Rabu, 13 Januari 2021

 

MENULIS MEMBANTU PROSES FORGIVENESS

.

Writing for Wellness – 12

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Memaafkan dan permaafan (forgiveness) bukan hal yang sederhana untuk dilakukan. Terlebih pada seseorang yang sudah merasa mendapatkan luka hati terlalu dalam. Namun selalu ada solusi untuk semua masalah yang dihadapi manusia. Menulis ekspresif terbukti membantu proses memaafkan.

Penelitian para ahli menunjukkan bahwa dengan menuliskan pengalaman traumatis tentang luka di hati yang detail, mampu membantu untuk munculnya permaafan. Misalnya menuliskan emosi apa yang dialami dari peristiwa tersebut, sesakit apa rasanya, apa yang menghalangi untuk memaafkan orang menyakitinya, dan lain sebagainya.

Michael E. McCullough (2006) melakukan studi manfaat menulis terkait permaafan. Sejumlah 304 partisipan diberi tugas menulis, dengan beberapa pilihan. Didapatkan hasil, kelompok partisipan yang menulis dengan harapan mendapatkan manfaat, menjadi lebih pemaaf terhadap pelanggar mereka dibandingkan dengan partisipan lainnya.

Hasil studi ini menunjukkan bahwa pencarian manfaat dalam menulis, bisa membantu orang memaafkan pelanggaran interpersonal (baca : kesalahan orang lain) melalui intervensi terstruktur.

Sebuah studi dilakukan oleh Neul Ha dan tim (2017), untuk menguji efek terapeutik dari terapi menulis permaafan pada korban pelecehan seksual. Partisipan berasal dari Korea Selatan yang pernah mengalami pelecehan seksual. Mereka diminta menulis tentang permaafan selama 30 menit.

Hasilnya, menulis permaafan memberikan penurunan yang signifikan pada rasa malu dan depresi, dan memberikan peningkatan pertumbuhan pascatrauma.

Beberapa ahli menyarankan menulis surat permaafan, yang bisa ditujukan kepada diri sendiri maupun orang lain. Leslie Anglesey menyatakan, menulis surat permaafan membantu Anda memaafkan diri sendiri maupun orang lain. Demikian pula Scott Colby menyarankan agar Anda menulis surat permaafan jika ingin mudah memaafkan.

Menuliskan hal-hal yang menyakitkan ternyata mampu membantu seseorang menyembuhkan luka yang dirasakan sekaligus memudahkan membuka hati untuk memaafkan kejadian yang terjadi maupun pelaku yang ada di kejadian tersebut.

Mengapa Sulit Memaafkan?

Para ahli –sebagaimana dikutip Scott Colby, menyatakan forgiveness adalah “conscious, deliberate decision to release feelings of vengeance or vengeance toward a person or group who has harmed you, regardless of whether they actually deserve your forgiveness.” 

Permaafan adalah keputusan yang disengaja untuk melepaskan perasaan dendam atau pembalasan terhadap orang atau kelompok yang telah menyakiti Anda, terlepas dari apakah mereka benar-benar pantas mendapatkan permaafan”.

Banyak orang yang sulit untuk memaafkan. Mereka beranggapan, bahwa jika tidak memaafkan orang yang bertindak merugikan, akan menjadi hukuman bagi orang tersebut. Tidak memaafkan dianggap sebagai bentuk hukuman atas perbuatan orang lain. Tidak memaafkan dianggap sebagai bentuk balas dendam.

Padahal ternyata tidak demikian. Sikap tidak memaafkan justru menyakiti diri sendiri. Berbagai studi psikologi positif menunjukkan bahwa sikap memaafkan memberikan dampak positif pada berbagai aspek.

Di antara manfaat permaafan adalah mengurangi depresi atau tekanan, memulihkan cara berpikir positif, pemulihan hubungan interpersonal, mengurangi kecemasan, menguatkan spiritualitas, menaikkan harga diri, memberikan harapan yang lebih besar, kapasitas yang lebih besar untuk manajemen konflik dan kemampuan untuk menemukan kelegaan (Beata Souders, 2020).

Bagaimana Menulis untuk Permaafan?

Tidak perlu pusing dalam memulai menulis luka hati Anda. Ini bukan tentang stuktur kalimat, tata bahasa, tanda baca, ejaan dan lain sebagainya. Ini adalah hal menuangkan perasaan ke dalam tulisan.

Seperti ungkapan Gabriel Garcia Marquez, penulis buku One Hundred Years of Solitude, ”What matters in life is not what happens to you but what you remember and how you remember it”. Ini adalah bab mengelola ingatan, agar tidak menyakitkan atau menimbulkan ketidaknyamanan.

Mari L. McCarthy menyarankan beberapa bentuk latihan menulis untuk membantu hadirnya forgiveness pada diri Anda.

  1. Tuliskan konflik yang mengganggu Anda. Siapa orang yang menyakiti Anda? Apa yang dilakukan orang itu pada diri Anda? Emosi apa yang Anda rasakan?
  2. Bayangkan apa yang akan terjadi seandainya sakit hati yang Anda rasakan ini menghilang secara tiba-tiba. Bagaimana perasaan Anda jika hal itu terjadi? Anda akan melakukan tindakan apa? Bisakah hal itu mengubah Anda?
  3. Tuliskan hal-hal yang menghalangi Anda untuk memaafkan orang lain.
  4. Apakah ada sesuatu yang Anda inginkan darinya sebelum memaafkan, seperti pengakuan, permintaan maaf, atau tindakan perbaikan? Bisakah Anda tetap memaafkan meskipun Anda tidak mendapatkan hal tersebut?
  5. Tuliskan tipe orang yang Anda inginkan dalam hubungan Anda. Apakah Anda ingin bermurah hati, baik hati, dan pemaaf? Apakah Anda ingin menyimpan dendam? Bagaimana Anda bisa menjadi diri yang paling kuat saat berada pada situasi paling sulit?

Mudah bukan? Dari menulis sederhana –yang berfungsi katarsis—seperti ini, akan membuat Anda lebih mudah untuk memaafkan. Endapkan semua tulisan itu, jangan dipublikasikan. Suatu saat, ketika Anda sudah merasa nyaman, bisa membuka kembali dokumen-dokumen bersejarah yang berserakan itu. Mungkin akan bisa diolah menjadi novel.

Selamat menulis, selamat menikmati permaafan.

Bahan Bacaan

Selasa, 05 Januari 2021

BERTAMBAH BAHAGIA DENGAN MENULIS KEBAHAGIAAN

 


.

Writing for Wellness – 3

Oleh : Cahyadi Takariawan

“Semua akan berkurang bila kau bagi dengan orang lain, kecuali kebahagiaan. Dia justru akan bertambah saat engkau berbagi dengan orang lain” –Mukhtar Asy-Syinqiti

.

Mengapa Anda senang memposting kuliner ke medsos? Mengapa Anda senang share foto saat sedang makan-makan enak? Mengapa di instagram dan facebook banyak bertebaran foto-foto wisuda, kuliner, wisata, traveling?

Saat seorang pecinta durian mendapatkan durian istimewa, sebelum menyantap, ia akan memotret dan mengunggah ke grup chatting. Seorang pecinta kopi, saat menemukan kopi eksotik, akan memotret dan mengunggah ke medsos sebelum menikmatinya.

Seorang traveler, ketika mengunjungi tempat wisata nan indah memesona, akan segera memotret, dan menyebarkan keindahan itu ke teman-temannya. Para pendaki gunung, setiba di puncak Everest, pertama kali adalah mencari spot foto. Setelah itu segera menyebar foto seru pendakian itu ke medsos.

Seorang mahasiswa, di hari wisuda, banyak mengabadikan kebahagiaan lulus kuliah. Foto-foto wisuda segera disebar di grup keluarga dan teman-teman. Diunggah pula di media sosial mereka.

Ternyata, kenikmatan kuliner, makin terasa nikmat saat Anda membaginya. Keseruan perjalanan, makin seru saat Anda membaginya. Kehebohan suasana, semakin heboh saat Anda membaginya. Kebahagiaan wisuda, makin kuat rasanya saat Anda membaginya.

Menuliskan Kebahagiaan

Menulis terbukti secara akademik bisa menjadi sarana pelepasan beban. Menulis sebagai sarana katarsis. Menulis juga menjadi sarana pelepasan ruminasi. Dengan menulis, beban telah dituliskan. Rasanya menjadi lega.

Ternyata, menulis kebahagiaan akan berdampak menambah kebahagiaan. Itulah sebabnya, berbagai kebahagiaan saat ngopi, kuliner, wisata, traveling dan lain sebagainya, akan semakin bertambah saat kita menuliskan suasananya.

Studi yang dilakukan oleh Burton dan King (2004) mengembangkan expressive writing dengan menuliskan peristiwa positif yang membahagiakan. Para peserta percobaan diminta menuliskan hal-hal positif yang dijumpai dalam kehidupan. Mereka menulis 20 menit setiap hari, selama tiga hari berturut-turut. Setiap hari, hasil tulisan mereka dievaluasi.

Burton dan King menemukan, bahwa menuliskan peristiwa-peristiwa yang membahagiakan, dapat meningkatkan kebahagiaan hati. Membuat suasana hati yang positif, bahkan setelah tiga bulan berlalu. Ini bisa menjelaskan, bahwa kebahagiaan akan membentuk lingkaran.

Sebuah kebahagiaan, ditulis dan diposting, akan melahirkan kebahagiaan baru. Kebahagiaan baru ini memicu kita untuk memperoleh kebahagiaan-kebahagiaan lainnya. Demikian seterusnya.

Seperti yang diungkapkan Muhammad Mukhtar Asy-Syinqiti (dalam Abu Bassam, 2016), “Semua akan berkurang bila kau bagi dengan orang lain, kecuali kebahagiaan. Dia justru akan bertambah saat engkau berbagi dengan orang lain”.

Menulis Kesyukuran

Expressive writing bisa bermacam-macam bentuknya. Anda bisa menuliskan ungkapan syukur yang tulus atas sebuah peristiwa atau memontum yang terjadi dalam kehidupan. Menuliskan rasa syukur, bisa membuat suasana hati Anda semakin baik dan semakin positif. Ini akan memengaruhi kualitas kegiatan yang Anda lakukan sepanjang hari.

Anda bisa menuliskan kesyukuran atas hal-hal sederhana, seperti “Saya bersyukur merasakan sinar matahari yang menyehatan pagi ini.” Anda telah bersyukur atas hangat dan cerahnya sinar matahari. Anda merasakan kecerahan dan kehangatan, sesuatu yang patut Anda syukuri.

Bagi Anda yang beragama Islam, teori ini sangat bersesuaian dengan makna ayat, “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS. Ibrahim : 7).

Menurut Yoni Cohen, menuliskan kesyukuran membuat jiwa Anda semakin positif, semakin menghargai diri sendiri, tidur semakin nyenyak, menambah kebahagiaan, serta mengurangi stres. Tulis saja kesyukuran Anda, agar semakin bersinar hidup Anda.

Selamat berkarya.

Bahan Bacaan

MENULIS HAL POSITIF UNTUK KESEHATAN MENTAL

 


.

Writing for Wellness – 4

Oleh : Cahyadi Takariawan

“We also found that writing about happy moments was effective, regardless of the levels of distress that people reported at the start of the study” – Michael Smith, 2018

.

Studi yang dilakukan oleh Michael Smith, Associate Professor of Psychology dari Universitas Northumbria Newcastle menunjukkan, menuliskan emosi positif dapat membantu mengurangi stres dan kecemasan. Hasil studi tersebut diterbitkan dalam British Journal of Health Psychology, 2018.

Dalam penelitian yang dilakukan sebelumnya, Smith juga menemukan bahwa menuliskan emosi negatif dapat memperbaiki kesehatan mental. Rutin menuliskan emosi negatif, dapat menyebabkan lebih sedikit kunjungan ke dokter, lebih sedikit gejala sakit, dan lebih sedikit cuti kerja karena sakit. Dengan kesehatan mental yang baik, membawa perbaikan pula pada kesehatan fisik.

Cukup Menulis Duapuluh Menit Sehari

Dari serangkaian studi yang dilakukan Smith, menulis pengalaman positif selama 20 menit sehari, selama tiga hari berturut-turut, mampu memperbaiki suasana hati dan menyebabkan lebih sedikit kunjungan ke dokter. Bahkan menulis sedikitnya dua menit sehari tentang pengalaman positif telah terbukti mengurangi jumlah keluhan kesehatan.

Studi yang dilakukan Smith melibatkan 71 partisipan, berusia 19 hingga 77 tahun. Mereka semua adalah orang yang sehat. Selanjutnya Smith secara acak membagi mereka ke dalam dua kelompok. Kelompok pertama terdiri dari 37 peserta, kelompok kedua terdiri dari 34 peserta.

Kelompok pertama diminta menulis tentang pengalaman terindah dalam hidup mereka selama 20 menit sehari, selama tiga hari berturut-turut. Kelompok kedua diminta menulis tentang topik netral, seperti rencana kegiatan di hari itu, atau hal-hal lainnya, selama 20 menit sehari, selama tiga hari berturut-turut.

Smith mengukur tingkat kecemasan, dari laporan para partisipan, sebelum dan sesudah menyelesaikan tugas menulis. Ia menemukan penurunan kecemasan yang jauh lebih besar bagi orang-orang yang menulis pengalaman positif, dibandingkan dengan mereka yang menulis topik netral.

Para partisipan juga diminta melaporkan tingkat kecemasan dan keluhan kondisi fisik mereka, empat minggu setelah menyelesaikan tugas menulis. Terbukti stres dan kecemasan menurun secara signifikan, terutama pada partisipan yang menulis pengalaman positif, dibandingkan dengan laporan sebelum menyelesaikan tugas menulis.

Menuliskan peristiwa bahagia terbukti efektif untuk memperbaiki kesehatan mental, terlepas dari seberapapun level masalah yang dilaporkan pada awal penelitian. Dengan cara yang sangat sederhana dan simpel ini, kesehatan mental bisa ditingkatkan dari waktu ke waktu.

Melakukan Journaling

Hal ini sejalan dengan studi yang dilakukan oleh Briana Murnahan (2010) dari Eastern Michigan University. Melakukan ‘journaling’ (menulis laporan perkembangan diri) sebagai bentuk expressive writing, adalah cara efektif untuk mengurangi kecemasan dan menjauhkan seseorang dari berpikir negatif secara berlebihan. Tulisan ekspresif bisa juga dilakukan melalui email dan blog.

Partisipan yang diteliti dalam studi Murnahan, sering mengalami kecemasan ketika akan melakukan pekerjaan yang berat dan penuh tekanan. Dengan pembiasaan menulis ekspresif, mereka merasa tenang, bisa berpikir dengan kepala dingin dan terhindar dari kelelahan akibat kecemasan.

Secara praktik, teknik journaling seperti ini sangat sederhana. Michael Smith menyatakan, “An advantage of writing about positive emotions to tackle stress and anxiety is its simplicity. Unlike many other strategies for improving psychological well-being, this task needs no training or time spent with a therapist. People can do it at a time and place that is convenient for them – and it’s free”.

Menurutnya, keuntungan teknik menulis emosi positif untuk mengatasi stres dan kecemasan adalah pada kesederhanaannya. Tidak seperti berbagai teknik lain untuk meningkatkan kesejahteraan mental, tugas menulis ini tidak memerlukan pelatihan khusus, juga tidak perlu menghabiskan  waktu untuk mendatangi terapis. Siapapun dapat melakukannya sendiri pada waktu dan tempat yang sesuai bagi mereka – dan gratis.

Selamat menulis, selamat menikmati kebahagiaan.

Bahan Bacaan

Briana Murnahan, Stress and Anxiety Reduction Due to Writing Diaries, Journals, E-mail, and Weblogs, Eastern Michigan University, 2010, https://commons.emich.edu/

Michael Smith, To Reduce Stress and Anxiety, Write Your Happy Thoughts Down, https://theconversation.com, 12 Juli 2018

MENULIS HAL POSITIF UNTUK KESEHATAN MENTAL

.

Writing for Wellness – 4

Oleh : Cahyadi Takariawan

“We also found that writing about happy moments was effective, regardless of the levels of distress that people reported at the start of the study” – Michael Smith, 2018

.

Studi yang dilakukan oleh Michael Smith, Associate Professor of Psychology dari Universitas Northumbria Newcastle menunjukkan, menuliskan emosi positif dapat membantu mengurangi stres dan kecemasan. Hasil studi tersebut diterbitkan dalam British Journal of Health Psychology, 2018.

Dalam penelitian yang dilakukan sebelumnya, Smith juga menemukan bahwa menuliskan emosi negatif dapat memperbaiki kesehatan mental. Rutin menuliskan emosi negatif, dapat menyebabkan lebih sedikit kunjungan ke dokter, lebih sedikit gejala sakit, dan lebih sedikit cuti kerja karena sakit. Dengan kesehatan mental yang baik, membawa perbaikan pula pada kesehatan fisik.

Cukup Menulis Duapuluh Menit Sehari

Dari serangkaian studi yang dilakukan Smith, menulis pengalaman positif selama 20 menit sehari, selama tiga hari berturut-turut, mampu memperbaiki suasana hati dan menyebabkan lebih sedikit kunjungan ke dokter. Bahkan menulis sedikitnya dua menit sehari tentang pengalaman positif telah terbukti mengurangi jumlah keluhan kesehatan.

Studi yang dilakukan Smith melibatkan 71 partisipan, berusia 19 hingga 77 tahun. Mereka semua adalah orang yang sehat. Selanjutnya Smith secara acak membagi mereka ke dalam dua kelompok. Kelompok pertama terdiri dari 37 peserta, kelompok kedua terdiri dari 34 peserta.

Kelompok pertama diminta menulis tentang pengalaman terindah dalam hidup mereka selama 20 menit sehari, selama tiga hari berturut-turut. Kelompok kedua diminta menulis tentang topik netral, seperti rencana kegiatan di hari itu, atau hal-hal lainnya, selama 20 menit sehari, selama tiga hari berturut-turut.

Smith mengukur tingkat kecemasan, dari laporan para partisipan, sebelum dan sesudah menyelesaikan tugas menulis. Ia menemukan penurunan kecemasan yang jauh lebih besar bagi orang-orang yang menulis pengalaman positif, dibandingkan dengan mereka yang menulis topik netral.

Para partisipan juga diminta melaporkan tingkat kecemasan dan keluhan kondisi fisik mereka, empat minggu setelah menyelesaikan tugas menulis. Terbukti stres dan kecemasan menurun secara signifikan, terutama pada partisipan yang menulis pengalaman positif, dibandingkan dengan laporan sebelum menyelesaikan tugas menulis.

Menuliskan peristiwa bahagia terbukti efektif untuk memperbaiki kesehatan mental, terlepas dari seberapapun level masalah yang dilaporkan pada awal penelitian. Dengan cara yang sangat sederhana dan simpel ini, kesehatan mental bisa ditingkatkan dari waktu ke waktu.

Melakukan Journaling

Hal ini sejalan dengan studi yang dilakukan oleh Briana Murnahan (2010) dari Eastern Michigan University. Melakukan ‘journaling’ (menulis laporan perkembangan diri) sebagai bentuk expressive writing, adalah cara efektif untuk mengurangi kecemasan dan menjauhkan seseorang dari berpikir negatif secara berlebihan. Tulisan ekspresif bisa juga dilakukan melalui email dan blog.

Partisipan yang diteliti dalam studi Murnahan, sering mengalami kecemasan ketika akan melakukan pekerjaan yang berat dan penuh tekanan. Dengan pembiasaan menulis ekspresif, mereka merasa tenang, bisa berpikir dengan kepala dingin dan terhindar dari kelelahan akibat kecemasan.

Secara praktik, teknik journaling seperti ini sangat sederhana. Michael Smith menyatakan, “An advantage of writing about positive emotions to tackle stress and anxiety is its simplicity. Unlike many other strategies for improving psychological well-being, this task needs no training or time spent with a therapist. People can do it at a time and place that is convenient for them – and it’s free”.

Menurutnya, keuntungan teknik menulis emosi positif untuk mengatasi stres dan kecemasan adalah pada kesederhanaannya. Tidak seperti berbagai teknik lain untuk meningkatkan kesejahteraan mental, tugas menulis ini tidak memerlukan pelatihan khusus, juga tidak perlu menghabiskan  waktu untuk mendatangi terapis. Siapapun dapat melakukannya sendiri pada waktu dan tempat yang sesuai bagi mereka – dan gratis.

Selamat menulis, selamat menikmati kebahagiaan.

Bahan Bacaan

Briana Murnahan, Stress and Anxiety Reduction Due to Writing Diaries, Journals, E-mail, and Weblogs, Eastern Michigan University, 2010, https://commons.emich.edu/

Michael Smith, To Reduce Stress and Anxiety, Write Your Happy Thoughts Down, https://theconversation.com, 12 Juli 2018

MENULIS HAL POSITIF UNTUK KESEHATAN MENTAL

.

Writing for Wellness – 4

Oleh : Cahyadi Takariawan

“We also found that writing about happy moments was effective, regardless of the levels of distress that people reported at the start of the study” – Michael Smith, 2018

.

Studi yang dilakukan oleh Michael Smith, Associate Professor of Psychology dari Universitas Northumbria Newcastle menunjukkan, menuliskan emosi positif dapat membantu mengurangi stres dan kecemasan. Hasil studi tersebut diterbitkan dalam British Journal of Health Psychology, 2018.

Dalam penelitian yang dilakukan sebelumnya, Smith juga menemukan bahwa menuliskan emosi negatif dapat memperbaiki kesehatan mental. Rutin menuliskan emosi negatif, dapat menyebabkan lebih sedikit kunjungan ke dokter, lebih sedikit gejala sakit, dan lebih sedikit cuti kerja karena sakit. Dengan kesehatan mental yang baik, membawa perbaikan pula pada kesehatan fisik.

Cukup Menulis Duapuluh Menit Sehari

Dari serangkaian studi yang dilakukan Smith, menulis pengalaman positif selama 20 menit sehari, selama tiga hari berturut-turut, mampu memperbaiki suasana hati dan menyebabkan lebih sedikit kunjungan ke dokter. Bahkan menulis sedikitnya dua menit sehari tentang pengalaman positif telah terbukti mengurangi jumlah keluhan kesehatan.

Studi yang dilakukan Smith melibatkan 71 partisipan, berusia 19 hingga 77 tahun. Mereka semua adalah orang yang sehat. Selanjutnya Smith secara acak membagi mereka ke dalam dua kelompok. Kelompok pertama terdiri dari 37 peserta, kelompok kedua terdiri dari 34 peserta.

Kelompok pertama diminta menulis tentang pengalaman terindah dalam hidup mereka selama 20 menit sehari, selama tiga hari berturut-turut. Kelompok kedua diminta menulis tentang topik netral, seperti rencana kegiatan di hari itu, atau hal-hal lainnya, selama 20 menit sehari, selama tiga hari berturut-turut.

Smith mengukur tingkat kecemasan, dari laporan para partisipan, sebelum dan sesudah menyelesaikan tugas menulis. Ia menemukan penurunan kecemasan yang jauh lebih besar bagi orang-orang yang menulis pengalaman positif, dibandingkan dengan mereka yang menulis topik netral.

Para partisipan juga diminta melaporkan tingkat kecemasan dan keluhan kondisi fisik mereka, empat minggu setelah menyelesaikan tugas menulis. Terbukti stres dan kecemasan menurun secara signifikan, terutama pada partisipan yang menulis pengalaman positif, dibandingkan dengan laporan sebelum menyelesaikan tugas menulis.

Menuliskan peristiwa bahagia terbukti efektif untuk memperbaiki kesehatan mental, terlepas dari seberapapun level masalah yang dilaporkan pada awal penelitian. Dengan cara yang sangat sederhana dan simpel ini, kesehatan mental bisa ditingkatkan dari waktu ke waktu.

Melakukan Journaling

Hal ini sejalan dengan studi yang dilakukan oleh Briana Murnahan (2010) dari Eastern Michigan University. Melakukan ‘journaling’ (menulis laporan perkembangan diri) sebagai bentuk expressive writing, adalah cara efektif untuk mengurangi kecemasan dan menjauhkan seseorang dari berpikir negatif secara berlebihan. Tulisan ekspresif bisa juga dilakukan melalui email dan blog.

Partisipan yang diteliti dalam studi Murnahan, sering mengalami kecemasan ketika akan melakukan pekerjaan yang berat dan penuh tekanan. Dengan pembiasaan menulis ekspresif, mereka merasa tenang, bisa berpikir dengan kepala dingin dan terhindar dari kelelahan akibat kecemasan.

Secara praktik, teknik journaling seperti ini sangat sederhana. Michael Smith menyatakan, “An advantage of writing about positive emotions to tackle stress and anxiety is its simplicity. Unlike many other strategies for improving psychological well-being, this task needs no training or time spent with a therapist. People can do it at a time and place that is convenient for them – and it’s free”.

Menurutnya, keuntungan teknik menulis emosi positif untuk mengatasi stres dan kecemasan adalah pada kesederhanaannya. Tidak seperti berbagai teknik lain untuk meningkatkan kesejahteraan mental, tugas menulis ini tidak memerlukan pelatihan khusus, juga tidak perlu menghabiskan  waktu untuk mendatangi terapis. Siapapun dapat melakukannya sendiri pada waktu dan tempat yang sesuai bagi mereka – dan gratis.

Selamat menulis, selamat menikmati kebahagiaan.

Bahan Bacaan

Briana Murnahan, Stress and Anxiety Reduction Due to Writing Diaries, Journals, E-mail, and Weblogs, Eastern Michigan University, 2010, https://commons.emich.edu/

Michael Smith, To Reduce Stress and Anxiety, Write Your Happy Thoughts Down, https://theconversation.com, 12 Juli 2018

MENULIS MENINGKATKAN DAYA INGAT OTAK

 


.

Writing for Wellness – 5 

Oleh : Cahyadi Takariawan

Writing has deep therapeutic advantages. Writing is also a good exercise for the brain to stimulate the brain cells and to improve memory — Kathy Mitchell (2018)

.

Beberapa orang peserta majelis taklim, sangat rajin membuat catatan setiap kali mengikuti kajian. Saya terkagum dengan semangat seorang nenek yang selalu duduk di barisan paling depan setiap mengikuti majelis taklim, dengan membawa buku dan pulpen. Ia sangat banyak menulis setiap materi yang disajikan, hingga buku catatannya sangat banyak.

Apa yang ia dapatkan dari mencatat? Rupanya, ia menjadi mudah mengingat poin-poin penting dari setiap materi di majelis taklim. Dengan demikian, lebih mudah baginya untuk menyampaikan isi kajian itu kepada orang lain. Inilah salah satu manfaat membuat catatan.

Saya sangat merasakan perbedaan, antara membuat tulisan dengan tidak membuat tulisan. Saat saya diminta menyampaikan sebuah materi dalam forum seminar, saya akan membuat tulisan terlebih dahulu. Misalnya, ketika diminta menyampaikan materi tentang toxic parents, saya buat tulisan terlebih dahulu.

Menulis materi tentang toxic parents, membuat saya harus belajar. Saya mulai dengan mencari rujukan, mencari bahan. Setelah membaca banyak rujukan tentang toxic parents, saya buat point-poin kesimpulan. Berikutnya, saya membuat kerangka tulisan, lalu membuat tulisan yang saya posting di blog Ruang Keluarga atau Kompasiana.

Setelah menulis, saya kembali membuat poin-poin yang akan saya  sampaikan di forum seminar nanti. Saat di forum, saya merasa sangat siap, dan bisa menyampaikan dengan lancar. Saya mengingat poin-poin penting dari materi tersebut. Inilah salah satu keuntungan menulis.

Menulis Meningkatkan Daya Ingat

Kathy Mitchell (2018) menyatakan, manfaat menulis sangat besar dalam kehidupan manusia, namun sayangnya sering diremehkan. Menurut Kathy, menulis memiliki dampak terapeutik yang luas. Menulis juga merupakan latihan otak yang baik untuk merangsang sel-sel otak dan meningkatkan daya ingat.

Mengutip Bridget Murray dari American Psychological Association, Kathy mengingatkan bagaimana para psikolog telah menggunakan metode menulis untuk merawat ribuan pasien yang mengalami kecemasan, depresi, dan trauma. Kathy mengajak kita semua menulis secara teratur untuk membuat hari esok yang lebih baik.

Studi yang dilakukan Burton dan King (2004) memberikan penjelasan tentang fenomena tersebut. Burton dan King menemukan fakta bahwa semakin banyak otak menghabiskan energi untuk memikirkan stres, akan semakin sedikit energi yang tersisa untuk membentuk daya ingat dan menjalankan fungsi kognitif lainnya.

Para peserta dalam penelitian ini diminta untuk menulis ekspresif yang diyakini dapat menurunkan level stres. Hasilnya sangat positif, daya ingat mereka meningkat, begitu juga dengan fungsi kecerdasan lainnya. Terbukti secara akademis, bahwa menulis berkorelasi dengan peningkatan daya ingat.

Bukan hanya pada orang ‘normal’. Web Headaway memuat hasil pengamatan terhadap pasian cedera otak. Pada pasien cedera otak, menulis kreatif menjadi salah satu model terapi. Menulis kreatif diyakini memiliki sejumlah manfaat kognitif bagi pasien cedera otak.

Menulis bukan hanya membantu meningkatkan kemampuan kognitif pasien cedera otak, namun juga membantu selama proses rehabilitasi. Proses menulis membantu pasien cedera otak untuk berlatih konsentrasi dengan cara fokus pada alur cerita.

Mengingat Hal-Hal Penting

Dustin Wax menjelaskan, otak manusia dibagi menjadi beberapa wilayah yang memproses berbagai jenis informasi. Ada bagian yang memproses informasi visual, informasi pendengaran, emosi, komunikasi verbal, dan sebagainya. Meskipun wilayah yang berbeda ini saling berkomunikasi, namun masing-masing memiliki prosesnya sendiri itu harus diselesaikan.

Saat kita mendengarkan kuliah atau ceramah, bagian otak yang menangani pendengaran dan bahasa menjadi terlibat aktif. Ini meneruskan beberapa informasi ke dalam ingatan kita, tetapi tidak membeda-bedakan dalam cara melakukannya. Jadi, informasi yang penting, diperlakukan secara sama dengan yang lainnya.

Namun ketika mencatat, sesuatu yang lain telah terjadi. Saat mencatat, kita membuat hubungan spasial antara berbagai bagian informasi yang kita rekam. Tugas spasial ditangani oleh bagian lain dari otak, dan tindakan menghubungkan informasi verbal dengan hubungan spasial, tampaknya menyaring informasi yang kurang relevan atau kurang penting.

Dalam satu tes terhadap mahasiswa psikologi, mereka yang tidak membuat catatan, mengingat jumlah poin yang sama dengan yang membuat catatan. Artinya, sekadar mencatat, tidak menambah jumlah poin yang mereka ingat. Kedua kelompok mahasiswa mengingat sekitar 40% informasi yang dibahas dalam kuliah.

Akan tetapi mahasiswa yang membuat catatan, mampu mengingat lebih banyak poin-poin penting dari materi kuliah. Sementara itu, mahasiswa yang tidak mencatat, lebih mengingat poin acak saja –bukan poin-poin kunci yang penting.

Tes ini memberi petunjuk, bahwa ketika menulis, kita telah melakukan pengaturan informasi yang kita terima. Proses itulah yang membantu memperbaiki ide di benak kita, yang mengarah pada daya ingat yang lebih besar di kemudian hari.

Menuliskan sesuatu telah berfungsi sebagai ‘latihan kecil’ untuk melakukan sesuatu tersebut. Ketika seseorang menulis ‘bermain-main di pantai’ –misalnya, otak berpikir benar-benar melakukannya. Dengan demikian otak dilatih untuk mengingat hal-hal yang ditulis tersebut, seakan-akan nyata bagi dirinya. Itu sebabnya, daya ingat semakin baik.

Selamat menulis.

Bahan Bacaan

Senin, 04 Januari 2021

Semangat Beraktivitas Mulai Pagi Hari

 

1. Pagi beda banget dgn siang, sore, atau malam. Pagi selalu menyegarkan karena umumnya kita bangun dari istirahat malam. Setelah mata terbuka, pikiran kita lebih tenang, hati lebih stabil, dan tubuh lebih kuat. 


2. Jika bisa, usahakan bangun lebih pagi. Misalnya, jam 3 atau 4. Luangkan waktu untuk ibadah sunnah, agar makna hidup kita dapat. Atau, luangkan kesempatan untuk menulis apa rencana yang mau dicapai per hari ini, sampai malam nanti. 


3. Setelah subuh, usahakan olahraga sedikit. Agar tubuh gerak semuanya. Tubuh yang rutin olahraga sangat membantu produktivitas seseorang dalam aktifitasnya. 


4. Sempatkanlah menyapa dunia sejak pagi. Sapa kawan-kawan, saudara, dan teman di medsos. Doakan agar mereka sehat dan kita semua sehat. Ketika beribadah subuh, jangan lupa doakan ibu dan bapak, keluarga (suami-istri, anak, adik/kakak) agar semuanya baik. Doa menguatkan orang dan diri sendiri. 


5. Capailah produktivitas kerja sebaik-baiknya, semaksimalnya. Jangan setengah-setengah. Tuntaskan apa yang telah diniatkan, apalagi jika telah diucapkan. 


Minggu, 03 Januari 2021

AKM PERLU DIPERSIAPKAN SEJAK DINI

 


 

                Tidak lama lagi AKM dilaksanakan. Mas Mentri sudah  mengumumkan kurikulum baru. Bahkan Jadwal AKM pun sudah ada. Pemangku kepentingan tinggal siap melaksanakan.

Berbicara  tentang  pendidikan  tak akan pernah habis. Setiap  ganti menteri  ya ganti kurikulumnya. Jujur ..., hehe  kadang  saya pusing , pening dan bahkan stres.  Tapi mau bagaimana lagi?  Mau tidak mau. Siap tidak siap. Harus bisa!! Semangaaat!! 

Sebagai  murid (SD), siswa (SMP), peserta didik SMA) dan guru, ‘tidak’ mungkin  mengelak segala tantangan dan tuntutan dari proses dinamika pendidikan.  Kita harus  hadapi dengan optimis. Suatu saat  kita akan memetik buah-buah kebaikan untuk hidup  kita dan masa depan generasi  bangsa kita. “Pendidikan itu berakar pahit  tapi berbuah manis”, Aristoteles.

Tahukah anda  AKM?  AKM  (Asesmen Kompetensi Minimum) merupakan  penilaian kompetensi mendasar yang diperlukan oleh semua murid untuk mampu mengembangkan kapasitas diri dan partisipasi positif pada masyarakat.

 Sedangkan tujuan AKM untuk mendapatkan informasi mengetahui  capaian siswa  terhadap ‘kompetensi’ yang diharapkan. Dan menghasilkan ‘informasi ‘ yang memicu perbaikan kualitas belajar mengajar.

AKM  mengukur #literasi membaca dan #numerasi sebagai hasil belajar kognitif. Yang mengikuti  asesmen adalah peserta didik. #Surveykarakter  mengukur sikap, kebiasaan, nilai (values) sebagai hasil belajar non kognitif. Yang mengikuti  survey adalah peserta didik dan guru. #Surveylingkunganbelajar, mengukur kualitas pembelajaran dan iklim sekolah yang menunjang pembelajaran. Yang mengikuti survey  adalah kepala satuan pendidikan.

Asesmen Nasional akan di gelar pada pekan pertama bulan  Maret 2021 untuk kelas 11 (SMA dan SMK) , pekan ketiga  bulan Maret 2021  untuk kelas 8 SMP/MTS. Bulan Agustus 2021 kelas 5 SD dan MI.

Sebagai Pembanding:

 

#UjianNasional

 

Pelaksanaan Ujian Nasional di akhir  jenjang.  Kelas 6 SD dan MI ,kelas 9 SMP/MTs dan SMA kelas 12.  Guru ‘tidak’ memiliki waktu lagi untuk  melakukan perbaikan kualitas siswa karena  harus ke jemjang selanjutnya. UN/US menguji beberapa mata pelajaran , Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika dll.  Cenderung  menguji penghafalan.  Bagaimana  siswa menguasai materi? Siswa hanya menguasai konten dan  menghafal. Dunia saat ini tidak membutuhkan penghafal. Dengan UN efek stress terlalu tinggi, siswa harus menghafal rumus . Bukan hanya siswa yang  stres tapi guru dan orangtua juga stres. Ada juga kecurangan demi mengejar nilai.  Nilai UN menjadi tolok ukur keberhasilan siswa.

 

             #AKM

 

Sasaran kelas 5 SD dan MI  kelas 11 SMP dan MTs  dan 12 SMA/MA dan SMK.

Di sini dimaksudkan guru ‘ada’  waktu untuk  memperbaiki karena  di tengah   jenjang. Selama  setahun  kesempatan siswa memperbaiki penilaian.  Hasil AKM  dilaporkan dalam empat  kelompok, yaitu :Perlu intervensi khusus, Dasar,Cakap dan mahir.

Pertama, penilaian kompetensi #literasi membaca. Teks informasi : teks yang bertujuan untuk  memberikan fakta data dan informasi dan teks fiksi teks yang bertujuan untuk memberikan pengalaman  mendapatkan  hiburan, menikmati  cerita dan melakukan perenungan kepada pembaca. Kemampuan untuk memahami, menggunakan, mengevaluasi dan mereflesikan.  Dari membaca level tersebut adalah menemukan informasi, interpretasi serta evaluasi dan refleksi.

Kedua, penilaian  #numerasi: bilangan, pengukuran dan geometri, data dan ketidakpastian, aljabar. Kemampuan  berpikir menggunakan  konsep, prosedur, fakta dan alat  matematika  untuk menyelesaikan  masalah sehari-hari. Memahami fakta, prosedur serta alat matematika. Siswa mampu menerapkan  konsep matematika  dalam situasi  nyata yang bersifat rutin dan yang dialami sehari-hari.  

 

Soal AKM  menguji #penalaran . Efek stress rendah. Soal AKM #tidakmonoton. Berikut ini merupakan 5 bentuk soal untuk AKM: pilihan ganda ( satu jawaban), pilihan ganda kompleks (bisa memilih beberapa jawaban), menjodohkan, Isian singkat dan Uraian.

Setelah melihat beberapa perbedaan semoga kita tertarik  dengan  terobosan mas mentri Nadim Makarin. Semoga para  guru dapat cepat beradaptasi dengan AKM ini. Sehingga memudahkan pula proses adaptasi para  siswanya. Selamat datang AKM. Siswa, guru dan Orang tua pasti Bisa!

Mari kita bersama belajar mandiri  demi  kemajuan pendidikan peserta didik kita. Tak ada kata terlambat  bagi  kita yang punya niat untuk mengubah sesuatu yang lebih baik khususnya pendidikan. Obat itu terasa pahit tapi diminum untuk menyehatkan.

Bukan saja peserta didik yang belajar, tetapi guru juga wajib terus  belajar. ”Long life Education”. Salam Literasi!.

 

 

APAKAH YANG DIHARAPKAN DARI ASSESMEN KOMPETENSI MINIMUM ( AKM) ?

 


 

 



Ledwina Eti Wuryani, S.Pd

SMA Negeri 2 Waingapu, Sumba Timur NTT

 

 

 

Berbicara  tentang  pendidikan  tak akan pernah habis. Selalu seru dan menarik. Kurikulum selalu berubah sesuai dengan perkembangan  jaman. Setiap menteri baru kurikulumnya  ikut baru.  Up to date always . Tapi jujur....,  kadang  dengan adanya dinamika pendidikan ini membuat   kepala saya pusing, pening,  bahkan bisa  membuat jadi stres. Tapi mau bagaimana?  Saya sebagai seorang guru ‘wajib’ hukumnya menjalankan  proses ini. Demi  kemajuan peserta didik kita dan demi  masa depan mereka.

Sebagai  pemangku kepentingan ‘tidak’ mungkin  mengelak segala tantangan dan tuntutan dari proses dinamika pendidikan.  Kita harus  hadapi dengan optimis dan  penuh semangat. Suatu saat  kita akan memetik buah-buah kebaikan itu untuk hidup  kita dan masa depan generasi  bangsa kita. “Pendidikan itu berakar pahit  tapi berbuah manis”, Aristoteles.

Penyelenggaraan UN tahun 2021, akan diubah menjadi AKM (Asesmen Kompetensi Minimum) dan survei karakter yang  terdiri dari kemampuan  bernalar  menggunakan  bahasa (literasi), kemampuan  bernalar  menggunakan matematika (numerasi), dan penguatan  pendidikan karakter”, Jelas mas mentri  seperti yang dikutip dari  liputan6.com

Jadi AKM  mengukur literasi membaca dan numerasi sebagai hasil “belajar kognitif”. Yang mengikuti  asesmen adalah peserta didik. Survey karakter  mengukur sikap, kebiasaan, nilai (values) sebagai hasil belajar “non kognitif”. Yang mengikuti  survey adalah peserta didik dan guru. Survey lingkungan belajar , mengukur kualitas pembelajaran dan iklim sekolah yang menunjang pembelajaran. Yang mengikuti survey  adalah kepala satuan pendidikan.

Peserta didik nanti  akan menghadapi situasi yang baru. Proses pembelajaran lebih praktis. Tidak perlu ‘menghafalkan’ materi-materi pelajaran tertentu yang biasa ada pada pelajaran Sejarah, PKN atau agama. Tidak perlu  ‘menghafalkan’ rumus-rumus  yang biasa ada pada pelajaran  matematika , kimia , fisika, ekonomi.

Jika  kita  cerita pada Ujian Nasional ada  saja siswa yang mengantuk dan pusing kepala karena tidak tidur gegara  menghafal rumus. Ikut bimbingan belajar  mahal untuk kejar ‘target’ nilai tinggi. Ada pula  siswa  sibuk cari bocoran, bukannya belajar. Kita  juga biasa dengar dan lihat di medsos  adanya kecurangan-kecurangan yang dilakukan, itu bisa terjadi saat ujian dengan kertas pensil ( UNKP). UN cenderung menguji penghafalan. UN efek stress terlalu tinggi, karena yang diujikan 6 mata pelajaran . Belum lagi  ditambah ujian non UN, Agama, Olah raga praktek/praktikum. Bukan hanya siswa yang stress tapi guru dan Orang tua juga ikut stress.

Dengan adanya AKM ini, tentunya dimaksudkan  supaya ada usaha dan tekat untuk ‘lebih’ meningkatkan mutu pendidikan yang obyektif. Kualitas  siswa yang obyektif. Disini diharapkan Siswa menjawab berdasar ‘nalar’ bukan ‘hafal’.

Keberhasian AKM  juga ada di tangan guru. Guru memiliki  peran  mulia dan strategis. Sebab di tangan gurulah masa depan bangsa ditentukan.  Kita  meyakini  tidak ada  orang yang sukses tanpa melalui peran guru. Ini adalah PR  bagi guru, supaya jadi guru ‘lebih’ profesional. Guru  diharapkan wajib  aktif mengikuti program-program pelatihan yang ada secara  mandiri. Melalui Diklat Online guru gratis, Pelatihan guru gratis, Pelatihan Daring guru dan masih banyak  webinar-webinar yang diselenggarakan oleh kemendikbud dan PGRI. Pussiiingg!!!. Mau ikut yang mana?? Padahal... program  peningkatan profesional guru menjadi salah satu agenda utama  pembangunan pendidikan nasional. Yach!, kita ikuti sesuai  dengan kemanpuan kita. Obat itu terasa pahit, tapi  harus kita minum supaya sehat.

AKM merupakan merupakan penilaian kompetensi mendasar yang diperlukan oleh semua siswa atau peserta didik untuk mampu mengembangkan kapasitas diri dan partisipasi positif pada masyarakat.  Sedangkan tujuan AKM untuk mendapatkan informasi mengetahui  capaian siswa  terhadap ‘kompetensi’ yang diharapkan. Dan menghasilkan ‘informasi ‘ yang memicu perbaikan kualitas belajar mengajar.

Pada AKM ini setiap sekolah dapat menentukan  bentuk ujiannya sendiri.  Bisa berupa portopolio dan penugasan atau tes tertulis. Dengan AKM  sekolah mengikuti pola holistik alias  membuat ujian yang berbasis  kurikulum, namun  ketentuan teknisnya  dibebaskan ke setiap sekolah. Melalui cara ini  diharapkan  guru  mulai memiliki waktu  untuk bertransisi  diri  ke pola yang baru.

Ujian Nasional  sasarannya kelas  ‘Akhir’ SD,SMP dan SMA.  Tapi AKM, kelas 5 SD/MI kelas 8 SMP.MTs dan 11 SMA/MA dan SMK. Di sini dimaksudkan guru ‘ada’  waktu untuk  memperbaiki dan mengevaluasi penilaian karena  di tengah   jenjang. Selama  setahun  kesempatan siswa memperbaiki penilaian itu.  Hasil AKM  dilaporkan dalam empat  kelompok, yaitu :Perlu intervensi khusus, Dasar,Cakap dan mahir.

Pertama, penilaian kompetensi “literasi membaca”. Teks informasi : teks yang bertujuan untuk  memberikan fakta data dan informasi dan teks fiksi teks yang bertujuan untuk memberikan pengalaman  mendapatkan  hiburan, menikmati  cerita dan melakukan perenungan kepada pembaca. Kemampuan untuk memahami, menggunakan, mengevaluasi dan merefleksikan.  Dari membaca level tersebut siswa diharapkan menemukan informasi, interpretasi serta evaluasi dan refleksi.

Kedua, penilaian  “numerasi” : bilangan, pengukuran dan geometri, data dan ketidakpastian, aljabar. Kemampuan  berpikir menggunakan  konsep, prosedur, fakta dan alat  matematika  untuk menyelesaikan  masalah sehari-hari. Siswa mampu menerapkan  konsep matematika  dalam situasi  nyata yang bersifat rutin dan yang dialami sehari-hari.  

Soal AKM  menguji penalaran . Efek stress rendah. Soal AKM tidak monoton. Berikut ini merupakan 5 bentuk soal untuk AKM: pilihan ganda (satu jawaban), pilihan ganda kompleks (bisa memilih beberapa jawaban), menjodohkan, isian singkat dan uraian.

Setelah melihat beberapa perbedaan semoga kita tertarik terobosan mas mentri tersebut. Semoga para  guru dapat cepat beradaptasi dengan AKM ini. Sehingga memudahkan pula proses adaptasi para  siswanya. Selamat datang AKM. Siswa, guru dan orang tua pasti Bisa!

Mari kita bersama belajar mandiri  demi  kemajuan pendidikan peserta didik kita. Tak ada kata terlambat  bagi  kita yang punya niat untuk mengubah sesuatu yang lebih baik khususnya pendidikan. Bukan saja peserta didik yang belajar, tetapi guru juga wajib terus  belajar. ‘Long life Education’. Salam Literasi!.

 

                                                                                                Waingapu, 3 Desember 2021

 

 

 

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...