Selasa, 26 Januari 2021

MENULIS MEMBUAT ANDA LEBIH BIJAKSANA

 


.

Writing for Wellness – 20

Oleh : Cahyadi Takariawan

The last reason to write about life: it helps you study your emotions, which makes you wiser, faster –Drake Baer, 2013

.

Ada sangat banyak kemanfaatan menulis dalam kehidupan manusia. Sejak dari kemanfaatan secara akademik, kesehatan, manajerial maupun sosial. Amat disayangkan jika kita masih mengabaikan kegiatan menulis, mengingat banyaknya manfaat yang bisa kita dapatkan darinya.

Drake Baer (2013) menyatakan, alasan penting untuk rutin menulis adalah, bisa membantu mengenali kondisi emosi Anda, yang membuat Anda lebih bijaksana dan lebih cepat dalam mengambil keputusan.

Bagaimana Menulis Bisa Meningkatkan Kebijaksanaan?

Menurut ahli saraf Antonio Damasio, “Apa yang kita bangun sebagai kebijaksanaan dari waktu ke waktu sebenarnya adalah hasil dari menumbuhkan pengetahuan tentang bagaimana emosi kita berperilaku, dan apa yang kita pelajari darinya.”

Ini memperkuat cara yang direkomendasikan pemenang Hadiah Nobel, Daniel Kahneman. Ketika Michael J. Mauboussin bertemu Kahneman, ia bertanya bagaimana cara terbaik untuk meningkatkan pengambilan keputusan? Kahneman menjawab tanpa keraguan: Pergi ke toko obat, beli buku catatan.

“Go down to a local drugstore and buy a very cheap notebook and start keeping track of your decisions. Pergilah ke toko obat dan beli buku catatan yang murah saja, dan mulailah mencatat keputusan Anda”, ujar Kahneman.

Mauboussin menjelaskan, “Kapanpun Anda akan membuat keputusan, luangkan waktu sejenak untuk berpikir. Tuliskan apa yang Anda harapkan akan terjadi dan mengapa Anda mengharapkannya terjadi? Tuliskan juga perasaan Anda tentang situasi tersebut –baik secara fisik maupun emosional, bagaimana perasaanmu? Misalnya, aku merasa lelah, aku merasa baik-baik saja, atau kegiatan ini benar-benar menguras tenagaku –tulis apapun yang Anda pikirkan”.

Whenever you’re making a consequential decision, just take a moment to think, write down what you expect to happen – Michael J. Mauboussin.

Drake Baer menjelaskan, mengapa menulis bisa meningkatkan kebijaksanaan. Menurutnya, “Writing helps us absorb information better and learn significantly more”. Menulis membantu kita menyerap informasi dengan lebih baik dan belajar lebih banyak.

Saat menulis, kita bisa melihat rencana dengan lebih jelas. Di saat yang sama kita juga mampu menyerap informasi dengan lebih detail dan belajar lebih banyak. Hal ini telah dijelaskan dalam berbagai studi, bahwa mahasiswa yang mencatat perkuliahan menyerap informasi penting lebih banyak daripada mereka yang hanya mendengarkan kuliah dan tidak menulis apapun.

Pemikiran yang Jernih

There’s a reason why so many successful people write everyday — whether it’s a diary they keep or a blog they write. Writing things down forces you to clarify your thoughts into more concrete representations. It takes a lot of effort. But over time, it’ll become easier, and you start to notice that your thoughts become more crispy. You’ll also have fewer doubts about your own thoughts – Claudia Altucher 

Claudia Altucher, penulis buku “Become An Idea Machine” (2015) menjelaskan, “Ada alasan mengapa begitu banyak orang sukses menulis setiap hari –baik berupa buku harian ataupun blog. Menuliskan sesuatu akan memaksa Anda untuk mengklarifikasi pikiran menjadi representasi yang lebih konkret”.

“Hal ini memerlukan banyak usaha. Seiring berjalannya waktu, menulis akan menjadi lebih mudah Anda lakukan. Anda mulai merasakan bahwa pikiran Anda menjadi lebih jernih. Anda juga akan memiliki lebih sedikit keraguan tentang pemikiran Anda sendiri”.

Dengan cara berpikir yang jernih, ditambah dengan semakin yakin akan kualitas pemikiran, membuat Anda semakin bijaksana dalam mengambil keputusan. Semakin bijaksana pula dalam bertindak.

Selamat menulis, selamat meraih kebijaksanaan.

Bahan Bacaan

Minggu, 17 Januari 2021

MENULIS MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBAHASA

 


.

Writing for Wellness – 17

Oleh : Cahyadi Takariawan

Writing is one of the most important exercises related to language learning — Shannon Kennedy (2018)

.

Sudah sangat banyak saya sampaikan manfaat menulis dalam kehidupan manusia. Berbagai keterangan dari survei para ahli telah menempatkan menulis sebagai aktivitas yang sangat kaya manfaat. Dari berbagai tinjauan, menulis memberikan benefit yang powerful. Amat sayang jika Anda mengabaikannya.

Menulis dan Kemampuan Berbahasa

Di antara manfaat menulis adalah meningkatkan kemampuan berbahasa. Saat menulis, Anda akan berpikir tentang pilihan kosa kata, tata bahasa, ejaan, struktur kalimat, paragraf dan lainsebagainya. Meskipun Anda menulis yang paling sederhana sekalipun, tetap akan melibatkan pengolahan kata dan kalimat.

Dengan rajin menulis, kemampuan berbahasa Anda akan semakin meningkat. Shannon Kennedy (2018) menyatakan, menulis adalah salah satu latihan terpenting yang berhubungan dengan pembelajaran bahasa dan cara yang sangat efektif untuk mengolah kosa kata. Manfaat lainnya adalah meningkatkan kemampuan mengolah tata bahasa, terutama ketika melakukan editing tulisan.

Melalui kegiatan menulis, Anda telah belajar berbahasa. Kemampuan berbahasa Anda akan semakin terasah dari rutinitas menulis. Dalam sebuah studi ditemukan, kemampuan menulis ternyata juga meningkatkan kemampuan berbahasa secara lisan.

Marielle Zagada mengutip hasil sebuah studi tahun 2015 yang mengungkapkan bahwa partisipan yang memiliki keterampilan untuk menghasilkan bahasa akademik dalam tulisan, mereka dapat dengan mudah mentransfer keterampilan argumentatif ke keterampilan berbicara. Artinya, jika Anda mengembangkan keterampilan menulis, di saat sama akan meningkatkan kompetensi dalam berbicara.

Pertanyaan pentingnya adalah, untuk apa kemampuan berbahasa? Apa guna kemampuan berbahasa dalam kehidupan manusia?

Kemampuan Berbahasa Meningkatkan Kemampuan Akademik dan Sosial

Kim Eckart (2018) menyatakan, penelitian menunjukkan bahwa penggunaan kosakata dan tata bahasa tidak hanya memberikan kemahiran lisan dan tulisan, tetapi juga meningkatkan kinerja di bidang lain. Kemampuan berbahasa terbukti membantu kesuksesan akademis dan sosial, sebagaimana dijelaskan oleh Amy Pace dari University of Washington.

“A lot of other research focuses on math, science and literacy, and they don’t even consider that language could be playing a role,” ujar Amy Pace. Banyak penelitian berfokus pada matematika, sains, dan literasi, dan tidak menganggap bahasa sebagai hal penting.

Studi ini melihat berbagai keterampilan kesiapan sekolah dan menentukan mana yang menjadi faktor paling kuat dari kesuksesan anak di kemudian hari. Ditemukan, faktor paling kuat adalah bahasa, kemampuan menggunakan kata-kata dengan lancar dan merangkai menjadi kalimat. Demikian dinyatakan Kathy Hirsh-Pasek dari Temple University.

Amy Pace menjelaskan, berbahasa adalah kemampuan untuk mengolah kata-kata dan menggunakan tata bahasa yang kompleks untuk berkomunikasi dalam ucapan dan tulisan. Itulah mengapa kemampuan berbahasa bisa memengaruhi area pengembangan akademik dan sosial.

“Kemampuan berbahasa secara konsisten muncul sebagai faktor penting perkembangan akademis dan sosial,” ujar Pace.

Situs The Educator melaporkan, para peneliti dari Institute for Learning & Brain Sciences (I-LABS) menemukan bahwa mempelajari bahasa dapat membantu siswa memperoleh nilai yang lebih tinggi secara signifikan dalam pelajaran matematika dan seni. Studi ini juga semakin menguatkan studi Amy Pace dan tim, bahwa kemampuan bahasa mampu meningkatkan kemampuan akademik.

Di Australia, telah dikembangkan desain pendidikan bahasa untuk menunjang kemampuan akademik siswa. “Pengenalan ke bahasa dan budaya lain dapat memiliki manfaat perkembangan yang signifikan pada anak-anak, misalnya dikaitkan dengan bahasa Inggris yang lebih baik dan keterampilan pemecahan masalah,” ungkap Simon Birmingham, Menteri Pendidikan Federal di Australia.

Sudah sangat jelas bukan, bagaimana kemampuan berbahasa mampu meningkatkan kemampuan akademik dan sosial, termasuk kemampuan memecahkan masalah. Selamat menulis, selamat berkarya.

Bahan Bacaan

Don’t Tell Me You Can’t!

 




Oleh : Cahyadi Takariawan



“Saya tidak bisa” adalah kalimat yang kerap dijadikan alasan banyak manusia untuk tidak melakukan sesuatu. Padahal, “saya tidak bisa” –secara teknis—adalah tidak ada. Sebab, keyakinan, harapan dan kesungguhan, akan membuat mereka bisa melakukannya.


Adalah Juan Jose 'Juanjo' Mendez Fernandez, ia telah membuktikan. Bahwa “saya tidak bisa” itu tidak ada. Maka dengan yakin ia mengatakan, “Don’t tell me you can’t!” 


Juanjo mulai terjun di dunia balap sepeda ketika berusia 14 tahun. Namun sebuah kecelakaan sepeda motor pada tahun 1992 membuat karir itu harus terhenti. Tragis. 


“Saat itu aku dinyatakan mati secara klinis. Aku koma selama dua puluh hari”, ujar Juanjo. 


“Ketika aku siuman, aku belum menyadari bahwa aku kehilangan satu lengan dan satu kaki. Aku baru sadar ketika duduk”, lanjutnya. 


“Setelah sekian lama putus asa, aku memutuskan untuk menerimanya. Titik. Aku berkata pada diriku sendiri untuk melanjutkan hidupku," ungkap Juanjo. 


Ia memerlukan waktu dua tahun untuk bisa mulai bersepeda balap lagi. Setelah memutuskan untuk kembali bersepeda, dalam kurun 17 tahun berikutnya, ia telah menjadi juara balap sepeda internasional. Ia telah menjadi juara Paralimpiade dan memimpin klub sepeda bernama Piratas.


Selengkapnya -

https://www.kompasiana.com/pakcah/6004452fd541df501521d792/don-t-tell-me-you-can-t

MENULIS MEMBUAT HIDUP ANDA LEBIH TERORGANISIR

 


.

Writing for Wellness – 16

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Jika kita cermati, kehidupan manusia di muka bumi ini sangatlah singkat. Dengan jatah usia yang sedikit, sudah selayaknya kita bisa mengorganisir kehidupan secara baik. Tidak membuang-buang waktu dengan sia-sia, karena waktu yang telah terbuang tak akan tergantikan pada hari berikutnya.

Sebagai manusia beriman, kita diarahkan untuk menghargai waktu. Bagi Anda yang beragama Islam, Anda mengetahui bahwa agama memberikan aturan yang melatih diri kita menjadi peibadi yang teratur. Perhatikan jadwal shalat lima waktu, betapa teratur dan ritmis kehidupan keseharian karena ada jadwal shalat tersebut.

Maka menjadi teratur dan terorganisir, adalah salah satu arahan agama. Hendaknya kita bisa menjalani kehidupan dengan lebih teratur dan terorganisir, agar jatah waktu yang singkat bisa kita gunakan dengan optimal. Semua waktu tergunakan untuk kebaikan, dan kita bisa melakukan lebih banyak kebaikan dibandingkan apabila tidak mengatur dan mengorganisir.

Menulis Membantu Anda Lebih Terorganisir

Aktivitas menulis, memiliki sangat banyak kemanfaatan positif dalam kehidupan manusia. Zachary Domes (2020) menyatakan, menulis membuat hidup manusia lebih teratur dan terorganisir.

Ia mencontohkan, orang-orang yang memiliki kebiasaan mengingat hari ulang tahun kolega dan teman-teman, untuk memberikan ucapan dan doa di hari ulang tahun mereka. Atau orang yang memiliki kebiasaan mengirim kartu atau parcel hadiah pada momentum tertentu. Mereka ini tidak mengandalkan kepada hafalan. Mereka memiliki catatan.

“Mengingat sesuatu tidak akan membantu Anda menjadi teratur. Anda harus menuliskannya”, ujar Domes.

Bagi Domes, menulis adalah cara mengingat sesuatu secara lebih permanen. Anda justru membuat hidup lebih rumit, apabila berusaha mengingat berbagai hal teknis di kepala Anda. Maka ia menyarankan agar kita menulis berbagai hal, agar hidup lebih terorganisir.

Saran yang sama disampaikan oleh Charley Mendoza. Ia menyatakan, tulis semua dan jangan mengandalkan ingatan Anda. “Keeping your to-do, lists and other information written somewhere allows you to look back at it anytime, even when you’ve hit your head and forgotten your own name”.

Menulis berbagai hal, adalah cara untuk membuat Anda dapat melihat kembali kapan saja. “Bahkan ketika Anda terbentur kepala dan lupa nama Anda sendiri”, ujar Mendoza. Di saat manusia melupakan sangat banyak hal dari ingatan, tulisan membuatnya lebih terdokumentasikan. Dengan demikian, tidak ada tugas penting atau rencana penting yang terlupakan. Dengan cara ini hidup Anda lebih terorganisir.

Elizabeth Larkin (2020) juga menyarankan hal yang sama, yaitu menulis untuk membuat hidup yang lebih terorganisir. Tidak harus dengan gadget atau laptop, Larkin menyarankan dengan buku catatan kecil (notes) ukuran saku. Ini tindakan sederhana namun sangat penting untuk kehidupan yang lebih teratur.

Menurut Larkin, Anda tidak tahu kapan harus segera mencatat sesuatu. Kadang ide dan rencana datang tiba-tiba di saat Anda berkegiatan. Jika tidak segera ditulis, ide brilian bisa hilang dalam sekejap. Dengan menulis, tak akan ada yang terlewat. Inilah mengapa menulis bisa membuat hidup lebih terorganisir.

Draker Baer (2013) mengingatkan sebuah pepatah lama, “you can trust the faintest of ink more than the strongest of memories”. Anda lebih bisa mempercayai tinta paling samar dibandingkan ingatan yang paling kuat. Saat manusia mudah lupa dengan berbagai macam hal, tulisan akan menyelematkannya.

Menurut Baer, “writing lets you make a bank of knowledge”. Lihat saja bagaimana buku sejarah bekerja. Tanpa ada tulisan sejarah, semua bangsa tidak akan mengetahui pergolakan dan perjuangan di masa terdahulu, sampai lahirnya bangsa itu di masa sekarang. Dengan tulisan sejarah, sebuah bangsa bisa mengorganisir berbagai potensi yang mereka miliki.

Proses Menulis dan Keteraturan

Jika Anda menulis untuk naskah yang panjang, misalnya membuat novel 50.000 kata atau membuat buku setebal 300 halaman, Anda harus memulai dengan perencanaan. Untuk novel, Anda harus menciptakan tokoh berserta karakternya, menentukan tokoh protagonis dan antagonis, membuat plot atau alur cerita, menentukan point of view (POV), membuat konflik, merencanakan klimaks, anti klimaks dan ending cerita.

Untuk buku-buku nonfiksi, Anda harus memulai dengan membuat outline atau kerangka buku. Dengan outline ini, proses penulisan Anda akan sistematis, selalu berada pada jalur, dan tidak mengalami disorientasi. Tulisan Anda menjadi teratur, terorganisir dengan baik, karena telah mengawali menulis dengan perencanaan.

Saat mengalami kebuntuan atau kesulitan menulis, Anda akan mencari bantuan melalui kepustakaan atau referensi. Anda membaca buku, jurnal atau naskah akademik untuk mendapatkan informasi, data atau pengetahuan yang Anda perlukan untuk penulisan buku.

Selesai menulis, Anda akan melakukan editing secara cermat. Anda berusaha menelaah kembali semua tulisan, apakah ada bagian yang salah, apakah sudah sesuai kerangka, apakah sudah sistematis, dan seterusnya. Anda juga berusaha melakukan editing tata bahasa, kosa kata, dan berbagai aturan kepenulisan.

Dengan kebiasaan menulis yang tertib seperti itu, Anda telah terlatih untuk mengorganisir pemikiran dan tindakan. Anda akan terbentuk menjadi seseorang yang terorganisir karena terbiasa merencanakan, menyiapkan dan melakukan aktivitas secara sistematis. Anda mengikuti panduan berupa outline atau kerangka tulisan. Anda melakukan proses dengan urut, hingga lahirnya sebuah buku.

Inilah penjelasan sederhana, kebiasaan menulis akan membuat hidup Anda lebih teratur dan terganisir.

Selamat menulis, selamat menikmati keteraturan hidup.

Bahan Bacaan

MENULIS MEMPERBAIKI KESEHATAN FISIK

 


.

Writing for Wellness – 15

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Telah banyak studi yang menunjukkan manfaat menulis bagi kesehatan mental manusia. Menulis efektif untuk meredakan stres, menjadi sarana katarsis, memperbaiki suasana jiwa, menenangkan pikiran dan melepaskan beban.

Namun ternyata menulis bukan hanya bermanfaat untuk kesehatan mental. Bahkan penelitian menunjukkan, menulis juga memperbaiki kesehatan fisik. Ini tentu menjadi berita bagus dalam dunia tulis menulis.

Dennis Relojo-Howell (2016) melaporkan sejumlah penelitian, bahwa menulis ekspresif memberikan manfaat kesehatan fisik dalam jangka panjang. Seperti lebih sedikit kunjungan ke dokter, peningkatan sistem kekebalan pada pasien HIV, dan peningkatan kesejahteraan psikologis.

Menurut Dennis, studi akademik menunjukkan tulisan ekspresif dapat memberikan manfaat medis seperti perbaikan fungsi paru-paru pada asma, dan mengurangi tingkat keparahan penyakit pada rheumatoid arthritis dan intensitas nyeri pada wanita dengan nyeri panggul kronis.

Dalam buku Wellness and Writing Connections (2010), John Frank Evans sangat meyakini bahwa menulis bermanfaat dalam berbagai aspek kesehatan. Bermula dari pengalaman menulis selama tiga puluh tahun, ia meyakini menulis adlah aktivitas yang menyehatkan dan menyembuhkan.

Menulis, Membuat Semakin Jarang ke Rumah Sakit

Qian Lu & Annete L. Stanton (2009) melakukan studi menulis ekspresif dikaitkan dengan konteks etnik. Pengungkapan emosional secara tertulis dilaporkan memberikan berbagai manfaat pada kesejahteraan fisik dan psikologis.

Sebanyak 71 mahasiswa asal Asia dan 59 mahasiswa asal Kaukasia, ditugaskan melakukan penulisan dalam studi ini. Ternyata partisipan asal Asia mendapat manfaat paling banyak dari menulis ekspresif.

Studi Qian Lu dan Annete, meskipun dengan pendekatan etnik, namun semakin menguatkan berbagai studi lainnya, yang menunjukkan manfaat menulis ekspresif bagi kesehatan fisik. Grace Ann Wilbanks (2008) telah mengulas berbagai studi para ahli, terkait manfaat menulis terhadap fisik manusia.

Wilbanks menyatakan, studi yang dilakukan Pennebaker, Baiki dan studi serupa lainnya, menunjukkan bahwa penggunaan otak untuk mengingat peristiwa traumatis kemudian mengungkapkan emosi melalui tulisan, dapat berdampak signifikan pada kesehatan fisik.

Para peneliti menyatakan bahwa kondisi emosi dan fisik manusia saling terhubung. Secara langsung, emosi dan fisik memengaruhi satu sama lain dalam berbagai proses tubuh, termasuk pencernaan, detak jantung, kulit, kepekaan nyeri, dan kelelahan.

Mengutip Doyle & Hutton (2013), Wilbanks menjelaskan bahwa hormon kortisol dan adrenalin dilepaskan saat stres. Dalam situasi stres yang berat, pelepasan ini menjadi begitu sering sehingga dapat berdampak negatif pada fungsi fisiologis. Akibatnya, proses seperti penyembuhan, pencernaan, dan respons imun menjadi kurang efektif, dan fungsi jantung dan tekanan darah dapat berubah ke arah yang tidak sehat.

Dengan menyalurkan stres melalui tulisan, membuat partisipan dalam berbagai studi semakin jarang mengunjungi rumah sakit.

Menulis dan Sistem Kekebalan

Wilbanks melaporkan studi terkait dampak menulis ekspresif pengalaman traumatis pada fungsi kekebalan sel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa menulis pengalaman traumatis dapat memberikan manfaat kesehatan fisik. Para partisipan menunjukkan adanya peningkatan fungsi kekebalan tubuh. Tiga bulan setelah studi selesai, partisipan menyatakan studi tersebut berdampak positif.

Studi menemukan bahwa partisipan yang menulis ekspresif tentang perasaan dan emosi negatif, terbukti mengunjungi rumah sakit lebih sedikit daripada mereka tidak menulis. Mereka memiliki sistem kekebalan yang lebih baik. Studi yang dilaporkan Wilbanks tersebut melibatkan 72 mahasiswa baru, pada semester pertama kuliah.

Mereka diminta menulis ekspresif tentang pemikiran dan perasaan emosional mereka terkait perguruan tinggi. Partisipan menulis selama tiga hari berturut-turut. Empat hingga lima bulan setelah penelitian, partisipan dijumpai dalam kondisi peningkatan sistem kekebalan dan kesehatan fisik mereka secara umum.

Hasil serupa ditemukan dalam penelitian Pennebaker dan tim (1998). Partisipan yang menulis topik emosional menunjukkan peningkatan sel kekebalan (limfosit). Studi Pennebaker berikutnya (1990) menyatakan bahwa tulisan ekspresif dapat menurunkan kunjungan dokter.

Meningkatkan Kesehatan Tubuh

Di antara penemuan penting dari berbagai penelitian tersebut, partisipan yang menunjukkan peningkatan kesehatan terbesar adalah mereka yang menulis tentang subjek yang mereka sembunyikan dari orang lain. Selain itu, mahasiswa yang menulis ekspresif menunjukkan peningkatan nilai rata-rata keseluruhan dibandingkan dengan mahasiswa yang tidak menulis (Wilbanks, 2008).

Penelitian lain yang dilakukan Pennebaker & Francis (1996) memberikan bukti bahwa menulis ekspresif menyebabkan penurunan kunjungan ke rumah sakit, sekaligus meningkatkan prestasi akademis mahasiswa.

Berbagai studi juga menunjukkan pengaruh positif menulis ekspresif terhadap kualitas dan kuantitas tidur. Anda bisa menyimak kembali tema ini di sini. Dengan tidur yang lebih berkualitas, tentu akan meningkatkan kesehatan fisik.

Selamat menulis, selamat menikmati kesehatan fisik.

Bahan Bacaan

Rabu, 13 Januari 2021

MENULIS MENINGKATKAN KEMAMPUAN LEADERSHIP

 


.

Writing for Wellness – 9   

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Sangat banyak studi tentang manfaat menulis. Ternyata menulis tidak hanya terkait dengan katarsis, kesehatan jiwa, pelepasan beban, menambah kebahagiaan, meningkatkan kecerdasan, namun juga memberikan manfaat dalam aspek kepemimpinan (leadership).

Dalam kehidupan modern, kepemimpinan adalah hal sangat vital. Persaingan bisnis, eksistensi organisasi, kekuatan lembaga, sangat banyak dipengaruhi oleh faktor kepemimpinan. Maka banyak studi mencari berbagai faktor yang bisa membantu suksesnya pemimpin.

Kepemimpinan adalah proses dimana seorang individu mempunyai pengaruh terhadap orang lain, menginspirasi, memberi semangat, memotivasi dan mengarahkan kegiatan-kegiatan mereka guna mencapai tujuan kelompok atau organisasi (Gareth Jones & Jennifer George, 2010). Melihat definisi ini, sosok sang pemimpin menjadi sangat sentral perannya.

Menulis dan Jiwa Kepemimpinan

Direktur Lembaga Kepemimpinan Harvard University, Eric J. McNulty menyatakan, “A leader has a strong vision but also actively listens to the ideas of others. Even when some colleagues, such as those to the right, have opposing ideas or don’t get along, the leader maintains focus on the overall goal and ensures that people can still work together fruitfully”.

Seorang pemimpin harus memiliki visi yang kuat tetapi di saat yang sama harus aktif mendengarkan ide-ide pihak lain. Bahkan ketika beberapa staf memiliki ide yang berbeda, pemimpin harus tetap fokus pada tujuan keseluruhan dan memastikan bahwa semua staf dapat bekerja sama dengan baik.

Menulis tidak secara langsung membuat penulis menjadi pemimpin. Namun, McNulty menemukan, menulis renungan diri (manifesto) selama 10 menit setiap hari adalah latihan yang baik untuk menumbuhkan jiwa kepemimpinan. Hal ini menunjukkan manfaat yang sangat luas dari aktivitas menulis.

Bas Kohnke (2019) menyatakan, para pemimpin perlu memiliki lima soft skill, yaitu mendengarkan aktif, menyayangi diri, empati, (pengakuan atas) kerentanan, dan kejujuran. Pada poin vulnerability dan honesty, bisa terbangun melalui tulisan. Menulis manifesto, atau menulis jurnal laporan harian, akan makin menguatkan beberapa aspek softskill kepemimpinan tersebut.

Menulis manifesto sebagai pemimpin, mampu menumbuhkan jiwa dan naluri kepemimpinan. Karena dengan menulis, seseorang akan bisa menyatakan dengan detail kondisi dan situasi yang dihadapi. Menurutnya, menulis manifesto harus dimulai dari kejujuran terhadap diri sendiri.

McNulty menyatakan, “A personal manifesto begins with an honest conversation with yourself. That’s not as easy as it sounds; honesty takes work — and guts. It also takes time”. Manifesto pribadi dimulai dengan percakapan jujur ​​dengan diri Anda sendiri. Ini memang tidak mudah, karena kejujuran membutuhkan kesungguhan kerja, keberanian serta waktu.

Menurut McNulty, jujur pada diri sendiri adalah sebuah proses. “Anda duduk, berpikir, menulis, dan mengedit. Ulangi lagi. Kembali duduk, berpikir, menulis dan mengedit, sampai kata-katanya persis seperti yang Anda inginkan”, ujarnya.

Manifesto yang baik membutuhkan introspeksi mendalam yang mengekspos kerentanan. Ini akan membantu Anda mengatasinya. Tulisan manifesto ini dari Anda dan untuk Anda sendiri. Tidak untuk dipublikasikan.

Apa yang Ditulis?

Bukan hanya McNulty, Aytekin Tank (2019) juga menyarankan pentingnya menulis perkembangan (jurnal), yang bersifat pribadi. Menurutnya, menulis laporan pribadi, memungkinkan Anda mengakses ide-ide inovatif yang tersembunyi di bawah permukaan, atau di alam bawah sadar Anda.

Penelitian menunjukkan bahwa ketika pemimpin berada dalam tekanan, tim akan turut merasakan dampaknya. Menulis laporan berfungsi sebagai katup yang membantu Anda melepaskan serta mengelola tekanan. Aytekin mengutip penjelasan psikolog Dr. Jane McCartney, bahwa “menuliskan sesuatu akan menghentikan ia berputar-putar di kepala kita.”

Selanjutnya, Aytekin Tank menyarankan, Anda bisa secara rutin menulis jawaban dari berbagai pertanyaan berikut ini:

  1. Bagaimana perasaan saya saat ini?
  2. Bagaimana penilaian saya tentang kepemimpinan saya?
  3. Apa ide paling kreatif yang pernah saya dengar dalam 24 jam terakhir?
  4. Apa yang saya suka dari ide itu?
  5. Hal apa yang sedang saya perhatikan saat ini?

Pertanyaan-pertanyaan sederhana ini dapat menghasilkan sangat banyak jawaban yang bisa Anda tuliskan secara rutin.  Menurut Aytekin, jika Anda menulis rutin jawaban dari berbagai pertanyaan tersebut, sangat jarang menghasilkan jawaban yang sama. Akan selalu menemukan hal yang berbeda setiap harinya.

Selamat menulis, selamat menikmati banyak manfaat dari menulis.

Bahan Bacaan

MENULIS MEMBUAT TIDUR ANDA LEBIH BERKUALITAS

 


.

Writing for Wellness – 10

Oleh : Cahyadi Takariawan

The study found journaling reduced bedtime worry and stress, increased sleep time, and improved sleep quality – Lydia Denworth (2018)

.

Menulis benar-benar ajaib. Sangat banyak kemanfaatan yang bisa didapatkan dari aktivitas menulis. Berbagai studi yang dilakukan para ahli, semakin memberikan cakrawala pemahaman yang luas tentang kemanfaatan menulis bagi kehidupan manusia. Salah satunya, menulis terbukti membantu mempercepat tidur, dengan tidur yang berkualitas.

Menulis Pengalaman Traumatis Memudahkan Tidur

Penelitian menunjukkan bahwa orang-orang yang sulit tidur cenderung mengalami berbagai keresahan dan kekhawatiran sebelum tidur. Pikiran yang tidak diinginkan ini menghasilkan stres dan tekanan, yang membuat seseorang tidak bisa bersantai. Menyuruh otak untuk berhenti memikirkan hal buruk — dan menjadi marah ketika tidak berhasil — justru semakin memperburuk keadaan.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Broadbent dan kawan-kawan di New Zealand, menemukan hubungan positif antara menulis dengan kualitas tidur.

Penelitian tersebut memberikan penjelasan, partisipan yang menuliskan pengalaman traumatis mereka selama 20 menit sehari, memiliki waktu tidur yang lebih sehat, yaitu selama 7 hingga 8 jam dibanding dengan peserta yang tidak menulis.

Studi ini memberikan petunjuk, bahwa pengalaman traumatis atau kejadian tidak menyenangkan yang mengganggu tidur, akan menjadi ringan saat dituliskan. Hal-hal yang memusingkan, berputar-putar di kepala, menjadi reda setelah selesai dituliskan. Gangguan tidur teratasi, maka tidar menjadi lebih nyenyak.

Menulis Pengalaman Menyenangkan Meningkatkan Kualitas Tidur

Jika Broadbent dan kawan-kawan fokus pada menuliskan pengalaman traumatis, kelompok ahli yang lain menyarankan penulisan hal-hal positif dan membahagiakan. Hasilnya sama, bahwa dengan menulis pengalaman menyenangkan, membawa pikiran ke arah yang lebih positif dan bahagia (Lydia Denworth, 2018).

Menulis pengalaman positif dan bahagia, bisa membantu mengarahkan pikiran Anda ke hal-hal lebih baik. Menuangkan pikiran ke dalam tulisan memiliki dampak yang lebih baik dibandingkan hanya membiarkan pikiran berputar-putar di kepala.

Menulis kondisi diri sebelum tidur, hanya memerlukan waktu 15 menit. Jika Anda rutin menulis setiap malam sebelum tidur, bisa menjadi bagian yang menenangkan untuk menghantarkan Anda kepada tidur yang nyenyak dan berkualitas. Seiring perjalanan waktu, proses menulis bisa Anda lakukan dengan santai, sehingga membuat lebih mudah tidur.

Dengan suasana jiwa yang nyaman, terlepas dari tekanan, kualitas tidur Anda semakin membaik. Hal ini dapat membantu Anda merasa lebih energik dan bersemangat pada keesokan hari setelah bangun tidur.

Lydia Denworth melaporkan sebuah studi melibatkan 41 mahasiswa yang diganggu oleh kekhawatiran waktu tidur. Para partisipan diberi tugas melakukan tindakan yang bisa membantu diri sendiri untuk tidur nyenyak. Satu kelompok diminta untuk membuat tulisan setiap malam selama seminggu. Studi tersebut menemukan bahwa menulis kondisi diri (journaling) bisa mengurangi kekhawatiran dan stres waktu tidur, meningkatkan waktu tidur serta meningkatkan kualitas tidur.

Patisipan diminta untuk menyisihkan waktu 15 menit setiap malam untuk menulis tentang pengalaman positif yang mereka alami pada hari itu. Mereka menulis bukan hanya tentang kejadian yang dialami, tetapi juga bagaimana perasaan mereka saat itu. Usai menulis, mereka berangkat ke tempat tidur, dan mematikan lampu. Mereka berada dalam kondisi yang lebih baik menjelang tidur.

Menulis Daftar Aktivitas Esok Hari Dapat Mempercepat Tidur

Bukan hanya menulis pengalaman traumatis dan pengalaman menyenangkan yang bisa membuat nyenyak tidur. Sebuah studi yang dilaporkan di Journal of Experimental Psychology menyarankan solusi yang mudah dan efektif, menulis kondisi diri (journaling) selama lima menit sebelum tidur. Ditemukan, yang paling membantu bukanlah menulis tentang apa yang Anda capai hari ini, tetapi menuliskan daftar tugas Anda untuk esok hari.

Dalam studi terhadap 57 orang dewasa, peneliti dari Baylor University dan Emory University menemukan bahwa menulis daftar tugas, bisa membantu orang tidur lebih cepat. Penelitian yang dipimpin oleh Michael Scullin tersebut menggunakan standar pengukuran tidur, untuk menentukan secara tepat seberapa cepat orang tertidur.

Dibandingkan menulis tentang pencapaian, ternyata lebih kuat pengaruh menulis daftar aktivitas esok hari. Terbukti partisipan yang menulis daftar aktivitas esok hari, bisa tidur lebih cepat dibandingkan partisipan yang menulis pencapaian hari ini.

Kesimpulan

Sangat banyak studi dari para ahli, yang meneliti pengaruh menulis dan kualitas tidur. Beberpa poin yang bisa diambil kesimpulan adalah:

Pertama, kondisi stres atau khawatir menjelang tidur membuat tubuh Anda tidak bisa santai, sehingga sulit tidur. Menulis hal-hal traumatis yang mengganggu tidur Anda, dapat menenangkan pikiran sehingga memudahkan tidur.

Kedua, menuliskan kondisi diri (jurnal) yang positif dan bahagia selama 15 menit sebelum tidur malam, dapat membantu tidur lebih lama, dengan kualitas tidur yang lebih baik.

Ketiga, menulis daftar tugas atau aktivitas esok hari sebelum tidur, dapat menenangkan jiwa Anda dan membantu Anda lebih mudah tertidur.

Selamat menulis, selamat menikmati tidur malam berkualitas.

Bahan Bacaan

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...