Minggu, 08 Mei 2022

A1. GURU NGGIKU

 


Pentigraf  ( Cerpen Tiga paragraf)

 

Pak guru Nggiku  adalah seorang  ASN.  Dia  mengajar di SD Inpres Waingapu 2. Umurnya kini sudah  jalan  50 tahun. Badannya kekar, perawakannya  tinggi.  Kulitnya agak sedikit gelap tapi orangnya manis.  Usaha istrinya buka  salon.  Laris manis, apalagi kalau acara   wisuda atau karnaval.  Dari pagi hingga malam kerja merias nonstop. Di benaknya punya semboyan adalah time is money. Waktu adalah uang, jadi hanya duwit, duwit, duwit saja tanpa memikirkan yang lain. Dia sudah jadi hamba uang.

 

Keluarga  Nggiku itu berkatnya banyak tapi tak pernah saya lihat  pergi ke gereja atau ikut kegiatan  gereja. Hari-hari hanya  cari duwit saja. Saya sebagai  pengurus lingkungan  sering mengajak untuk bergabung berdoa, mereka selalu beralasan.  Bahkan untuk doa di rumahnya saja  dia keberatan dengan berbagai alasan.  Apalagi  jika  dimintai untuk  membayar iuran gereja, susahnya minta ampun. Suatu saat  kami pengurus inti , 4 orang datang ke rumah untuk mengajak rapat.  Dia berjanji untuk datang.  Ehh!! ternyata tidak datang juga.

 

Tiba-tiba  guru Nggiku  mendadak stroke, tangannya kiri  tak bisa digerakkan. Mulutnya miring.  Terpaksa guru Nggiku dituntun istrinya kalau  jalan.  Kadang dia jalan harus pakai tongkat.  Kulihat ternyata sekarang dia sudah sadar. Dia pergi ke gereja.  Setiap Minggu dia ke gereja walaupun pakai tongkat. Benar saja, pasti  dia sudah  ada ‘panggilan’ dari Tuhan.  Dengan sakit stroke seolah Tuhan mengingatkan dia untuk rajin beribadah. Syukurlah dia bisa sadar untuk kuajibannya sebagai umat beriman. Kini Umbu Nggiku berangsur sembuh, Salam Damai. Selamat Hari minggu.

 

#70harimenulis

#siapataujadibuku

#challenge - 1

#Rumah literasi PMA

#LedwinaEtiWuryani 

 

Menulis Sebagai Pengalaman Spiritual – 5

 


.

Oleh : Cahyadi Takariawan

“You want life in your writing, you want to feel the words come out of you. You want there to be no doubt that this is what you need to be writing, in this place, at this moment of time” –Jordan Brown.

.

Menciptakan pengalaman spiritual, bisa dilakukan dengan banyak kegiatan. Salah satunya adalah melalui aktivitas menulis. Jordan Brown (2018) merekomendasikan beberapa langkah untuk menghadirkan pengalaman spiritual melalui aktivitas menulis. Langkah pertama sampai ketiga, silakan simak pada postingan sebelumnya.

Langkah Empat: Pahami Kebutuhan Segmen Pembaca Anda

“You need to get through the stuff you think everyone wants to read so you can get to the stuff that you know everyone wants to read” –Jordan Brown.

Sebenarnya, menulis membuat Anda terhubung dengan pembaca. Tahukah Anda siapa pembaca Anda? Tahukah Anda, apa yang menjadi kebutuhan pembaca? Jika Anda tidak mengetahui siapa pembaca Anda, dan apa kebutuhan mereka, lalu bagaimana Anda bisa terhubung?

Untuk itulah, setiap kali menulis, Anda harus menentukan terlebih dahulu “who” dan “do”. Anda harus menentukan “who”, siapa segmen yang diharapkan membaca tulisan Anda. Apakah remaja, atau mahasiswa, atau ibu-ibu muda, atau kelompok profesional muda, atau kalangan santri, atau yang lain lagi? Setiap segmen pembaca, memiliki kebutuhan yang berbeda.

Setelah menentukan “who”, berikutnya Anda juga harus menentukan “do”, yaitu apa yang Anda harapkan terjadi pada pembaca setelah mereka selesai membaca tulisan Anda. Ini menyangkut tujuan, untuk apa Anda menulis? Perubahan apa yang Anda harapkan terjadi melalui tulisan?

Saya ambil contoh, biar mudah membayangkan. Saat menulis buku “Wonderful Mertua dan Menantu” tahun 2021 lalu, segmen yang saya tuju adalah keluarga muda (sebagai menantu) dan orang-orang tua (sebagai mertua). Dalam satu buku itu, saya sedang berbicara kepada dua pihak yang berbeda. Itu yang disebut sebagai ”who”, yaitu segmen pembaca yang saya harapkan.

Setelah mereka membaca buku tersebut, saya berharap menantu bisa menghormati dan berbakti kepada mertua. Sedangkan mertua bisa menerima dan menyayangi menantu sepenuh hati. Saya berharap, para menantu menjadi menentu yang dibanggakan mertua; dan para mertua menjadi mertua yang dirindukan menantu. Ini yang disebut sebagai “do”, yaitu harapan perubahan setelah membaca buku.

Bagaimana Cara Menyapa Pembaca?

“The best way for your audience to understand you better is to speak to them as if you are talking to them one on one. This makes it easy for them to understand what you are saying” –Hephzy Asaolu, 2016.

Masalahnya kemudian, bagaimana cara berbicara dan menyapa pembaca? Bagaimana agar tulisan kita bisa terhubung dengan pembaca? Masing-masing penulis akan memiliki pengalaman yang berbeda.

Hepzhy Asaolu, seorang bloger produktif menyampaikan tips sederhana untuk menyapa pembaca. “Cara terbaik bagi pembaca untuk memahami Anda lebih baik adalah, ketika menulis bayangkan seolah-olah Anda sedang berbicara dengan mereka satu demi satu. Ini memudahkan pembaca untuk memahami apa yang Anda tuliskan”, ujar Asaolu.

Cara inilah yang selalu saya terapkan selama ini. Ketika menulis bagian untuk menyapa para menantu (dan calon menantu), saya membayangkan sedang duduk bercengkerama dengan pasangan keluarga muda. Seakan saya sedang mengobrol dengan mereka, bertanya dan mencoba memahami kondisi mereka. Selanjutnya saya menulis setelah mengerti kondisi yang mereka hadapi.

Demikian pula ketika menulis bagian untuk menyapa para mertua (dan calon mertua), saya membayangkan sedang duduk bercengkerama dengan pasangan keluarga yang sudah berusia limapuluhan tahun ke atas. Seakan saya sedang mengobrol dengan mereka, bertanya dan mencoba memahami kondisi mereka. Selanjutnya saya menulis setelah mengerti kondisi yang mereka hadapi.

Namun saya juga melakukan riset sederhana. Saya benar-benar bertanya kepada para menantu, apa harapan mereka terhadap mertua, berdasarkan pengalaman interaksi selama ini. Saya bertanya melalui akun instagram dan facebook, sebelum memulai menulis buku. Alhamdulillah, ada empatbelas menantu yang memberikan respon melalui akun medsos saya.

Demikian pula saya bertanya kepada para mertua, apa harapan mereka kepada menantu, berdasaran pengalaman selama ini. Dari jawaban para mertua ini saya mendapatkan gambaran tentang kondisi hubungan, perspesi, serta harapan mertua terhadap menantunya.

“Anda ingin hadir dalam tulisan Anda. Anda ingin merasakan kata-kata keluar dari jiwa Anda. Anda ingin tidak ada keraguan bahwa mmang hal inilah yang Anda butuhkan untuk menulis, di tempat ini, pada saat ini. Begitulah cara Anda mengetahui bahwa Anda terhubung dengan pembaca”, ujar Jordan Brown.

Tentu saja tidak semua orang akan tertarik dengan tulisan Anda. Kita tidak mungkin membuat semua orang menyenangi apa yang kita tuliskan. Ini adalah harapan yang mustahil. Maka wajar saja jika ada orang yang mencibir dan tidak suka dengan tulisan yang kita hadirkan. Tidak masalah.

Namun ketika Anda menulis dan merasakan terhubung dengan pembaca, ini adalah pengalaman spiritual yang mengesankan. Anda tidak berada di ruang hampa. Anda tidak sedang membual berbusa-busa tanpa makna. Namun Anda tengah memberikan kebermaknaan bagi para pembaca Anda.

Pengalaman Spiritual – 6

 


.

Oleh : Cahyadi Takariawan

“It’s not until we are lost that we begin to understand ourselves” –Henry David Thoreau.

.

Menciptakan pengalaman spiritual, bisa dilakukan dengan banyak kegiatan. Salah satunya adalah melalui aktivitas menulis. Jordan Brown (2018) merekomendasikan beberapa langkah untuk menghadirkan pengalaman spiritual melalui aktivitas menulis. Langkah pertama sampai keempat, silakan simak pada empat postingan sebelumnya.

Langkah Lima: Menulislah dengan Semua Potensi yang Anda Miliki

“I found myself constantly asking myself what I was hearing internally. Sounds are not always external buzzes and bangs—sometimes they come in the form of thoughts and voices. Some of those sounds are truths and some are lies” –Kellie McGann.

Menulis bukan sekedar menuangkan kata-kata ke dalam kertas atau halaman kosong. Menulis melibatkan semua potensi yang Anda miliki. Spiritual, emosional, intelektual, pengalaman, kebijaksanaan, kegagalan, keberhasilan, perjuangan, dan semua hal yang telah menempa kehidupan Anda selama ini.

Demikian pula potensi inderawi yang Anda miliki. Semua adalah pintu bagi Anda untuk mendengar, melihat, merasakan, mengerti, dan memahami. Menulis bukan hanya menggerakkan jari-jari di atas keyboard, bukan hanya memilih tombol huruf demi huruf, dan menuangkannya menjadi kata, kalimat serta paragraf.

Menulis melibatkan semua potensi yang Anda miliki untuk terhubung dengan pembaca. Anda tengah hadir di tengah pembaca dengan beragam potensi. Pembaca tidak hanya menemukan kata-kata. Mereka menemukan jati diri Anda. Mereka melihat, mendengar dan merasakan –melalui aliran kalimat demi kalimat dalam tulisan yang Anda hadirkan.

“The beginning of human knowledge is through the senses, and the fiction writer begins where human perception begins” –Flannery O’Connor.

Menggunakan semua potensi indera dalam proses menulis sangatlah penting. Sebab, “Awal pengetahuan manusia adalah melalui indera, dan penulis fiksi memulai dari titik di mana persepsi manusia dimulai”, ujar novelis Flannery O’Connor. Penglihatan, pendengaran, penciuman, perabaan, indera perasa, dan semua yang menjadi kehidupan manusia sehari-hari—menjadi titik penting untuk disentuh.

Kellie McGann menyatakan, ”Saya mendapati diri saya terus-menerus bertanya pada diri sendiri, apa yang saya dengar secara internal”. McGann bertanya suara-suara apa yang ada dalam jiwanya. Ia berusaha mendengar dalam keheningan, agar bisa menemukan suara dari dalam dirinya sendiri. Seperti ungkapan Rumi, “Semakin senyap dirimu, semakin mempu mendengar”.

“Bunyi tidak selalu berupa dengungan dan dentuman eksternal”, ujar McGann. “Terkadang bunyi datang dalam bentuk pikiran dan suara jiwa. Beberapa dari suara itu adalah kebenaran dan beberapa lainnya adalah kebohongan”, lanjutnya.

Ini adalah cara melibatkan indera pendengaran untuk menghasilkan. Bukan sekedar bunyi-bunyian, bukan sekedar suara yang terdengar nyaring dan memekakkan telinga. Namun ada suara-suara dari dalam jiwa. Suara-suara yang terdengar dalam diri kita di saat hening. Saat di mana kita masuk ke dalam diri kita sendiri di tengah keheningan, untuk menemukan kesejatian.

Membiarkan Jiwa Bicara

“Putting your words to the discovery is a gift that only you can provide” –Jordan Brown.

Saat kita mampu melibatkan semua potensi yang kita miliki untuk menulis, akan tercipta pengalaman spiritual yang menyenangkan. “Saat mengetik kata-kata ini, saya baru menyadari bahwa saya sedikit berkeringat”, ujar Jordan Brown. “Saya tidak menyadari sebelumnya. Agak memalukan memang, tapi tidak juga”, lanjutnya.

“Berkeringat” adalah pertanda kesungguhan. Kerja yang bersungguh-sungguh bisa membuat kita berkeringat. Makan yang bersungguh-sungguh bisa membuat kita berkeringat. Olahraga yang bersungguh-sungguh bisa membuat kita berkeringat. Demikian pula menulis yang bersungguh-sungguh, bisa membuat berkeringat.

Ketika menulis berusaha untuk mengungkap suara jiwa, membuat kita berpikir secara mkendalam. Juga merasakan secara mendalam, untuk mendapatkan suara-suara dari dalam jiwa. “Menggali lebih dalam untuk menemukan kata-kata yang menggambarkan kebenaran batin adalah kerja keras”, ujar Brown.

“As I type these words I just noticed that I’m slightly sweating. I didn’t notice it before. It’s kind of embarrassing, but it’s also not. Digging deep for the words to describe inner truth is hard work” –Jordan Brown.

“Saya merasa kehilangan diri sendiri dalam prosesnya, tetapi kemudian menemukan kembali pada apa yang berhasil saya gali”, ungkap Brown. “Seperti yang pernah diungkapkan Henry David Thoreau, ‘Tidak sampai tersesat, kita mulai memahami diri sendiri’”, lanjut Brown.

Dalam diri manusia selalu ada tarikan ke arah kebaikan, dan ada tarikan ke arah keburukan. Kita bisa memilih, ke arah manakah kita akan mengalir? Pun dalam menulis, ada ajakan membuat konten viral, ada ajakan membuat pernyataan kontroversi demi meraup royalti, ada ajakan untuk membangun ruhani, dan sangat banyak ajakan lainnya. Tinggal kita yang memilih, ikut ajakan yang mana.

Dengarkan suara terdalam pada jiwa Anda. Benarkah semata-mata kekayaan dan popularitas yang Anda inginkan dari menulis? Benarkah hanya efek likes, comments and shares (LCS) yang Anda harapkan? Benarkah hanya meriahnya tepuk tangan dan pujian dari jutaan fans yang Anda tunggu-tunggu? Benarkah hanya bertambahnya jutaan follower yang Anda impikan dari tulisan?

Dengarkan suara terdalam pada jiwa Anda. Lalu kerahkan semua potensi yang Anda miliki, dan menulislah. Sapalah pembaca Anda dengan sepenuh jiwa, melalui tulisan.

Menulislah dan Biarkan Tulisanmu Menemukan Takdirnya Sendiri

 

 




Judul di atas merupakan petuah bijak yang saya peroleh dari Om Jay serta dari hasil mengikuti Pelatihan Guru Motivator Literasi Digital dan Pelatihan Menulis binaan Om Jay serta PB PGRI. Kegiatan tersebut sangat menarik juga barmanfaat untuk pengembangan diri khususnya yang berprofesi sebagai seorang guru.


Banyak lagi petuah-petuah bijak lainnya yang saya dapatkan. Mengutip dari mantra ajaib Om Jay, "menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi". Hal tersebut memang benar sekali. Dengan menulis dapat memuaskan hobi, menyalurkan kreatifitas, menuangkan ide-ide brilian kita, bahkan dapat menghasilkan benefit.


Menulis bukanlah suatu perkara yang sulit akan tetapi juga tidak mudah untuk dilakukan sehingga banyak penulis mengalami writters's block. Sebelum kita menayangkan atau menerbitkan hasil tulisan, sebaiknya kita juga melakukan proofreading terlebih dahulu.


Banyak sekali ilmu serta istilah-istilah baru yang saya dapatkan dari pelatihan-pelatihan tersebut di atas. Anda penasaran dan ingin tahu lebih lanjut? Mari gabung di kelas-kelas PGRI pada gelombang berikutnya. Satu hal yang perlu diingat, jangan ragu dan takut untuk memulai menulis. Menulislah dan biarkan tulisanmu menemukan takdirnya sendiri. Salam literasi.


Senin, 02 Mei 2022

A3. WALAKIRI Day 3

 

Destinasi  Wisata Sumba Timur

Pernahkan Anda  menikmati  keindahan wisata di pulau Sumba Bagian Timur?  Disini Kita dapat menjumpai  ‘salah satu’ wisata terbaik di sumba  Timur.  Masing-masing tempat  wisata  Di Sumba Timur memiliki keunikan  tersendiri. Ada   wisata alam.  Ada  wisata air terjun. Ada pula wisata laut.  Semua  wisatanya menampilkan  nuansa  natural  dan alami. Pastinya  sangatlah eksotis  dan mempesona dipandang mata.

Walakiri pesona laut nan Indah dan  eksotik. Tempat ini  akan membuat kenangan yang tak terlupakan. Kita bisa mengunjungi bersama dengan keluarga,  dengan teman atau bersama orang tercinta.

Perjalanan  menuju tempat wisata akan seru dan membuat kita bersemangat. Sepanjang jalan terhias pepohonan  nan menawan.  Melewati hamparan   sabana  luas.  Disitu pula terlihat  sapi bercengkerama, bernyanyi dan tertawa menikmati alam. Masa liburan terasa berharga. Rutinitas kerja  terlupa.  Pikiran terasa ringan. Hatipun menjadi Bahagia. 















Walakiri : Rekomendit untuk dikunjungi para wisatawan. Wisata  laut nan indah dan  pohon-pohon bakau  sangatlah menawan. Lokasi  yang  eksotis  cocok  untuk berfoto ria ataupun berselfi.  Disini dapat menikmati  udara dan pemandangan yang masih sangat bersih dan asri.


Lokasi wisata  Walakiri  terdapat di desa  Watumbaka, kecamatan Pandawai kabupaten Sumba Timur , Provinsi NTT.   

                                                                                    

#70harimenulis

#siapataujadibuku

#challenge-3

#RumahLiterasiPMA

#LedwinaEtiWuryani

#10Mei2022  


Selasa, 26 April 2022

CINTA LAMA BERSEMI LAGI

 


Oleh : Ledwina Eti Wuryani

 

Suatu hari teman dekatku Yohana Tanti telpon ke aku. Dia telpon bisa sampai 2 jam. Tanti curhat tentang suaminya. Dia sudah lima tahun menikah, sampai sekarang belum dikaruniai momongan. Dia cerita bahwa suaminya sering melakukan KDRT. Suaminya suka memukul, minum-minum dan pulang malam. Sedih saya mendengar curahan hati Tanti.

 

            Suaminya memang seorang  sarjana. Dia anak manja dan  mungkin karena kurang perhatian dari orang tua dimasa kecilnya. Bahkan menurut  kabarnya dia pernah  mengkonsumsi  narkoba.  Tanti dari  keluarga  religius, orang tua keduanya adalah tokoh gereja. Memang sih  dari keluarga  sederhana.  Bapak Tanti guru SD dan mamanya ibu rumah tangga. Mereka  dihormati  oleh warga sekitarnya, Sudah 3 kali  Hanis,  suami Tanti ikut tes  CPNS tapi tak pernah beruntung. Yah, nasib belum berpihak padanya. Tanti hanya kuliah PGSD di Universitas Terbuka UPBJJ Kupang. Dia dapat beasiswa lantaran Indeks Prestasinya bagus. IP komulatif 3,8. Lebih beruntung lagi ia dapat beasiswa untuk ikut wisuda di Jakarta. Woww..!  keren!! Setelah wisuda tak berapa lama  ada  tes  P3K, karena otak memang encer  diapun lulus mulus. Alhamdullilah!.

 

            Kini Tanti jadi pegawai negeri. Bukannya suami tambah menghargai atau menghormati, tapi kini  suami tambah gila. Hari-hari tak pernah di rumah. Jika  di rumah Hanis  hanya marah-marah dan minta uang. Tanti tidak bisa menasehati. Dia hanya bisa  menangis saja. Tanti tak berani lapor pada orang tuanya apalagi  bapak/mama mantunya. Suatu saat Tanti ingat mantan pacarnya dulu, Ridwan. Orangnya baik, setia dan pengertian. Gara-gara Tanti dijodohkan dengan Hanis akhirnya dia harus meninggalkan Ridwan. Iseng-iseng dia chat ke Ridwan. Ternyata langsung ada Jawaban dari Ridwan. Hati bergetar antara gugup dan takut.  Hallo  sayangku…. Tantiku tercinta. Aku masih merindukanmu terus menerus. Cintaku tak pernah pupus. Hanya dirimu yang selalu dihati sampai aku mati. Tanti tersenyum bangga. Ia merasa tersanjung dan begitu berharga. Hidung kembang kempis. Hati berbunga-bunga. Burungpun  seolah ikut gembira ria  dengan menunjukkan  kicauannya yang bersautan.  Tanti jadi teringat kenangan-kenangan indah saat bersama Ridwan. Ia tersenyum sendiri setiap ahri.  Sejak itu ia merasa jadi orang yang paling bahagia. Tanti chat sama Ridwan, “ Kutunggu engkau di tempat yang dulu”.

 

Radamata, ruang XVI US 2022

TAK KUSANGKA

 


Oleh : Ledwina Eti Wuryani

 

 

 

Lakji adalah bunga desa di kampung Lamerib. Begitu lulus SMK ia sekarang di rumah saja. Benar saja karena  dia orang berpendidikan tak jarang  lelaki yang ingin mempersuntingnya. Singkat cerita akhirnya  Umbu Behar yang  beruntung, laki-laki  yang terpilih  mendapatkan  cintanya dari Rambu Lakji. Tak pikir Panjang akhirnya  Umbu ijin orang tuanya untuk meminang Lakji. Umbu Behar selain dia sudah punya penghasilan  sebagai supir truknya Ongo Juan, dia juga sudah punya rumah walau sederhana. Yang jelas untuk  urusan finansil Umbu terhitung sudah  punya usaha dan mapan untuk ukuran orang kampung.

 

Orang  tua  dari kedua kedua belah pihak menyetui. Hari pernikahan digelar. Pesta diadakan meriah di rumah keluarga perempuan. Tamu banyak sekali yang  datang. Maklum saja dikampung  jarang ada pesta. Saat pesta  itu  yang mereka  istilahkan dengan  gantung periuk. Atau istilah  romantic, rombongan makan gratis. Seperti biasa  jika musin-misin tertentu, musin kawin para  warga  bergembira karena makan bergizi.

 

Saat pesta selesai tamupun pulang. Hati umbu Behar tak sabar menunggu saat yang dinanti-nati tiba. Malam pertama adalah malam yang paling ditunggu-tunggu bagai sang pemelai. Umbu Behar cepat-cepat masuk  ke kamar pemngantin yang dihias dengan berbagai bunga. Harum semerbak aroma melati. Sudah menyiapkan hati yang sudah menggebu, sang mempelai belum juga masuk. Enatah  buat apa Lakji di luar. Tak berapa lama Sang istripun masuk. Didekapnya  dengan penuh  cinta. Betapa kagetnya Umbu. Perutlakji  sudah buncit. Hati Umbu jagi murka. Mata  UB  memerah. Ia hampir  menampar pipi Lakji. Lakjipun akhirnya berterus terang kalau dia sudah hamil 4 bulan. Dia hamil dengan perangkat desa dikampungnya. Akhirnya…. Umbu Behar langsung keluar meninggalkan sang mempelai Wanita pergi entah kemana.

 

 

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...