Minggu, 03 Juli 2022

A59. HIDUP DAN PENGABDIAN

 

  

Di bukit karang  itu,

Dijalan bebatuan dengan penuh tebaran debu,

Aku menjalani tugas ‘pengabdianku’

Berpacu dengan waktu

Tak kenal lelah walau ada rasa sendu

 

Dari daerah konflik di Dili

Karena merdeka akhirnya dimutasi

Di kota waingapu sampai kini

Ada tangis, ada sedih dan ada juga yg menyakiti,

Ada tawa, canda dan yang membuat hati berseri.

 

Semua itu harus dilalui,

Kenangan itu akan terus terpatri dalam sanubari

Goresan pena ini sebagai bukti,

Bahwa kita pernah sehati,

Dalam kebersamaan  dan pertemanan yang sejati,

 

Kutulis dalam lembaran  ini

Semoga terus akan dikenang saat kupensiun nanti

Bahkan sampai aku tak ada lagi,

Ini karya nyata goresan penaku sebagai bukti

Bahwa aku pernah ada dimuka bumi ini.

 

 

 

 

 

 

#70harimenulis
#siapataujadibuku
#challenge - 59
#RumahLiterasiPMA
#LedwinaEti
# Waingapu, Selasa 5 Juli  2022

A60. CINTA pentigraf

 

  

CINTA

 

 

Hati indah berseri-seri

Embun basah di kulit ari

Dia datang hati menari-nari

 

Rinduku  membuat hati gundah

Senyum kecut tak bisa sumringah

Rasa ini pedih  rinduku membuncah

Rasa jantung berdebar berima indah

 

Tak kuasa hati ingin selalu berjumpa

Menatap dia oh si gadis yang cantik rupa

Senyum manis membuat tak bisa lupa

Kuingat rebahkan diri cerita nestapa

Hatiku terharu biru tak pernah alpa

 

Penuh semangat membara

Asa laksana tingginya menara

Tak runtuh jika diterpa prahara

Kan bahagia walau sejatinya lara

Oh cinta! serasa jauh dari sengsara

Selalu indah walau ada  huru hara

 

Seolah tak peduli ada hari kiamat

Lupa dengan mereka yang wafat

Walau itu keluarga atau sahabat

Yang sebenarnya duka  menyayat

Untuk ujian manusia ingat akhirat

 

Oh cinta, gengsi gila kehormatan

Jujur malu, mau tapi hanya berangan

Gejolak hati memendam kehangatan

Takut terus terang karena perasaan

 

Mau bagaimana tentang kabar

Karena waktu cinta bisa pudar

Ingat  Tuhan tempat bersandar

 

Pentigraf

 

#70harimenulis
#siapataujadibuku
#challenge - 60
#RumahLiterasiPMA
#LedwinaEti
#Selasa,5Juli2022

  

 

 

 

A59. HIDUP DAN PENGABDIAN

 



 

Di bukit karang  itu,
Dijalan bebatuan dengan penuh tebaran debu,
Aku menjalani tugas ‘pengabdianku’
Berpacu dengan waktu
Tak kenal lelah walau ada rasa sendu
 
Dari daerah konflik di Dili
Karena merdeka akhirnya dimutasi
Di kota waingapu sampai kini
Ada tangis, ada sedih dan ada juga yg menyakiti,
Ada tawa, canda dan yang membuat hati berseri.
 
Semua itu harus dilalui,
Kenangan itu akan terus terpatri dalam sanubari
Goresan pena ini sebagai bukti,
Bahwa kita pernah sehati,
Dalam kebersamaan  dan pertemanan yang sejati,
 
Kutulis dalam lembaran  ini
Semoga terus akan dikenang saat kupensiun nanti
Bahkan sampai aku tak ada lagi,
Ini karya nyata goresan penaku sebagai bukti
Bahwa aku pernah ada dimuka bumi ini.




 

 

#70harimenulis
#siapataujadibuku
#challenge - 59
#RumahLiterasiPMA
#LedwinaEti
#Selasa,5Juli2022

A58. MEMBERI IMBALAN PSIKOLOGI KEPADA ANAK

 


Membaca, melihat  di medsos tentang pembelajaran di rumah. Perlakuan orang tua terhadap putera-puterinya. Ada yang mengeluh.  Ada yang marah-marah. Ada yang jengkel. Ada pula yang  sampai menganiaya anaknya, karena  anak kurang paham maksud dari orang tua, khususnya pada pelajaran matematika. Sebagai guru jadi sedih,  bahkan miris mendengarnya.

Hasil dari  pembelajaran dari rumah (BDR)  akhirnya  bisa membuka mata kita. Melihat dengan hati dan perasaan kita. Berbagai macam karakter orang tua jadi bisa terungkap. Terlihat jelas! Bagaimana  cara menerapkan  hubungan orang tua kepada  putera-puteri kesayangannya.

Menjadi Orang tua bukanlah tugas yang harus dijalankan denganp perasaan cemas,gelisah,  takut, bingung, jengkel atau ragu. Seharusnya  kita jalani dengan perasaan penuh  suka cita, syukur dan kasih sayang. Hubungan baik antara Ortu dan anak adalah  kunci keberhasilan dalam mendidik anak.Prestasi anak di sekolah bisa tergantung dari cara orang tua mendidiknya di rumah.

Contoh konkrit:

Putri adalah salah satu siswa  dari sebuah SD favorit di daerahnya. Dia mempunyai IQ bagus, di atas rata-rata. Ayahnya  pejabat. Mamanya juga orang penting di sebuah kantor. Secara finansial mereka  dipandang sebagai keluarga ‘berada’.  Tapi  putri anak semata wayang mereka  tidak pernah semangat di sekolah. Prestasinya pun bisa di pandang ‘buruk’.  Di sekolah hanya melamun saja.

Surat panggilan dilayangkan untuk orang tuanya.  Dengan sukacita orang tuapun datang. Mereka menceritakan bahwa dia sangat menyayanginya.  “Dia akan mendapatkan ‘yang terbaik’ jika dia minta sesuatu.  Kami keluarga yang demokratis,  mandiri dan kami bahagia dalam keluarga kami”, itu kata dari orang tuanya Putri.

Kadang ortu beranggapan, jika semua kebutuhan anak dicukupkan, bahkan dilebihkan, akan membuat anak berprestasi?!. Ternyata ‘tidak!’.  Katakanlah, misalnya  sebuah hasil karya siswa berupa lukisan. Tugas sekolah, dengan serius ia membuatnya, dari guru dapat pujian dan nilainya bagus. Dengan penuh harapan , dia akan memamerkan haril karyanya ke orang tua untuk dapat ‘pujian’ berikutnya.

Begitu putri  antusias untuk ‘pamer’ hasil karyanya kepada orang tua, eh!!  ternyata orang tua, ‘cuek’. Bahkan  menyuruh dia pergi, karena orang tua lagi sibuk dan pesan untuk  tidak boleh ganggu.  Sekali, anak maklum. Dua kali kejadian sama, anak mulai sakit hati, ketiga kali  anak jengkel dan selanjutnya anak jadi frustasi atau  trauma. Akhirnya dia mendoktrinkan diri. Untuk apa saya repot-repot kerja keras. Percuma!.

Sifat alami manusia   suka menerima ‘pengakuan’ untuk hasil yang dicapainya. Sesuatu yang dibuatnya jika mendapatkan pujian pasti  ia akan semakin keras pula usahanya untuk maju. Ini yang namanya memberi imbalan psikologi kepada anak.

Bahagia sekali  guru sudah mulai mengajar di sekolah. Pandemi sudah berakhir.  Saat ini guru  sudah mengajar lagi di sekolah.  Orang tua tak pusing  lagi mengajar anak kandungnya sendiri.  Tugas  kita  (guru dan ortu)  tetap sama-sama mendidik, melatih dan mengajar anak kita dengan kasih sayang, perhatian dan penuh suka cita. Semoga anak kita selalu mendapat ‘pengakuan’ dan  imbalan psikologis dari orang tua.  Salam guru untuk orang tua.

 

 

 

 

#70harimenulis
#siapataujadibuku
#challenge - 58
#RumahLiterasiPMA
#LedwinaEti
#Senin,4Juli2022

  

 

 

 

 

 

Jumat, 01 Juli 2022

A57. JALAN KEHIDUPAN

 


 

Nikmati Hidup dengan terus bersyukur pada Tuhan
Niatkan dalam hati kita harus terus bangkit berdiri dan terus berjalan
Seribu harapan menunggu dihadapan
Hanya doa dan ihtiar  yang jadi jawaban
 
Apakah yang sudah kita syukuri hari ini?
Apakah  Kita sudah melakukan yg terbaik  beramal' hari ini?
Baik dengan: Materi,……dengan Ilmu….,
Dengan Tenaga, atau Minimal dengan
Senyumanmu  yang Tulus?

 
Bila 'Hati Kita Bersih',
Tak ada Waktu untuk:
Berpikir Licik,Curang, dengki, iri dan tinggi hati
sekalipun terhadap Orang lain.
 
Jangan memelihara kebencian atau dendam
Akibatnya :
seluruh Waktu  dan  Pikiran  kita akan habis sia-sia 
dan juga tak akan pernah menjadi  orang yang produktif  dan punya karya nyata

 
Anggaplah Kekurangan orang Lain adalah ladang pahala' bagi kita
Kita rela  Memaafkan,
Kita  doakan mereka
Ceritakan kebaikan saja dan kita jaga aibnya jika ada
 
 
Bukan Gelar, dan bukan Jabatan dan kekayaan yang menjadikan  Orang Menjadi Mulia
Tapi karakter kita yang orang lain menjadi hormat dan segan kepada kita.
Jika kualitas pribadi kita kurang baik , orang tak akan ‘menganggap’ kita.
Orang akan melihat kita dengan ‘sebelah mata’

 
Ciri Seseorang  pemimpin  yang baik  akan tampak dari
 Kematangan Pribadi,
 Komitmen kerja,  kondite dan  buah karyanya
 Serta tak boleh  lupa integrasi antara  Kata,  perbuatan  dan tingkahlakunya.

 
Jika Kita Belum bisa membagikan Harta atau Kekayaan
Tanamkan  'Contoh Kebaikan' karena Hal itu akan 'Menjadi Tauladan'.
Tak perlu menyuruh orang lain untuk berbuat Baik, sebelum diri Sendiri merasa sudah baik
Kita orang tak sempurnya, hanya Tuhan yang Maha  Sempurna.
 

 
Bila Memiliki 'Banyak Harta', maka Kita lah yang akan 'Menjaga Harta'.
Namun Jika Kita Memiliki 'Banyak Ilmu', maka Ilmu lah yang akan 'Menjaga Kita'.

 
Bekerja Keras adalah 'Bagian Dari Fisik,
Bekerja Cerdas merupakan 'Bagian dari Otak',
sedangkan Bekerja Ikhlas adalah
'Bagian dari Hati'.
 
Jadikanlah setiap 'Kritik' bahkan 'Penghinaan' yang kita terima
Sebagai bekal dan  Jalan untuk memperbaiki diri.
Kita tdk pernah tahu Kapan 'Kematian' akan menjemput kita,
tapi yang Kita tahu  adalah kematian itu pasti datang
Seberapa banyak bekal rohani yang kita Miliki untuk Menghadapinya?
Para Pembohong akan
'Dipenjara oleh Kebohongannya' sendiri.
Orang yg Jujur akan
'Menikmati Kemerdekaan' dalam Hidupnya.

 
Jatuh bangun itu biasa
Tap perlu ada yang ditakutkan
Berbuat baik itu penting
Bertingkahlakulah seolah-olah besok kita akan mati.
 
 
#70harimenulis
#siapataujadibuku
#challenge-57
#RumahLiterasiPMA
#LedwinaEtiWuryani
#Minggu3Juli2022 
 

 

A56. CINTA YANG MEMBEKAS

 


Di gedung Saba Graha, saat aku menunggu seminar, hujan turun sangat lebat. Dua puluh menit lagi acara baru dimulai. Daripada  bengong didalam aku keluar teras samping kanan. Kulihat seorang gadis turun dari taksi, spontan kusaut payung yang bersandar di tiang sudut gedung. Kuberlari bermaksud menjemput gadis itu agar tak basah. Aku berlari  kecil langsung  kuberikan payung dan aku langsung balik. “Eh mass!, kita sama-sama saja!!, teriak  gadis itu. Akhirnya akupun setuju dan kami  berdua menuju gedung dengan satu payung. Kupegang pundak gadis itu agar tak basah.  Sampai di teras gadis itu mengeluarkan sapu tangan warna biru muda untuk melap mukaku yang basah karena guyuran hujan. Saat itu kami berkenalan. “Yoga! Yoga Surya Pradana, “ aku mengulurkan tanganku. “  Dewi. Dia mengulurkan tangannya. Ternyata dia satu kampus  Sanata Dharma, Cuma aku  fak. Ekonomi dan Dewi ambil Fisip. Lokasi kampusnya berbeda  Dewi di jalan Gejayan.

Aku dapat undangan  kegiatan mahasiswa aktivis penentang ordebaru. Aku datang. Saat  itu pelaksanaan    berlokasi  bawah tanah.  Peserta yang hadir lebih dari seratus orang mahasiswa. Di Situ hadir pula beberapa dosen senior. Pak Andi Arif Rahman dan Romo Wiryono. Beliau seorang  dosen sekaligus budayawan. Aku terperanjat,  ternyata yang jadi moderator adalah Dewi. Aku ingat betul , 5 hari yang lalu menerjang hutan  bersama diriku. Ouww!!!, ternyata bernama lengkap Rr Gustiari Dewi Astiwi. Dia adalah promotor dan harimau panggung, Seorang aktivis penentang orde baru.

Bubaran diskusi, aku mendekat. Kubisikan kata persis yang  seperti saat di Saba Graha. “Kita searah. Aku bisa mengantarmu lagi”, Dewi menoleh.”Yoga…!”. dia sedikit berseru.  Tak segan dia menggandeng tanganku menuju tempat duduk para dosen senior. Dia memperkenalkan aku pada mereka. “Bapak-bapak ini Yoga, temanku”. Para dosen menyalamiku dengan ramah. Aku jadi merasa tak asing pada mereka.

Hari terus berganti, sejak saya bersama Dewi hari-hari terasa berbeda. Ada yang terasa  indah. Akupun berusaha menemui dia walau hanya sekedar ngobrol atau makan nasi goreng dipinggir jalan.

“Orangtuamu tidak kuatir kamu jadi aktivis yang selalu turun ke jalan?” kutanya padanya.

“Awalnya sih kuatir juga, tapi lama kelamaan tidak. Ayah justru kadang memberikan bantuan logistik untuk kegiatan ini. Hanya saja Dewi dan para aktivis terlalu berani menggelar demontrasi, kadang pada saat yang kurang ‘pas’. Pemerintah ordebaru masih terlalu kuat. Penyerbuan  markas partai politik di Jakarta menjadi titik balik. Saat di Jakarta memanas, di Jogya  jadi kena dampaknya ikut memanas. Saat ini ada penyisiran para aktivis. Sebagian diculik, sebagian diciduk bahkan ada juga penembakan misterius. Dewi ada dalam daftar itu. Aku bukan simpatisan, jadi aku aman. Aku jadi sangat prihatin akan nasib Dewi. Aku harus bisa menyelamatkan dia.

Pak Arif, wakil rektorku memberikan surat pengantar untuk kami 3 minggu menghilang dari Kampus. Kami tinggal di kawasan wisata Ungaran. Tempat yang sunyi dan sepi jauh dari keramaian. Tinggallah kami berdua di sebuah paviliun sederhana. Aku keluar paviliun hanya kalau belanja bahan makanan. Kegiatan yang lain tak ada. Berhari-hari tinggal bersama. Kami berdua adalah manusia normal. Sudah dewasa dan saling membutuhkan. Terjadilah yang harusnya belum boleh terjadi.

Jaringan para aktivis demonstrasi penentang orde baru tetap bergerak. Dewi harus diamankan. Surat pengantar untuk membawa Dewi ke luar negeri sudah siap. Aku mengantar Dewi ke bandara, pesawat menuju menuju ke Den Haag Belanda. Para aktivis yang lain yang melanjutkan mengatur operasional kepergian Dewi. Akhirnya kini aku sendiri lagi. Jarak jauh antara Indonesia dan Belanda. Telekomunikasi masih sangat terbatas. Kami bersurat. Hanya  5 kali surat itu berbalas…. Sisanya setumpuk suratku kembali lagi kepadaku. Mungkin Dewi sudah pindah entah kemana, aku benar-benar hilang kontak. Semua sudah kabur. Semua sudah hilang dan tak berbekas.

Ada rindu yang menyiksa.  Ada mimpi yang kandas. Hanya bayangan hampa yang ada di hati. Benar adanya, ini yang namanya cinta bisa membuat orang bisa gila. Tuhan ….. apakah aku bisa punya asa.  Aku sudah terlanjur cinta. Apakah aku bisa merajut cinta orang yang berbeda? Ahh!!  Bayangan itu berusaha kutepis, kualihkan ke hal yang lebih bermanfaat. Belajar, terus belajar untuk masa depan yang lebih baik.

Hari terus berganti, kujalani aktivitas dan kesibukanku kini.  Bersyukur setelah selesai kuliah dan wisuda aku  lulus seleksi  sebagai dosen filsafat dan Theologi sesuai dengan latar belakang jurusanku. Seiring berjalannya waktu hingga aku bisa meanjutkanS2 dan S3 beasiswa dari pihak kampus. 

Telpon berdering. “Benar ini Profesor Yoga Surya Pradana?!”,  suara seorang gadis nyaring renyah.

“Benar. Siapa ini ya!?? “ aku bertanya balik”.

“Henzie Van Leander, panggil saja Hen dari Den Haag.

“Den Haag?, Belanda??” kembali aku bertanya.

“Iya, ya benar Den Haag Belanda!. Maaf saya menemukan nama profesor dari jejaring sosial. Saya mendapat pesan dari mama untuk menelpon prof!.”

“Mama?? Mama siapa?? Aku bertanya dengan penuh penasaran.

“Dewi, nama lengkapnya ”Rr. Gustiari Dewi Astiwi!”

Jantungku berdegup kencang. Aku tak mampu bersuara.

Ohh!! Dewi, dua puluhan tiga tahun yang lalu aku tak pernah bertemu. Hari ini anaknya menelponku. Karena aku bengong dan tak bersuara, Henzie melanjutkan menelepon.

“Mama memohon, kiranya prof segera pergi ke Den Haag. Mama sekarang dalam keadaan kritis, mama kena cancer rahim stadium 4. Mama, koma dan mama menunggu prof.”

Empat hari pengurusan surat-surat, aku langsung terbang ke Den Haag. Perjalanan sangat panjang, lama dan melelahkan. Tibalah di bandara Den Haag. Seorang laki-laki dan seorang gadis menjemputku di bandara. “Alderts van leader”, kata laki-laki itu sambil mengulurkan tangannya. Aku menyambut uluran tangannya dan menyebutkan namaku.

Aku berjalan mengikuti mereka. Aldert menunjukkan kamar 312 dan mempersilahkan aku masuk.  Sang ayah dan gadis itu menunggu diluar. Kubuka pintu perlahan. Seorang wanita yang masih menyisakan wajah ayu  tertidur dengan penuh tusukan selang dibadannya. Kudekati dirinya. Kuelus rambutnya yang panjang tergerai. Dewi masih terpejam. Kuusap tangannya, kugenggam erat jemarinya dengan  lembut.  Hangat menjalar  dari jari tangannya. Kutatap erat wajahnya. Sekitar 15 menit aku menunggu. Akhirnya Dewi  membuka mata perlahan. Sorot mata penuh cinta menghujam hati dan menembus jantungku. Aku terdiam tak mampu bersuara. Dewipun tak mampu berucap. Butiran-butiran airmata menetes deras dari mata Dewi. Kurogoh sapu tangan biru pemberian Dewi saat itu. Dua puluh tiga tahun lalu masih kusimpan sapu tangan itu. Kuingat persis waktu itu untuk mengeringkan rambutku saat hujan deras mengguyur tubuhku. Hari ini  untuk menghapus airmatanya.

“Hen dan Alderts?” akhirnya Dewi berucap dan bertanya.

“Mereka menunggu diluar  dan Aldert yang menyuruhku untuk menemuimu”, masih kutatap Dewi.

“Aldert  adalah suamiku. Dia menikahi aku saat Henzie berusia  1 tahun, kami satu kantor di Yayasan WHI. Aldert suamiku adalah seorang malaikat”, Dewi kemudian menghentikan omongannya, aku menyimak.

“Henzie berumur dua puluh dua tahun sekarang. Henzie…….” Dewi tak mampu melanjutkan omongannya. Kembali airmata deras membasahi pipinya. Kuusap dengan sapu tangan yang sama. “Kamu bisa melanjutkan masa depanmu. Kalau aku mati biarkan aku tetap disini bersama Alderts suamiku.  Henzie…… adalah anakmu, kata Dewi.

Aku terperanjat. Aku belum bisa memahami dengan logikaku.

“Henzie belum tahu siapa ayahnya. Sambutlah dia. Peluklah dia. Perlahan kulepaskan genggaman tangan Dewi. Aku membalikkan badanku dan keluar dari kamar. Jadi kuingat saat itu……Saat di Paviliun Ungaran. Kami tinggal berdua selama 3 minggu.  Aku dan Dewi manusia yang normal. Sudah dewasa dan matang. Saling membutuhkan. Terjadilah yang seharusnya  belum boleh terjadi. Akhirnya….. kini aku tahu Henzie itu anakku. Wajahnyapun  kutatap, kupeluk erat. Dia bengong dan tak tahu maksudnya, kok ada seorang laki-laki tiba-tiba memeluknya. Aku tak mampu berbicara.

 

#70harimenulis
#siapataujadibuku
#challenge - 56
#RumahLiterasiPMA
#LedwinaEti
#Jumat,2Juli2022

  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

CINTA YANG MEMBEKAS

 

 

 

 

Oleh : Ledwina Eti Wuryani

 

Saat aku menunggu seminar, hujan turun sangat lebat. Dua puluh menit lagi acara baru dimulai. Daripada  bengong didalam aku keluar teras Gedung Saba Graha. Kulihat seorang gadis turun dari taksi, spontan kusaut payung yang bersandar di tiang sudut gedung. Kuberlari bermaksud menjemput gadis itu agar tak basah. Aku berlari  kecil langsung  kuberikan payung dan aku langsung balik. “Eh mass!, kita sama-sama saja!!, teriak  gadis itu. Akhirnya akupun setuju dan kami  berdua menuju gedung dengan satu payung. Kupegang pundak gadis itu agar tak basah.  Sampai di teras gadis itu mengeluarkan sapu tangan warna biru muda untuk melap mukaku yang basah karena guyuran hujan. Saat itu kami berkenalan. “Yoga! Yoga Surya Pradana, “ aku mengulurkan tanganku. “  Dewi. Dia mengulurkan tangannya. Ternyata dia satu kampus  Sanata Dharma, Cuma aku  fak. Ekonomi dan Dewi ambil Fisip. Lokasi kampusnya berbeda  Dewi di jalan Gejayan.

Aku dapat undangan  kegiatan mahasiswa aktivis penentang ordebaru. Aku datang. Saat  itu pelaksanaan    berlokasi  bawah tanah.  Peserta yang hadir lebih dari seratus orang mahasiswa. Di Situ hadir pula beberapa dosen senior. Pak Andi Arif Rahman dan Romo Wiryono. Beliau seorang  dosen sekaligus budayawan. Aku terperanjat,  ternyata yang jadi moderator adalah Dewi. Aku ingat betul , 5 hari yang lalu menerjang hutan  bersama diriku. Ouww!!!, ternyata bernama lengkap Rr Gustiari Dewi Astiwi. Dia adalah promotor dan harimau panggung, Seorang aktivis penentang orde baru.

Bubaran diskusi, aku mendekat. Kubisikan kata persis yang  seperti saat di Saba Graha. “Kita searah. Aku bisa mengantarmu lagi”, Dewi menoleh.”Yoga…!”. dia sedikit berseru.  Tak segan dia menggandeng tanganku menuju tempat duduk para dosen senior. Dia memperkenalkan aku pada mereka. “Bapak-bapak ini Yoga, temanku”. Para dosen menyalamiku dengan ramah. Aku jadi merasa tak asing pada mereka.

Hari terus berganti, sejak saya bersama Dewi hari-hari terasa berbeda. Ada yang terasa  indah. Akupun berusaha menemui dia walau hanya sekedar ngobrol atau makan nasi goreng dipinggir jalan.

“Orangtuamu tidak kuatir kamu jadi aktivis yang selalu turun ke jalan?” kutanya padanya.

“Awalnya sih kuatir juga, tapi lama kelamaan tidak. Ayah justru kadang memberikan bantuan logistik untuk kegiatan ini. Hanya saja Dewi dan para aktivis terlalu berani menggelar demontrasi, kadang pada saat yang kurang ‘pas’. Pemerintah ordebaru masih terlalu kuat. Penyerbuan  markas partai politik di Jakarta menjadi titik balik. Saat di Jakarta memanas, di Jogya  jadi kena dampaknya ikut memanas. Saat ini ada penyisiran para aktivis. Sebagian diculik, sebagian diciduk bahkan ada juga penembakan misterius. Dewi ada dalam daftar itu. Aku bukan simpatisan, jadi aku aman. Aku jadi sangat prihatin akan nasib Dewi. Aku harus bisa menyelamatkan dia.

Pak Arif, wakil rektorku memberikan surat pengantar untuk kami 3 minggu menghilang dari Kampus. Kami tinggal di kawasan wisata Ungaran. Tempat yang sunyi dan sepi jauh dari keramaian. Tinggallah kami berdua di sebuah paviliun sederhana. Aku keluar paviliun hanya kalau belanja bahan makanan. Kegiatan yang lain tak ada. Berhari-hari tinggal bersama. Kami berdua adalah manusia normal. Sudah dewasa dan saling membutuhkan. Terjadilah yang harusnya belum boleh terjadi.

Jaringan para aktivis demonstrasi penentang orde baru tetap bergerak. Dewi harus diamankan. Surat pengantar untuk membawa Dewi ke luar negeri sudah siap. Aku mengantar Dewi ke bandara, pesawat menuju menuju ke Den Haag Belanda. Para aktivis yang lain yang melanjutkan mengatur operasional kepergian Dewi. Akhirnya kini aku sendiri lagi. Jarak jauh antara Indonesia dan Belanda. Telekomunikasi masih sangat terbatas. Kami bersurat. Hanya  5 kali surat itu berbalas…. Sisanya setumpuk suratku kembali lagi kepadaku. Mungkin Dewi sudah pindah entah kemana, aku benar-benar hilang kontak. Semua sudah kabur. Semua sudah hilang dan tak berbekas.

Ada rindu yang menyiksa.  Ada mimpi yang kandas. Hanya bayangan hampa yang ada di hati. Benar adanya, ini yang namanya cinta bisa membuat orang bisa gila. Tuhan ….. apakah aku bisa punya asa.  Aku sudah terlanjur cinta. Apakah aku bisa merajut cinta orang yang berbeda? Ahh!!  Bayangan itu berusaha kutepis, kualihkan ke hal yang lebih bermanfaat. Belajar, terus belajar untuk masa depan yang lebih baik.

Hari terus berganti, kujalani aktivitas dan kesibukanku kini.  Bersyukur setelah selesai kuliah dan wisuda aku  lulus seleksi  sebagai dosen filsafat dan Theologi sesuai dengan latar belakang jurusanku. Seiring berjalannya waktu hingga aku bisa meanjutkanS2 dan S3 beasiswa dari pihak kampus.

 

Telpon berdering. “Benar ini Profesor Yoga Surya Pradana?!”,  suara seorang gadis nyaring renyah.

“Benar. Siapa ini ya!?? “ aku bertanya balik”.

“Henzie Van Leander, panggil saja Hen dari Den Haag.

“Den Haag?, Belanda??” kembali aku bertanya.

“Iya, ya benar Den Haag Belanda!. Maaf saya menemukan nama profesor dari jejaring sosial. Saya mendapat pesan dari mama untuk menelpon prof!.”

“Mama?? Mama siapa?? Aku bertanya dengan penuh penasaran.

“Dewi, nama lengkapnya ”Rr. Gustiari Dewi Astiwi!”

Jantungku berdegup kencang. Aku tak mampu bersuara.

Ohh!! Dewi, dua puluhan tiga tahun yang lalu aku tak pernah bertemu. Hari ini anaknya menelponku. Karena aku bengong dan tak bersuara, Henzie melanjutkan menelepon.

“Mama memohon, kiranya prof segera pergi ke Den Haag. Mama sekarang dalam keadaan kritis, mama kena cancer rahim stadium 4. Mama, koma dan mama menunggu prof.”

Empat hari pengurusan surat-surat, aku langsung terbang ke Den Haag. Perjalanan sangat panjang, lama dan melelahkan. Tibalah di bandara Den Haag. Seorang laki-laki dan seorang gadis menjemputku di bandara. “Alderts van leader”, kata laki-laki itu sambil mengulurkan tangannya. Aku menyambut uluran tangannya dan menyebutkan namaku.

Aku berjalan mengikuti mereka. Aldert menunjukkan kamar 312 dan mempersilahkan aku masuk.  Sang ayah dan gadis itu menunggu diluar. Kubuka pintu perlahan. Seorang wanita yang masih menyisakan wajah ayu  tertidur dengan penuh tusukan selang dibadannya. Kudekati dirinya. Kuelus rambutnya yang panjang tergerai. Dewi masih terpejam. Kuusap tangannya, kugenggam erat jemarinya dengan  lembut.  Hangat menjalar  dari jari tangannya. Kutatap erat wajahnya. Sekitar 15 menit aku menunggu. Akhirnya Dewi  membuka mata perlahan. Sorot mata penuh cinta menghujam hati dan menembus jantungku. Aku terdiam tak mampu bersuara. Dewipun tak mampu berucap. Butiran-butiran airmata menetes deras dari mata Dewi. Kurogoh sapu tangan biru pemberian Dewi saat itu. Dua puluh tiga tahun lalu masih kusimpan sapu tangan itu. Kuingat persis waktu itu untuk mengeringkan rambutku saat hujan deras mengguyur tubuhku. Hari ini  untuk menghapus airmatanya.

“Hen dan Alderts?” akhirnya Dewi berucap dan bertanya.

“Mereka menunggu diluar  dan Aldert yang menyuruhku untuk menemuimu”, masih kutatap Dewi.

“Aldert  adalah suamiku. Dia menikahi aku saat Henzie berusia  1 tahun, kami satu kantor di Yayasan WHI. Aldert suamiku adalah seorang malaikat”, Dewi kemudian menghentikan omongannya, aku menyimak.

“Henzie berumur dua puluh dua tahun sekarang. Henzie…….” Dewi tak mampu melanjutkan omongannya. Kembali airmata deras membasahi pipinya. Kuusap dengan sapu tangan yang sama. “Kamu bisa melanjutkan masa depanmu. Kalau aku mati biarkan aku tetap disini bersama Alderts suamiku.  Henzie…… adalah anakmu, kata Dewi.

Aku terperanjat. Aku belum bisa memahami dengan logikaku.

“Henzie belum tahu siapa ayahnya. Sambutlah dia. Peluklah dia. Perlahan kulepaskan genggaman tangan Dewi. Aku membalikkan badanku dan keluar dari kamar. Jadi kuingat saat itu……Saat di Paviliun Ungaran. Kami tinggal berdua selama 3 minggu.  Aku dan Dewi manusia yang normal. Sudah dewasa dan matang. Saling membutuhkan. Terjadilah yang seharusnya  belum boleh terjadi. Akhirnya….. kini aku tahu Henzie itu anakku. Wajahnyapun  kutatap, kupeluk erat. Dia bengong dan tak tahu maksudnya, kok ada seorang laki-laki tiba-tiba memeluknya. Aku tak mampu berbicara.

 

 

Ledwina Eti adalah nama facebook dan IG,  nama lengkap Ledwina Eti Wuryani, SPd. Lahir di Magelang, Jawa Tengah. Nama suami Drs. Adi Ch. Muhu dan seorang ibu dari  Marcelinus Meha, ST dan Dwi Ananto, ST.  Selain Ibu rumah tangga penulis masih tercatat sebagai guru  di SMA Negeri 2 Waingapu, Sumba Timur NTT. Penulis  suka menulis di medsos, fb, you tube, beberapa koran lokal dan juga majalah. Sudah 50 lebih Karya buku  solo dan Antologi.  Sekarang ini penulis tinggal  di  Jl Trikora No: 11 Hambala, Waingapu, Sumba Timur. NTT. Kode Pos: 87112. alamat email, ledwinaetiwuryani@gmail.com. ledwinaastiwi44@guru.sma.belajar.id etiastiwi66.blogspot.com, No HP / WA 085 230 708 285.Motto: Semangat dalam  menggapai  cita-cita. Tersenyum dalam setiap perjuangan. Berdoa dalam setiap usaha. Yakin, Tuhan pasti memberikan  keberhasilan dalam kehidupan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...