Rabu, 08 Juni 2022

A33. BINAR-BINAR MATA MESYA YANG HILANG TLAH KEMBALI Day 33

 

 


 

 


 

Mentari terasa panas menyengat  saat aku menjemput anak  semata wayangku. Dia kusekolahkan  di sekolahku dulu. Itu cita-citaku waktu  masih muda. Syukurlah ia diterma. Kata banyak orang adalah sekolah  favorit di kota itu. Sekolah itu  tergabung satu kompleks dari TK hingga SMA.

Saat menjemput, aku berusaha mengikuti lorong kecil. Aku tak mau  ada orang  tahu kedatanganku. Pasti mereka akan menanggapku. Kini aku  menjada, sejak mas Tomi  meninggal  sebulan yang lalu  karena kecelakaan bersama  teman wanitanya.  Kini aku hanya bersama Mesya, hidup berdua saja. Jika  mereka mengenal baik tentang aku atau anakku pasti mereka akan bertanya, mereka akan kepo . Bagaimana aku. Bagaimana keadaanku.  Dan lain-lain. Aku lagi malas menanggapi orang, lebih baik  aku menghindar!. Bila mereka melihatku  mereka bisa saja  menggunjingkan nasibku yang sudah menjada sampai hari ini. Dilema jadi seorang janda!.

Kunanti Mesya dengan penuh sabar di  lorong kantin sekolahnya.  Sementara aku menunggu aku jadi ingat peristiwa mas Tomi waktu itu.

Waktu itu mas Tomi  sementara diperjalanan, saat menuju ke bandara hendak ke Medan untuk  tugas dinasnya. Ternyata nasib sial  ada dipihaknya,  mobil yang ditumpanginnya hancur, luluh lantak. Mungkin supirnya  ngantuk.   Mobil menabrak  tiang beton di atas trotoar. Mobil terbalik,  Sopir dan mas Tomi dan sekretarisnya tak terselamatkan!. Sedih!!. Sessaak jantung terasa di dada kalau teringat.

Aku memang teramat sangat mencintai mas Tomi.Aku juga  sangat percaya dengan kesetiaan mas Tomi kepadaku. Setiap hari libur  dia selalu bersama keluarga.  Hari-hari Minggu selalu  menghabiskan waktu di rumah. Betapa bahagianya kami saat ia masih ada. Aku selalu berdoa semoga  kebahagiaan ini  terus berlanjut sampai maut memisahkan.

Sekarang  aku hanya dengan Mesya, aku hanya berdua saja. Sepi. Bi Minah  sudah saya suruh pulang saja. Kami lakukan  aktifitas di rumah sendiri. Jika pas malas  masak  paling kita beli  sayur di jalan, saat jemput  Mesya di sekolahnya.

Kesetiaanku pada  mas Tomi jadi amblas! Blass!! . Kepercayaan  jadi hilang!.  Rasa jengkel jadi muncul!.Walau  dia sudah meninggal tapi sakitnya hati ini belum hilang. Ya!! Sakiiittt sekali sampai di ulu hati!.

Saat itu  ada telpon tak dikenal  berdering  di HPku “Selamat siang!, Apakah ini istri Bapak Tomi Saputra?!”: Suara lelaki tegas dari seberang. “ Benar, saya istrinya, Bagaimana?”: tanyaku penasaran. “Saya Heri Watimena dari Kepolisian, bu”.  Oh!, ya! , ada apa dengan suami saya pak??. Saya ingin memberitahukan kepada keluarga ibu, bahwa  pak Tomi  kecelakaan di Tol Jombor, km 2 dari terminal jombor, Jogyakarta  dan beliau meningal  di tempat bersama seorang wanita beridentitas  Merry Susanti  dan seorang supir bernama Trimo”  . “Sekian laporan kami, trimakasih!” lanjut pak polisi.

Jantungku berdegup kencang!. Hatiku terasa panas!. Kepala bagai kejatuhan besi seberat 10 kg. “ Tidak!! Tidak mungkin, Pak !!, Tak mungkin!!. Tangisku pun pecah.  Mesya  mendekatiku langsung kepeluknya dengan sangat  erat. Suami saya memang pergi  dengan  mbak Santi untuk urusan meeting katanya. Selama 3 hari. Ke Medan  bukan ke Jogya.

“Maaf bu , saya hanya memberikan informasi. Jika Ibu tidak percaya silahkan saja ke Jogya untuk membuktikan. Sekarang Jenasah ketiganya ada di RS Sarjito”: jelas  pak polisi. Aku Telpon balik kepada polisi: “Trimakasih pak, kami akan segera kesana”.

Hati saya masih dipenuhi  tanda tanya. Apalagi  dengan adanya modus penipuan yang saya dengar lewat medsos. Aku  coba telpon mas Tomi,  kutelpon-telpon ulang ternyata tidak  ada jawaban. Aku segera telpon Pak Deni, teman dekat mas Tomi.  Berulang-ulang  kutelpon, mungkin masih  berbicara  dengan orang lain. Dengan dada sesak  tetap aku  berusaha untuk terus menghubunginya.  Puji Tuhan, akhirnya tersambung.  “ Pak Deni , apa benar mas Tomi kecelakaan?!!”: Seruku  setelah dengar suara ‘haloo’ dari seberang.

Mbak Elly!!,  suara terdengar  gementar.... “ Saya turut berduka cita mbak ya. Kami di kantor  juga baru  dapat kabar dari Jogya. “Memang!, mas Tomi  dinas di jogya???” potongku. “ Dia pamit  padaku  meeting di Medan dengan  Santi sekretarisnya. Pak Deni  terdiam  agak lama dan tak menjawab pertanyaanku. Sebenarnya Pak Tomi ambil cuti 3 hari, mbak. Ku dengar bu Santi juga ambil cuti 3 hari, katanya ada urusan keluarga.  Maaf mbak.....aku tidak mengerti  juga kenapa ternyata mereka  berdua  ke Jogya. Akhirnya mereka kecelakaan,  semua  meninggal  termasuk  supirnya mbak Merry. Seluruh persendianku rontok!. Badan terasa tak bertulang!. Lemah, letih, pedih, perih di hati, campur aduk jadi satu.

Kutatap  wajah lugu anak semata wayangku. Mesya.  Kenapa keluarga kita jadi begini.  Betapa Tuhan memberi Ujian ini padaku. Sedikitpun aku tak pernah membayangkan, kebahagian keluargaku  berakhit  seperti ini. Selama ini aku mendewa-dewakan mas Tomi akan kesetiaanya. Ternyata dia jahat. Dia Jahat sekali. Kok, teganya dia mendustai aku!!. Bisanya dia janjian dengan Santi dan  berselingkuh. Ahh!! Kenapa!! Obat apa yang  sudah merasuki mas Tomi! Setan benar yang  sudah merayu mas Tomi, hingga dia  bertekuk lutut di depan wanita lain?

Kuelus rambut anakku, tak terasa  deras air mata mengalir di pipiku. Jelas kutangkap kemurungan di wajah anakku. Aku bergegas menyiapkan diri untuk  segera ke Jogya. Kuajak serta anakku.  Singkat cerita akhirnya ketiga jenasah di bawa pulang. Semua kantor yang mengurusnya. Aku   hanya  mengikuti komando  dari mereka.

Kini,  aku resmi jadi singel parent. Pendidikan  Mesya sepenuhnya adalah tanggung jawabku.  Keberhasilan  Mesya  itu tergantung aku. Haruss bisa!. Pasti bisa!.  Dipagi hari nan cerah. Saat mentari  terbit di ufuk Timur. Kubuka Jendela kamarku. Kulihat burung pipit bernyanyi. Kudengar suara ayam berkokok. Oh indahnya pagi itu.....

Aku menuju dapur untuk menyiapkan segala sesuatunya  untuk  aku dan anakku.  Sekarang aku  harus  lebih pinter-pintar membagi waktuku. Kebetulan sekolah Mesya sejalan dengan kantorku. Sebagai  staf dan gaji tak seberapa aku harus bisa mencukupkan  kehidupanku. Beruntung aku dan mas Tomi  sudah kredit rumah di pinggiran kota tempat tinggalku, walau sederhana. Hitung-hitung tidak bayar kontrak.

Jam 06.00 WIB tepat  aku dan Mesya  sudah siap  pergi. Kami  rutin berboncengan dengan motor. Bekal  makan siang sudah  siap. Di saat musin pandemi begini kami tidak boleh sembarang  makan di kerumunan. Usahakan untuk  jangan dulu  ke pasar yang banyak orang.

Mesya kelas 2 SD, pulang sekolah jam 10.00 tepat biasa ku jemput dia dan kuajak serta di kantorku. Beruntung  ada ruang  tempat anak-anak berkumpul dengan anak-anak teman sekantorku. Seperti biasa  pulang kita bersama dan sampai dirumah kami punya aktivitas masing-masing.

Seperti biasa sebelum jam  pulang aku sudah menunggu Mesya. Aku tak mau terlambat menjemputnya. Aku ingin dia tidak pernah kecewa walau papanya sudah tiada. Ku ingin dia  jadi anak yang disiplin,tegar dan mandiri.

Eh!! Terlihat Mesya sudah muncul dari  pintu  kelasnya.  Aku melambaikan tanganku.namun, mendadak  aku menjadi cemas melihat reaksinya. Ia tak bersemangat. Padahal aku  tidak lambat menjemputnya. “Kenapa gerangan, anakku ini??”: tanya dalam hatiku. Kulihat langkah lesunya menghampiriku. Jelas kutangkat kemurungan hatinya. Hemmm...  tak senyum sedikitpun untukku. Biasanya begitu  menghampiriku, ia mencium tanganku. Dia langsung nyelonong dan menarik tanganku. Aku mengikuti saja dan mengekor  dibelakangnya. Sungguh dia berbeda  dari biasanya.

Perubahan hari ini begitu membuatku cemas. Apakah ada teman yang  nakal mengganggu dia?. Apakah  dia diolok teman?. Apakah dia  merindukan ayahnya yang sudah tiada? Yach!! Pertanyaan banyak ini  sangat mengganggu pikiranku.

Haii!!, anak  mama yang paling manis. Boleh mama  bertanya padamu, nak?. Kenapa  kelihatan sedih anak mama tersayang? “Apa ada  kesalahan yang mama lakukan?”, tanyaku.  Kepalanya menggeleng, tapi air mata  menetes membasahi pipinya. Aku tahu.... pasti  ada yang tak beres hingga mendukakan hatinya. “Mesya sakit??!: tanyaku semakin  cemas.  Diapun menggelengkan kepalanya dengan malas. “ Oh, mama tahu!!,  barang kali Mesya bertengkar dengan teman ya!”, tebakku.  Mesya  masih menggeleng. “Kenapa dong???, Oh!!,...karena Mesya tak  sekelas lagi dengan Metty, Linda dan Lucy ya!”, tebakku lagi.

Mesya, mesya  kenapa??, mama jadi ikut sedih deh, kalau Mesya tidak  terus terang sama mama. Ayo dong?, Mesya  cerita?. Semoga mama bisa  membantu. “Ayo sayang, ceritakan pada mama!”, kataku padanya. “ Mama, akan dengan  senang hati mendengarkan  curahan hati anak mama yang paling mama sayangi”, kataku memohon sambil kupeluk.  “Anak mama yang paling cantik, paling pintar, mama selalu bangga padamu, nak!”, kucoba membujuk agar dia mau mengatakan unek-uneknya.

Jantung hatiku itu kulihat sesaat hanya  terdiam dan menatap lurus ke depan. Lama.....  hingga akhirnya.....

“Begini ma......”, Putri kesayangnku  akhirnya menoleh ke arahku. “ Mesya sedih karena tidak bisa masuk di kelas unggulan, kelas  2A” , kata dia berikutnya. “Kelas 2A isinya anak-anak pintar, padahal  nilaiku bagus”, kenapa aku terlempar di kelas 2B?!, Priska, Metty, Linda, Lucy, Zahra semua di kelas 2A”, protes anakku.

Aku menghela nafas, bersyukur akhirnya Mesya jujur padaku. Dia mau mengemukankan  gejolak perasaan dan kesedihannya.

‘Oh...itu ya yang jadi masalah!, trimakasih sayang.....  anakku  mau cerita ke mama” , kucium kening anakku dengan mesra. Terlihat  senyum kecut dipipinya.

“Mesya sayang, bukan berarti  masuk di kelas 2B itu anak yang bodoh!. Bukan!, sayang. Mesya jangan berkecil hati dong!, kataku memberi semangat. “Mama   selalu bangga dengan  prestasi Mesya, Nilai Mesya rata-ratanya 8,65, bagus  sekali lho. Mesya hebat!”, pujiku kepadanya.

“Tapi, kenapa Mesya tidak bisa masuk di kelas 2A?, kenapa ma?, tanya Mesya. Mungkin ada nilai meysa yang kurang ‘sedikit’ saja”, jawabku  coba menerangkan. “Nilai Mesya ada di ‘batas’ “, lanjutku kemudian. Maksudnya ternyata batas kelas 2A, nilainya 8, 67, begitu, jadi.....Mesya nanti  nilai terbaik di kelas 2B. ; “Mengerti maksud mama?” kataku. Mesya pun mengangguk-angguk tanda paham.

Hmmm...begini Mesya. Mesya  sebenarnya tergolong anak yang pintar di sekolah. Anak yang kreatif, anak yang manis, tekun dan selalu  10 besar di kelas. Aku menatap lekat Mesya. “Mesya, jangan berkecil hati duduk di kelas 2B!. Nanti tunjukkankan bahwa Mesya aslinya adalah anak pintar. Buktikan!!, Meysa belajar lebih rajin, Mesya  kejar untuk dapat Rangking 1 di kelas B, ya!! Rangking 1. Juara Satu!. Mungkin kalau Mesya  masih bersama-sama dengan teman-teman lama,  tak mungkinlah Mesya bisa rangking1.

“Oh, begitu ya ma”, bening mata Mesya menatapku. “Iyalah”, tegasku lagi. Kamu tahu.....justru sekarang ini saatnya  kamu menunjukkan jati dirimu. “saya bisa!!, saya semangat!!, kuacungkan 2 jempolku kepadanya.

Perlahan  bibir Mesya merekah,  senyumnya kembali muncul. Hal ini yang  membuat hatiku teramat sangat gembira. Syukur Tuhan, akhirnya pergumulanku ini  terjawab sudah.

‘Wah, iya ya!,  mama benar sekali! Aku akan lebih rajin belajar!!, semangaaattt!!, bola  mata anakku pun berbinar-binar.

“Jadi janganlah sedih dan kesal lagi ya sayang?! Kalau Mesya tambah tekun, tambah rajin Mesya bisa Juata pertama, Juara kelas!! Hebatt!!, mama tambah bangga dengan anak mama. Kukecup pipinya berulang-ulang tanda kami sudah menemukan solusi.

“Ya deh,ma!! Siiaappp,  Mesya akan buktikan!!, Mesya rangking satu di kelas baru 2B”, katanya dengan  penuh semangat. “Begitu!!, kutunjukkan 2 jempol tanganku  lagi padanya.

“ Yeesss!! Yess!” kerlip bola  mata Mesya begitu berbinar-binar bagai bintang kejora. ‘mama hebat, mama tahu yang Mesya pikirkan!, terimakasih mama!!,  kata mesya sambil mencium ke dua pipiku. “ trimakasih juga sayang”, jawabku penuh  semangat dan suka cita yang tak terkira.

Aku menghela nafasku. Hatiku benar-benar lega. Hati benar-benar  terasa ‘plong’. Satu masalah  terselesaikan. Aku percaya, setiap masalah pasti bisa  diselesaikan. Jangan ada masalah yang  ditunda-tunda penyelesaiannya. Semua masalah pasti ada jalan keluarnya. Aku bahagia hidup bersama putri tunggalku. Selalu optimis.

Sungguh!! Aku mengakui,  jadi ibu sekaligus ayah tidaklah mudah. Tapi aku akan berusaha. Aku akan berjuang untuk masa depan  anakku semata wayang. Sepanjang kita berjalan bersama Tuhan, semua akan baik-baik saja.  Aku selalu mengandalkan Tuhan  dalam kehidupan. Itulah kebahagiaann hidupku.

 

#70harimenulis

#siapataujadibuku

#challenge - 33

#RumahLiterasiPMA

#LedwinaEti  

#WaingapuKami9Juni2022

 

 

 

 

 

Senin, 06 Juni 2022

A32. ASA SANG PENULIS PINGGIRAN Day 32

 

 

ASA SANG PENULIS PINGGIRAN

Oleh : Ledwina Eti

 

Setiap manusia  pasti punya bakat

Tapi apakah dia punya minat

Apakah dia mau berbuat?

 

Bakat pembawaan  lahir

Perlu digali janganlah kikir

Dipelajari, diminati dan dipikir

Agar generasi berikut ikut mengukir

 

Jadi penulis yang utama adalah kemauan

Ada daya dorong untuk semangat melakukan

Dengan naluri, nurani sendiri  dan  kesadaran

Berusaha untuk mencoba memanfaakan pikiran

Bertindak bijak membuat karya  untuk kebaikan

 

Berani  tebar pesona  sampai dengan cinta yg sejati

Bakat dan minat perlu dilatih dengan sepenuh hati

Tunjukkanlah karya dan tulisan supaya bisa diminati

berbaik hatilah, suka menginspirasi agar dihormati

Berikanlah karya yang terbaik   agar selalu dinanti

Terus menulis, semangat dengan harapan pasti

 

Dunia & isinya sungguh amat sangat menarik

Untuk mencari ide menulis karya terbaik

Juga buku  untuk referensi bisa dipetik

Ada suka duka juga hati  tercabik

 Perlu fokus, jangan bolak balik

Agar senang dan imun naik

 

Jika salah segera dibenahi

Aturan menulis perlu dipatuhi

Bersyukur kelak ada berkat ilahi

Sehingga oleh Tuhan rejekinya dilebihi

 

Ayo! Sahabat-sahabat ku  hebat

Tulis apa saja dengan penuh semangat

Jangan takut salah yang penting bermanfaat

 

#70harimenulis

#siapataujadibuku

#challenge - 32

#RumahLiterasiPMA

#LedwinaEti

#Rabu,8Juni2022

 

 

 

 

 

 

A31. Belajar Berpantun Day 31

 

Kita senang bermain pantun
Hati  riang  dan gembira
Kita ucapkan selamat ulang tahun
Semoga selalu bahagia
 
Membajak tanah dengan kerbau
Pak tani kerja sekuat tenaga
Kenapa hati jadi risau
Karena jodoh entah dimana
 
Dapat gelang di kebun orang
Terus dipakai walau sudah karatan
Siapa yang suka buang sampah sembarang
Dialah pacarnya orang hutan
 
 
Berjalan jumpa penjual jamu
Aku  beli bukannya  meminta
Setelah lama aku menatap kamu
Aku terpesona dan jatuh cinta
 
Jaman sekarang orang jarang baca koran
Tapi sukanya ber fb dan chattingan
Ini group WA  atau kuburan
Kok sepi aku koment tak ada balasan
 
Ada burung di dalam sangkar
Burung terlepas susah nangkapnya
Untuk apa kita bertengkar
Nanti susah tak ada untungnya
 
Pagi  hari sudah tanam bawang
Ada ular naga yang berkelat kelit
Ada saja orang  suka berhutang
Giliran diminta selalu berkelit karena pelit
 
 
Langitnya indah berwarna biru
Hati rindu ingin ke Mekah
Hormatilah semua guru
Agar kamu mendapat berkah
 
 
 
Agnes Monika  action elok bergaya,
Cantik wajah dan indah berseri,
Mari satukan jiwa Indonesia Raya,
Sebagai warga setia anak  negeri
 
 Enak makan nasi lauk ikan Tenggiri,
Makan penutupnya buah Mangga,
Kita bangga sebagai anak negeri,
Jadi punya tugas melestarikan dan menjaga.
 
Pergi pesiar yang selalu kurindu,
Senang terasa sambil makan,
Berpantun terasa merdu,
Budaya bangsa harus dilestarikan.
 
 
Sekuntum bunga indah memikat,
Mekar di musim panas yang ceria,
Tebarkan senyum beri manfaat,
Bisa bersilaturahim rasa bahagia.
 
 
Tutur kata penuh hikmat
Doa dan asa  hidup selamat
Bersyukur  tiba hari Jum’at
Nikmat manusia untuk berkhidmat

 

 

Jika  ingin mengenal dunia,  bacalah  buku

Jika ingin dikenal dunia, tulislah buku

 

#70harimenulis

#siapataujadibuku

#challenge - 31

#RumahLiterasiPMA

#LedwinaEti

#Selasa,7Juni2022

 

 

 

Apa Alasan Anda untuk Tidak Menulis? (3)

 

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Apa alasan Anda untuk tidak menulis? “Saya tidak bisa menulis pada malam hari”, mungkin itu alasan sebagian orang setelah membaca postingan saya sebelumnya. Telah saya sampaikan, bahwa Zander Shores –kontributor blog menulis Medium, adalah contoh manusia malam. Semua ide, kreativitas dan motivasi dirinya muncul saat malam hari.

Anda tidak perlu menulis di malam hari. Istirahatlah dengan tidur nyenyak. Lalu bangunlah untuk menjadi manusia pagi. Mari saya tunjukkan kembali kepada Anda, betapa banyak penulis dunia yang mengalokasikan waktu pagi untuk menulis. Ini salah satu kunci produktivitas –bagi tipe manusia pagi.

Kurt Vonnegut

Kurt Vonnegut adalah novelis Amerika yang dikenal dengan novel Slaughterhouse-five. Ia terbiasa bangun pagi dan menulis di pagi hari. “Saya bangun pagi pukul 5.30, lalu menulis,” ujar Vonnegut.

“Saya menulis sampai pukul 8.00, lanjut sarapan pagi di rumah, kemudian menulis lagi sampai pukul 10.00. Setelah itu saya berjalan beberapa blok ke kota, melakukan tugas, pergi ke kolam renang kota terdekat, dan berenang setengah jam. Saya pulang ke rumah pukul 11.45, membaca surat, lalu makan siang”.

Anthony Trollope

Trollope adalah novelis Inggris terbesar di era Victoria. Di antara karya Trollope yang paling terkenal adalah serangkaian novel yang dikenal sebagai Chronicles of Dorsetshire. Ia termasuk jenis manusia pagi yang sangat disiplin dengan waktu.

Ia bangun pukul 5.00 pagi, dibangunkan oleh petugas yang digaji untuk membangunkannya dengan secangkir kopi. Setelah mencium dan menikmati wangi kopi, Trollope segera bekerja. Pukul 05.30 ia mulai menulis, hingga tiba waktu berangkat kerja ke kantor pos.

Toni Morrison

Toni Morrison adalah novelis yang mememenangi Hadiah Nobel dan Penghargaan Pulitzer. Ia mulai menulis sebelum matahari terbit. Secangkir kopi menemaninya untuk menikmati suasana pagi.

Menurut Morrison, momen ajaibnya muncul ketika suasana gelap mulai menjadi terang. “Saya selalu bangun dan membuat secangkir kopi saat hari masih gelap -pasti gelap- lalu saya minum kopi dan melihat cahaya datang”. Pada saat itulah ide-ide mulai mengalir dan ia bisa menuangkannya ke dalam tulisan.

Haruki Murakami

Haruki Murakami adalah salah satu novelis hebat di dunia, Ia mendapatkan banyak penghargaan seperti World Fantasy Award, Frank O’Connor International Short Story Award, Franz Kafka Prize, Jerusalem Prize dan Hans Christian Anderson Award.

“Saat saya dalam mode menulis untuk sebuah novel, saya bangun pukul 4.00 pagi dan menulis selama lima sampai enam jam… Saya melakukan rutinitas ini setiap hari tanpa variasi”.

Ernest Hemingway

Ernest Hemingway adalah novelis peraih Penghargaan Pulitzer dan Hadiah Nobel untuk sastra. Kebiasaan Hemingway bangun sesaat setelah cahaya pertama matahari menyentuh permukaan bumi dan langsung menuju ke kertas untuk menulis sebelum ada yang mengganggunya.

“Saya menulis setiap pagi secepat mungkin setelah cahaya pertama. Tidak ada yang mengganggu Anda,” ujarnya. Hemingway jenis manusia pagi yang tak ingin kedahuluan oleh kebisingan dan hiruk pikuk aktivitas manusia. Secepat mungkin menulis –sebelum cahaya pertama tiba.

Joanna Penn

Joanna Penn adalah penulis produktif, owner dan founder situs TheCreativePenn.com. Penn menulis serial thriller Arkane, yang telah terjual lebih dari 55.000 eksemplar. Ia juga seorang ibu rumah tangga yang mengurus suami dan anak-anaknya.

Sebelum menjadi penulis penuh waktu, Penn terbiasa bangun pukul 5 pagi untuk menulis, lalu berangkat bekerja di kantor konsultan. Sekarang, sebagai penulis penuh waktu, Penn harus lebih ketat menjadwalkan semua kegiatan harian.

John Updike

John Updike adalah salah satu dari tiga penulis yang memenangkan Penghargaan Pulitzer untuk fiksi lebih dari satu kali. Ia menikmati menulis pada pagi hari. Kebiasaan menulis pagi telah menjadi habit yang dinikmati.

“Saya menulis setiap hari pada waktu pagi. Saya berusaha untuk tetap melakukannya bahkan pada hari-hari yang membosankan,” ujar Updike. Bahkan pada hari-hari yang membosankan, Updike tetap menulis. Ini karena telah menjadi habit.

Leo Tolstoy

Leo Tolstoy adalah penulis legendaris asal Rusia, ahli fiksi realistis dan salah satu novelis terhebat di dunia yang pernah ada. Terkenal karena karyanya, War and Peace serta karya-karya besar lainnya.

Tolstoy termasuk barisan penulis pagi hari. Ia membuka pagi dengan sarapan dua butir telur rebus. Setelah itu dia mulai menulis di ruang kerja yang tertutup hingga pukul lima sore. Ia termasuk ‘pecandu pagi’, yang tak akan melewatkan pagi tanpa menulis.

Mark Twain

Mark Twain adalah novelis dan jurnalis terkenal di dunia. Karya monumentalnya adalah The Adventures of Tom Sawyer (1876) dan Adventures of Huckleberry Finn (1885).

Ia memiliki rutinitas menulis di pagi hari. Ia pergi ke ruang belajar di pagi hari setelah sarapan. Di ruang ini ia menulis sampai tiba waktu makan malam sekitar pukul 5.00 sore. Twain merasakan kegairahan pagi, dan ia tak ingin kehilangan momentum pagi tanpa tulisan.

Alice Munro

Alice Munro adalah penulis spesialis cerita pendek asal Kanada yang memenangkan hadiah Nobel. Ia menulis pada waktu pagi hari, sekitar pukul delapan pagi.

“Saya menulis setiap pagi, tujuh hari sepekan. Saya menulis mulai sekitar pukul delapan dan selesai sekitar pukul sebelas,” ujar Munro.  Sebuah rutinitas yang dipertahankan dan dinikmati hingga ia menjadi penulis besar dunia.

Charles Dickens

Charles Dickens adalah novelis Inggris yang menulis A Christmas Carol dan A Tale of Two Cities. Ia menikmati menulis di pagi hari. Setiap pagi, ia mengalokasikan waktu tiga jam untuk menulis.

Hidupnya berada dalam jadwal rutin. Dickens bangun pukul 7.00, sarapan pukul 8.00, dan berada di ruang kerjanya untuk menulis pukul 9.00. Ia menulis sampai pukul 2.00 siang.

Maya Angelou

Maya Angelou adalah penulis tujuh seri autobiografi dan semuanya best seller. I Know Why the Caged Bird Sings (1970) menggambarkan kehidupan Angelou hingga usia 16 tahun. Buku The Heart of A Woman (1981) menunjukkan Angelou yang dewasa menjadi lebih nyaman dengan kreativitas dan kesuksesannya.

“Saya menyewa kamar hotel selama beberapa bulan (untuk menulis buku). Saya meninggalkan rumah saya pada pukul enam, dan mulai menulis pada pukul enam tiga puluh,” ujar Angelou.

Sedemikian nikmat mereka –para manusia pagi, memanfaatkan waktu pagi untuk berkarya. Apa alasan Anda untuk tidak memiliki kebiasaan menulis setiap pagi?

Bahan Bacaan

Apa Alasan Anda tidak menulis?

 

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

You should be playing with the kids, washing dishes, dusting light bulbs, or basically anything else besides putting words to paper. Kids grow so fast, you fear you might miss a moment, that smile, those dimpled fingers” –Jewel Eliese, 2018.

.

Apa alasan Anda untuk tidak menulis? “Saya hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa, yang sibuk dengan urusan kerumahtanggaan”, mungkin sebagian dari Anda akan menyatakan demikian. Menjadikan status sebagai ‘ibu rumah tangga’ sebagai alasan untuk tidak menulis.

Jewel Eliese (2018), seorang bloger produktif menyatakan, Anda mungkin menjadi ibu rumah tangga yang sekaligus penulis, namun menghadapi beragam jenis kendala. Seperti apa profil ibu rumah tangga yang sekaligus penulis? Eliese menggambarkan beragam kondisi ibu rumah tangga yang ingin produktif menulis.

“Ketika Anda mengunci diri di kamar mandi untuk menulis”, ungkap Janie Miller-Saylor, penulis buku The Road Yuo’ve Traveled. Menggambarkan betapa rempong urusan seorang ibu rumah tangga dalam kehidupan kesehariannya. Sampai-sampai tak ada waktu untuk menulis, kecuali di saat mengunci diri di kamar mandi.

You may be a writer mom when you lock yourself in the bathroom to write” –Janie Miller-Saylor.

Sebagian dari ibu rumah tangga yang sekaligus penulis, “berencana untuk menulis dan tidak bisa karena balita Anda muntah-muntah dan perlu pertolongan segera”. Sebagian yang lain lagi “sudah sangat lelah sehingga tidak bisa berpikir jernih untuk mengeluarkan inspirasi”. Sampai tidak memiliki “me time” karena kesempatan me time digunakan untuk menulis.

Sebagian ibu rumah tangga memiliki rasa bersalah yang berlimpah saat harus menulis. “Anda harus bermain dengan anak-anak, mencuci piring, membersihkan bola lampu, atau apa pun selain meletakkan kata-kata di atas kertas. Anak-anak tumbuh begitu cepat, Anda takut akan kehilangan momen, senyum itu, jari-jari berlesung pipit itu”, ujar Eliese.

Menjadi ibu rumah tangga, benar-benar menguras sangat banyak waktu, pikiran dan tenaga. Namun benarkan ibu rumah tangga tidak bisa produktif menulis dan menghasilkan karya hebat mendunia? Tentu saja mereka bisa, dan sudah banyak contohnya.

Ibu adalah Penulis Hebat

Being a mother has made me a better writer” –Barbara Kingsolver.

Ada banyak ibu rumah tangga yang memiliki karya mendunia. Salah satunya adalah Barbara Kingsolver. Sembilan bukunya terpilih sebagai best seller New York Times. Tentu saja ini adalah capaian yang sangat prestisius. Sangat banyak penulis dunia bercita-cita mendapat penghargaan best seller NY Times, dan Kinsolver mendapatkannya.

Penulis buku The Lacuna, Unsheltered, Prodigal Summer dan belasan buku lainnya ini, memiliki pengalaman menulis yang unik. Kingsolver mulai menjadi penulis buku saat bayi pertamanya dibawa pulang ke rumah, setelah melahirkan di rumah  sakit. Kisah ini diangkat oleh James Clear dalam blog pribadinya, “The Daily Routines of 12 Famous Writers”.

Apakah menjadi penulis sukses dan ibu rumah tangga yang bahagia merupakan pilihan? Bahwa Anda hanya bisa memilih salah satu dari keduanya? Tidak bisakah keduanya menyatu menjadi satu pribadi yang utuh –menjadi penulis produktif sekaligus menjadi ibu yang bahagia? Kingsolver akan menjawab sesuai pengalaman pribadinya.

“Menjadi ibu membuat saya bisa menjadi penulis yang baik,” ujar Kingsolver. “Saya terbiasa bangun sangat pagi. Terlalu dini. Jam empat adalah standar. Saya berusaha untuk tidak kedahuluan oleh terbitnya matahari,” lanjutnya. Tampak Kingsolver sangat disiplin dengan waktu menulis.

Sebelum matahari terbit, ia sudah bangun bahkan sudah menulis. Sebagai ibu sekaligus penulis buku, setiap hari selalu menemukan ide baru. Kehidupan di dalam keluarga bersama suami dan dua anaknya, membuat Kingsolver mendapat banyak hal yang bisa ditulis. Semua yang dilihat, semua kejadian, bisa menjadi ide untuk dituliskan.

Aktivitas kehidupan di rumah bersama keluarga, adalah bahan-bahan untuk ditulis. “Saya melakukan rutinitas itu, karena kepala saya terlalu penuh dengan kata-kata. Saya harus  mengeluarkannya. Saya hanya perlu ke meja kerja dan mulai memindahkan kata-kata ke dalam file”, ujar Kingsolver.

Sangat banyak hal berdesakan di kepalanya, ingin segera dikeluarkan. “Saya selalu bangun dengan kalimat yang mengalir deras di kepala. Ketika menuju meja kerja setiap pagi, seakan keadaan darurat yang panjang”, ujarnya. Begitulah ketika telah memiliki habit sebagai penulis. Tak ada yang perlu ditunggu.

Karena ia telah menjalani kebiasaan menulis setiap pagi, maka dirinya justru heran saat ada teman-teman yang bertanya –bagaimana Kingsolver bisa mendisplinkan diri untuk menulis? Baginya, itu adalah ritme kehidupan. Setiap pagi, selalu begitu. Seperti kebiasaan orang lain, ada yang tiap pagi joging, gowes, atau memasak. Itu sudah tidak perlu pendisplinan diri. Sudah habit yang dinikmati.

Maka ia menjadi geli atas pertanyaan ini. “Orang sering bertanya, bagaimana saya mendisiplinkan diri untuk menulis? Saya tidak dapat memahami pertanyaan ini. Bagi saya, disiplin adalah mematikan komputer dan meninggalkan meja kerja untuk melakukan hal lain”, ujarnya. Sebuah jawaban yang sangat menggelitik.

Bagi orang lain, disiplin itu artinya memaksa diri untuk menulis pada jam yang telah ditentukan. Namun bagi Kingsolver, disiplin itu adalah saat ia harus tega mematikan komputer dan meninggalkan meja menulis, agar bisa mengerjakan hal lain dalam kehidupan.

Kingsolver bisa produktif menulis, dan menghasilkan banyak karya. Di saat yang sama, ia adalah ibu yang bahagia. Bagaimana dengan Anda?

Bahan Bacaan

Sabtu, 04 Juni 2022

Apa Alasan Anda untuk Tidak Menulis? (1)

 

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

When you say you don’t have the time, what you are really saying is: Something else is more important right now than writing” –Victoria Lynn Schmidt, Ph.D.

.

Sangat banyak alasan yang dikemukaan banyak kalangan untuk tidak menulis. Salah satunya adalah, tidak memiliki cukup waktu. Ini alasan paling klasik, paling banyak, dan paling umum. Dengan mudah, seseorang menyatakan tak ada waktu untuk menulis.

Benarkah Anda tidak punya waktu? Sama sekali tidak demikian, menurut Victoria Lynn Schmidt, Ph.D. Semua manusia punya waktu yang sama, tak ada yang lebih tak ada yang kurang. Hanya saja, ada yang mampu mengelola dengan baik, dan ada pula yang tak bisa mengelola.

Sebagian orang tidak menyadari soal prioritas. Mereka ingin melakukan semua hal, tanpa memahami keterbatasan diri. Bahwa tidak mungkin kita bisa melakukan semua hal. Tidak mungkin kita bisa perfect dalam semua urusan. Semua orang pasti memiliki prioritas, disadari ataupun tidak.

Maka jika Anda merasa tidak memiliki waktu untuk menulis, bisa jadi itu adalah persoalan prioritas yang tidak Anda sadari. “Jika Anda mengatakan tidak punya waktu untuk menulis,” ujar Lynn Schmidt, “Sesungguhnya Anda tengah mengatakan: ada sesuatu yang lain lebih penting untuk aku lakukan sekarang dibandingkan menulis”.

Inilah kebenaran yang sesungguhnya. Bukan karena tidak punya waktu, namun karena Anda menganggap ada banyak hal lain jauh lebih penting daripada menulis. Pada waktu itu mungkin Anda sedang mengurus anak, sedang mengajar di sekolah, sedang gowes, sedang memasak, sedang memancing, atau sedang berenang.

Untuk itu, menurut Lynn Schmidt, “Jika semua aktivitas lain yang Anda lakukan menurut Anda lebih penting daripada menulis, maka berhentilah menyalahkan diri sendiri tentang tidak menulis, dan berhentilah membaca tulisan ini”.

Spirit Menulis di Malam Hari

So finally I decided to begin writing at night. Nights can be trickier to write for as there are more distractions. I decided if I’m committed to writing I need to take that time even if there are other things to do. My time was 10:30 PM – 01:00 Am” –Zander Shores, 2018.

Tentang waktu, mari kita bedah. Tidak ada keharusan, kapan Anda harus menulis. Semua kembali kepada situasi dan kondisi masing-masing. Sebagian penulis memilih waktu pagi hari. Ada pula yang menulis di malam hari.

Jadi, bagaimana Anda mengatakan tidak punya waktu? Bukankah Anda punya waktu pagi, siang, sore, dan malam hari? Mungkinkah setiap hari selama sepekan, 24 jam waktu Anda telah habis sama sekali hingga tak ada waktu sedikitpun untuk tidur dan untuk menulis?

Jika Anda tidak bisa menulis pada waktu pagi, coba lakukan pada siang hari. Jika Anda tidak bisa menulis pada waktu siang, coba lakukan pada sore hari. Jika Anda tidak bisa menulis pada sore, coba lakukan pada malam hari. Jika awal malam tidak bisa, lakukan di pertengahannya, atau pada akhir malam.

Zander Shores (2018), kontributor blog menulis Medium, menceritakan pengalamannya dalam menentukan waktu menulis. Ketika mencoba menulis pada pagi hari untuk blog Medium, ternyata ada sangat banyak sumbatan. Ia tidak bisa lancar menulis. Sangat sedikit kata bisa dituangkan pada pagi hari.

Zander Shores benar-benar bukan manusia pagi. Ia sangat sulit mendapatkan kesegaran saat pagi. Bawaannya selalu mengantuk sehingga membuatnya tak bisa berkonsentrasi. “Hanya ada 80 kata yang tertuang di halaman kosong saya”, ujar Shores. Ini sangat sedikit, padahal ia sudah mengalokasikan waktu yang cukup.

“Untuk menjadi seorang penulis, saya perlu meluangkan waktu setiap hari, tetapi tidak ada yang berhasil saya lakukan,” lanjutnya. “Saya dulu mencoba menjadi penulis pagi. Bangun jam 8.00, dan mulai menulis sesegera mungkin. Sebenarnya tulisan saya baik-baik saja, tetapi ada beberapa masalah,” kenang Shores.

“Pertama, saya tidak bisa berhenti tertidur di waktu pagi. Saya benar-benar bukan manusia pagi,” ujar Shores. Ini pengakuan jujur, bahwa setiap kita harus mengetahui  tipe diri kita. Apakah Anda menusia pagi? Apakah Anda manusia malam? Kapan Anda merasa optimalmenghasilkan karya? Semua darikita bisa berbeda.

Sebenarnya, Shores sudah memiliki waktu tidur yang cukup. “Setiap malam saya tidur delapan jam,” ujarnya. Namun saat pagi hari –meski sudah bangun dan berkegiatan, ia selelu diserang rasa kantuk berlebihan.

“Pada pagi hari, meskipun saya bangun, namun tidak dapat menjaga diri untuk tertelungkup ke komputer”, ungkapnya. “Di pagi hari, tulisan saya sering terlambat selesai, karena tubuh saya selalu mengajak untuk kembali ke tempat tidur”. Ini persoalan kebiasaan diri.

Namun ada masalah lain jika memaksakan menulis pagi hari. “Masalah lainnya, tulisan saya lebih lambat dan lebih membosankan”, ujarnya. Dengan kondisi tubuh tidak fit dan tidak fresh, maka Shores tidak bisa menghadirkan tulisan yang segar. Ia merasa terjebak dalam formalitas yang sangat membosankan.

“Semua yang saya tulis tampak ‘profesional’. Mungkin Anda berpikir, benarkah bisa menjadi penulis profesional hanya dengan menyetel alarm waktu?” ungakp Shores. “Yang saya maksud adalah tulisan saya terasa seperti wawancara kerja dengan petugas formal”, lanjutnya. Ia merasa sedang diinterogasi, sehingga hasilnya menjadi kaku.

Shores merasa, tulisan yang hadir di pagi hari tampak seperti sebuah wawancara yang formal, kaku dan beku. “Seperti saya sedang berbicara dengan ayah mertua”, ujar Shores. Itu yang selalu ia rasakan setiap kali menulis pada pagi hari.

Untuk itulah ia memutuskan menulis malam hari, pada tengah malam yang sunyi. Bagaimana dengan Anda? Manusia pagikah Anda, atau manusia malam?

Bahan Bacaan

A30. DOKTER Day 30

 

Dokter  Susana  adalah seorang dokter jantung di sebuah  rumah sakit  swasta di  kota Metropolitan. Suatu hari sang  dokter  harus terbang ke sebuah  kota  karena  ada tugas penting.  Dia sebagai  ketua  tim dokter dalam  membantu  orang yang sakit karena korban konflik. Dalam perjalanan mungkin ada kendala di badan  pesawat.  Tiba-tiba  pesawat harus  mendarat di bandara udara terdekat. Bu Dokter  merasa bingung. Semua penumpang turun.   Pesawat belum dipastikan kapan akan terbang lagi. Berhubung tugas penting akhirnya ibu dokter memutuskan untuk melanjutkan dengan jalan darat. Kata orang waktu tempuh  dengan jalan darat bisa mencapai sekitar 5-6 jam  dan  harus 3 kali ganti bus.  Dengan berbagai pertimbangan akhirnya ia memutuskan untuk tetap melanjutkan  perjalanannya, demi tugas dan tanggungjawabnya.    

Ternyata  jalan mulai gelap.  Ini bukan kota besar.  Suasana juga  sangat sepi.  Sebagai orang asing  di daerah  itu. Demi keamanan diri,  akhirnya  dia  berpikir untuk  pergi  lanjut esok hari saja.  Bu Dokter minta turun dari bus pedesaan itu.  Semoga dia  bisa dapat menginapan di rumah warga.  Setelah turun dari bus dia melihat  rumah yang masih menyala iapun menghampiri  rumah itu.  Dia mengetuk pintu. Tak lama kemudian pemilik rumah membukakan pintu.  Tuan rumah mempersilahkan duduk di kursi sederhana yang telah tersedia.   Dokter menyalami  dan menceritakan kepada keluarga tentang kejadiannya  hingga  sampai di rumah ini.   Beberapa  menit  mereka berbincang,   dokter melihat  anak laki-laki  yang  dipangku bundanya dan terkulai lemah.  Anak itu punya penyakit jantung sejak kelas 4 SD hingga sekarang sudah  umur 15 tahun.  Sang tuan rumah  cerita dengan deraian air mata.   Mereka katanya sudah berobat kemana-mana tapi tak juga sembuh bahkan tak ada perubahan. Biaya sudah terlalu banyak  hingga semua sudah habis-habisan. Kini mereka  tinggal di rumah kontrakan yang sederhana.  Dia   sudah pasrah,  sudah menyerah dan tak mampu berbuat banyak untuk putranya. 

Ia  hanya sisa berharap pada Tuhan  supaya memberikan kesembuhan. Siang malam mereka  berdoa mohon  Tuhan hadir dan menyembuhkan  putranya.  Dokterpun menanyakan  kondisinya dan sang ibu menceritakan   tentang perjuangannya tentang pengobatan anak semata wayangnya, Dia curhat pada  dokter “ Sekarang saya  ini sudah tak punya apa-apa’.  Banyak orang memberitahu padanya bahwa  ada  seorang  dokter  jantung hebat.  Dokter ahli jantung itu  namanya   dokter Susana. Tapi  keluarga tak punya uang lagi.  Mereka hanya berharap semoga mujizat Tuhan datang.

Benar!! Tuhan menjawab doanya, ternyata  dokter yang  datang kerumahnya adalah dokter  Susana, dokter ahli jantung hebat yang diceritakan banyak orang itu.   Dokter inilah  yang selalu disebut  dalam setiap  doanya. Kini  dokter yang dimaksud ada dihadapannnya.  Dokter Susana menangis dan terharu.  Tuhan  yang  mengantarnya  kerumah itu . Akhirnya  dokter Susana berjanji akan  menangani  Yudi  hingga  sembuh. Puji  Syukur,  tidak ada yang mustahil  bagi Tuhan. Jikalau kita selalu meyakini dan  mengandalkan Tuhan dalam segala pergumulan akan dijawab olehNya.

 

#70harimenulis

#siapataujadibuku

#challenge - 30

#RumahLiterasiPMA

#LedwinaEti

#Senin,6Juni2022

  

 

 

 

 

 

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...