Minggu, 04 Oktober 2020

AGAR TIDAK BINGUNG SAAT MENULIS

 


.

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Dalam berbagai diskusi di Kelas Menulis Online (KMO) Basic, di semua batch, selalu saja ada pernyataan kebingungan. Misalnya seperti ini:

“Saya bingung mau menulis apa?”

“Saya sudah tahu akan menulis apa, tapi bingung mau mulai dari mana?”

“Saya sudah tahu mau mulai dari mana, tapi bingung nanti referensinya apa?”

Bingung, itu yang dialami banyak penulis pemula. Dampaknya, untuk memulai menulis, memerlukan waktu yang sangat lama. Untuk menyelesaikan satu tulisan pendek saja, memerlukan waktu lama. Karena dilanda kebingungan.

Tentu saja ini sangat bisa dimaklumi, karena dalam proses pembelajaran. Namun tidak boleh dituruti. Maklum boleh, dituruti jangan. Maka harus dicari solusi.

Bagaimana Mengatasi Kebingungan Menulis?

Saya selalu memulai menulis, dengan menetapkan tujuan. Saya selalu punya tujuan dalam menulis. Dan Anda semua tahu, apa yang akan terjadi setelah kita menetapkan tujuan.

Misalnya, Anda seorang pejabat penting. Suatu hari Anda akan bepergian dengan mobil pribadi, diantar oleh sopir pribadi. Setelah masuk ke dalam mobil, sopir Anda bertanya, “Mau diantar kemana Pak?” Lalu Anda menjawab, “Ga tau saya”. Kira-kira, sopir akan membawa Anda kemana?

Sebagaimana juga, ketika Anda ditanya sopir, lalu Anda menjawab, “Terserah sajalah mau kemana”. Jadi, sebenarnya Bapak mau kemana? Jika tak kemana-mana, lalu mengapa naik mobil? Pasti bingung sopir pribadi Anda.

“Bapak sudah minum obat?” Mungkin itu pertanyaan sopir pribadi Anda.

Sekarang cobalah memberi jawaban. “Saya cuma ingin jalan-jalan. Jadi kita muter-muter kota saja, lalu balik pulang lagi”. Nah ini sudah ada pernyataan jawaban. Sopir Anda akan mengerti. Dia tidak akan bingung lagi.

Apa lagi ketika jawaban Anda sangat pasti. “Saya akan ke Hotel Sudirman di Jalan Jendral Sudirman nomer 58”. Nah ini jawaban yang sangat pasti. Sopir Anda langsung meluncur tanpa kebingungan.

Apa yang Anda dapatkan setelah menetapkan tujuan? Pertama kali, Anda akan mengerti jalan. Ya benar. Anda tahu akan lewat jalan mana, gang apa, belokan ke berapa, untuk sampai ke tujuan. Karena Anda sudah tahu, di manakah tujuan akhir Anda.

Bahkan ketika jalan utama sedang macet atau ditutup, Anda akan tahu jalan-jalan lain yang bisa membawa Anda mencapai tujuan. Inilah pentingnya menetapkan tujuan dalam segala sesuatu. Tanpa tujuan, yang akan Anda dapatkan adalah kebingungan.

Detailkan Rencana Perjalanan

Jika Anda akan menempuh perjalanan darat, misalnya, dari Yogyakarta menuju Malang, maka Anda harus pastikan terlebih dahulu, dimana titik tujuan di Malang. Misalnya Anda akan menuju lokasi Stadion Gajayana.

Setelah pasti titik tujuannya, Anda bisa mendetailkan rencana perjalanan. Misalnya Anda memutuskan menggunakan mobil pribadi. Kemudian Anda akan melihat peta, lewat jalur mana untuk menuju Stadion Gajayana Malang. Akan melewati kota mana saja sebelum sampai di Malang.

Bahkan Anda sudah bisa merencakan titik-titik pemberhentian untuk istirahat. Sehingga perjalanan 8 jam dari Yogyakarta menuju Malang tidak melelahkan. Anda bisa menikmati teh panas dan snack di tempat istirahat. Anda bisa ke toilet dan menunaikan shalat saat di rest area.

Demikian pula dalam menulis. Jika Anda akan menulis, pertama kali harus menetapkan tujuan yang detail. Mari saya berikan contoh, apa yang saya lakukan.

Setiap kali saya menulis, maka saya sudah menetapkan ‘who’ and ‘do’. Who adalah segmen pembaca, siapa yang saya harapkan membaca tulisan saya. Do adalah, apa yang saya harapkan pada pembaca saya.

Dari situ saya mendetailkan rencana penulisan, dalam bentuk outline atau kerangka tulisan. Inilah yang memandu perjalanan menulis, sampai selesainya naskah. Setelah membuat outline, saya mulai menulis, sesuai dengan kerangka yang telah saya buat sebelumnya.

Contoh Aplikasi

Who (segmen pembaca) : pasangan suami istri, sejak pengantin baru sampai pengantin lama.

Do (yang saya harapkan pada pembaca) : (1) mengetahui urgensi komunikasi suami istri (2) mampu berkomunikasi dengan pasangan secara nyaman dan melegakan.

Outline / kerangka tulisan

  1. Pengantar : membahas urgensi komunikasi suami istri
  2. Pembahasan : membahas 10 langkah komunikasi suami istri
  3. Penutup : ajakan untuk memperbaiki komunikasi

Hasil tulisan

Berdasarkan kerangka sederhana tersebut, saya buat tulisan dan saya posting di Kompasiana, menjadi dua kali tayangan. Simak contoh berikut ini.

Bagian Pertama, Komunikasi Cinta untuk Suami dan Istri (1)

Bagian Kedua, Komunikasi Cinta untuk Suami dan Istri (2)

Demikianlah cara untuk menghindari kebingungan menulis. Jika Anda sudah menetapkan tujuan, maka Anda akan mengetahui sangat banyak pilihan jalan. Dan Anda berhak memilih jalan mana yang akan Anda lalui. Ada jalan panjang namun mengasyikkan, ada jalan tol yang membosankan, ada jalan kampung yang menyejukkan, ada pula jalan pintas yang menegangkan.

Outline yang saya buat, adalah contoh ‘pilihan rute perjalanan’. Saya memilih menetapkan sepuluh langkah komunikasi dengan pasangan yang melegakan. Saya memilih menulis dalam rumpun nonfiksi. Saya memilih posting di Kompasiana. Saya memilih untuk menjadikannya dua kali postingan. itu semua adalah jalan mencapai tujuan. itu semua adalah pilihan.

Bersambung.

.

Ilustrasi : vector stock

MENGATASI KEBUNTUAN SAAT MENULIS

 Teknik Menulis


.

RM 0002-20

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Seorang peserta Kelas Menulis Online (KMO) “Alineaku” Batch 29 / 2020, menyampaikan pertanyaan kepada saya, sebagai berikut:

”Saya sering dapat ide untuk menulis sesuatu dan sudah mulai saya tulis, tapi sering saya mengalami kebuntuan di tengah-tengah menulis itu yang akhirnya membuat saya menghapus semua tulisan saya dan membatalkan menulis. Bagaimana mengatasai kebuntuan saat menulis tersebut?” (Siti Nurhayati, Batch 29 / 2020).

Mengapa Menulis Bisa Buntu?

Peristiwa yang diceritakan mbak Siti Nurhayati di atas, sangat banyak dialami oleh para penulis pemula. Sudah membuka laptop, sudah menentukan tema, sudah memulai menulis, namun baru mendapatkan beberapa paragraf, mendadak buntu. Tidak bisa meneruskan lagi tulisannya. Akhirnya memilih menutup laptop.

Kondisi ini yang membuat seseorang tidak pernah menghasilkan karya tulis seumur hidupnya, karena tulisannya tidak pernah selesai. Alasannya, karena buntu di tengah proses menulis, sehingga tidak bisa meneruskan menulis. Tiap menulis, tidak pernah selesai, selalu buntu.

Bagaimana mengatasi kebuntuan dalam menulis? Yang sangat penting adalah, kenali tipe kebuntuan Anda, agar bisa menemukan solusi yang tepat. Mari kita bedah jenis-jenis kebuntuan dalam menulis.

Empat Jenis Kebuntuan dalam Menulis

Dari pengalaman membimbing menulis kepada para peserta KMO Alineaku selama ini, saya menemukan ada empat jenis kebuntuan dalam menulis.

Pertama, Buntu karena Kehabisan Ide

Ini jenis pertama dari kebuntuan menulis. Buntu, karena kehabisan ide. Tidak tahu lagi akan menulis apa, karena ide yang ada sudah dituliskan semua. Misalnya, punya ide untuk menulis tentang “Pendidikan Anak dalam Islam”, kemudian mulai menuangkan ide ke dalam tulisan. Di tengah menulis, buntu, karena tidak tahu lagi sisi apa yang harus ditulis.

Nah, solusi untuk buntuk karena kehabisan ide, tentu saja adalah dengan mencari ide. Tapi, bagaimana cara mencari ide? Sangat banyak caranya.

  1. Baca buku karya orang yang ahli di bidangnya, untuk mendapatkan ide guna meneruskan tulisan Anda
  2. Baca artikel yang temanya sama dengan yang tengah Anda tulis, bisa Anda dapatkan di web atau blog, atau di majalah dan koran
  3. Mengobrol dengan teman, minta pendapat, minta masukan

Cara-cara di atas, bukan untuk menjadikan bacaan tersebut sebagai referensi, tetapi sebagai cara memunculkan ide setelah buntu. Jadi, membaca buku atau artikel untuk mendapatkan inspirasi, mendapatkan ide yang bisa dituliskan berikutnya.

Kedua, Buntu karena Kehabisan Bahan

Jenis buntu yang kedua adalah karena kehabisan bahan atau referensi. Ide masih banyak banget, tapi tidak punya bahan atau data atau referensi. Misalnya, menulis tentang “Pendidikan Anak dalam Islam”, lalu sampai pada bagian yang mengulas tentang Pola Asuh Anak. Anda merasa harus merujuk kepada pendapat ahli, apa saja yang menjadi pola asuh anak, karena Anda tidak punya bahannya.

Karena Anda tidak tahu apa saja Pola Asuh Anak secara akademis, maka menjadi buntu. Anda tidak bisa meneruskan menulis, kecuali Anda sudah mendapatkan referensinya. Tidak mungkin tema seperti itu dikarang sendiri, karena jelas sudah banyak rujukan teorinya.

Solusinya, jika buntu karena kehabisan bahan, berhentilah menulis untuk mencari referensi atau bahan. Caranya sangat banyak dan variatif, tergantung bahan atau referensi apa yang Anda perlukan.

  1. Datang ke perpustakaan, cari data atau buku atau referensi yang dibutuhkan, sesuai tema yang sedang Anda tulis
  2. Lakukan browsing menggunakan mesin pencari, untuk mencari data yang Anda perlukan. Pastikan Anda hanya mengakses dan mengambil data dari lembaga, instansi yang kredibel. Jangan mengambil dari sembarangan web.
  3. Menghubungi secara langsung pihak terkait, yang memiliki akses data, seperti BPS, Pemda, atau lembaga-lembaga terkait.

Ketiga, Buntu karena Terjebak Mengedit Saat Menulis

Proses menghasilkan karya tulis, secara umum terbagi menjadi tiga bagian. Pertama adalah proses kreatif menuangkan ide ke dalam tulisan. Ini yang disebut sebagai menulis. Kedua, proses mengedit tulisan, agar tidak ada isi yang salah, atau agar sesuai dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PU EBI). Ketiga, proses kreatif menghias tulisan, membuat agar keseluruhan tulisan menjadi lebih baik dan menarik.

Nah, yang mudah membuat buntu —bagi penulis pemula— adalah ketika ketiga proses itu dicampur aduk. Baru menulis tiga paragraf, lalu mengedit. Merasa tulisannya kurang bagus, lalu bingung bagaimana cara memperbaiki tulisan. Ini tiga proses dilakukan sekaligus, yaitu menulis, mengedit dan menghias tulisan. Akhirnya buntu dan tidak melanjutkan menulis.

Bagaimana solusinya? Jika buntu karena terjebak mengedit saat menulis, berhentilah mengedit, dan selesaikan menulis. Pisahkan aktivas menulis dengan mengedit dan menghias tulisan. Selesaikan dulu tulisanAnda, baru Anda melakukan proses editing, dan nantinya menghias tulisan agar lebih bagus, sebelum diposting.

Keempat, Buntu karena Kejenuhan

Kadang, seseorang menulis sudah dalam siatuasi lelah. Baik lelah karena terlalu lama menulis, ataupun menulis dilakukan pada kondisi fisik dan mental yang sudah sangat lelah. Dalam situasi kelelahan seperti ini, muncullah kejenuhan. Dan jika kejenuhan sudah muncul, maka akan muncul kebuntuan. Buntu, tidak bisa meneruskan menulis lagi, saking lelahnya.

Solusi untuk mengatasi buntu karena kejenuhan ini tidak ada yang lain, kecuali istirahat. Bisa istirahat sejenak, dengan minum, makan cemilan, mendengarkan murottal, shalat sunnah, mendengarkan musik, refreshing keluar ruang, atau olah raga. Namun untuk kejenuhan yang sudah dosis tinggi, tidak ada cara lain, kecuali dengan tidur. Besok pagi tulisan dilanjutkan lagi dalam keadaan sudah fresh.

Selamat menulis, dan selamat mengatasi kebuntuan.

StayAtHome, WriteFromHome, Mertosanan Kulon, 16 April 2020

AGAR TIDAK BINGUNG SAAT MENULIS – 2

 Teknik Menulis


.

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Ketika Anda sudah berada dalam “mode menulis”, maka Anda berkonsentrasi untuk menuangkan ide. Tujuan sudah ditetapkan, outline sudah dibuat, maka proses menulis pun dimulai. Sebuah journey, perjalanan mencapai tujuan yang menyenangkan.

Namun perjalanan tak selalu menyenangkan. Kadang mengalami saat ketegangan, karena berbagai sebab yang ada dalam perjalanan. Misalnya saja, perjalanan mengalami kemacetan yang parah. Seperti saat tragedi tol Brexit beberapa tahun yang lalu, menjelang lebaran.

Perjalanan mudik yang semestinya menyenangkan, berubah total menjadi menegangkan. Menulis juga bisa mengalami peristiwa demikian. Sedang asyik menulis, awalnya lancar, ternyata di tengah perjalanan mengalami kemacetan. Di saat macet saat sedang menulis, apa yang harus Anda lakukan?

Meskipun macet, pastikan jangan sampai Anda mengalami kebingungan. Sebab bingung ini yang membuat kemacetan menjadi lebnih sulit untuk diuraikan. Boleh macet, tapi jangan panik, dan jangan bingung. Jika Anda tenang, berpikir mencari solusinya, pasti akan ketemu solusi.

Manfaatkan Kerangka Tulisan

Pada tulisan sebelumnya, telah saya sampaikan cara mengatasi kebingungan, adalah dengan mendetailkan rencana tulisan. Dimulai dari tema, lalu ditetapkan who and do, serta dijabarkan ke dalam outline atau kerangka tulisan. Simak kembali di sini.

Apa guna outline atau kerangka tulisan? Salah satu manfaat outline adalah, untuk mengatasi kebingungan dalam menulis. Bagaimana outline mengatasi kebingungan menulis? Perhatikan contoh sebuah outline tulisan di bawah ini.

***********

Tema : Membangun Kepribadian Orangtua

Who (segmen pembaca) : calon orangtua dan para orangtua

Do (yang diharapkan dari pembaca) : mengetahui kepribadian yang perlu dimiliki orangtua, dan mampu mewujudkannya

Outline :

Pendahuluan

  1. Spiritualitas Orangtua
  2. Pentingnya spiritualitas bagi orangtua
  3. Spiritualitas dalam mendidik anak
  4. Cara menguatkan spiritualitas
  5. Intelektualitas Orangtua
  6. Pengertian intelektualitas
  7. Urgensi intelektualitas bagi orangtua
  8. Mendidik anak dengan cerdas dan intelek
  9. Integritas Orangtua
  10. Pengertian integritas
  11. Orangtua adalah Teladan bagi Anak
  12. Cara Menumbuhkan Integritas
  13. Sinergitas Orangtua
  14. Urgensi Sinergi Ayah dan Ibu
  15. Cara Menghadirkan Sinergi Ayah dan Ibu
  16. Mendidik Anak dengan Sinergi Ayah dan Ibu
  17. Ketrampilan Praktis Orangtua
  18. Jenis Ketrampilan Praktis yang Diperlukan Orangtua
  19. Cara Mendapatkan Ketrampilan Praktis
  20. Pemanfaatan dalam Pendidikan Anak

Penutup

**************

Coba simak contoh outline di atas. Tulisan dibagi menjadi lima bagian. Setiap bagian, diperinci lagi menjadi sub-bagian. Jika kita telah memiliki outline yang detail seperti contoh di atas, maka kita akan bisa memulai menulis dengan leluasa. Mengapa leluasa?

Karena kita bisa mulai menulis dari mana saja. Kita tidak harus urut menulis, dari bagian pertama, lalu lanjut bagian kedua, dan seterusnya sampai bagian terakhir. Kita bisa mulai menulis dari bagian mana pun, dan dijamin hasil akhir tulisannya akan tetap sistematis. Inilah manfaat outline.

Sebagai contoh, jika Anda menulis bab satu sampai selesai, lalu Anda mulai masuk bab dua. Ketika menulis poin 2.b, Anda kesulitan, tidak bisa menuliskan. Di titik ini Anda akan banyak membuang waktu apabila memaksa diri untuk menyelesaikan. Tenang, tidak perlu bingung.

Anda boleh menulis bagian lain terlebih dahulu. Lihat kembali outline. Cermati bagian demi bagian, sampai sub-bagian. Pilih bagian mana yang paling mudah untuk Anda tuliskan terlebih dahulu. Nah, kebingungan menulis sudah terjawab. Anda bisa melanjutkan menulis, pada bagian yang Anda mudah menuliskannya.

Hal seperti ini bisa Anda terapkan untuk semua bagian. Apabila Anda kesulitan di bagian itu, berpindahlah ke bagian lain terlebih dahulu. Sampai semua bagian yang bisa Anda tulis, sudah selesai tertuliskan. Dengan demikian, Anda tidak membuang waktu untuk bingung pada bagian yang sulit tersebut.

Inilah keajaiban outline tulisan. Bisa menolong kita saat sedang mengalami kemacetan. Kita akan keluar dari kebingungan karena dipandu oleh outline. Maka meskipun tidak wajib dan tidak harus, membuat outline yang detail adalah cara untuk mengatasi kebingungan menulis.

Lalu bagaimana dengan bagian yang sulit tersebut? Setelah semua bagian yang mudah selesai dituliskan, sampailah pada bagian atau sub-bagian yang menjadi pokok kesulitan. Untuk mengatasi kebingungan menyelesaikan di bagian yang paling sulit tersebut, Anda bisa menyimak tulisan saya pada postingan selenjutnya.

Bersambung.

LOMBA MENULIS GURU

 

New Normal Bagi Guru dan Peserta Didik Saat PandemiI Melanda Di Kota Kecilku, Waingapu, Sumba Timur, NTT

  

Saat pandemi  datang, kita sedih. Apalagi melihat, mendengar berita di TV, di medsos, banyak saudara-saudara kita  yang  terserang covid, ada di karantina,  dirawat . Bahkan tidak sedikit juga  yang  sudah meninggal. Rasa takut, cemas, was-was ada terus pastinya. Oh Tuhan, semoga kami  selalu  diberikan kesehatan  dan terbebas darinya.

Saya adalah seorang ASN, guru, di mana  waktu itu pernah membayangkan, betapa bahagianya  jika  bisa menghirup  udara pagi di rumah setiap hari. Aktivitas di rumah yang bebaasss!! setiap hari.  Ternyata  Tuhan memberikan jawaban. Berkat Pandemi. Diwajibkan di rumah saja. Hari pertama, kedua, ketiga  sekitar 3 minggu, terasa  jenuh  dan bosan. Seiring berjalannya  waktu, akhirnya  kita bisa menikmati indahnya “di rumah saja”.  Suatu hal yang  tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Sebelum pandemi ada, guru dan siswa  harus bekerja,  menyelesaikan tugas dan tanggung jawab mencapai target kurikulum. Kami melaksanakan tatap muka dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah. Saat pandemi melanda,  kegiatan belajar mengajar  terasa ‘lebih ringan’, karena belajar dari rumah saja. Setiap orang punya  talenta masing-masing. Akhirnya  bakat masing-masing  mulai muncul. Hobi mulai tersalur.  Waktu mendukung. Setiap  orang jadi  bisa menggali potensi diri. Akhirnya masing-masing orang  bisa menunjukkan kreativ dan kompetensi pribadi. Setiap orang bisa  merealisasikan dan  mewujudnyatakan potensinya. Di antaranya:  memasak, menulis, olah raga dan lain-lain. Dari hobi  yang tersalur kita jadi merasa bahagia dan terhibur.

Kreativitas disebut juga sebagai berpikir kreativ (creative thinking), yaitu proses berpikir seseorang atau aktivitas kognitif seseorang dalam menghasilkan ide-de yang baru dan bermanfaat.’Suharnan’, 2005. Benar adanya , ternyata dengan adanya  musibah ini, hari-hari di rumah saja, kita bisa  lebih kreatif!.  Di rumah saya ada  beberapa  anak sekolah yang ‘tinggal’ atau ‘numpang’. Saat Pandemi mereka belajar dari rumah (BDR). Akhirnya saya pun menerapkan pembelajaran di rumah. Tujuannya  adalah mengarahkan mereka untuk memunculkan kreatif.  Saya mengajak  anak-anak untuk  berkebun, bertani,  menanam sayur, memasak, hasil  di-posting  di WA group, teman-teman  pesan kita antar, menghasilkan uang.

Saya senang melihat  dan membaca di postingan teman-teman guru dan peserta didik. Mereka mempunyai hobi baru.   Ada yang membuat bedeng untuk kebun sayur. Ada yang  menjual  hasil masakan. Ada yang menjual ikan hasil suluh. Mereka seolah  ada persaingan positif, berlomba untuk menunjukkan  semangatnya  dalam memanfaatkan  waktu luang di rumah. Asyik!!. Senang sekaligus bangga melihat mereka. Kita bisa saling memotivasi. Kita  saling partisipasi untuk  membeli produk rumahan mereka.

Untuk menggali potensi diri siswa, salah satu tugas  adalah  membuat ‘produk’, yaitu membuat poster. Poster berisi keterampilan baru di rumah.   Dibuat se-kreativ mungkin. Setiap anak   punya  bakat masing-masing dan  mereka punya rasa kreativ yang berbeda-beda.  Dan judul  tugas tersebut adalah “Aku Setelah Pandemi”. Poster hasil karyanya difoto  bersama pembuatnya, kirim lewat WA grup kelas.  Karena merupakan tugas wajib dan  merupakan salah satu   penilaian  mata pelajaran  ketrampilan  dalam  matematika. Mereka semangat. Mereka ingin membuat yang terbaik. Bukti fisik  dan karya  nyata  tanya orang tua lewat telpon. Mana mungkin peserta didik berani bohong sama gurunya.

Pembelajaran BDR menggunakan  ‘daring’ (dalam jaringan):  GCR ( Google Classromm),  Aplikasi  zoom , googleform dan berbagai aplikasi Internet akhirnya mereka  jadi  ‘tahu’, trampil dan ‘pengalaman’  menggunakan  HP Android dengan lancar jaya dan penuh semangat.  Mereka  jadi tahu benar  tentang ‘fungsi’ HP android yang sebenarnya. Kalau dulu  tahunya  ‘hanya’ untuk ‘main game’ buka ‘ You Tube’ ,”FB” kapasitas sebagai pemain game dan penonton saja.  Tapi sekarang  bisa untuk menggali informasi berbagai  hal. Bahkan  akhirnya  bisa kreativ  mendownload  berbagai aplikasi  karena ‘tuntutan’ tugas sekolah yang harus di ’video’kan. Seperti  aplikasi  ‘KineMaster’, ‘Canva’ , ‘CS’, ‘Tik Tok’, ‘ZOOM’ “classroom’, ‘Zenius’ ,’Snaptube’, ‘Meet , ‘Telegram’dan masih banyak lagi, yang mana gurunya sudah ‘kalah’  kreativ dibanding   keterampilan anak-anak.  Memang tidak semua,  tapi ‘lumayan’ beberapa anak jadi lebih kreativ  dalam memanfaatkan HP.

Waktu Luang di rumah terasa banyak. Kebersamaan dan Keakraban bersama keluarga mulai terasa. Rasa saling menyayangi, saling membutuhkan, saling melengkapi, Saling berbagi   semakin nyata. Dengan demikian tugas-tugas dari sekolah bisa dikerjakan dengan pendampingan kakak atau bahkan orang tua. Setiap tugas, pekerjaan terasa ringan dan menyenangkan.

Janganlah  pandemi itu dianggap sebagai  musibah, tetapi anggap  dia datang sebagai tamu, kita  sebagai tuan rumah harus menerima dengan penuh suka cita.  Kita tetap bersahabat, berdampingan. Ternyata  bagi sebagian orang, pandemi ini   membawa dampak positif. Membawa Berkah. Kita bisa  punya kegiatan-kegiatan kreativ.  Dimana dari kegiatan kreativ  bisa menumbuhkan bakat kita masing- masing  yang terpendam. Memunculkan  ide kreativ di luar  dugaan kita. Bahkan lebih membanggakan lagi  bisa  mempunyai penghasilan tambahan. Siapa tidak bangga kalau  punya penghasilan tambahan?  Kita  bisa belanja   ‘keinginan’ kita sesuai  uang “bonus” yang kita punya. Gaji bulanan, hanya cukup untuk belanja ‘kebutuhan’ kita, biasa sudah masuk ‘pos’  rutin. Dengan adanya uang bonus,  bisa kita  pakai untuk  sedikit bersenang-senang bersama keluarga, memanjakan  diri, makan yang lebih enak dari biasanya. Dulu tak sempat dan tak ada waktu. Saat  ini bisa merealisasikan.

Terima kasih  Tante Corona,  atas kedatanganmu,  kita tetap bersahabat!  Darimu kami menjadi lebih dewasa, lebih  menghargai kehidupan, lebih bisa menjaga kesehatan, tahu diri, dan  bisa menggali bakat pribadi. Semoga setelah pandemi  ini berlalu kita punya kebiasaan baru yang lebih produktif. Jika kita produktif kita akan merasakan  sebuah kebahagiaan baru. Inilah kebahagiaan  kecil  saya . Sederhana!. Bahagia bertumbuh  dengan mencapai  target-target kecil  yang diciptakan sendiri. Salam Literasi!. Salam Sehat! Semoga Pandemi  cepat berlalu.

 

Penulis adalah

Guru SMA Negeri 2 Waingapu

Sumba Timur, NTT

 

 

 

 

Jumat, 02 Oktober 2020

Tak kenal Maka Tak Sayang 1

 

 


Ku datang, Ku Menyapa, Akhirnya Ku Kenal Dia.

 

Berbagai macam tipe pemimpin baru ku tahu dan rasa. Pengalaman indah yang tak akan lupa. Senang, Sedih, prihatin, suka cita dan bahkan terharu. 

 

Sebagai seorang tamu, tergantung penerimaan tuan rumah. Ada  tuan rumah  yang terlalu amat sangat baik hati sampai tak bisa diungkap dengan kata, “ Mudah dirasa sukar dikata” ada yang setengah baik,  ada pula tuan rumah yang  tidak  berkenan jika kita  ada.

 

Pengalaman adalah guru yang terbaik. Kalimat ini  mengandung makna yang mendalam, bahwa dalam hidup  ini dibutuhkan bekal pengalaman agar bisa menjalani dengan baik. Sehingga  kesalahan yang pernah dilakukan tidak terulang kedua kalinya.

 

Tak kenal maka  tak sayang, itu adalah istilah yang selalu ada  dalam kehidupan. Dalam kekeluargaan . Atau bahkan dalam persaudaraan. Tanpa kita datang bertamu atau mengenalkan diri mana orang akan kenal kita.

 

Sebagai orang awam, Jika masuk di lingkungan baru, memang merasa ‘berbeda’.  Itu pasti.  Semoga dengan pengalaman orang akan menyesuaikan,belajar,dan beradaptasi. Dikandang ayam kita berkokok, di kandang kambing kita harus bisa mengembik. Katanya.

 

Saya  seorang ASN,  sudah beberapa kali kena mutasi  dari daerah konflik hingga daerah damai seperti saat ini. Dan merasakan  beberapa karakter kepemimpin. Jelas! Karakter setiap pemimpin berbeda. Dari kepemimpinannya pastilah akan berdampak kepada kemajuan lembaga yang dipimpinnya.

 

Saya adalah  guru bawahan, bukan siapa-siapa, bahkan  merasa tak berharga. Tapi saya sangat bersyukur  bisa mendapatkan kesempatan ‘berkunjung’ ke beberapa tempat sekedar mendampingi, menemani. Yah, seolah ikut  memantau, gitu. Terima kasih banyak untuk kesempatan yang sangat berharga  ini. Yang akhirnya banyak hal baru yang saya dapat.

 

Berbagai karakter pemimpin memang jadi nyata terlihat. Tipe juga bisa terbaca.  Rasa sosial kemanusiaan juga bisa menyentuh hati terasa. Gaya berhahasa pun terdengar indah  ditelinga saat menyapa. Jadi Pemimpin  memang tidak bisa dipandang  dengan sebelah mata.

 

Sebuah kuis singkat yang diterbitkan oleh Headway mampu melihat jenis pemimpin. Kapan pemimpin  harus menggunakan kelebihan dan bagaimana cara mengubah kelemahan menjadi peluang. Pemimpin atau leader ibarat otak dalam anatomi tubuh manusia, dia yang mengatur kerja organ lainnya.

 

Berikut ternyata  ada  6 tipe seorang pemimpin yang saya baca, jadi akhirnya  kita  bisa  membayangkan  ‘pemimpin’ yang kita kunjungi masuk  ‘tipe’ yang mana :

Ada yang #otoriter ( Kekuasaan) ,

#Militeristik ( Tuntutan kedisiplinan yang tinggi) ,

#Peternalistik ( Kebapakan yang tinggi),

#Karismatik (mempunyai daya tarik yang begitu besar sehingga tanpa diminta bawahannya akan memberikan penghormatan),

#Laissez Faire (membebaskan bawahannya melakukan hal sesuka hati nuraninya asalkan tujuan bersama dapat tercapai, hal ini karena anggapan bahwa organisasi akan berjalan dengan sendirinya).

Dan yang terakhir Tipe #Demokratis ( memberikan kebebasan pada anggotanya untuk berpendapat, menyampaikan aspirasi, serta mengembangkan bakat dan mempertimbangkan musyawarah untuk menetapkan suatu kebijakan kepada bawahannya).

 

Semua tipe adalah baik adanya, semua  menuju kebaikan dan kemajuan  suatu komunitas atau lembaga.  Hal ini  tergantung  masing-masing karakter setiap insan manusia.

 

Terimakasih banyak untuk yang   rela membaca  sampai habis. Ini sekedar ungkapan pengalaman baru saya yang tak akan kulupa di sepanjang masa.

 

#SalamHormat!

#Maju Bersama pasti Bisa! Semangat!

Orang Tua yang melakukan apa saja demi anak yang dicintainya.

 


 

 

Menulis tentang seseorang karena “terkesan” kepada subyeknya, tentang kisahnya.

Memang kisah ini biasa saja, ini tergantung dari cara kita memberi makna atas peristiwa yang ada.

 

 

L

ahir, hidup, mati, rejeki dan jodoh  bahkan nasib dari manusia itu sudah di atur olehNya.

Suka atau tidak suka kita harus menerimanya. Kita tetap bersyukur dengan yang ada.  Ajari kami Tuhan untuk bisa selalu berucap syukur dalam keadaan apapun, penuhi kami dengan keiklasan. Karena hidup adalah tantangan yang harus dihadapi. Penderitaan yang harus diatasi. Pertandingan yang harus dimenangkan.  Hidup juga sebuah kuajiban  yang harus  dilakukan oleh setiap manusia.

 

Alkisah sebuah keluarga  miskin diperkampungan daerah terpencil di nun jauh di sana. Karena terhimpitnya kehidupan. Sengsaranya keadaan. Perihnya  hati.  Lapar dan dahaga yang di rasakannya. Istri dan  dua orang anak yang  harus ditanggungnya.  Memang sudah berupaya   buat ladang. Tapi ladang tak pernah menghasilkan.  Karena  teriknya matahari dan  kamarau yang  teramat panjang. Sumber airpun mengering.

 

Betapa sedihnya hidup ini.  Hidup  enggan matipun  tidak mau. Karena  kurang makan dan kehidupan  serba berkekurangan, salah satu anaknya  jatuh sakit. Sakit selalu dianggap biasa.Jika sakit dibiarkan, toh nanti akan sembuh sendiri. Begitu dia punya keyakinan. Di perkampungan  jauh untuk pengobatan. Hari demi hari ditunggui saja. Sambil menunggu waktu, kapan sembuh itu terjadi. Ternyata  keyakinan itu meleset. Sakit semakin parah,  panaspus semakin tinggi.  Rasa panik pun tak  bisa dihindari. 

 

Karena situasi dan kondisi. Hanya punya seekor kambing dikandangnya. Demi si buah hati.  Dipikulnya kambing kesayangannya.Dibawa serta Istri dan anak-anaknya ke kota ditengah malam yang gulita dengan berjalan kaki. Lumayan, bisa sekitar dua puluhan kilo untuk dapat jalan raya.

 

Sampailah mereka di jalan raya tempat biasa  bis pedesaan  ada. Sekitar jam 9 , bis pun muncul. Mereka naik bis menuju kota.  Setelah turun,  konjakpun meminta bayarannya. Dengan segala keluh kesahnya. Akhirnya sang konjak mau membantu menjualkan kambing, sekalian untuk ongkos bisnya. Karena kebaikan hati pak supir diantarlah ia ke pasar supaya bisa jual dulu kambingnya  supaya  lunas ongkos bisnya. Seberapun  uang kambing yang penting sudah bisa untuk bekal hidup sementara di kota.

 

Orang kampung  tak tahu ramainya kota. Tak pikir panjang, mereka bertanya dimana rumah sakit berada. Ternyata ada saja orang baik yang rela mengantarnya. Sampailah mereka di rumah sakit. Dibawalah Hana  yang  sakit  itu menghadap ke dokter. Karena lambatnya penanganan dan lamanya  penderitaan, dokter memfonis bahwa dia sakit  lupus dan tak bisa disembuhkan. Lupus merupakan  penyakit inflamasi  kronis yang disebabkan oleh sistem imun yang bekerja dengan keliru. Dalam kondisi normal, sistem imun seharusnya melindungi tubuh dari serangan  infeksi virus atau bakteri.  Pada pengidap lupus ini  sistem imun justru menyerang jaringan dan organ tubuh sendiri. Dan tinggal menunggu waktu.Sedih. Tapi apa yang mau di kata. Kita harus tetap tabah menghadapinya.

 

Dokter pun menyarankan untuk pulang saja, karena memang sia-sia jika ditangan di rumah sakit. Dengan langkah lunglai dan tidak berdaya akhirnya dia pun harus menyetujuinya. Di gendongnya Hana, diciumnya dengan  peluh dan air mata.  Mereka pulang dengan  penuh rasa duka lara. Sedih, pilu!! Kita tak bisa menyalahkan siapa-siapa. Tubuh Hana kurus, lemas dan berdaya.

 

Suatu ketika Saya datang menemuinya. Kutatap matanya. Tersirat kesedihan di dalam dirinya. Ya, dia akan menanggung  sendiri keadaan sampai  seumur hidupnya.Tuhan, kuatkan dia dalam  kesengsaraannya. Semoga tetap semangat menjalani  kehidupannya sekarang hingga akhir hayatnya. Benar adanya, Tuhan  buat ujian  setiap manusia. Supaya kita semakin dekat denganNya. Semoga  ini  rencana Indah yang dibuatNya.

 

Tuhan kami berdoa untuk semua orang sakit dimana saja berada, yang di rumah maupun di rumah sakit bahkan  untuk yang sakit yang tak tersembuhkan. Semoga mendapatkan penawarnya. Untuk sembuh seperti sedia kala. Amin.

 

Syukur Tuhan, Kami sekarang dalam keadaan sehat-sehat saja, jauhkan kami  dari segala macam penyakit. Bebaskan pula  dari pandemi Corona yang melanda Dunia ini.

 

#Terinspirasiorangkampungyangselalukerumahsakitsaatsudahsakitamatsangatparahsekali

# Salam Sehat

Ingat 3M

#Mencucitangan dengaaairyangmengalir

#Menjagajarak

#MemakaiMasker

 

3092020

 

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...