Jumat, 02 Oktober 2020

MENJADI PENULIS ANTI BAPER (7)

 


.

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

“Saya perhatikan tulisan pak Cah biasa banget ya… Gak ada indah-indahnya…”, ujar seorang pembaca, suatu ketika.

“Alhamdulillah. Terimakasih atas kejujurannya”, jawab saya.

Maka segera saya lanjutkan menulis hingga selesai.

Bagitulah jika kita ingin menjadi penulis produktif. Harus anti baper. Jika menuruti rasa baper, akan mudah kecewa dan putus asa. Akhirnya tidak jadi menulis, atau bahkan berhenti menulis sama sekali karena komentar negatif. Hanya mau menulis apabila mendapat pujian pembaca.

Ini postingan terakhir, terkait langkah menjadi penulis anti baper. Untuk menjadi penulis anti baper, berikut beberapa langkahnya.

  1. Pahami Hukum Medsos
  2. Hindari Mengejar Citra Semu
  3. Siapkan Mindset Sebagai Pembelajar
  4. Jangan Berharap Bisa Menyenangkan Semua Orang
  5. Fokus Menghasilkan Karya Tulis
  6. Menikmati Proses Menulis
  7. Kembalikan Kepada Tujuan

Saya akhiri serial tulisan Menjadi Penulis Anti Baper, pada pembahasan kali ini, untuk mengingatkan tentang tujuan menulis.

Kembalikan Kepada Tujuan

Setiap saat menulis, saya memiliki tujuan pasti, untuk apa tulisan saya hadirkan. Baik menulis di media sosial, blog, koran, maupun buku. Ada tujuan di balik hadirnya setiap tulisan saya. Misalnya, ketika menulis tema-tema keluarga, tujuan saya adalah mengedukasi, menginspirasi dan memotivasi pembaca agar bisa memiliki keluarga yang harmonis dan bahagia.

Karena saya telah menetapkan tujuan, maka hal paling penting bagi saya adalah tulisan itu bisa dipahami dan dimengerti oleh pembaca. Sebab –ini unsur terpenting dari komunikasi lewat tulisan. Apakah tulisan saya indah atau tidak, itu nomer sekian. Yang utama, apakah tulisan saya bisa dimengerti atau tidak, oleh pembaca.

Sebagus apapun olahan gaya bahasa yang saya gunakan, sehebat apapun pilihan diksi yang saya ambil, menjadi tidak bisa mencapai tujuan apabila tulisan tidak bisa dipahami pembaca. Begitulah prinsip komunikasi, lisan maupun tulisan. Maka hal penting yang selalu saya usahakan adalah, bagaimana caranya agar pembaca mudah memahami maksud tulisan saya.

Ini yang saya maksudkan sebagai ‘kembalikan kepada tujuan’. Jika kita memiliki tujuan, maka akan lebih mudah menepiskan kegelisahan atas komentar pembaca yang tak sesuai harapan kita. Pun menyikapi pujian pembaca yang kadang berlebihan menilai tulisan kita. Fokus kita kembali kepada tujuan, bukan kepada pujian maupun celaan.

Baik, Indah, Bagus, Tapi Tak Dipahami?

Kadang kita membaca tulisan sangat sastrawi. Sangat filosofis. Sangat indah pilihan diksinya. Namun sulit dimengerti, apa maksud tulisannya. Hingga selesai membaca, kita kesulitan menangkap pesan yang disampaikan oleh tulisan tersebut. Saking indahnya. Saking bagusnya.

Bolehkah menulis seperti itu? Boleh saja. Semua kembali kepada tujuan masing-masing. Semua penulis, memiliki tujuan untuk apa mereka menulis. Maka sah-sah saja, jika setiap kita memiliki tujuan yang berbeda, dan cara yang berbeda pula dalam mengekspresikan tujuan tersebut.

Bahkan –bolehkah menulis untuk membuat bingung pembaca? Boleh saja. Ini kembali kepada tujuan penulisan, juga selera sang penulis. Ada jenis cerpen dan novel, yang endingnya adalah kondisi yang tidak dikunci dengan kesimpulan. Pembaca dipersilakan menebak, atau membuat kesimpulan sendiri-sendiri. Penulis tak hendak memaksa pembaca untuk menerima sebuah kesimpulan versi penulis.

Ini, salah satu alasannya adalah, untuk keindahan cerpen atau novel. Biar endingnya tak bisa ditebak. Biar anti-mainstream. Biar memiliki daya tarik yang tinggi. Bolehkan menulis dengan cara dan model seperti itu? Tentu boleh dan sah-sah saja. Masing-masing penulis punya alasan, punya argumen, dan akan mempertanggungjawabkan sendiri-sendiri setiap tulisannya.

Kalau Tidak Indah, Lalu Kenapa?

Saya penulis yang biasa-biasa saja. Normatif. Mainstream. Mudah ditebak. Tapi ada masalah apa dengan semua itu? Bagi saya –tidak ada masalah apa-apa. Karena itu pilihan saya. Karena saya punya tujuan atas pilihan tersebut. Saya menulis dengan tujuan yang jelas, dan saya memilih untuk membuat pembaca mudah mengerti pesan yang saya sampaikan.

Berkali-kali saya katakan, tulisan saya biasa saja. Sangat biasa. Tidak indah. Bahkan sangat sederhana. Namun saya merasa bahagia jika tulisan sederhana saya bisa dipahami. Karena dipahami atau dimengerti, adalah kunci pertama dari tercapainya tujuan penulisan saya. Jika pembaca bingung dengan maksud tulisan saya, tidak mungkin tujuan penulisan saya tercapai.

Jadi kalau ada yang menilai, “Tulisan Pak Cah jelek”, ya tidak ada masalah bagi saya. Karena saya sadar sepenuhnya, tulisan saya tak sebagus para penulis maestro dan favorit itu. Maka kalau para pembaca saya membandingkan tulisan saya dengan para penulis hebat, jelas langsung kebanting. Tapi pertanyaan mendasarnya –apakah tulisan saya bisa dipahami atau tidak? Itu nomer satu bagi saya.

Supaya tidak terlalu malu atas kualitas tulisan yang biasa banget, saya harus memiliki alibi dan bersandar pada sebuah asumsi. Bahwa fokus saya dalam menulis bukanlah menciptakan keindahan, namun memudahkan pesan tersampaikan kepada pembaca. Ini alibi dan asumsi itu. Padahal kalaupun disuruh fokus membuat tulisan yang indah memesona, saya memang tidak bisa… hehe.

Lalu apa masalahnya kalau tulisan saya tidak indah? Bagi saya –tidak ada. Toh saya tak pernah ikut lomba. Maka tak pernah jadi juara. Saya hanya ingin terus berkarya, menebar makna, menebar manfaat, sesuai tujuan yang sejak dari awal saya tetapkan.

Dengan cara kembali kepada tujuan, saya menjadi penulis yang tak mudah baper. Ditertawakan, boleh. Diejek, silakan. Dishare, ahlan wa sahlan. Dicampakkan, siap. Disimpan dan diabadikan, saya izinkan.

Hidup saya menjadi sangat nyaman dengan sikap ini. Saya fokus menghasilkan karya, sesuai tujuan yang saya tetapkan. Prinsip inilah yang selalu saya sampaikan kepada para penulis. Jika Anda fokus menghasilkan karya, yang akan Anda hasilkan adalah karya. Jika Anda fokus mencari pujian dan acungan jempol pembaca, yang akan Anda dapatkan adalah mudah kecewa.

Demikianlah tujuh cara menjadi penulis anti-baper. Mari kita terus belajar bersama-sama, saling menguatkan untuk menghasilkan karya terbaik bagi diri, keluarga, bangsa dan negara.

Kamis, 01 Oktober 2020

Menjadi Penulis Anti Baper (1)

 


Oleh : Cahyadi Takariawan


“Memposting tulisan di facebook saja saya sudah minder, karena tidak ada yang melirik status saya,” demikian curhat seorang . peserta Kelas Menulis Online (KMO) Alineaku.

 

Ini adalah salah satu contoh tantangan yang dihadapi penulis. Para penulis pemula yang seperti ini, terlalu peduli dengan penilaian orang lain. Jadinya, baper. 


Posting tulisan tidak ada yang nge-like, baper. Posting tulisan tidak ada yang komen, baper. Posting tulisan dikomentari negatif, baper.


Untuk bisa menjadi penulis produktif, harus anti-baper. Jika menuruti rasa baper, akan mudah kecewa dan putus asa. Akhirnya tidak jadi menulis, atau bahkan berhenti menulis sama sekali. 


Untuk bisa menjadi penulis anti baper, Anda harus memahami ‘hukum medsos’. 


Dalam dunia medsos, pahamilah bahwa mereka yang me-like postingan Anda tidak selalu benar-benar suka dengan isi postingan Anda. 


Banyak di antara mereka yang bahkan tidak membaca, namun memencet tombol like untuk mengapresiasi Anda. 


Jadi, jangan GR oleh karena ada banyak orang yang ngasih jempol dan ‘lope-lope’ untuk postingan Anda. Juga jangan baper saat tidak ada yang ngasih jempol like.


MENJADI PENULIS ANTI BAPER (2)

 


.

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

“Saya sudah posting tulisan di grup WhatsApp, ternyata tidak ada satupun yang komen apalagi memberi masukan. Ya sudah, berarti saya dianggap tidak layak menulis. Saya berhenti saja belajar menulis”, curhat seorang peserta Kelas Menulis.

Curhat di atas adalah kelanjutan dari edisi baper yang telah saya posting sebelumnya. Simak kembali tulisan saya di sini.  

Menjadi penulis produktif itu, harus anti-baper. Jika menuruti rasa baper, akan mudah kecewa dan putus asa. Akhirnya tidak jadi menulis, atau bahkan berhentu menulis sama sekali. “Ya udah, ga ada yang peduli sama tulisanku. Ga ada gunanya aku menulis”. Maka selesai sudah pembelajarannya tanpa menghasilkan karya apapun.

Untuk bisa menjadi penulis anti baper, berikut beberapa langkahnya.

2. Hindari Mengejar Citra Semu Medsos

Sebagaimana telah saya uraikan dalam postingan sebelumnya, interaksi di medsos adalah realitas maya. Kita tahu, maya itu tak nyata. Maka jangan terjebak pada citra semu medsos.

Saya sangat setuju dengan nasihat Tim Denning (2018), “Forget about how many shares you get”. Lupakan berapa banyak orang share postingan Anda. Lupakan berapa orang like postingan Anda. Lupakan berapa banyak orang komen —dan apa isi komen mereka— di postingan Anda.

Fokuslah mencipta karya berkualitas. Jangan fokus memedulikan jumlah likers. “This point is particularly relevant in the age of social media that we are now in. The temptation (I have it too) is to write something, post it online, and then actually give a damn about how many people share your post”, ujar Denning.

Hidup di era medsos saat ini, salah satu godaan adalah memposting tulisan dan benar-benar peduli tentang berapa banyak orang yang like, share dan komen postingan tersebut. Kita akan terjebak citra semu –misalnya saat tulisan kita di-like banyak orang, lalu kita merasa tulisan kita bagus.

Padahal, sebagaimana sudah saya sampaikan dalam poin 1 terdahulu, orang-orang yang me-like postingan kita, tidak menunjukkan bahwa mereka mengatakan : waw, tulisan kamu sangat bagus. Bukan seperti itu. Tapi kita merasa seperti itu, “Alhamdulillah, tulisanku di-like ribuan orang, di-komen ratusan orang, dan di-share puluhan orang”.

Jika kita menuruti pola medsos seperti ini, ujar Denning, dijamin Anda tidak menulis dengan sepenuh hati. “This habitual way of approaching your writing will cause you all sorts of problems, and it will guarantee you that you don’t write from the heart. Other people can’t determine your success; you must determine it yourself and your writing’s purpose should be to serve others”, ujarnya.

Denning mengingatkan, “Cara pendekatan mengikuti pola medsos akan menimbulkan berbagai masalah, dan menjamin bahwa Anda tidak menulis dari dalam hati. Orang lain tidak dapat menentukan kesuksesan Anda, maka Anda harus menentukan sendiri. Tulisan Anda harus bermanfaat untuk orang lain.”

Sangat banyak faktor yang memengaruhi jumlah likers terhadap sebuah postingan. Dan berbagai faktor tersebut sangatlah kompleks, tidak sederhana. Tidak sesederhana pikiran kebanyakan manusia, “Tulisanku dikagumi sangat banyak orang, buktinya sangat banyak yang like, comment dan share”. Ini jelas sangat menyederhanakan persoalan.

“There are so many things that effect how many shares a written post will get on the various social media platforms such as time of day, the country the article is focused towards, the current topics in the news, who reads it, and finally, the platforms you post it on — forget about the number of shares!” tegas Denning.

Ada sangat banyak hal yang memengaruhi jumlah share dari postingan di berbagai platform medsos, seperti aspek waktu, di negara mana artikel tersebut difokuskan, topik yang menarik, segmen pembaca, dan platform tempat Anda mempostingnya. Maka,  “lupakan jumlah share!”, tegas Denning.

Kapan Peduli Medsos?

Prinsip di atas hendaknya Anda gunakan dalam konteks konsentrasi menulis. Jangan mengejar citra semu medsos, yang memudahkan Anda terjebak suasana baper. Hanya sekedar mengejar likers dalam setiap postingan, sampai menjadikan jumlah like, comment dan share sebagai patokan kualitas tulisan.

Namun, apakah medsos tidak ada manfaatnya? Tentu saja banyak manfaatnya. Saya juga bermedsos. Saya juga posting tulisan di medsos, rutin setiap hari. Namun tidak menjadikan jumlah like, comment dan share sebagai alat untuk menilai. Tak juga menjadikan sebagai tolok ukur semangat menulis.

Untuk apa medsos bagi penulis? Tentu sangat banyak keperluannya. Bagi saya medsos adalah sarana menyimpan tulisan agar tak hilang. Saya posting, dan akan tersimpan. Kedua, dengan sharing di medsos, telah menebar kemanfaatan. Semoga ada pembaca yang terinspirasi dan termotivasi dalam kebaikan.

Ketiga, untuk promosi, marketing dan selling produk-produk yang ingin saya jual luas. Misalnya produk buku baru, maka saya menjual melalui medsos. Dengan demikian bisa melakukan promosi produk tersebut secara masif dengan biaya murah. Ini adalah kemanfaatan yang diperlukan oleh para penulis.

Jadi, agar tidak baper, jangan fokus mencari acungan jempol. Jangan fokus mencari likers dari setiap postingan. Saat Anda menulis, fokus pada nilai pesan dan kualitas tulisan. Setelah Anda posting, relakan dan ikhlaskan tulisan itu memberi kemanfaatan pada khalayak –dengan pujian ataupun cacian.

Bersambung.

MENJADI PENULIS ANTI BAPER (3)

 


.

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

“Tulisan jelek kayak gini kok diposting”, demikian isi sebuah tulisan di kolom komentar. Seketika si penulis langsung pucat dan lemas setelah membacanya. Ia merasa sangat malu dan terpukul dengan satu komentar tersebut.

Ini adalah contoh penulis baper. Tidak siap dengan komentar negatif. Dampaknya, semangat menulis menjadi patah, dan tidak berani posting tulisan lagi. Setiap kali ada teman menyemangati untuk posting tulisan, selalu terhantui adanya komentar negatif. Baper tingkat tinggi.

Menjadi penulis produktif itu, harus anti-baper. Jika menuruti rasa baper, akan mudah kecewa dan putus asa. Akhirnya tidak jadi menulis, atau bahkan berhenti menulis sama sekali.

Untuk bisa menjadi penulis anti baper, berikut beberapa langkahnya.

  1. Pahami Hukum Medsos
  2. Hindari Mengejar Citra Semu
  3. Siapkan Mindset Sebagai Pembelajar

Langkah ketiga adalah menyiapkan mindset sebagai pembelajar. Apa yang dimaksud dengan mindset pembelajar?

Guru Besar Psikologi di Stanford University, Carol Dweck menjelaskan dua jenis mindset manusia. Pertama mindset tetap (fixed mindset), yaitu cara pandang bahwa kecerdasan dan kemampuan tidak dapat diubah. Bahwa manusia memiliki kapasitas yang terbatas dan tidak akan bisa melebihi kapasitas yang telah tetap bagi dirinya.

Kedua, mindset berkembang (growth mindset), yaitu keyakinan bahwa Anda dapat meningkatkan kemampuan dan kecerdasan dari waktu ke waktu. Bahwa dengan tenaga, usaha dan strategi yang tepat Anda bisa menjadi lebih hebat (Chloe Burroughs, 2019).

Nah, untuk menjadi penulis anti-baper, Anda harus memilih mindset berkembang. Semua manusia pada dasarnya memiliki potensi dan kemampuan untuk terus menerus berkembang, dari waktu ke waktu. Para penulis handal yang namanya terpajang dalam papan atas penulis dunia, mereka adalah penulis pemula pada zamannya. Mereka juga memulai menulis dengan proses berlatih, sama dengan para pemula hari ini.

Persoalan bagi para penulis baper adalah, mereka sangat dihantui oleh komentar negatif. Mengapa ‘daya bunuh’ komentar negatif jauh lebih mengerikan dibandingkan dengan ‘daya tumbuh’ dari komentar positif? Penulis buku Hardwiring Happiness, Rick Hanson menyatakan, “The brain is like Velcro for negative experience and Teflon for positive ones”. Bahwa otak manusia cenderung bersifat velcro untuk hal-hal negatif, dan bersifat teflon untuk hal-hal positif (Chloe Burroughs, 2019).

Velcro adalah alat perekat, sedangkan teflon adalah anti-lengket. Ternyata komentar negatif lebih cepat menempel di memori manusia –seperti velcro. Sedangkan komentar positif cenderung tidak melekat di memori –seperti teflon. Penjelasan ini membuat kita mengerti mengapa pada penulis pemula, lebih cepat ‘terbunuh’ oleh komentar negatif dibanding bangkit oleh komentar positif.

Mindset Pembelajar

Mindset dan mental pembelajar akan memberikan jawaban. Ketika ada komentar negatif, maka mental pembelajar akan menyatakan, “Tentu saja tulisanku belum bagus, karena aku tengah belajar”. Nah, meletakkan diri sebagai pembelajar, akan membuat Anda semua lebih nyaman atas berbagai komentar yang tak sesuai harapan.

“Saya sedang proses belajar”.

“Saya sedang belajar memperbaiki kualitas tulisan”.

Proses belajar memerlukan kesabaran dan kerelaan. Sabar dan rela menghadapi sulitnya pembelajaran. Sabar dan rela menghadapi aneka komentar. Sabar dan rela melewati waktu yang tidak sebentar. Sabar dan rela menghadapi pandangan sinis orang sekitar. Sabar dan rela menghadapi ketatnya jadwal kegiatan.

Inilah mindset dan mental pembelajar. Seperti nasihat Imam Syafi’i :

من لم يذق مر التعلم ساعة, تجرع ذل الجهل طول حياته

“Barangsiapa tidak mampu menahan lelahnya belajar, maka ia harus mampu menahan perihnya kebodohan di sepanjang kehidupan” (Al-Maghribi, 2019).

Nasihat beliau sama seperti pepatah yang sering kita dengar, berakit-rakit ke hulu berenang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Jika tak mau bersakit-sakit dan bersulit-sulit di masa sekarang, harus rela untuk tetap menghadapi kesulitan di sepanjang kehidupan.

Pilih mana, sabar dan rela menempuh kesulitan belajar menulis, atau tidak pernah bisa menulis selamanya? Pilih mana, sabar dan rela menempuh kelelahan belajar menulis, atau tidak pernah memiliki karya tulis di sepanjang usia? Inilah mindset berkembang, yang dimiliki oleh kaum pembelajar.

Tak apa mendapat komentar negatif, tetaplah belajar. Tak apa mendapat komentar sinis, tetaplah menulis. 

Bahan Bacaan

MENJADI PENULIS ANTI BAPER (4)

 


.

Oleh : Cahyadi Takariawan

***

“Since we are all the unique product of our own experiences, and we all share different values and beliefs, we behave differently” – Wanderlust Worker

***

“Gue gak suka banget dengan tulisan loe…” ujar seorang teman. Mendapat ungkapan tidak suka tersebut, penulis yang baru saja memposting tulisan menjadi down. Ia merasa sudah menulis dengan bersungguh-sungguh, namun masih mendapat komentar negatif.

Inilah contoh penulis baper. Mudah terpengaruh oleh komentar dan pendapat orang lain. Setiap komentar negatif, membuatnya menjadi

Menjadi penulis produktif itu, harus anti-baper. Jika menuruti rasa baper, akan mudah kecewa dan putus asa. Akhirnya tidak jadi menulis, atau bahkan berhenti menulis sama sekali.

Untuk bisa menjadi penulis anti baper, berikut beberapa langkahnya.

  1. Pahami Hukum Medsos
  2. Hindari Mengejar Citra Semu
  3. Siapkan Mindset Sebagai Pembelajar
  4. Jangan Berharap Bisa Menyenangkan Semua Orang

Salah satu cara pandang tidak tepat pada beberapa kalangan penulis pemula adalah ingin menyenangkan semua orang dengan tulisannya. Maka ia menjadi sedih dan kecewa saat ada komentar yang tidak menyenangkan. Ia merasa gagal, hanya karena ada sebuah komentar negative atas tulisan yang dipostingnya.

Ingin menyenangkan semua orang itu bagus, namun itu mustahil. Tidak ada orang yang bisa menyenangkan semua orang. Tidak ada perbuatan yang bisa menyenangkan semua kalangan. Tidak ada tulisan yang bisa disenangi semua pembaca. Maka wajar saja jika ada sebagian orang menyukai tulisan kita, dan ada sebagian lain yang tidak menyukai tulisan kita.

Octavia Spencer, penulis buku Ninja Detective, menyatakan, “You cannot live to please everyone else. You have to edify, educate and fulfill your own dreams and destiny, and hope that whatever your art is that you’re putting out there, if it’s received, great, I respect you for receiving it. If it’s not received, great, I respect you for not.”

Menurutnya, “Anda tidak bisa hidup untuk menyenangkan semua orang”. Oleh karena kita tidak bisa menyenangkan semua orang maka, “Anda harus membangun, mengarahkan dan memenuhi impian Anda sendiri”, ujar Spencer. Dalam menulis, bangunlah harapan, lalu tuliskan. Miliki karya dan tetapkan tujuan Anda dengan karya itu. Dengan cara seperti ini, Anda tidak akan dibuat bingung dan sedih saat mengetahui ada komentar negatif terhadap tulisan Anda.

Fokuslah menghasilkan karya, dan tebarkan kemanfaatan melalui tulisan Anda. “Berharap bahwa apa pun karya yang Anda hasilkan, jika diterima publik, bagus, saya menghormati Anda. Kalaupun tidak diterima, bagus, saya tetap menghormati Anda,” lanjut Spencer.

Anda Tidak Bisa Melarang Orang Lain Berkomentar Negatif

Saya menemukan untaian kalimat motivatif dalam blog Wanderlust Worker. “No matter what you do or how hard you try, people will always have an opinion about you. Often, it’s a negative opinion. They look at you with distaste and scorn”. Tidak peduli apa yang Anda lakukan atau seberapa keras Anda berusaha, orang akan tetap memiliki pendapat tentang Anda. Bisa jadi, itu adalah pandangan negatif. Mungkin mereka memandang Anda dengan ketidaksukaan dan cemoohan.  

“You can’t please those people no matter what you do. You can’t avoid them from talking and gossiping about you behind your back or even right in front of your face. And you shouldn’t bother trying either”. Anda tidak bisa menyenangkan orang-orang itu, apa pun yang Anda lakukan. Anda tidak bisa meminta mereka agar tidak berkomentar negatif tentang Anda. Dan Anda juga tidak perlu repot-repot mencoba melakukannya.

Nah, maka fokuslah menulis. Fokuslah menghasilkan karya tulis. Pertegas tujuan Anda, dan jangan berharap bisa menyenangkan semua orang dengan tulisan Anda. “Since we are all the unique product of our own experiences, and we all share different values and beliefs, we behave differently”. Kita semua adalah produk unik dari pengalaman kita sendiri, dan kita memiliki nilai, keyakinan dan perilaku yang berbeda.

Bahan Bacaan :

Wanderlust Worker, 10 Reasons Why It’s Impossible To Please Everyone, www.wanderlustworker.com

MENJADI PENULIS ANTI BAPER (5)

 


.

Oleh : Cahyadi Takariawan

“I learned that the only way to cross the finish line was to remain focused and disciplined” – Melissa Donovan.

.

“Apakah tulisanku ini bermanfaat? Apakah tulisanku ini tidak akan diketawakan orang? Apakah aku pantas menulis ini? Apakah ini tulisan yang berkualitas?”

Demikianlah serangkaian ‘serangan’ pada pikiran dan perasaan beberapa kalangan penulis. Gegara mendapati komentar negatif, atau tulisan yang diposting sepi dari jempol, mendadak rasa percaya dirinya tumbang.

Jika menuruti situasi baper, membuat para penulis berhenti berkarya. Mereka menjadi malu untuk meneruskan postingan. Inilah penulis baper, yang semangatnya sangat ditentukan oleh komentar orang atau arah jempol netizen –ke atas atau ke bawah.

Maka menjadi penulis produktif itu, harus anti-baper. Jika menuruti rasa baper, akan mudah kecewa dan putus asa. Akhirnya tidak jadi menulis, atau bahkan berhenti menulis sama sekali.

Untuk bisa menjadi penulis anti baper, berikut beberapa langkahnya.

  1. Pahami Hukum Medsos
  2. Hindari Mengejar Citra Semu
  3. Siapkan Mindset Sebagai Pembelajar
  4. Jangan Berharap Bisa Menyenangkan Semua Orang
  5. Fokus Menghasilkan Karya Tulis

Salah satu cara menjadi penulis anti baper adalah dengan fokus menghasilkan karya tulis. Jika Anda fokus memperhatikan komentar orang, maka waktu, tenaga dan pikiran bahkan perasaan Anda akan terus menerus tersedot untuk itu. Anda menjadi tidak produktif, karena terus menerus mikirin omongan orang, terus menerus mikirin komentar netizen yang beragam.

Stop. Jangan teruskan kebiasaan baper karena mikirin pendapat dan komentar orang atas tulisan Anda. Ubah fokus Anda, dari fokus  memperhatikan komentar, menuju fokus menghasilkan tulisan. Jangan pedulikan komentar, jangan risau dengan kritikan, jangan besar kepala dengan pujian.

Biarkan saja para komentator terus menerus mengomentari tulisan Anda, sebagaimana Anda terus menerus menghasilkan karya. Jika ada netizen yang suka komentar negatif, biarkan saja, karena Anda tak bisa mencegahnya untuk tidak memberi penilaian negatif. Sebagaimana mereka tak bisa mencegah Anda untuk terus menerus menghasilkan karya positif.

Setiap Tulisan Anda Memiliki Tujuan

Ketika Anda menulis, pasti dalam keadaan sadar. Anda memiliki tujuan, Anda memiliki keinginan dan harapan. Setiap tulisan yang Anda hasilkan, selalu ada tujuan kebaikan yang terkandung di dalamnya. Tujuan ini akan membuat Anda selalu bersemangat dalam menghasilkan karya tulis.

Maka fokuslah kepada makna yang hendak Anda bingkai melalui tulisan. Fokuslah kepada tujuan yang hendak Anda raih melalui tulisan. “Words truly do have the power to change a nation, and you should use them for good. You should use words in everything you do to inspire others and add value to people’s lives. You should use words to live your purpose”, ujar Tim Denning (2018).

Menurut Denning, kata-kata benar-benar memiliki kekuatan untuk mengubah suatu bangsa, maka Anda harus menggunakan tulisan untuk tujuan kebaikan. Anda harus menggunakan kata-kata untuk menginspirasi dan menambah nilai kebaikan dalam kehidupan orang banyak. Anda harus fokus menggunakan kata-kata untuk mewujudkan tujuan Anda.

Ketimbang menghabiskan waktu untuk mengesali berbagai komentar negatif, atau berbangga diri dengan berjibunnya acungan jempol para likers, lebih baik fokus menghasilkan karya yang bermakna. Semua dari kita bisa berkontribusi untuk kebaikan diri, keluarga, masyarakat, bangsa, negara bahkan dunia. Semua dari kita bisa ikut menciptakan perubahan menuju kebaikan, dengan tulisan yang kita hasilkan secara konsisten.

Fokuslah Menghasilkan Karya Tulis

Ini hal penting. Agar tidak mudah baper, sibukkan diri Anda dengan terus menerus menulis dan menghasilkan karya tulis. Jawab cibiran dengan karya. Jawab kritikan dengan karya. Jawab pujian dengan karya. Jawab sanjungan dengan karya. Jawab semua like dengan karya. Fokuslah menghasilkan karya tulis, niscaya Anda akan terjauhkan dari baper.

Seperti yang dituturkan oleh Melissa Donovan, penulis buku Adventures in Writing. “Saya belajar banyak dari pengalaman”, ujarnya. “Saya belajar bagaimana ketika menulis menjadi sulit atau membosankan, kemudian saya memaksakan diri untuk terus menulis, tetap bisa menghasilkan tulisan yang lancar dan menarik”.

“Saya belajar bagaimana pada hari-hari ketika sedang tidak ingin menulis dan tidak ada mood, saya tetap bisa menghasilkan karya yang bagus”, lanjut Donovan. Sangat banyak penulis yang gagal mengatasi masalah seperti ini. Mereka tidak fokus menghasilkan karya tulis, namun fokus mencari mood.

“I learned that the only way to cross the finish line was to remain focused and disciplined”, ujar Donovan. Dari pengalaman menulis Donovan, ia menemukan, “Satu-satunya cara untuk melewati garis finis adalah dengan tetap fokus dan disiplin”.

Saya kiran kesimpulan Donovan menjadi sangat relevan kita perhatikan. Tak ada cara untuk mencapai tujuan, kecuali dengan fokus dan disiplin. Tak ada cara untuk produktif menulis, kecuali dengan fokus dan disiplin menghasilkan karya tulis. Bukan fokus memikirkan komentar negatif, bukan pula fokus menghitung jumlah jempol likers.

Berkaryalah. Jadilah penulis anti baper. Setiap muncul baper, segeralah melawan dengan menghasilkan tulisan.

Bahan Bacaan

MENJADI PENULIS ANTI BAPER (6) 30 September 2020

 


.

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

“Tulisan kamu hebat, keren, luar biasa. Saya sangat senang membacanya, membuat hidup saya lebih bersemangat”.

“Tulisan kamu benar-benar menguras air mata. Mengaduk-aduk perasaan. Saya sangat kagum, bagaimana kamu bisa mengolah kata-kata menjadi memiliki kekuatan sedahsyat itu?”

Jika Anda penulis baper, pasti Anda akan segera melonjak kegirangan ketika mendapatkan komentar sanjungan semacam itu. Mendadak Anda merasa hebat, dan lebih bersemangat menulis. Anda langsung bercermin dan tersenyum lebar di cermin sambil mengatakan dalam hati, “Aku memang penulis hebat”.

Nah, jika Anda menikmati sanjungan seperti ini, kondisi Anda akan sangat fluktuatif. Jika ada komentar yang memuji, langsung bersemangat dan termotivasi. Jika tak ada yang like dan komen, langsung kecil nyali. Jika demikian, Anda benar-benar penulis baper. Tanyakan kepada diri sendiri, apa tujuanmu menulis selama ini?

Untuk menjadi penulis produktif, benar-benar harus anti-baper. Jika menuruti rasa baper, akan mudah kecewa dan putus asa saat mendapat komentar negatif, dan akan mudah bersemangat membara saat mendapat sanjungan serta apresiasi positif. Akhirnya hanya menulis apabila mendapat pujian, dan berhenti menulis saat mendapat celaan.

Menikmati Proses Menulis

Katakan selalu pada dirimu, “Pujian hanyalah milik Allah. Tak pantas disematkan kepada manusia”. Lalu, nikmatilah proses menulis dan menghasilkan karya. Jangan menikmati pujian manusia.

Untuk bisa menjadi penulis anti baper, berikut beberapa langkahnya.

  1. Pahami Hukum Medsos
  2. Hindari Mengejar Citra Semu
  3. Siapkan Mindset Sebagai Pembelajar
  4. Jangan Berharap Bisa Menyenangkan Semua Orang
  5. Fokus Menghasilkan Karya Tulis
  6. Menikmati Proses Menulis

Salah satu kata kunci dalam menjalani kehidupan adalah ‘menikmati’. Manusia yang mampu menikmati berbagai kondisi dan kejadian dalam kehidupan, akan selalu hidup dalam kebahagiaan dan kesejahteraan spiritual. Misalnya mampu menikmati khusyuknya ibadah, mampu menikmati lelahnya bekerja, mampu menikmati enaknya makan, mampu menikmati lelapnya tidur, dan lain sebagainya.

Martin Seligman menyebut kondisi ini sebagai ‘engagement’. Dalam belajar menulis dan menghasilkan karya tulis, engagement adalah hal penting untuk menjaga stamina menulis. Saya pernah ceritakan bagaimana engagement Haruki Murakami dalam menulis. Saya pernah tuliskan bagaimana engagement Yusuf Qardhawi dalam menulis. Orang-orang hebat itu, lebih memilih menikmati proses menulis, dibandingkan menikmati pujian pembacanya.

Orang yang lebih memilih menikmati pujian dan sanjungan pembaca, akan memiliki gairah yang fluktuatif. Namun jika memilih menikmati proses menulis dan menghasilkan karya tulis, akan bisa terjaga staminanya. Apalagi untuk proses menulis yang panjang, berbulan-bulan hingga bertahun-tahun –untuk menghasilkan sebuah novel atau serial ensiklopedi. Ini lebih memerlukan kemampuan menikmati proses, dibanding menunggu acungan jempol.

Jadikan Proses Menulis Sebagai Aktivitas istimewa

Saya membedakan dua jenis menulis. Yang pertama adalah menulis sebagai sebuah aktivitas rutin, seperti ibadah, makan, tidur, berbicara, bernapas, olah raga, dan lain sebagainya. Untuk jenis yang pertama ini, saya bisa melakukannya di manapun.

Saya bisa menulis di meja makan, di dapur, di taman, di mobil, di pesawat, di kapal, atau di manapun saya tengah berada. Bahkan di tengah antrean sekalipun, dengan posisi berdiri. Ini untuk keperluan ‘menulis rutin’, yang bisa saya lakukan di manapun dan kapanpun.

Yang kedua adalah menulis sebagai aktivitas projek. Misalnya, saya tengah menulis atau menyelesaikan bahan untuk pembuatan sebuah buku, atau beberapa buku. Nah ketika menulis dalam konteks sebagai projek, maka saya menjadikan menulis sebagai aktivitas istimewa.

Caranya, saya akan menata ruang khusus menulis di salah satu bagian di rumah saya. Ini menjadi ‘kantor’ tempat saya menyelesaikan projek. Kemudian semua peralatan dan bahan-bahan referensi saya taruh di kantor itu. Laptop, buku, alat tulis, semua kebutuhan menulis sudah ada di tempat itu.

Saya sampaikan kepada semua anggota keluarga saya, agar mereka tidak mengubah apapun. Jangan mengambil buku, laptop, dan semua peralatan yang telah saya tata di kantor —sampai saya selesai menuliskan projek. Jika projek sudah selesai, kantor dibongkar lagi, dan kembali ke fungsi semula.

Dengan cara ini, saya merasa menulis menjadi aktivitas istimewa. Saya mengantor, saya berpakaian rapi dan patut, meskipun hanya seorang diri. Saya menghargai apa yang saya lakukan, meskipun mungkin orang lain tidak menghargainya. Saya tidak peduli apakah orang menganggap penting apa yang saya lakukan, namun saya menikmati proses menulis yang saya jalani.

Dengan cara seperti ini, saya fokus berkarya, bukan fokus kepada pendapat orang atas tulisan saya. Kita belajar mengelola hati dan perasaan, agar selalu ikhlas berkarya. Menulis dari hati, akan sampai ke hati. Jika menulis untuk mencari pujian, belum tentu Anda akan mendapatkan.

Maka nikmati prosesnya. Menulis sebagai ibadah. Menulis sebagai lahan amal jariyah. Menulis sebagai proses menebarkan kebaikan. Menulis sebagai aktivitas yang menyenangkan dan menenangkan jiwa.

  38 kali dilihat

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...