyarakat luas guna membantu korban bencana.

Untuk itu, saya dan teman-teman berangkat ke Palu, Donggala dan Sigi yang menjadi lokasi bencana gempa, tsunami serta liquifaksi. Kami berkeliling ke pusat-pusat bencana, mencoba merasakan kedahsyatan kejadian, mendengarkan secara langsung kisah-kisah dari para korban, dan mengetahui kebutuhan mereka. Perjalanan ini gratis karena ada pihak yang menjadi sponsor penulisan kami.

Dengan menyaksikan secara langsung keporakporandaan daerah bencana, kami mendapatkan feel dari peristiwa, untuk kami angkat menjadi tulisan. Kami habiskan waktu untuk berkeliling dari satu titik ke titik lainnya, sambil menghayati suasana kedukaan yang masih sangat kuat melanda. Ini adalah perjalanan kemanusiaan, namun memiliki nilai yang mengasyikkan karena bisa menghadirkan feel tulisan.

Saya juga datang langsung ke Kedai Kopi Menoreh milik Pak Rahmat untuk menghadirkan feel tulisan. Saya berkali-kali menulis tentang nikmatnya kopi Menoreh, yang kita seruput di Bukit Menoreh. Sembari aneka jajanan tradisional, seperti yang dikisahkan dalam cerita Api di Bukit Menoreh. Saya menyebut sebagai ekspedisi Ngopi di Bukit Menoreh.

Dengan duduk menyeruput kopi di Kedai Kopi Menoreh, kami mendapatkan feel dari Menoreh untuk diangkat menjadi rangkaian tulisan. Inilah yang saya sebut, bahwa merencanakan itu mengasyikkan. Membuat hidup menjadi lebih hidup.

Selasa, 26 Januari 2021

MENULIS MAMPU MEMPERJELAS KESADARAN DAN KONSEP DIRI

 


.

Writing for Wellness – 24

Oleh : Cahyadi Takariawan

“Opportunities and strengths are the things that get you excited. Weaknesses and threats are the ones that cause concern” — Paul Boag, 2018.

.

Siapakah Anda? Siapa sesungguhnya jati diri Anda? Bagaimana Anda menjelaskan tentang diri Anda? Inilah yang disebut sebagai konsep diri atau self-concept.

Courtney E. Ackerman, mengutip pendapat Neill (2005), menjelaskan konsep diri adalah pandangan menyeluruh tentang diri seseorang secara fisik, emosional, sosial, spiritual, dan aspek lain yang membentuk jatidirinya. Pada dasarnya menusia membangun konsep diri sejalan dengan pertumbuhan usia dan pengalaman kehidupan.

“Self-concept is an overarching idea we have about who we are—physically, emotionally, socially, spiritually, and in terms of any other aspects that make up who we are” –Neill, 2005.

Roy Baumeister (1999) mendefinisikan konsep diri sebagai keyakinan individu tentang dirinya sendiri, termasuk atribut orang tersebut dan siapa serta apa dirinya. Rosenberg (1979) menyatakan konsep diri adalah totalitas pikiran dan perasaan individu yang mengacu pada dirinya sendiri sebagai objek.

Bagaimana cara membangun konsep diri? Ada sangat banyak cara yang direkomendasikan para ahli. Salah satunya adalah dengan menulis. Courtney E. Ackerman menyatakan, menulis adalah salah satu metode untuk memperjelas konsep diri.

Demikian pula dengan kesadaran diri (self-awareness). Kesadaran diri bisa dipertajam dengan menulis. Kendra Cherry (2020) menjelaskan, kesadaran diri (self-awareness) adalah komponen pertama dari konsep diri (self-concept).

Menurut Cherry, meskipun kesadaran diri adalah sesuatu yang penting bagi diri Anda, namun bukan berarti menjadi hal yang selalu Anda fokuskan setiap saat. Kesadaran diri terbangun ke dalam definisi siapa diri Anda, dan bisa muncul pada titik yang berbeda tergantung pada situasi dan juga kepribadian Anda.

“Self-awareness is one of the first components of the self-concept to emerge. While self-awareness is something that is central to who you are, it is not something that you are acutely focused on at every moment of every day. Instead, self-awareness becomes woven into the fabric of who you are and emerges at different points depending on the situation and your personality” – Kendra Cherry, 2020

Apa yang bisa ditulis untuk membangun konsep diri dan kesadaran diri? Ada banyak pilihan. Salah satunya adalah dengan menuliskan ‘who am I’, untuk membongkar diri sendiri, melalui metode analisa SWOT. C. Karthik Deepa telah merekomendasikan untuk menggunakan analisa SWOT dalam menguatkan self-awareness.

Identifikasi “Who Am I” Menggunakan SWOT Analysis

Menuliskan konsep diri “siapa aku”, membuat seseorang lebih detail memahami dirinya. Dalam membangun konsep diri, Anda harus secara jujur membongkar diri sendiri. Di antara alat yang bisa digunakan untuk mengenali diri adalah dengan menggunakan analisa SWOT.

Paul Boag (2018) menjelaskan, SWOT adalah singkatan dari Strength, Weakness, Opportunity and Threat, yang mencerminkan reaksi naluri Anda dalam fase penemuan. Peluang dan kekuatan adalah hal yang membuat Anda bersemangat. Kelemahan dan ancaman adalah penyebab kekhawatiran.

“SWOT stands for Strengths, Weaknesses, Opportunities and Threats. That mirrors the gut reaction you have in a discovery phase. Opportunities and strengths are the things that get you excited. Weaknesses and threats are the ones that cause concern” — Paul Boag, 2018.

Jodie Shaw (2017) menyatakan, analisa SWOT dapat membantu Anda lebih memahami bagaimana menggunakan kekuatan Anda dan mengelola kelemahan Anda, serta mengungkap peluang untuk berkembang dan menghilangkan ancaman yang dapat menghalangi Anda untuk bergerak maju.

“A SWOT can help you better understand how to play to your strengths and manage your weaknesses, as well as uncover opportunities for growth and eliminate threats that could keep you from moving forward” – Jodie Shaw, 2017

Langkah Menulis Identifikasi Diri

Situs Skills You Need memberikan petunjuk langkah-langkah dalam menuliskan analisa SWOT sebagai berikut.

1. Identifikasi tujuan yang ingin Anda capai

Apa tujuan yang hendak Anda capai dalam kehidupan? Defisnisikan tujuan dengan spesifik. Anda perlu menentukan target waktu pencapaian, serta indikator keberhasilan yang Anda harapkan. Ini adalah langkah awal memulai membongkar diri untuk mengenali siapa diri Anda saat ini.

Tuliskan dengan detail tujuan yang hedak Anda capai. Bukan hanya dengan membayangkan atau meletakkan tujuan dalam pikiran. Anda harus mewujudkan dalam bentuk tulisan.

2. Identifikasi kekuatan pribadi Anda yang bisa membantu mencapai tujuan

Strength (kekuatan) adalah bersifat internal. Ini tentang diri Anda sendiri. Bukan tentang orang lain. Semua orang memiliki kekuatan.

Tuliskan sebanyak mungkin kekuatan yang ada dalam Anda. Kekuatan ini bisa meliputi aspek spiritual, emosional, moral, fisik, finansial, sosial maupun skill. Berbagai capaian dalam kehidupan Anda, juga merupakan kekuatan yang patut dihargai.

3. Identifikasi kelemahan pribadi Anda yang dapat menghalangi tercapainya tujuan

Weakness (kelemahan) adalah bersifat internal. Ini tentang diri Anda sendiri. Bukan tentang orang lain. Semua orang memiliki kelemahan dalam dirinya. Ini sangat manusiawi.

Bongkar diri Anda untuk bersedia mengakui adanya kekurangan dan kelemahan. Sisi kelemahan bisa dilihat dari aspek spiritual, emosional, moral, fisik, finansial, sosial maupun skill. Pengalaman kegagalan, bisa Anda jadikan sebagai bahan evaluasi, apa kelemahan yang ada pada diri Anda sehingga gagal.

4. Identifikasi peluang yang dapat membantu Anda mencapai tujuan

Peluang (oportunity) bersifat eksternal, terkait dengan lingkungan dan orang-orang di sekitar Anda. Tuliskan berbagai peluang yang ada di sekitar Anda, yang bisa Anda gunakan untuk mencapai tujuan. Peluang ini juga dapat Anda manfaatkan ketika telah mencapai tujuan.

Dengan menuliskan peluang, Anda semakin mengerti hal-hal yang bisa Anda gunakan sebagai jalan dan sarana mencapai tujuan. Jangan hanya digambar dalam pikiran atau dirasakan dalam hati, namun harus Anda tuliskan dengan detail.

5. Identifikasi ancaman yang bisa mengganggu tercapainya tujuan Anda

Ancaman (threat) adalah hal dan peristiwa eksternal yang mengkhawatirkan Anda, atau yang bisa menghalangi Anda untuk mencapai tujuan. Ada pihak-pihak di luar diri Anda yang berpotensi menjadi ancaman terhadap tercapainya tujuan, maka Anda harus mewaspadainya.

Semakin detail Anda bisa mengidentifikasi dan menuliskannya, akan semakin hati-hati pula Anda dalam melangkah. Tentu Anda tidak ingin gagal dalam mencapai tujuan kehidupan.

6. Tinjau ulang dan tetapkan prioritas

Dalam setiap aktivitas pengembangan diri, apalagi terkait dengan aspek pemikiran strategis, semestinya Anda meninjau kembali analisis Anda. Tanyakan kepada diri sendiri, apakah unsur-unsur kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman telah Anda tuliskan dengan jujur dan benar? Apakah masih ada yang terlewatkan?

Bagian mana yang paling penting bagi diri Anda, dalam masing-masing kategori SWOT? Cobalah meninjau kembali satu atau dua poin, dari kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman yang menurut Anda akan paling penting dalam upaya mencapai (atau menghalangi) tujuan Anda. Area tersebut akan menjadi prioritas tindakan Anda.

Which areas are most important in each of the four categories in the analysis? Try to highlight one, or at most two, things from each of strengths, weaknesses, opportunities and threats that you think will be most important in achieving (or preventing you from achieving) your goal. Those areas will be your priorities for action – SkillsYouNeed.com

Selamat menulis, selamat menemukan kesadaran diri dan konsep diri yang utuh.

Bahan Bacaan

MENULIS UNTUK MERAIH KEDAMAIAN JIWA

 



.

Writing for Wellness – 23

Oleh : Cahyadi Takariawan

“While reliving traumatic events may initially feel agonizing, writing down our worst experiences can also offer a way to cope with some of life’s horrors” – Angela Matthews (2019)  

.

Ketika mengalami peristiwa kedukaan, pada umumnya manusia akan melewati lima tahapan. Ini teori tua yang dikemukakan oleh Kubler-Ross, namun sampai hari ini masih dianggap relevan. Seberapa lama manusia berada dalam tiap tahapan, tergantung pada sangat banyak faktor.

Berbagai studi menunjukkan, manusia yang tengah mengalami kedukaan, bisa dipercepat proses melewati tahap demi tahap, dengan aktivitas menulis. Banyak studi menunjukkan, menuliskan kedukaan memberikan pengaruh positif bagi manusia. Mereka akan bisa mendapatkan kedamaian dan ketenteraman, karena telah melepas beban yang menghimpit.

Mengenang kembali peristiwa traumatis yang pernah terjadi di masa lalu, awalnya terasa menyiksa. Namun dengan menuliskan pengalaman suram tersebut, ternyata mampu mengatasi kengerian dalam hidup. Studi dilakukan Angela Matthews (2019) tentang seorang ibu yang tengah berduka karena kehilangan anak tercinta. Ia menemukan, menulis mampu menghadirkan kedamaian.

Writing Through Grief

Angela meyakini, menuliskan perasaan kedukaan, mampu mengungkapkan pemahaman dan membuat penerimaan yang lebih baik. Dengan menuliskan pemikiran dan perasaan kedukaan, membuat seseorang bisa berdamai dengan kedukaan tersebut. Berbagai masalah kompleks dan menyakitkan, seperti kematian, kesedihan, dan kehilangan, bisa diatasi dengan terapi menulis.

Angela merekomendasikan strategi serupa untuk orang-orang yang mengalami persoalan rumit dalam kehidupannya. Rekomendasi serupa telah dilakukan oleh situs Modern Loss. Situs ini mengajak pembaca untuk menuliskan pengalaman kesedihan, kedukaan dan kehilangan, dalam rubrik Writing Through Grief.

Melalui rubrik ini, pembaca diajak berdamai dengan kedukaan yang dihadapi. Ternyata menuliskan kedukaan mampu mereduksi perasaan sedih. Salah seorang kontributor situs tersebut memberikan kesaksian.

“Writing through my grief has helped me transition from the person I was when I first faced that blank page to the one I am now. Writing provided me with clarity and some inner peace. I know I will continue to be sideswiped with conflicting feelings, but the pain isn’t as sharp. Now, when I look up into the sky, I’m relieved to see Orion, the Pleiades, or Cassiopeia, comforted by all of my memories of Rob, the whole complex mix of them” – Debbie Leaman (2019)

Debbie Leaman (2019) menuliskan kedukaan yang dialami melalui situs tersebut. Ia menyatakan, “Menuliskan kesedihan telah membantu saya beralih dari diri saya saat pertama kali menghadapi kedukaan itu, menjadi diri saya yang sekarang. Menulis memberi saya kejelasan dan kedamaian batin. Saya sadar akan terus diganggu oleh perasaan yang saling bertentangan, tetapi rasa sakitnya tidak lagi menyiksa. Sekarang, ketika saya melihat ke langit, saya bisa merasa lega….”

You don’t have to be a great writer, or get published. But writing may help you to sort out your thoughts and to express your emotions.

Anda tidak harus menjadi penulis yang hebat. Tulisan Anda juga tidak harus dipublikasikan. Akan tetapi, menulis dapat membantu Anda memilah pikiran dan mengekspresikan perasaan. Anda bisa menulis puisi atau cerita pendek, atau hanya diary tentang perasaan Anda. Ini bisa menjadi terapi. Setelah beberapa pekan menulis, Anda dapat melihat kemajuan yang terjadi.

Rekomendasi Harvard Medical School

Menuliskan kedukaan merupakan salah satu metode terapi yang direkomendasikan oleh Harvard Medical School. Mereka meyakini, menuliskan kedukaan adalah terapi yang efektif untuk membantu meringankan beban bagi orang-orang yang mengalami kedukaan.

“Truly let go. Write down how you feel and why you feel that way. You’re writing for yourself, not others. Don’t worry about grammar or sentence structure” –Harvard Medical School, 2016.

Meskipun menulis tentang kedukaan dan kehilangan dapat memicu emosi yang kuat – seperti menangis atau merasa sangat kesal – namun menulis menjadi aktivitas yang berharga dan bermakna. Harvard Medical School menyatakan, telah banyak orang melaporkan merasa lebih baik setelah menuliskan kedukaan.

Caranya sederhana. Berpikirlah bebas merdeka dalam menuliskan kedukaan. Benar-benar lepaskan semua kesedihan Anda. Tuliskan bagaimana perasaan Anda dan mengapa bisa merasa seperti itu. Anda menulis untuk diri sendiri, bukan untuk orang lain. Maka jangan khawatir tentang tata bahasa atau struktur kalimat.

Saran dari Harvard Medical School, cobalah menulis selama 15 hingga 30 menit setiap hari, dalam kurun tiga hingga empat hari, atau sepekan. Anda juga dapat menulis 15 sampai 30 menit sepekan sekali, selama satu bulan. Sebuah penelitian menemukan bahwa menulis ekspresif memiliki efek yang lebih kuat jika dilakukan selama beberapa hari. Bukan hanya sekali atau dua kali.

Kedukaan Anda akan semakin berkurang. Tidak lagi menjadi beban yang menekan kehidupan Anda. Maka Anda akan merasakan kedamaian dan ketenteraman dalam kehidupan.

Selamat menulis, selamat menikmati kedamaian.

Bahan Bacaan

MENULIS MENUMBUHKAN KEJUJURAN

 



.

Writing for Wellness – 22

Oleh : Cahyadi Takariawan

“If you’re not really being yourself, then you’re being dishonest in your writing” –Nat Russo, 2014

.

Sangat banyak manfaat positif dari aktivitas menulis. Pada dasarnya, jika kita ingin mendapatkan manfaat positif, maka kita harus menulis dengan sudut pandang positif. Sepanjang kita menghendaki manfaat kebaikan, maka menulis mampu menumbuhkan sangat banyak sisi kebaikan.

Di antara manfaat menulis adalah, melatih kejujuran. Sikap jujur (honesty) adalah sebuah nilai yang akan memberikan kemuliaan pada pemiliknya. Tidak ada kemuliaan yang bisa tumbuh di atas kebohongan. Kejujuran akan mengangkat harkat kemanusiaan, sehingga menggapai kemuliaan.

Najma Khorrami (2017) menyebutkan, paling tidak ada lima alasan mengapa kita harus selalu jujur. Pertama, kejujuran membersihkan hati nurani. Ketidakjujuran akan memaksa pelakunya untuk terus berlaku tidak jujur. Kebohongan akan selalu ditutupi dengan kebohongan berikutnya. Ini akan merusak hati nurani.

Kedua, kejujuran menjadikan Anda mampu membuat keputusan yang lebih baik. Bersikap jujur ​​akan membantu Anda mengambil keputusan secara benar, berdasarkan fakta yang sesungguhnya. Jika terbiasa memanipulasi data dan fakta, keputusan yang dibuat akan cenderung ngawur.

Ketiga, kejujuran membuat Anda lebih mudah mendapat kepercayaan. Semua jenis hubungan,  bisa bertahan dan berkembang dengan kejujuran. Persahabatan, keluarga, bisnis, organisasi, dan semua jenis ikatan, dijalin dengan landasaran saling percaya. Jujur membuat Anda dipercaya semua orang.

Keempat, kejujuran membuka jalan untuk sukses. Dunia kerja memerlukan orang-orang yang jujur dan bisa dipercaya. Sekali Anda tidak jujur, selanjutnya akan kesulitan untuk mendaki tangga sukses.

Kelima, kejujuran akan menghadirkan kebahagiaan dalam jiwa. Jika Anda selalu jujur, akan lebih mampu menghargai diri sendiri. Penghargaan terhadap diri sendiri, memungkinkan Anda menemukan emosi positif lainnya, seperti kepercayaan, harga diri, dan penerimaan. Inilah yang mampu memproduksi kebahagiaan lebih besar dan lebih konsisten.

Bagaimana Menulis Menumbuhkan Kejujuran?

Menulis yang dilakukan dengan positif, akan melatih Anda bersikap jujur. Pertama, jujur dengan kualitas tulisan Anda sendiri. Seperti apapun kualitas tulisan Anda, seperti apapun corak dan gaya bahasa Anda, itu adalah karya Anda sendiri. Tidak perlu malu, jika kualitas tulisan Anda belum bagus. Di titik ini Anda berlatih jujur, dengan menjadi diri sendiri dalam menulis.

Menurut Nat Russo (2014), jika Anda tidak benar-benar menjadi diri sendiri, maka Anda tidak jujur ​​dalam tulisan. Menjadi diri sendiri dalam menulis, artinya menggunakan cara dan gaya bahasa yang khas pada diri Anda sendiri, bukan gaya penulis favorit Anda. Anda tidak mencontek gaya orang lain. Anda jujur dengan ‘suara jiwa’ Anda sendiri.

Kedua, jujur terhadap keyakinan pribadi. Johnny B. Truant menyarankan agar jujur ​​terhadap keyakinan Anda. Maka baginya, jujur bukan berarti harus selalu menggunakan nama asli dalam menulis. Truant biasa menulis dengan beberapa nama pena. Menurutnya, ia lebih bisa memiliki kejernihan pikiran saat menggunakan nama pena.

Bagi Truant, nama pena memberikan ruang mental untuk terus maju dan jujur dalam menulis hal-hal yang kadang dianggap sensitif bagi orang lain. Ia merasa leluasa untuk menulis tentang keyakinan dirinya –yang mungkin berbeda dengan orang lain, ketika menggunakan nama pena.

Tentu saja Anda boleh memilih menggunakan nama asli untuk menuliskan keyakinan Anda. Yang penting Anda menulis dengan melandaskan diri pada etika kepenulisan, sehingga tidak berpotensi melanggar UU ITE yang bisa menjerat penulis dengan tuduhan pencemaran nama baik atau ujaran kebencian.

Ketiga, jujur menyatakan pikiran dan perasaan. Menurut Steve Kowit, menulis dengan jujur artinya Anda bersedia menyatakan yang sebenarnya tentang perasaan dan pikiran Anda. Namun Kowit memberikan catatan, tidak berarti Anda harus menyatakan semua hal tentang kehidupan pribadi. Jujur bukan berarti Anda harus menulis autobiografi yang mengungkapkan  semua hal tentang diri Anda.

To write honestly means that you are willing to tell the truth about your feelings and perceptions, but that doesn’t mean you have to say anything about your own life that you wish not to – Steve Kowit

Menurut Kowit, kejujuran berarti Anda dapat menerima dan merasakan marah, sedih, dan kecewa dalam diri dan pikiran. Anda memiliki keberanian untuk menyelami perasaan dan pikiran Anda sendiri. Dan hal ini tidak berarti harus menulis kondisi diri Anda dengan cara tidak sesuai dengan keinginan Anda.

Keempat, jujur dengan kutipan yang Anda ambil. Jika Anda mengutip, entah mengutip istilah, kalimat, atau pargraf, Anda harus jujur menyatakannya. Misalnya, kalimat yang saya kutip di awal tulisan. “If you’re not really being yourself, then you’re being dishonest in your writing”. Ini saya ambil dari artikel Nat Russo di blog Erindorpress (2014).

Mengutip tulisan orang lain tanpa menyatakan bahwa itu kutipan, adalah kebohongan. Mengutip karya orang lain tanpa mencantumkan sumber rujukannya, adalah kebohongan. Kita telah melakukan tindakan plagiarisme yang tercela. Mengakui karya orang lain sebagai karya kita.

Menulis positif, mengharuskan kita jujur menyatakan kutipan, sumber rujukan atau daftar pustaka. Ini adalah pertanggungjawaban akademis dalam dunia tulis menulis. Maka dengan menyatakan sumber rujukan atau daftar pustaka, kita telah berlatih jujur. Kita berlatih menghindari kebohongan dalam tulisan.

Kelima, jujur dengan melakukan sendiri. Pada kalangan guru yang diharuskan membuat laporan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), misalnya, sikap jujur artinya Anda benar-benar melakukan tindakan penelitian, dan benar-benar menuliskan laporan sesuai ketentuan. Bukan ‘menjahitkan’ kepada pihak lain agar hasilnya bagus.

Jujur artinya Anda bisa confident dengan hasil tulisan yang Anda buat sendiri. Bukan tulisan yang dibuat oleh orang lain. Mungkin Anda kurang puas, mungkin Anda kurang ‘sreg’, namun Anda telah jujur dengan benar-benar melakukan tindakan penelitian dan benar-benar menuliskan laporan.

Selamat menulis dengan jujur, selamat menikmati kejujuran.

Bahan Bacaan

MENULIS MAMPU MENINGKATKAN RASA SYUKUR

 


.

Writing for Wellness – 21

Oleh : Cahyadi Takariawan

“When we reflect on positive experiences, it may be worthwhile to think about what we’ve given to others, not only what we’ve received” –ScienceDaily, 2012

.

Menulis memiliki kemanfaatan yang amat sangat luas. Bukan hanya dalam konteks kesehatan mental dan kesehatan fisik, namun juga memberikan manfaat untuk membangun sikap hidup positif. Salah satunya, menulis dapat meningkatkan rasa syukur (gratitude) dalam kehidupan manusia.

Sebagai insan beriman, kita semua meyakini pemberian Allah dan karuniaNya yang tiada terhingga dalam keseharian kita. Syukur adalah kewajiban sebagai hamba yang mengakui dan merasakan banyak nikmat Allah dalam kehidupan. Meskipun kita tidak akan dapat menghitung semua nikmat Allah, namun harus selalu mensyukuri dengan sepenuh hati.

Semua kebaikan yang kita dapatkan, semua rezeki yang kita nikmati, semua kebahagiaan yang kita reguk, adalah karunia dan pemberianNya. Mengingat nikmat dan karunia tersebut, merupakan aktivitas yang meningkatkan rasa syukur. Apalagi ketika nikmat dan karunia tersebut dituliskan, akan semakin terasa kesyukuran kita.

Menulis Meningkatkan Rasa Syukur

Gregory Ciotti (2014) mengutip hasil sebuah studi, bahwa orang yang merefleksikan hal-hal baik dalam hidup mereka dalam bentuk tulisan, menjadi lebih positif dan termotivasi dalam menjalani kehidupan di masa sekarang dan di masa yang akan datang.

Studi tersebut menunjukkan, menulis tentang hal-hal baik dalam hidup kita, memiliki pengaruh yang besar dalam pembentukan sikap hidup. Menuliskan berbagai kebaikan, membuat kita benar-benar mengingat, merasakan dan menghayati kebaikan tersebut. Wajar jika membuat pelakunya bisa memiliki jiwa yang mudah bersyukur.

Misalnya menulis, “Alhamdulillah, aku masih diberikan kesempatan menikmati kehidupan di hari ini. Aku bisa bangun pagi, beribadah, merasakan kesegaran oksigen, merasakan hangatnya sinar matahari. Luar biasa indahnya hidup ini”. Contoh tulisan yang berisi refleksi kebaikan yang dirasakan.

Contoh lainnya, “Alhamdulillah aku memiliki keluarga yang baik. Dengan keluarga yang baik ini, aku merasa berarti. Bangun pagi, menyiapkan sarapan, menikmati roti dan teh panas bersama keluarga, betapa nikmatnya”. Tulisan seperti ini, membangkitkan kesadaran yang penuh untuk selalu bersyukur.

Maka biasakan menulis hal-hal baik dan positif yang dirasakan sebagai karunia Tuhan dalam kehidupan. Dengan menuliskan, akan semakin terasa nikmat dan karunia tersebut dalam hidup kita. Nikmat dan karunia terasa semakin jelas dan nyata, dengan menuliskannya.

Penelitian lain menunjukkan hal serupa, bahwa mengingat dan mencatat kebaikan yang kita miliki, membuat kita lebih bahagia dan memotivasi untuk berbuat kebaikan berikutnya. Studi tersebut dilaporkan dalam Psychological Science (2012), yang menunjukkan bahwa mengingat apa yang telah kita berikan kepada orang lain, membuat kita menjadi lebih senang membantu orang lain.

Memberi Lebih Menguatkan Syukur

Sebuah studi dilakukan oleh Adam Grant dan Jane Dutton. Mereka mengamati dampak menulis ekspresif terhadap perilaku prososial. Grant dan Dutton menemukan, ketika seseorang merenungkan kebaikan yang telah diterima dari orang lain, tidak memotivasi untuk memberi. Para partisipan yang diminta menuliskan bantuan kebaikan yang pernah mereka terima dari orang lain, tidak membuat mereka tergerak untuk memberi.

Namun ketika partisipan diminta merefleksikan bantuan kebaikan yang telah diberikan kepada orang lain, justru mampu memperkuat identitas dirinya sebagai individu yang peduli, sehingga memotivasi untuk memberikan kebaikan lagi. Ternyata, memberi memiliki pengaruh yang lebih mendatangkan kebahagiaan dan kesyukuran.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa menulis ekspresif berisi refleksi diri tentang memberi, dapat menjadi sarana yang ampuh untuk memotivasi perbuatan baik berikutnya. Partisipan yang menuliskan hal-hal baik yang ia berikan kepada orang lain, membuat dirinya termotivasi untuk mudah membantu dan menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain.

Hal ini memberikan penjelasan, bahwa memberi bantuan jauh lebih baik daripada menerima bantuan. Memberi lebih membahagiakan daripada menerima.

Kebahagiaan dan kesyukuran yang lebih bisa didapatkan dari aktivitas memberi dan berkontribusi. Maka menulis ekspresif tentang kontribusi kebaikan yang pernah diberikan, memberikan dampak positif bagi pelakunya.

Selamat menulis, selamat bersyukur.

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...