Kamis, 10 Maret 2022

BERLITERASI SAAT PANDEMI MELANDA NEGERI

 


Oleh : Ledwina Eti Wuryani

 

Jadilah terang tanpa memadam cahaya orang lain. Naiklah tinggi tanpa menjatuhkan orang lain. Capailah Bahagia tanpa melukakan hati orang lain. Dan paling penting Jadilah baik  tanpa memburukkan orang lain.

 

Saat  awal pandemi melanda semua orang bersedih. Hari demi hari diisi dengan  ketakutan dan kegelisahan. Hidup tak tenang dan harus terus waspada.  Badanpun terasa lelah, lesu dan lunglai. Orang sakit dimana-mana. Kematian juga  terdengar  setiap saat di sekitar kita.

Pandemi menyerang siapa saja. Miskin-kaya, pejabat-orang biasa, dia tidak   pandang bulu. Siapa saja siap diterjangnya.  Bahkan gaungnya pun  hingga  di seluruh dunia.  Situasi benar-benar terpuruk.  Corona mengguncang dunia. Dunia berduka.  Dampak itu juga sampai di Indonesia.  Di tempat tinggalkupun  terkena serangan  dari corona. Dia begitu mengganas. Kami begitu sedih!. Hati terasa perih,  sedu sedan dan  deraian  air mata   selalu  menemani.

Ya Tuhan  ampuni kami.  Kadang sampai saya berfikir…..jangan-jangan  Tuhan sedang  marah. Banyak  manusia  yang melupakanNya. Mungkinkah manusia  banyak tak lagi berdoa?. Alahu alam!. Barangkali ada juga menganggap perbuatan dosa  sudah dianggap biasa?.  Atau?! Banyak  yang  sudah menghalalkan segala cara demi kebahagiaataan semata.  Ini tentunya sebuah refleksi bagi setiap kita.

Saat itu….  Kami juga  berduka. Banyak keluarga dekat yang meninggal dunia.  Adik sepupu, mama mertua dari  adik kandungku, tetangga dekatku, teman guru .….semuanya berpulang.  Termasuk juga  ibu kandungku. Memang ibu bukan karena corona, tapi mungkin  karena  badan terlalu lelah memikirkan keadaan. Ibu sempat positif covid-19 tapi sembuh. Yah….  Semuanya harus diterima dengan lapang dada, agar mereka yang berpulang  aman  mengikuti jalannya lurus menuju Sorga.

Tangis dan  air mata belum kering, disusul  seluruh isi rumah terkena pandemi. Baik  keluarga yang di Jakarta, di Magelang dan saya sendiri di Sumba NTT. Suami paling parah karena beliau  ada komorbit sakit jatung.  Doa terus kudaraskan saat itu. Kekuatan dan penghiburan hanya dengan doa dan berusaha sesuai kemampuan yang ada. Keluarga  turut mendoakan.  Saudara/i dan handaitaulan juga tak ketinggalan selalu memberikan penguatan.  Suamiku….  nyawa hampir melayang, tetes-tetes air mata  menitikkan setia saat.  Kami sudah pasrah   dan tak bisa berbuat banyak.  Hanya doa dan terus berdoa  yang  kudaraskan.

Tapi  ternyata Tuhan masih  sayang pada kami. Suami disembuhkan. Kini  dia sehat Kembali. Senyumnya kini merekah dan berseri lagi. Tak henti-hentinya kami mensyukuri atas  anugerah yang Tuhan beri. Tuhan yang sungguh baik hati. Dua tahun sudah  kami  bersama pandemi ini.  Banyak sekali  cerita  yang mendukakan hati. Kenangan berharga untuk  kami selalu refleksi diri.

  Hidup itu tidak lama. Sebelum Tuhan memanggil pulang. Pasti  ada rasa bangga jika hidup ini berguna. Hati  akan bahagia jika hidup  kita ini berwarna. Ada rasa  senang juga jika hidup bisa menginspirasi sesama. Saat pandemi hidup terkungkum di rumah  saja. Pemerintah melarang kita beraktifitas diluar rumah.  Harus  selalu jaga  protokol kesehatan. Jaga jarak dan kurangi mobilitas.  Kadang ada rasa bosan dan jenuh. Jika  tak ada aktifitas tentunya pikiran bisa beku!. Apa yang harus kita kerjakan???

 

Pada suatu hari saya merenung. Saya membaca profil penulis di FB. Di situ ada penulis buku.  Saya membayangkan!. Ini seandainya saya  bisa menulis dan tulisan saya dibukukan ….. wow! betapa bangganya saya. Namaku tertulis indah, fotoku terpampang didalam covernya. Mimpi kali ya. Mimpi  boleh,  bermimpilah terus sepanjang  mimpi  belum dilarang oleh pemerintah. Tapi ketidakpercayaan diri dan ketakutan itu selalu melanda di hati. 

Saya ingat  tulisan dari Pak Cah, penulis hebat dan bert seller. Madeleine Lengle  mengatakan  bahwa  memublikasikan tulisan itu artinya menyiapkan diri  untuk mendapat serangan terbuka. Artinya,  jika kita berani menulis harus  siap menerima serangan itu. Hatiku sendiri jadi  ciut. Tapi kalau pasrah kapan mimpi itu bisa diwujudkan?. Syarat menggapai mimpi  harus berani  menanggung resiko yang akan terjadi. Harus  focus!

 Tak usah mimpi  terlalu tinggi. Kalau  jatuh  sakitnya setengah mati. Dengan  menulis saya hanya  ingin ‘dikenal’ segelintir orang saja. Itu sudah cukup. Tak usah  menjadi ‘unicorn’. Jalani  seperti air yang mengalir. Nikmati dan berusaha belajar sesuai dengan kemampunan yang kumiliki.  Tak perlu jadi orang lain. Jadilah diri sendiri supaya tak pusing.

            Benar  adanya. Kucoba menulis di FB. Maksudku untuk memperkenalkan saja dimedsos. Terserah apa tanggapan para pembaca tentang tulisanku. Kucoba lagi menulis di majalah, ternyata dimuat. Betapa senangnya hati saat itu.  Para pembaca menyemangatiku. Mereka mengapresiasi dan memotivasi. Ada yang langsung  koment di fb ada juga  yang japri. Dari sinilan muncul percaya diri alias PD. Artinya tulisanku bisa  dipahami. Tulisanku yang seorang penulis  pemula dimengerti dan bisa diterima oleh para pembaca.

Akhirnya aku bergabung di group menulis. Pertama di KMO (Komunitas Menulis Online) Alineaku. Kedua dengan WAG MBI ( Menulis Buku Inspirasi). Ketiga dengan Group PGRI. Dari sinilah akhirnya saya banyak kenal  para pegiat literasi Indonesia. Di KMO kenal dengan  penulis hebat pak Cahyadi Takariawan, Bu Nurlaila, Mbak Lina, pak Irfan dan teman-teman yang lain. Di Agupena NTT kenal dengan Bapak Thomas Sogen, Bunda Lilis, Ibu Lily, Pak Sahat  dan masih banyak lagi.  Di PGRI kenal dengan Om Jay ( Wijaya Kusumah, M.Pd), Ibu Kanjeng ( Dra Sri Sugiastuti , M.Pd ), Bu Mae dan tak bisa kusebutkan satu persatu saking banyaknya.

 Pertemanan dengan para penulis senior begitu  mesra dan indah. Walaupun aslinya belum pernah bertatap muka sama sekali. Kami hanya kenal lewat online saja. Lewat Group  whatsapp. Mereka begitu baik dan rela memberi iklas berbagi. Semuanya saling menyemangati. Saya pemula yang tadinya  ‘buta’  berubah  jadi ‘terbuka mata’. Walaupun pengetahuanku dalam menulis baru seujung kuku. Tapi cukup bangga.  Saya jadi salah satu orang yang berani menulis. Yang jelas  jadi orang harus mau belajar dan terus belajar. Jangan malu bertanya dan berani mencoba. Long Life learning. Menulis adalah sebuah keberanian yang tidak dimiliki semua orang ( Pramoedya Ananta Toer).

            Beberapa teman FBku menelponku. Mereka semua memberi semangat. Ini ada teman yang dari Jakarta, Kalimantan, Mataram dan dari tempat lain. Mereka salut padaku. Hmhm.. aku jadi malu dibuatnya.  Mereka ingin belajar bahkan ada yang memesan bukuku jika aku buat buku. Wowww!! Antara senang, gugup, bingung campur campur.  Saat itu juga tiba-tiba ada WA  masuk di HP-ku. Cerpenku  yang kukirim di Kreatory  masuk  rangking ke-22, artinya  masuk 30 besar tingkat nasional. Sebagai pemula aku jadi bangga luar biasa. Dapat Medali, hadiah buku, sertifikat. Hadiah itu kuposting di medsosku  Dengan begitu  banyak pujian dan motivasi dari teman-teman, keluarga dan sahabat medsos. Itu  awalnya aku jadi semangat menulis.

Aku mencoba membuat tulisan untuk dibukukan. Tulisn itu  berupa kumpulan  cerpen. Kupikir-pikir lagi, apakah mungkin bukuku nanti ada yang mau membaca? Apakah  ada yang membeli??  Ahh!!  jawaban itu kutepis. Tak boleh menyerah!. Jangan merasa kalah sebelum maju perang. Hehe….  menghibur diri. Terbukti nyata.  Buku Solo saya terbit. Buku itu berjudul ‘Mengungkap Rahasia’  Sebagai editor dan mengapresiasi  buku saya adalah Bunda Lilis ( Dra Lilis Herpianti Sutikno, SH) beliau adalah  seorang penulis best seller. Apresiasi editor sampai penerbitan buku adalah Ibu kanjeng (Dra Sri Sugiastuti), seorang pegiat Literasi, Bloger, Nara Sumber Penulis Nasional, Kepala SMK  dan masih banyak jabatan lain. Beliau berdua  yang jadi motivator saya.

            Terbit juga buku Solo Kedua, yaitu kumpulan resume dari pelatihan bersama group PGRI bersama Om Jay ( Wijaya Kusumah , M.Pd) Sang  blogger nasional, Nara sumber, penulis hebat, guru Labs Scholl, Motivator, dll. Judul  bukuku adalah ‘Trik Jitu Menjadi Penulis Masa Kini’. Disusul Buku solo ketiga,  Kumpulan Resume Bersama pak Naf ( Nafrizal Eka Putra, M.Pd) berjudul ‘Bangga Menjadi Seorang Penulis’. Solo Yang ke-4 berjudul ‘Dari Goresan pena Mengukir Prestasi’. Buku ini berisi tentang  naskah dan artikel yang pernah terbt di majalah, di buku antologi dan yang pernah masuk  Cerpen 30 besar even Nasional dari Kreatory.

            “Semua berawal dari Mimpi, gantungkan yang tinggi  agar semua terjadi”. Kini buku solo dan  buku antologi yang ber-ISBN dijumlahkan  sudah lebih dari 50 buah.  Saya dipercaya ibu kanjeng  menjadi kurator buku “ Pandemi Bukan Mimpi” dan buku antologi pentigraf berjudul ‘Tiga Tapak Rona Kehidupan’. Menjadi editor buku ‘Lelaki Pematik  Mimpi’ Mengendors beberapa buku  teman-teman penulis. Banyak juga teman yang pesan buku saya. Semua itu sungguh membanggakan saya. Biarlah semua  seperti air yang mengalir. Tuhan sudah atur semuanya. Kita  harus setia menjalani hidup sesuai dengan kehendakNya.

Trimakasih Tuhan, trimakasih teman, sahabat dan handai taulan yang sudah jadi motivatorku. Trimakasih pembelajaran Online ( IG, WA, fb). Semoga ini akan menjadi kenangan yang indah. Semoga buku-buku yang sudah  terbit  terus beredar  dan  bisa menginsipirasi.  Buku kami juga bermanfaat bagi para pembaca yang setia dengan literasi Indonesia. Majulah negriku dengan literasi yang berseri.

            Benar saja, ternyata  adanya pandemi,  membawa dampak yang baik. Saya jadi punya profesi baru. Jadi salah salah  pegiat literasi negeri.  Mungkin kalau  tak ada pandemi saya tidak punya  karya. Pastinya saya  hanya berkutat di sekolah jadi guru saja. Tugasnya mengajar siswa hanya  tekun membuat perangkat dan  sebagai sorang  ibu yang mengurus rumah tangga.

            Akhirnya, ini yang bisa aku ceritakan. Berliterasi saat pandemi melanda negeri. Sebagai catatan, semua kejadian dan peristiwa itu pasti ada hikmahnya bagi kita. Ada sisi negatif, tapi perlu kita menyikapi sisi positifnya. Hidup lebih bermakna jika kita isi dengan warna indahnya pelangi. Mejikuhibiniu, Merah, jingga, kuning, biru, nila dan ungu. Warna yang mempesonaku. Bisa selalu senyum setiap hari. Senyum akan membuat hati suka cita. Hati bahagia membuat kita panjang usia. Dengan umur panjang kita  bisa terus berkarya. Bisa terus mengabdi  dan rela melayani  keluarga, agama dan  tentunya abdi negara dengan setia. Kiranya bisa terus berkarya, menebar inspirasi yang mempesona untuk keabadian. Mengukir asa untuk generasi muda kita. Semoga!.

 

 

Penulis:  Ledwina Eti Wuryani, S.Pd, Asli Magelang Jawa Tengah, jadi guru di Timor Timur -+ 10 Tahun dan di NTT sejak 22 tahun yang lalu.  Seorang ibu 2 putra, Marcel dan Anto. Penulis adalah ibu rumah tangga  sekaligus  guru  Matematika  di SMA Negeri 2 Waingapu Sumba Timur. Penulis alumni SDK Kamal Pagersari, SMPK Muntilan, SMAK Stella Duce 1 Yogyakarta dan IKIP Sanata Dharma Jogyakarta. Beberapa tulisannya dimuat di Media masa, majalah dan buku. Sudah lebih  50 buku solo dan antologi  ber-ISBN yang sudah terbit. Penulis juga dipercaya jadi editor  dan penyunting buku di MBI (Menulis Buku Inspirasi) NTT yang diprakarsai oleh penulis best seller Bunda Dra Lilis Herpianti Sutikno, SH, Mengisi Endors di beberapa buku dan menjadi kurator buku  dibawah naungan bunda Dra. Sri Sugiastuti, M.Pd, (pegiat literasi Nasional, Narsum nasional, Motivator, penulis dan  kepala SMK). Penulis bisa dihubungi di surel ledwinaetiwuryai@gmail.com , ledwinaastiwi44@guru.sma.belajar.id , fb, IG dan You tube :  Ledwina Eti  dan blog  etiastiwi66.blogspot.com  HP WA 085 230 708 285 alamat rumah Jl. Trikora no: 11 RT/RW  010/003, kel. Hambala, Kec. Kota Waingapu, kab. Sumba Timur NTT.  PO Box. 87112. Quotes :  Sebuah kebanggaan Jika  hidup bisa bermanfaat dan menginspirasi  sesama.


 

Selasa, 08 Maret 2022

KOK TEGA-TEGANYA…….

 


Oleh : Ledwina Eti Wuryani

 

Panggil saja Umbu  Datuk Langgi. Orangnya baik dan dermawan. Beliau adalah  anggota DPRD selama 3 periode. Tapi saat ini beliau sudah tidak menjabat lagi. Istrinya punya karisma  inner beauty.  Walaupun suami seorang  pejabat tapi  sang istri tetap rendah hati dan suka menolong. Umi Datuk biasa dipanggil. Keluarga itu  mempunyai 4 anak, hanya 1 saja yang perempuan. Namanya masing-masing adalah : Umbu Jeffri (Uje), Umbu Brizen (Ube), Umbu Kenji (Uka) dan Tamu Rambu Reiana (Ambu Rei). Kakaknya sudah nikah semua, sisa si bungsu yang  belum Nikah.  Jumat, minggu depan  dia rencana menikah. Uka adalah  Sarjana Arsitek. Calon istrinya adalah  seorang calon dokter,  dara manis dari Malang. Putri dari Bapak Noto Prayugo  kepala  SMA Negeri di Malang.  Kedua keluarga besar sudah saling bertemu.  Mereka sudah saling sepakat  bahwa pernikahan nanti akan diadakan di Sumba dan di Jawa. Acara resepsi diadakan di Sumba terlebih dulu, dipihak laki-laki.

 

Seperti biasa,  adat sumba jika ada yang punya hajatan (pesta) biasa mengadakan acara ‘kumpul tangan’.  Acara tersebut  artinya  keluarga besar berkumpul  untuk membicarakan anggaran perhelatan  tersebut. Masing-masing keluarga punya kuajiban menyumbang untuk acara tersebut.  Bapak Umbu Datuk berjanji untuk menyiapkan 4 ekor sapi untuk lauk-pauk acar besar itu. Sebagai orang kota Umbu Datuk Langgi sejak tahun 2012 sudah menitipkan sapi sebanyak 9 ekor di kampung. Hitung-hitung sebagai tabungan saat beliau  masih menjabat anggota dewan. Sebagai pertimbangan nanti kalau  ada ‘acara’ tinggal  ambil saja. Selain  membantu kehidupan orang kampung pasti hewan itu akan beranak pinak, pikirnya. Dikota susah cari rumput dan tenaga kurang.

 

 Karena Pernikahan akan digelar minggu depan, maka Datuk Langgi  pergi ke kampung. Selain bersilaturahmi dengan orang kampung yang pelihara hewan sekalian  rencana ambil  sapi  yang sudah beliau janjikan di rapat keluarga. Jarak tempuh kota ke Tabundung kira-kira 60 km dengan medan yang lumayan sulit. Sampai di rumah bapa Tua yang memelihara sapi… rumah itu sepi sekali. Ada  anaknya laki-laki bujang yang  seorang diri. Bapaknya lagi ke hutan katanya. Umbu Datuk menunggu sudah lebih 4 jam. Tak ada tanda-tanda baik. Tak lama kemudian ada seseorang yang menghampiri Umbu Datuk. Disitu Umbu cerita maksud kedatangannya. Ternyata diluar dugaan , orang yang baru datang cerita bahwa  semua hewan  sudah habis dijual dan tak bersisa. Mereka  pake untuk main judi dan untuk biaya hidup. Umbu Datuk Langgi tak bisa  menahan  emosi. Dada terasa sesak. Jantungpun berdebar sangat kencang hampir berhenti berdetak. Dengan hati serasa teriris sembilu tekanan darah naik tak terbendung. Kebetulan Umbu Datuk punya riwayat tekanan darah tinggi. Saking tak kuasa menahan emosinya akhirnya beliau terjatuh dari bale-bale rumah.  Kejadian itu hanya berdua. Kampung sangat sunyi. Penduduk kampung sangat jarang dan berjauhan.  Persatu  km baru ada rumah. Karena lambatnya pertolongan bapak tua menghembuskan nafasnya yang terakhir. Pilu sedih kejadian itu. Umbu Datuk akhirnya dibawa pulang ke Kota dalam keadaan tak bernafas lagi. Sampai dikota betapa sedihnya semua warga yang mendengar kronologi ceritanya. Minggu depan  mau ada perhelatan besar untuk putera bungsunya dengan persiapan yang special.  Ternyata Tuhan menentukan cerita yang berbeda. Oh Tuhan…!, ternyata acara pernikahan yang akan membawa tawa kebahagiaan itu berubah menjadi deraian air mata kesedihan. Ribuan  tamu yang melayat  turut menangis sedih. Isak tangis terdengar setiap kita yang hadir. Bapa/mama besan datang dari Malang bersama calon istrinya Uka.  Mereka   pingsan di depan jenazah Bapak Datuk diikuti semua anak-anak kandungnya juga ikut berjatuhan. Semua tamu yang hadir sungguh merasa terharu dan sedih. Oh Tuhan…..  ampunkanlah orang kampung yang tega menyalahgunakan kepercayan orang baik ini. Semoga mereka dipanjangkan umurnya dan mau bertobat.

 

 

Waingapu,  7 Maret 2022

 

 

Sabtu, 05 Maret 2022

AYAHKU ADALAH TELADAN HIDUPKU

 


Oleh : Ledwina Eti

Bapak berpesan, kerjakan tugasmu dengan senang hati. Jagalah kepercayaan yang diberikan oleh atasanmu. Jalani hidup ini dengan  hati penuh ucapan syukur, hadapi dengan senyuman dan keiklasan  maka kamu akan merasakan anugerah kehidupan yang luar biasa.

 

            Kami sekeluarga tinggal di sebuah kampung kecil. Nama kampungya Gejayan, Gondowangi, Sawangan, Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Kampung udik dan  jauh dari hingar bingarnya kota. Hidup sederhana. Sejak SD hingga SMP kami ( aku dan 3 adikku) sekolah dengan berjalan kaki. Di SD jarak tempuh dari rumah 4 km, sedangkan SMP jarak tempuh dari rumah ke sekolah sekitar 7 km. Kami berjalan dengan menyeberang 2 sungai besar salah satu namanya pabelan, yang satu lagi lupa Namanya. Kami menyusuri  bentangan persawahan yang luas. Jalan dengan kaki kosong tanpa alas. Sepatu di simpan dalam tas, setelah mau dekat sekolah baru dipakai agar tak cepat rusak. Kasihan orang tua jika kami boros dan tidak bisa ikut  prihatin.

Sejak masih kecil saya pribadi  mengagumi figur  bapak yang berprofesi sebagai seorang guru. Sejak tahun 1963 – 1990 bapak mengajar di SPG Van-lith. Sekolah ber-asrama. Sebuah sekolah peninggalan Belanda. Gedungnya indah dan megah hingga sekarang.  Peserta didiknya dari seluruh pelosok Indonesia. Bahkan kepala sekolah pertama adalah Pastor Misionaris orang Belanda. Muridnya  sopan, ramah dan begitu menghormati guru. SPG kependekan dari Sekolah Pendidikan Guru. Tentunya di sekolah itu diajarkan tentang pembelajaran pedagogik, ilmu keguruan.  Saya kecil dulu sering diajak bapak ke sekolah. Saya disayang-sayang oleh muridnya bapak. Diajari menulis, menyanyi, diberi hadiah, dikasih makanan. Yah, layaknya aku dianggap  seorang murid pra-sekolah yang setia, …wkwk.  Begitu kali ya. Ya pokoknya terkesan deh  saat itu.

Bapak pergi mengajar dengan naik motor L2S butut. Tapi kami bangga. Pengalaman naik motor tua saat  itu  tak  pernah saya lupakan.  Setiap tanggal gajian pasti kami, sekeluarga diajak makan sate, gule tongseng daging kambing bu Mirah di depan terminal Muntilan. Makanan favorit keluarga kami.   Motor satu dinaiki full 5 orang, wow!!.  Seru!! Coba sudah ada foto seperti sekarang ini pasti saya dokumentasikan. Saya posting haha… Itu rutin bapak lakukan setiap bulan habis gajian. Betapa senangnya, betapa merindukannya kebersamaan  saat itu.

Bapak sejak muda memimpikan  semua anaknya sekolah  di Jogya.  Walaupun bapak tahu dan sadar bapak hanya guru dan saat itu gaji guru teramat sangat kecil. Bapak berprinsip:  Biarlah  hidup prihatin, sederhana dan pinggang diikat kencang yang penting semua anaknya bisa sarjana. Jika sudah punya ijasah sarjana artinya sudah punya SIM untuk bekerja. Bisa untuk modal  hidup lebih layak nantinya. Harapan bapak supaya hidup anaknya lebih baik dari orang tuanya. Dan yang jelas agar kelak  tak akan ada lagi yang  menuntut dan berebut warisan setelah orang tua  meninggal dunia.

      Benar saja, semua kami anaknya lulusan Jogya, dari SMA sampai  kuliah. SMA Stella Duce, SMA De Britto dan SMA Gama. Kuliah:  2 orang di UGM, 1 Sanata Dharma dan 1 Atma Jaya. Akhirnya semua kita, mantu dan  cucu juga almamater ‘Ngayojokarto Hadiningrat’.  Dua orang kuliah UGM, 3 orang di Atmajaya, anak mantu 1 UPN, 2 Sanata Dharma. Biar kami sudah  terpencar  di NTT  dan Jakarta  semua kuliah di Jogya. Ibu dan bapak yang sudah ‘sepuh’ (tua) jadi senang semua  anak cucunya semua  kumpul di saat tertentu. Semua kami  menimba ilmu di kampung halaman.

Semua warga Sudayat mengambil jurusan teknik sipil, arsitek, dokter, ekonomi dan komunikasi.  Hanya saya yang  jurusan kependidikan, yang berprofesi guru seperti bapak. Saat itu  guru adalah  profesi yang sering dihindari karena ‘kesederhanaannya’. Orang  melihat dengan sebelah mata. Teringat Figur pak ‘Umar Bakri’.  Seorang guru yang naik sepeda ontel, hidup pas pasan, penuh kesederhanaan dan dengan mencari penghasilkan  tambahan kerja serabutan demi mencukupkan kebutuhan rumah tangganya.

Bapak adalah guru di SPG , pada tahun 1990 SPG ( Sekolah Pendidikan Guru)  ditutup diganti dengan SMA ( Sekolah Menengah Atas). Saat itu ketiga adikku masih kuliah. Jelas gaji tak cukup karena  ibu hanyalah seorang ibu rumah tangga dan petani biasa yang mengelola sawah warisan dari mbah Kakung. Adik-adik saya  bisa saja  terancam DO gara-gara  uang kuliah tak bisa terbayarkan.

Rejeki memang tak salah alamat. Teman Bapak  waktu masih  sekolah di SGA (Sekolah Guru Atas) di Jogya bernama Bapak  Drs. Margono, M.Si. Beliau Pejabat di Dikmenum ( Pendidikan Menengah Umum) di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan RI. Beliau menawarkan bapak untuk  menjadi kepala sekolah di Timor Timur. Provinsi Indonesia yang terakhir. Saat itu Tim Tim masih membutuhkan Kepala sekolah dan guru. Saat yang sama, saya lulus kuliah . Bapak mengajukan  permohonan untuk saya ditempatkan di Tim Tim Juga. Benar saja, akhirnya saya diberi SK  di SMA Negeri Maliana Bobonaro Timor Timor. Bapak sebagai ‘kepala sekolah’ dan saya sebagai ‘guru biasa’. 

Selama tiga tahun kami bertugas di Maliana,  Bapak dimutasi di SMA Negeri 1  dan saya dimutasi di SMA Negeri 3 Dili, Timor Timur. Banyak cerita, sedikit suka dan banyak duka selama  mengajar di Tim Tim. Saat itu Dili adalah daerah konflik. Daerah belum aman, tentara Indonesia masih terus berjaga setiap saat. Pemberontakan-pemberontakan kecil sering terjadi hanya karena masalah kecil atau kesalahpahaman. Sebagai pendatang seperti dibuat kurang tenang dan tak nyaman menjalani kehidupan. Sering anak siswa  buat ulah. Mereka  kadang tidak menghargai guru. Gurupun kadang jadi sasaran kenakalan mereka.  Perkelaian sering terjadi antar  murid. Situasi dan kondisi membuat  hati selalu was was. Situasi sering membuat  tegang dan takut.  Tapi….namanya ‘abdi negara’  harus tetap setia dengan tugas dan tanggung jawabnya. Hidup bersama bapak serasa bahagia walau kadang terpaksa.  Senyum meringis menghadapi suasana yang sering genting. Ibu tidak bersama kami di Dili karena itu  menjaga adik-adik  yang masih sekolah dan kuliah sambil terus menggarap sawah.

Sebuah pengalaman berharga bagi Bapak. Beliau sempat  diberi tugas untuk studi banding ke Australia. Wow!!  Sebuah sejarah yang bisa dikenang oleh anak cucu. Sebuah kebanggaan bagi kami keluarga. Bapak cukup disegani saat jadi kepala Sekolah SMA Negeri 1 Dili Timor Timur. Sekolahnya maju. Pembelajarannya ala Luar negri dengan Jadwal Class moving. Kini Foto-foto kenangan saat di Austraslia, saat didatangani Menteri Pendidikan masih terpampang jelas di ruang tamu rumah di kampung.

Suamiku namanya Adi Ch. Muhu, orang NTT. Kuliah se-almamater, cuma jurusan berbeda. Dia mengambil jurusan PDU ( pendidikan dunia usaha). Setelah nikah dia  tes PNS di Timor Timur dan Lulus. Lengkaplah kami bertiga mengabdi di daerah konflik itu. Selama 9 tahun.  Berjuang sebagai abdi negara. Tulus dan iklas  untuk turut serta mencerdaskan anak bangsa. Hingga titik darah penghabisan karena akhirnya Timor Timur ‘merdeka’ dan  lepas dari Indonesia.

Benar. Tepatnya bulan September tahun 1999 Tim-tim jajak pendapat. Di Luar dugaan Pro Integrasi/ pro Indonesia  ‘kalah’. Para guru, pegawai dan warga Indonesia berarti harus ‘pulang’ ke tanah asalnya. Bapakku, Heribertus Sudayat saat itu sedang urus MPP ( Masa Persiapan Pensiun Di Jakarta). Rumah di Perumahan USINDO Comoro, rumah kos 12 kamar,  di rumah tinggal di Becora. Semuanya  kutinggalkan  beserta isinya. Kami lari menyelamatkan diri. Kami pergi mengungsi. Saat itu Dili jadi lautan api. Harta benda nanti bisa dicari, yang penting lari, daripada mati! Saya  mengungsi saya terpisah dengan suami. Kuselamatkan surat-surat penting. Ada juga kami mobil taxi,  karena tak bisa nyupir ya tinggalkan saja biar  orang yang pakai, hitung-hitung amal. Pergi hanya dengan baju secukupnya yang bisa ditenteng saat mengungsi. Beruntung saat itu bapak  sudah di Jawa karena mengurus purna bakti.  Bapak  tidak merasakan piruk pikuknya paska jajak pendapat. Bapak beruntung tidak ikut lari menyelamatkan diri. Tidak merasakan suasana pembakaran, pemberotakan yang mencekam dan  memakan korban ratusan orang. Kami  warga sipil Indonesia lari terbirit-birit cari tumpangan otto, kapal, truk, fuso ( mobil tentara) atau angkutan apapun untuk keluar dari Tim Tim.

Saat itu kami minta dimutasi di Waingapu, Sumba Timur tempat lahirnya suami. Ke- NTT tak ada container. Jadi kami hidup mulai dari ‘nol’ lagi. Beruntung masih ada surat-surat penting sebagai modal kehidupan selanjutnya. Masih bersyukur Tuhan masih memberikan nafas dan kehidupan. Masih diselamatkan. Masih bisa melarikan diri ke zona aman. Terus bersyukur untuk cinta dan berkat Tuhan. Semuanya pasti akan baik-baik saja. Biarlah itu menjadi kenangan dan sejarah hidup. Maka  kugoreskan disini dengan tinta emasku, untuk kenangan anak, cucu, cicit, cecet…… semoga kelak masih mengingat  bahwa neneknya adalah bekas korban konflik bencana.

Sejak Timtim merdeka, kami semua pulang ke Indonesia. Bapak menikmati pensiun bersama ibu di Muntilan, Jawa tengah. Saya bersama Suami di Waingapu NTT. Semua adikku terhitung sudah mapan. Syukurlah. Mereka  tinggal di Jakarta dengan kehidupannya sendiri-sendiri.  Waktu terus berjalan. Kehidupanpun  jadi berbeda.  Semua berubah  sesuai dengan   falsafah hidup Jawa “kumpul ra kumpul, sing penting iso mangan’ artinya biar kita tidak  berkumpul dalam satu rumah besar, tapi masing-masing bisa makan. Mereka masing-masing punya rejeki dengan cara yang berbeda. Tak perlu saling  mengharapkan orang lain. Selalu bisa  mandiri dan tak perlu saling merepotkan satu sama lain.

Pada Suatu hari  ibu sedang  pergi  kondangan (acara pernikahan) keluarga. Bapak di rumah sendiri. Pada suatu hari dibulan maret 2007. Bapak sementara  menonton televisi.  Tiba-tiba   gebyok rumah terlepas dari kunci kaitnya. Bruakkk!!! Terdengar bunyi sangat keras tentunya. Saking kerasnya hingga tetangga semua berdatangan.  (gebyok : Dinding papan  jati  isi ukuran 3x6 m2).  Tepat mengenai bapak yang sementara asyik menonton TV. Bapak kejatuhan benda super berat itu. Posisi ibu  tidak ada di rumah. Kejadian yang mengerikan membuat panik warga kampung yang menyaksikan. Akhirnya bapak dilarikan ke rumah sakit. Ibu tahu setelah pulang dari kondangan.  Bapak koma, tak sadarkan diri selama 4 hari.  Sejak kejadian itu bapak  pikiran terganggu. Mungkin karena  benturan yang terlalu  keras di kepala, bapak gegar otak. Sedih dan pilu kami mendengarkan kabar itu.  Setiap hari bapak hanya duduk, diam dan berdoa sampai bapak meninggal di bulan september 2009.

 Selamat jalan bapak, ibu dan anak-anak sangat mencintai bapak. Kenangan bersamamu tak kan pernah lupa hingga putus nafasku. Jasamu  terukir  indah dihatiku. Nasehatmu akan kuingat selalu.  Semua akan kami dilaksanakan dengan sepenuh hatiku.  Kami terus berdoa untuk bapak semoga bapak  sudah tenang di Sorga. 13 tahun kemudian, tepatnya tanggal 16 Oktober 2021 ibu menyusul Bapak pulang. Bapak dan Ibu sudah tenang di alam keabadian.

 Kini kami sudah hidup mandiri. Kami siap menghadapi setiap tantangan hidup yang ada. Sebuah permata tidak akan dapat dipoles tanpa gesekan, demikian juga seseorang. Kami sadar  tidak akan  ada orang yang  sukses tanpa tantangan dan perjuangan. Tetaplah semangat menjalani kehidupan, Tuhan selalu menyertai. Teruslah berkarya , semoga bisa bermanfaat bagi sesama.

 

Waingapu, 5 Maret 2022   22.07

 


Penulis:  Ledwina Eti Wuryani, S.Pd, Asli Magelang Jawa Tengah, jadi guru di Timor Timur -+ 10 Tahun dan di NTT sejak 22 tahun yang lalu.  Seorang ibu 2 putra, Marcel dan Anto. Penulis adalah ibu rumah tangga  sekaligus  guru  Matematika  di SMA Negeri 2 Waingapu Sumba Timur. Penulis alumni SDK Kamal Pagersari, SMPK Muntilan, SMAK Stella Duce 1 Yogyakarta dan IKIP Sanata Dharma Jogyakarta. Beberapa tulisannya dimuat di Media masa, Majalah dan buku. Sudah lebih  46 buku solo dan antologi  ber-ISBN yang sudah terbit. Penulis juga dipercaya jadi editor  dan penyunting buku di MBI ( Menulis Buku Inspirasi) NTT yang diprakarsai oleh penulis best seller Bunda Dra Lilis Herpianti Sutikno, SH, Mengisi Endors di beberapa buku dan menjadi kurator buku  d ibawah naungan bunda Dra. Sri Sugiastuti, M.Pd, (pegiat literasi Nasional, Narsum nasional, Motivator, penulis dan  kepala SMK). Penulis bisa dihubungi di ledwinaetiwuryai@gmail.com , ledwinaastiwi44@guru.sma.belajar.id , fb, IG dan You tube :  Ledwina Eti  dan blog  etiastiwi66.blogspot.com  HP WA 085 230 708 285 alamat rumah Jl. Trikora no: 11 RT/RW  010/003, kel. Hambala, Kec. Kota Waingapu, kab. Sumba Timur NTT.  PO Box. 87112. Quotes :  Sebuah kebanggaan Jika  hidup bisa bermanfaat dan menginspirasi  sesama.

Kamis, 24 Februari 2022

MENGGAPAI ASA DALAM KELUARGA

 


Oleh : Ledwina Eti Wuryani

 

 

Tuhan menciptakan untuk kita saling menyempurnakan  satu sama lain. Dalam pernikahan hendaknya kita  bisa saling melengkapi, saling mengisi karena saling membutuhkan. Selalu berharap agar dalam pernikahan kita mendapatkan kebahagiaan. Rela untuk selalu senyum manis romantis kepada pasangan .

 

Sebelum berkeluarga,  dalam hati saya punya kerinduan mempunyai pasangan yang seiman. Yang lebih dewasa dari saya. Pendidikan minimal sama, supaya kalau berbicara bisa nyambung. Profesi tidaklah menjadi  target. Yang penting punya pekerjaaan. Supaya nanti kalau sudah berumah tangga tidak pernah ada masalah tentang perekonomian.

            Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Hanya Tuhan yang Maha Sempurna. Jadi orang tak boleh idealis, egois. Ikuti  air yang mengalir. Kerendahan  hati dalam hidup itu  penting agar Tuhan sayang pada kita umatnya. Beberapa kali saya punya  teman dekat.  Kata bapak kalau cari suami itu harus memenuhi persyaratan : bibit, bobot, bebet. Bibit, kira-kira artinya  asal usulnya atau trah (leluhurnya). Bobot kurang lebih pendidikan atau daya nalar (pikiran) sedangkan  bebet adalah cara berpenampilan, berpakaian dan tatakrama kehidupannya. Begitulah kata bapak Sudayat almarhum, bapak kandungku.

            Denie (bukan nama sebenarnya) adalah  cowok pertama yang sempat singgah dihati. Karena dia  lanjut kuliah di seminari (calon pastor) akhirnya lewat. Yang berikut Mas Wondo, dia adalah  anak tokoh umat dari Prambanan. Seorang anak kepala desa. Cuma karena saya  tidak bisa mengikuti  gaya hidupnya saya memutuskan mundur saja.  Satu lagi orang Bali, namanya I Nyoman Alita Warma Dewa. orangnya super baik. Sebagai anak kos saya sering diberi hadiah, dibawakan makanan, orangnya tidak pelit …  wuih  saya suka. Tapi saya tidak bisa mencintai, dia beda agama. Akhirnya kandas juga.

            Setelah saya lulus PNS, saya ditempatkan di daerah konflik bencana. Tepatnya di Timor-Timur. Saya merasa  sendirian. Masih jomblo pula. Takutnya saya nanti jadi perawan tua, saya memutuskan tunangan dengan teman dekat saya. Sudah 2 tahun pacaran. Akhirnya  saya resmi punya ‘tunangan’. Saya pergi  meninggalkan dia karena saya harus  pergi melaksanakan tugas negara sesuai SK.  Betapa sedihnya saya saat itu. Saya mengajar di SMA Negeri Maliana, sebuah kota kecil di Kabupaten. Bukannya GR,  cowok bujang terlalu banyak.  Mereka punya profesipun keren-keren habis. Ada yang kepala Rumah sakit, kepala Bank, Kepala statistik, dan pegawai kantor semuanya PNS. Sedangkan saya perempuan langka. Hehe.. maksudnya tidaklah banyak wanita yang ditempatkan di  daerah konflik itu.

            Hadiah-hadiah dari para pengagum saya. Hihi… banyak. Mereka ingin berkenalan dengan saya, menawarkan diri  jadi pacarnya. Maklum,…. Saat itu  tahun 1990 Timor-Timur masih rawan.  Daerahnya belum maju. Para pegawai didatangkan dari pelosok Nusantara, dari Jawa, Sumatra, Kalimantan, sulawesi yang penting dari  luar TimTim. Termasuk dari Nusa tenggara Timur ( NTT).

            Saat itu saya  menyadari dengan sepenuh hati  , saya yang bukan siapa-siapa ini diidolakan oleh banyak orang. Dalam hati saya jadi malu sendiri. Serba perasaan. Dari pada saya jadi fikiran tak tenang akhirnya saya memutuskan memilih  satu orang untuk menjadi pendampingku, penyelamatku. Karena saya tinggal di kota kecil dan  daerah terpencil maka kalau bersuratpun sulit aksesnya. Saya LDR dengan kak Adi tunanganku. Karena surat  tidak pernah berbalas, hampir saja saya melupakannya. Orang tua menyarankan supaya tunanganku ikut ke Tim Tim, kalau tidak putuskan saja. Dilemalah aku saat itu. Waktu terus berjalan, umurku pun semakin bertambah.

            Ada teman yang tulus mencintaiku, panggil saja dia Haris. Seprofesi dengan saya. Jujur sebenarnya saya tidak bertepuk sebelah tangan. Hati tak boleh bohong, aku sudah punya tunangan. Aku tak boleh menyakiti hatinya. Benar. Kusampaikan  saran bapak padanya. Dia menyusulku di Timor-Timor. Dia di kota provinsi, yaitu Dili.  Sementara saya di Kota kabupaten. Tak apalah yang penting masih dalam pulau yang sama.  Akhirnya tepat tanggal 20 Juni 1992 saya menikah dengan tunanganku itu.

            Beruntung, suami  ikut tes PNS langsung lulus dan ditempatkan di SMKK Negeri Dili. Setahun kemudian saya  minta mutasi untuk di Dili. SK saya turun di SMA Negeri 3 Dili Timor Timur. Lengkaplah kini keluarga kecil kami. Anak pertama kami Marcel,  lahir setelah 2 tahun menilah. Menyusul anak Kedua Dwi Ananto. Dua orang saja jagoanku. Hidup apa adanya. Hidup sebagai seorang perantau yang kadang direndahkan oleh  pribumi. Tak apa. Itu sebuah resiko yang harus ditanggung.

            Hari terus berjalan, Tahunpun berganti. Selama tujuh  tahun  kami menjalani rumah tangga di kota Dili. Banyak cerita suka, duka, sedu sedan bahkan air mata yang mewarnai kehidupan kami. Kekerasan  kita lihat hampir setiap hari. Konflik antara pendatang dan pribumi sering terjadi.  Sebagai pendatang harus selalu mengalah dan tahu diri. Akhirnya, pasa bulan Maret tahun 2000 Timor Timur ‘merdeka’. Kita Warga Indonesia harus meninggalkan tanah Tim Tim . Kini status kami adalah seorang pengungsi.  Semua pro Integrasi harus keluar  atau pulang ke tanah asal.

            Bisa dibayangkan, betapa hiruk pikuknya saat itu. Kota Dili dan sekitarnya sudah menjadi lautan api. Pembunuhan terjadi dimana-mana. Suara tembakan tak henti-henti. Hati  dug dag, jantung terasa mau lepas dan rasanya ngeri.  Para tentara Indonesia dan tentara musuh berkejar-kejaran. Pembakaran rumahpun tak  bisa dihentikan. Saya lari terbirit-birit untuk menyelamatkan diri. Suami!!  dia belum  mau pergi, akhirnya saya  lari menumpang mobilnya  tetangga yang mau mengungsi.

            Beruntung kedua anakku sudah saya titipkan ke Jawa beberapa tahun yang lalu. Sebagai pengungsi kami ditampung di barak-barak.  Beramai-ramai di suatu tempat yang sudah ditentukan. Mandi, makan, tidur  ditempat yang sama. Woww!!   aromanyapun  luar biasa. Bagaimana tidak,  pengungsi se-provinsi  ditampung di lapangan. Basesak, beruntung akhirnya kami ditampung di rumah kosong. Bekas kantor yang sudah lama tak berpenghuni. Tempatnya serem. Sampahpun  setinggi gunung. Belum sarang laba-laba yang menambah ngerinya suasana tempat itu. Tapi tak apalah. Daripada di lapangan dengan suasananya panas dan tak bersahabat?!.

            Selama dipengungsian kami menunggu nasib. Menunggu SK penempatan. Oh iya,  saat itu saya belum tahu suami dimana. Kami terpisah. Untung Tuhan  Maha baik,  akhirnya kami bisa dipertemukan  dalam keadaan selamat. Hanya rumah beserta isinya sudah harus direlakan. Biarlah orang yang menempatinya. Harta bisa dicari, tapi  Nyawa??! Saat itu semua pengungsi boleh memilih dimana ditempatkan, yang penting di Indonesia. Jika orang Jawa boleh memilih di Jakarta, Semarang, Magelang, Surabaya……. Nah, teman-temanku orang Jawa yang suaminya orang luar  jawa ikut ke Jawa.

            Saat itu tiba giliranku dipanggil oleh pak Kakanwil. Aku orang Jawa, asli, suamiku orang Sumba. Saya minta supaya saya ditempatkan di Sumba ikut Suami. Pak kakanwil seolah tak percaya. Beliau melihatku dari ujung rambut sampai ujung kaki.  Dia menatapku dan penuh tanda tanya. Mbak…..  ah!!, mau tinggal di Waingapu Sumba Timur??  Dengan mantap aku menjawab. Alasanku saya sudah ada rumah sederhana di Sumba. Pejabat itu masih meragukan pilihanku. Akhirnya beliau menyarankan untuk berpikir ulang. Besok baru datang lagi. Saya mengikuti saran beliau.  Tekadku sudah bulat saya mau  ditempatkan di Waoingapu, Sumba Timur. Esok hari kami menghadap dengan suara hati yang sama dengan kemarin. Akhirnya SK saya diterbitkan sesuai dengan kemauanku.

            Dengan kapal laut Bernama ‘Dobon Solo’ kami pulang ke Indonesia, ke NTT. Dengan bekal  pakaian seadanya dan surat berharga  saya menuju ke tanah tumpah darah suami tercinta.  Sampai di Waingapu saya dan suami dijemput keluarga besar mereka. Saya terharu dengan kekeluargaan mereka. Ternyata dalam satu rumah ada 31 orang. Hati ini jadi sedih atau gembira. Aku tak tahu.... Ternyata benar, cinta  itu butuh pengorbanan. Hanya dengan doa saya bisa dikuatkan.  Saya harus  komitmen dengan  pilihan saya. Saya harus bisa lebih dewasa. Harus bisa menerima kenyataan. Tak boleh mengeluh.

            Di Timor Timur boleh dibilang semua sudah ada, rumah beserta isinya. Bahkan kendaraan (mobil dan motor) juga sudah punya. Tapi itu kita tinggalkan semuanya. Sekarang  kami mulai merayap dari nol.  Dengan beban hidup yang ekstrim. Hampir saya mau lari dari rumah. Tapi bagimana?? Ya Tuhan  berilah kekuatan dan semoga  kami dicukupkan. Saya tidak berani mengambil anakku yang di Jawa. Biarlah mereka bersama orangtuaku.

            Waktupun terus berjalan. Sebagai hiburan saya dan teman-teman  asli Jawa membuat komunitas atau paguyuban. Saya juga bergabung dengan kelompok-kelompok  dari jawa. Membuat pertemuan rutin sebulan sekali, membuat arisan. Dengan begitu akhirnya saya  tidak merasa sendiri. Saya tidak lagi merasa jadi orang yang paling sengsara di dunia .  ternyata masih ada yang lebih sengsara dari saya. Saya jadi merasa selalu terhibur dan tak sedih lagi.

            Berbekal selalu bersyukur dan dekat dengan Tuhan ternyata sungguh membuat hidup terasa ringan. Dengan banyak sahabat kita  bisa curhat. Kita bisa  menghilangkan rasa penat.  Selalu  semangat menghadapi hidup  jadi  nikmat walaupun tadinya serasa berat.

            Kini  biduk rumah tangga kami sudah 30 tahun.  20  - 2 - 1992 sampai 22 – 02 – 2022. Dua anakku sudah sarjana. Semoga mereka bisa berjodoh dengan orang baik dan bisa membanggakan keluarga. Terus menghormati dan berbakti pada orang tua. Suami juga  sudah pensiun per tanggal 28 Oktober 2021. Saya masih lima tahun lagi. Harapan dan doaku semoga saya  masih bisa naik pangkat satu level lagi.  Bisa terus menulis dan menginspirasi. Suatu kebanggaan jika bisa bermanfaat bagi sesama.

            Tak perlu menjadi  ‘unicorn’. Cukuplah dengan kemampuan kita sendiri. Jadilah diri sendiri dan jangan bosan untuk terus belajar.  Dalam mengisi hidup ini banyak cerita.  Banyak  kenangan indah dan  juga kenangan pilu yang menyakitkan. Sulit untuk dilupakan, Indah untuk dilukiskan. Kiranya Tuhan terus dan senantiasa  mendampingi, melindungi dan memberkati kami dalam untung dan malang. Semoga!

              

           

Jumat, 18 Februari 2022

Endor Buku Ibu Yosefina Klau

 

Puisi adalah seni memotret kehidupan dengan kata-kata. Larik – larik puisi adalah untaian kata indah, tak ubahnya nada-nada lagu  pengisi jiwa yang hampa. Bait  demi bait yang di tulis oleh Bunda Yosefina ini memotret  dengan tajam berbagai pemikiran, perasaan bahkan  curahan hati.

Hidup ini bagai  merangkai kata, menjalani cerita .  Hidup manusia   juga punya kuajiban untuk   melewati berbagai kisah. Ada suka cita, kegembiraan. Ada duka cita bahkan  sedu sedan  tangis dan air mata. Itu akan selalu dialami oleh setiap kita.

Menulis itu mudah. Semua orang bisa menulis.  Tapi tak semua orang  berani menulis.  Berbanggalah  kita sudah bisa menjadi salah satu dari orang  yang ‘berani’  menulis. Apalagi   sudah bisa menunjukkan karya kita,  buku solo kita. Wow!! Akan ada kebanggaan  tersendiri  yang  sulit diungkapkan dengan kata-kata.  Kita sudah bisa andil dalam berkarya, jadi pegiat literasi Indonesia. Biarlah  karya kita jadi  kenangan jika kelak kita sudah tiada.

Kini seorang ibu guru  Yosefina  Hoar Klau, S.Pd  sudah membuktikan karya terbaiknya.  Buku solo  kumpulan puisi yang berjudul “GELORA PAGI”. Proficiat Bunda!!. Engkau adalah sahabat terbaikku. Motivatorku. Dimana saya  merasa  sudah kenal lebih dari puluhan tahun  walau sejatinya belum pernah  bertatap muka. Trimakasih saya ucapkan, berkat berteman lewat  WA Group  Agupena saya jadi banyak kenal para penulis hebat NTT. Bunda Lilis, Pak Thomas, Pak Yolis, Ibu Lily,  Pak Adri, Ibu Mul, Pak Sahat, Ibu Fien dan masih banyak lagi.. Kami terasa dekat, terasa akrab  hingga bisa saja  curhat walau tak pernah saling lihat.

 Bu Fien adalah pegiat literasi, seorang  penulis hebat, seorang moderator andalan agupena NTT.  Berkat sang motivator  andalan kami ‘ Bunda Lilis Sutikno’ kini  kami jadi berani menulis.  Kini ibu Fien sudah melangkah lebih maju, sebagai  penulis  buku solo. Semangat  bu Fien tak pernah redup  untuk berkarya dan menginspirasi. Sebagai penulis berkeyakinan dengan menulis  akan membuat kita naik kelas.

 Dalam kumpulan puisi di  buku ini, kita akan diajak  oleh  ibunda Yosefina Klau merenungi makna kehidupan. Suguhan puisi ini sungguh menarik hati,  hingga saat membaca terbawa emosi.  Di setiap lembarannya  penuh ilusi.  Kata-katanya  indah.   Kalimatnya  tertata  rapi.  Dari  membacapuisi-puisinya terasa  sejuk   menyentuh  hingga ke hati.

Anda  Penasaran?  Tak akan kecewa mengoleksi  buku ini.  Turut bangga  lho bu Fien telah menjadi penulis sejati. Terus berkarya bunda!!   sukses terus ke depan.  Semoga  buku ini dapat mewarnai dunia literasi yang sedang kita  perjuangkan  bersama. Mari kita saling bergandengan tangan. Kita saling memotivasi. Bersama-sama terus menulis setiap hari,  semangatkan diri  untuk Gerakan Literasi Nasional (GLN)!.  Semangat untuk  Literasi  Agupena  NTT!.  

Kita semua menunggu  karya buku solo Bunda Fien berikutnya. Salam literasi,  Maju terus Literasi Indonesia! 

 

Ledwina Eti,

Guru SMA Negeri 2 Waingapu, NTT

Penulis dan pegiat literasi.

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...