Minggu, 22 November 2020

BAGAIMANA MEMBUAT JUDUL TULISAN YANG MENARIK?

 


.

Oleh : Cahyadi Takariawan

“On the average, five times as many people read the headline as read the body copy” —David Ogilvy

.

Menulis itu mudah, jika Anda sudah terbiasa melakukannya setiap hari. Anda bahkan bisa menulis semudah bernapas, apabila Anda telah memiliki habit menulis harian. Anda tak akan menemukan kesulitan yang berarti. Terutama untuk corak tulisan populer.

Yang tidak mudah adalah membuat judul atas setiap tulisan Anda. Setiap saya selesai menulis, dilanjutkan mengedit, berikutnya saya berhenti lama untuk memikirkan judul. Lebih mudah proses menulis, dibanding proses menemukan judul. Apalagi untuk judul buku. Ini harus melakukan survei tersendiri.

Untuk proses menulis harian, saya memikirkan masak-masak judul tulisan sebelum saya posting. Selesai menulis, segera saya pasang satu judul, lalu saya pikir dan saya rasa, akhirnya saya ganti judul. Begitu seterusnya. Berkali-kali saya bongkar pasang judul. Sampai akhirnya saya merasa cocok dengan judul tersebut.

Tidak mudah membuat judul, meskipun tidak ada aturan baku untuk membuat judul. Dalam tradisi penulisan populer, judul akan memberikan identitas dan menjadi daya tarik bagi pembaca. Maka saat membuat judul, harus memberikan kesan ketertarikan.

Lagi-lagi, tidak mudah. Harus rela bongkar pasang untuk menemukan judul yang relevan dan memberikan efek ketertarikan. Biarkan pikiran dan rasa mengendap, sampai menemukan judul yang tepat.

Jeff Goins memberikan saran pembuatan judul yang memberi efek ketertarikan pembaca. Berikut saran Goins, saya bahasakan dengan bahasa saya sendiri.

  • Gunakan angka

Sangat banyak judul buku dan judul tulisan menggunakan angka. Ternyata angka memiliki daya tarik sendiri bagi pembaca. Namun, mencantumkan angka tentu harus relevan dengan isi. Tak boleh sembarangan memasang angka.

Saya ambilkan contoh secara cepat, dengan membuka koran Kompas versi online hari ini. Langsung ketemu headline yang menggunakan angka: 5.444 Kasus Baru Covid-19, RI Kembali Catat Rekor Tertinggi (Koran Kompas, 13 November 2020).

Demikian pula, banyak judul buku yang menggunakan angka, misalnya:

7 Keajaiban Rezeki (Ippho Santosa)

7 Habits of Highly Effective People (Stephen R Covey)

5 Cm (Donny Dhirgantoro)

99,99% Diterima Masuk TK Favorit (Wawan Guritno)

  • Gunakan gambaran emosional

Situasi emosional yang diungkap dalam judul, kerap memancing rasa ingin tahu pembaca. Saat judul mampu menyentuh sisi emosi atau rasa dari pembaca, akan memberikan efek ketertarikan. Pembaca tidak terasa digiring membaca semua isi tulisan hingga selesai.

Berikut saya ambil contoh beberapa judul tulisan.

Klaster Covid Resepsi Pernikahan Sragen, Sekeluarga Meninggal (CNN Indonesia, 13 November 2020)

Miskin Karena Corona, Ibu Yuli Meninggal Dunia Setelah 2 Hari Tak Makan (Suara, 21 April 2020)

Surga yang Tidak Dirindukan (Asma Nadia)

Aku Mencintaimu Dalam Diam (Sarah Aulia)

  • Gunakan penyingkapan

Banyak orang menyukai sesuatu yang bercorak solusi atau menyingkap ‘rahasia’. Pembaca ingin tahu saat membaca judul “Cara Melejitkan Bisnis di Masa Krisis”, terutama bagi mereka yang mengalami masalah dalam bisnisnya.

Pembaca tertarik untuk membaca judul “Trik Belajar Jarak Jauh yang Menyenangkan Siswa”. Bagi guru dan orangtua, mereka sangat ingin mendapat gambaran praktis untuk mendampingi anak belajar jarak jauh.

Demikian pula judul “Menyingkap Fakta di Balik Pencopotan Rizal Ramli dari Kabinet” menimbulkan efek ketertarikan bagi pembaca. Manusia senang dengan mengetahui rahasia, maka judul yang menyingkap rahasia cenderung menimbulkan efek ketertarikan.

Buku berjudul penyingkapan ini juga sangat laris.

Bocoran Pertanyaan Alam Kubur Plus Kunci Jawaban (M. Syafi’i Masykur)

Malam Pertama di Alam Kubur (Muhammad Husain Ya’kub)

  • Gunakan pertanyaan

Judul yang menggunakan pertanyaan, seperti apa, mengapa / kenapa, bagaimana, atau kapan, cukup kuat memberikan efek ketertarikan. Pembaca ingin mengetahui jawaban dari pertanyaan tersebut.

Kalimat pertanyaan dalam judul, lebih kuat dibanding kalimat pernyataan. Misalnya, judul Semua Pasangan Pernah Berkonflik (pernyataan) kurang menarik, dibandingkan dengan judul Apakah Semua Pasangan Pernah Berkonflik?

Ada Apa dengan Cinta? (Silvarani)

Kapan Siap Nikah? (Nurindah Fitria)

Anggota TNI AU Nyanyi Dukung Rizieq Ditahan, Kenapa? (Suara, 12 November 2020)

  • Gunakan harapan

Semua manusia senang dengan harapan. Maka saat menemukan tulisan yang mengajak kepada harapan, akan menimbulkan efek ketertarikan. Harapan bisa menyangkut kehidupan, percintaan, karier, usaha, hingga urusan akhirat.

Judul tulisan yang menyiratkan harapan, akan memberikan efek ketertarikan. Pembaca suka diajak mendapatkan sesuatu yang positif.

Hidup Itu Indah (Aji Prasetyo)

Allah Maha Pengampun, Janganlah Engkau Berputus Asa (Haidar Musyafa)

Kun Fayakun, Selalu Ada Harapan di Tengah Kesulitan (Yusuf Mansyur)

  • Gabungan dari beberapa unsur

Anda bisa menggabungkan beberapa unsur, seperti angka, penyingkapan dan harapan. Misalnya, Rahasia Hidup Bahagia Hingga 100 Tahun. Dalam contoh judul ini, terdapat angka –yaitu 100. Terdapat unsur penyingkapan – yaitu rahasia. Terdapat unsur harapan –yaitu hidup bahagia, 100 tahun.

Anda juga bisa menggabungkan pertanyaan dengan angka dan harapan. Misalnya, Bagaimana Meraih 100 Juta Sebulan dari Facebook? Dalam contoh judul ini, terdapat unsur pertanyaan –yaitu bagaimana? Terdapat unsur angka –yaitu 100. Terdapat unsur harapan –yaitu meraih 100 juta sebulan.

Nah, itu hanya beberapa petunjuk saja. Masih sangat banyak kreativitas lainnya untuk menimbulkan efek ketertarikan pembaca. Anda bisa mencoba-coba, sampai menemukan yang Anda yakini paling tepat dan paling menarik.

Bahan Bacaan

10 EMOSI POSITIF UNTUK MENULIS

 


.

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Semua manusia memiliki dua jenis emosi dalam dirinya, yaitu emosi negatif dan emosi positif. Contoh emosi negatif adalah tertekan, sedih, depresi, cemas, gelisah dan lain-lain Contoh emosi positif adalah bersemangat, senang, rileks, damai, dan lain sebagainya.

Emosi memengaruhi sistem dalam tubuh yang selanjutnya akan memengaruhi sistem imunitas. Emosi negatif membuat menurunnya imunitas, sedangkan emosi positif menguatkan imunitas. Seseorang  yang memiliki sistem imunitas yang baik akan menjadi lebih produktif daripada yang memiliki sistem imun tidak baik.

Oleh karena itu, jangan biarkan diri Anda dibanjiri emosi negatif saat menulis. Jika tengah dibanjiri emosi negatif, Anda boleh tetap menulis untuk penyaluran, namun jangan dipublikasikan. Cukup Anda simpan sendiri sebagai dokumen dan rekaman sejarah kehidupan Anda pada suatu masa.

Jika ingin dipublikasikan, pastikan telah diedit bagian-bagian yang mungkin terlalu pribadi, karena sedang menyalurkan emosi negatif. Ambil yang memberikan nilai kemanfaatan positif, baru dipublikasikan.

Usahakan pada saat menulis, Anda dipenuhi oleh emosi positif. Dengan demikian, akan semakin menguatkan muatan positif dalam karya tulis Anda —sependek atau sepanjang apapun tulisan Anda.

Menulis dengan Kondisi Emosi Positif

Suasana emosi yang kita miliki saat menulis, berpengaruh terhadap kualitas tulisan kita. Dengan kondisi emosi yang positif, akan terlahir karya tulis yang positif pula. Maka ciptakan kondisi emosi positif saat menulis.

Barbara Fredrickson dalam buku Positivity (2009) mengungkapkan 10 emosi positif yang harus dimiliki oleh seseorang sebagai syarat untuk tumbuh dan berkembang (flourish). Berikut 10 emosi positif menurut Barbara Fredrickson:

  • Joy atau gembira

Orang yang memiliki emosi joy akan selalu bersemangat, dan memiliki pengalaman-pengalaman yang menyenangkan bersama orang lain. Maka jika menulis, akan lahir tulisan yang riang gembira dan menyenangkan pembaca.

  • Gratitude atau bersyukur

Orang yang bersyukur menyadari bahwa apa pun yang mereka terima adalah keberuntungan yang bernilai bagi diri mereka. Jika menulis dengan situasi gratitude, akan melahirkan tulusan yang penuh spirit dan motivasi.

  • Serenity atau ketenangan, ketenteraman, kedamaian

Orang yang memiliki serenity tidak pernah merasa gundah dan memberontak terhadap keadaan yang mereka hadapi. Jika menulis dengan emosi serenity, akan lahir tulisan yang menenangkan pembaca.

  • Interest atau hasrat dan ketertarikan

Orang yang memiliki interest selalu menemukan hal baru dalam hidupnya. Mereka selalu ingin tahu keadaan orang lain yang ada di sekitar mereka. Jika menulis dengan interest, akan melahirkan tulisan yang memberikan dorongan serta hasrat mengetahui.

  • Hope atau harapan

Orang yang memiliki hope yakin bahwa segala sesuatu akan berakhir dengan baik. Jika menulis dengan emosi hope, akan lahir tulisan yang memotivasi pembaca. Melahirkan sikap optimistik bagi pembaca.

  • Pride atau kebanggaan

Orang yang memiliki pride merasa dirinya bermartabat, dimana perasaan ini lahir dari sebuah pencapaian, bukan pemberian dari orang lain. Jika menulis dengan pride, akan lahir tulisan yang berwibawa, dan mudah memengaruhi pikiran pembaca.

  • Amusement atau terhibur

Orang yang memiliki amusement, mampu tertawa bersama orang lain di sekitarnya karena terhibur dalam interaksi sosial di antara mereka. Jika menulis dengan amusement akan melahirkan tulisan yang menghibur dan membuat tertawa pembaca.

  • Inspiration atau inspirasi

Orang yang mendapatkan inspirasi yang mencerahkan, dan bisa memberikan insight kepada orang lain yang ada di sekitar mereka. Jika menulis dengan inspiration, akan lahir tulisan yang memberi banyak inspirasi kebaikan bagi pembaca.

  • Awe atau terpesona, takjub

Orang yang memiliki awe mudah merasa takjub dengan apa yang mereka alami. Ada perasaan betapa kecilnya diri mereka di hadapan keagungan Sang Maha Kuasa. Jika menulis dengan awe, akan lahir tulisan yang mengajak pembaca mengagumi berbagai kejadian dalam kehidupan.

  • Love atau cinta

Love adalah kompilasi dari 9 emosi positif sebelumnya. Orang yang memiliki kasih sayang dan ketertarikan emosional yang kuat sehingga selalu merasa terhubung satu sama lain. Jika menulis dengan love, akan melahirkan tulisan yang merekatkan hubungan dengan pembaca.

Selamat menulis dengan penuh emosi positif. Agar lahir tulisan-tulisan positif yang memenuhi ruang literasi masyarakat kita.

Bahan Bacaan

Barbara Fredrickson, Positive Emotions Broaden and Build, San Diego, Academic Press, 2013

Barbara Fredrickson, Positivity, New York, Crown, 2009

Kari Henley, What Are The Top 10 Positive Emotions? https://www.huffpost.com, 17 Juni 2009

AGAR SEMAKIN PD PUBLIKASI TULISAN

 


.

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Di antara persoalan yang banyak dijumpai oleh para penulis pemula adalah rasa tidak percaya diri untuk mempublikasikan tulisan. Setelah susah payah menulis, ternyata merasa hasilnya tidak bagus. Dampaknya, tidak percaya diri untuk mempublikasikan tulisan. Ragu-ragu, jadi diposting atau tidak?

Bagaimana mengatasi kondisi seperti ini? Saya mengajak Anda untuk membongkar rasa tidak percaya diri ini. Pertama kali coba kita pahami, mengapa muncul rasa tidak percaya diri dalam publikasi tulisan.

Mengapa Tidak Percaya Diri?

Mengapa banyak orang merasa tidak percaya diri untuk mempublikasikan tulisan? Ada beberapa sebab, yang membuat seseorang tidak berani atau tidak percaya diri untuk memunculkan tulisannya ke media. Beberapa sebab ini yang memunculkan sikap tidak PD, dan oleh karena itu harus ada solusi agar percaya diri.

Sebab Pertama, Karena Membandingkan dengan Karya Orang Lain

Sebab pertama yang membuat seseorang tidak percaya diri adalah karena membandingkan tulisannya dengan tulisan orang lain yang sudah hebat. Misalnya dalam dunia novel, seorang yang baru belajar menulis, membandingkan tulisannya dengan maestro sekaliber Asma Nadia, Helvy Tiana Rosa, Dewi Lestari, Tere Liye, Kang Abik dan lain sebagainya.

Ini adalah contoh membandingkan yang tidak sebanding. Dampaknya, merasa malu untuk publikasi tulisan. Setiap menulis, selalu merasa tulisannya jelek.

Solusi

Sebagai penulis pemula, kita harus belajar dari siapa saja. Apalagi dari para penulis hebat. Baca karya-karya mereka, sebanyak mungkin, untuk belajar, untuk menimba ilmu. Bukan untuk membandingkan tulisan kita yang pemula dengan tulisan mereka yang sudah sangat hebat itu.

Jadi, solusi dari sebab pertama adalah, jangan membandingkan tulisan kita dengan tulisan tokoh hebat itu. Miliki mentalitas pembelajar yang membuka diri untuk belajar kepada siapa saja. Membaca karya orang lain adalah untuk belajar, bukan untuk membandingkan.

Sebab Kedua, Karena Berorientasi Pujian

Sebab kedua yang membuat seseorang tidak percaya diri adalah karena berorientasi pada pujian. Di zaman medsos sekarang ini, berbagai fitur medsos menyediakan opsi like dan comment. Sering kali kita terpengaruh dan terprovokasi oleh para likers, haters serta komentator.

Ketika banyak yang me-like tulisan, kita menjadi semangat membara. Ketika sepi dari jempol, mendadak menjadi tidak percaya diri. Apalagi ketika ada yang memberikan komentar negatif atau kritik, mendadak menjadi tidak PD untuk publikasi tulisan.

Solusi

Lusruskan niat menulis. Jangan berorientasi pujian dalam mempublikasikan tulisan. Berorientasilah kepada kebermanfaatan dari setiap tulisan yang kita publikasikan.

Di masa wabah corona saat ini, media perlu dipenuhi dengan konten positif untuk membangkitkan semangat dan motivasi masyarakat. Maka tulislah berbagai konten positif, untuk mengajak bangkit dari keterpurukan.

Tulis saja untuk memberikan kebermanfaatan. Tidak peduli apakah tulisan kita dipuji atau dicaci, yang penting kita memiliki tujuan untuk menyebarluaskan kebaikan dan kebermanfaatan.

Sebab Ketiga, Karena Takut Respon Negatif

Ada orang yang takut respon negatif pembaca. Setelah selesai menulis, muncul rasa tidak percaya diri untuk mempublikasikan tulisan, karena takut dikritik pembaca. Takut dinilai negatif oleh publik. Ini yang menjadi beban, akhirnya menyebabkan tidak percaya diri untuk mempublikasikan tulisan.

Respon negatif itu tidak selalu kritikan atau celaan. Namun tidak ada yang like, tidak ada yang komen, tidak ada yang mampir ke blog, itu sudah dianggap sebagai respon negatif. Ketika diposting di sebuah grup chatting, hanya karena tak ada yang komentar, langsung tidak percaya diri. Ini yang sering saya sebut penulis baper.

Solusi

Jika Anda termasuk kelompok yang takut kritikan, abaikan saja likers dan haters. Fokuslah kepada tujuan dan proses menulis. Fokus kepada menyebar kebermanfaatan. Fokus kepada menyebarluaskan kebaikan. Fokus kepada menghasilkan karya, ketimbang memusingkan komentar pembaca.

Karena Anda punya hak untuk menyampaikan pendapat, pemikiran, keinginan, harapan, bahkan perasaan, melalui tulisan. Anda berhak menyebarkan kebermanfaatan secara luas melalui tulisan, meskipun ada pihak yang tidak suka. Abaikan saja mereka.

Sebab Keempat, Karena Berorientasi Kualitas Hasil

Sebab keempat adalah karena berorientasi pada kualitas tulisan yang bagus. Berpikiran instan, ingin hasil tulisannya langsung bagus. Langsung lancar menulis, langsung mahir menulis, langsung diterima di media massa.

Karena berorientasi hasil, maka saat melihat tulisannya belum bagus, menjadi tidak percaya diri untuk publikasi. Merasa malu karena kualitas tulisan yang belum sesuai harapan.

Solusi

Pahami menulis adalah proses. Mahir menulis, lancar menulis, produktif menulis adalah sebuah proses. Tulisan yang bagus adalah proses. Tak ada bagus yang instan, tak ada mahir yang instan. Semua memerlukan proses, dan proses memerlukan waktu.

Maka bersabarlah dalam berlatih menulis. Lakukan latihan menulis setiap hari dan postinglah hasil tulisan Anda. Semakin rutin Anda berlatih, semakin banyak peningkatan kualitas bisa Anda dapatkan.

Sebab Kelima, Karena Trauma Kegagalan

Anda pernah mengirim naskah ke koran atau majalah dan ditolak? Anda pernah mengirim naskah ke penerbit mayor dan ditolak? Itu biasa saja. Tidak perlu menjadi trauma, yang membuat rasa tidak percaya diri.

Empatbelas penerbit mayor menolak naskah Harry Potter karya JK Rowling. Bahkan novel pertama Stephen King ditolak 30 penerbit. Anda baru sekali ditolak, dan langsung trauma?

Solusi

Pahamilah bahwa ditolak media itu biasa saja. Ditolak penerbit juga biasa. Mana mungkin kita memaksa koran untuk selalu menerima tulisan semua orang? Mana mungkin kita memaksa penerbit mayor menerima semua naskah buku?

Semua penerbitan memiliki kriteria dan alasan. Penolakan tak selalu terkait dengan kualitas tulisan. Ada sangat banyak alasan untuk tidak menerima naskah dari penulis. Mereka sedang berbisnis, dan memiliki pertimbangan tentang bisnis yang seang dijalankan.

Jika ditolak, tulis saja lagi dan  kirim lagi. Jika ditolak lagi, tulis saja lagi, dan kirim lagi. Sampai semua media bosan menolak tulisan Anda. Biasa saja.

Selamat menulis. Selamat mempublikasikan tulisan.

PENGORBANAN UNTUK MENJADI PENULIS


.

Oleh : Cahyadi Takariawan

“Find time to write in between those special moments with your loved ones” – Jeff Goins

.

Ada saran sangat menarik dari Jeff Goins untuk para penulis, jangan korbankan keluargamu. “Don’t sacrifice your family”, ujar Goins, penulis buku The Art of Work.

Ia mengaku meniru kebiasaan novelis Jerry Jenkins yang menulis semua bukunya –lebih dari 100 buku, ketika anak-anaknya di sudah tidur. Maka Goins menulis pada waktu larut malam, antara pukul 10 malam hingga pukul 2 pagi.

Tentu saja rutinitas seperti ini memerlukan disiplin dan pengorbanan tinggi. Goins menyatakan tidak ada projek penulisan buku yang boleh mengorbankan kehangatan bersama keluarga. Maka ia menyarankan agar menjaga keseimbangan semua sisi.

Anda bisa menulis buku di sela-sela momen istimewa bersama keluarga. Mungkin malam hari, mungkin dini hari Pada beberapa ibu rumah tangga justru memilih waktu menulis menjelang siang, saat semua anak telah di sekolah dan suami telah di tempat kerja.

Apa yang Harus Dikorbankan?

Lalu, apa yang harus dikorbankan? Colleen M. Story (2018) menyatakan, ada lima hal yang harus dikorbankan oleh penulis.

  • Mengorbankan Waktu

Penulis harus rela berkorban waktu. Bukan hanya waktu untuk belajar dan waktu untuk menulis, namun juga waktu untuk mencapai sukses. Para penulis hebat, tidak muncul secara tiba-tiba. Semua memerlukan proses, dan proses selalu memerlukan pengorbanan waktu.

Para penulis yang konsisten menulis setiap hari, akan mencapai produktivitas optimal setelah melalui waktu bertahun-tahun. Menurut Colleen, pada beberapa tahun pertama menjadi penulis, “Anda merasa seperti tidak ke mana-mana”. Seakan Anda hanya berjalan di tempat.

Namun dengan konsistensi dan mengorbankan waktu, Anda akan mencapai produktivitas dan bahkan popularitas tertentu dalam dunia tulis menulis. Anda akan memiliki segmen setia, jika Anda bersedia mengorbankan waktu untuk rutin menulis.

  • Mengorbankan Harta

Colleen menyatakan, penulis harus bersedia mengorbankan harta. Misalnya untuk biaya pembelajaran, biaya membeli buku, atau untuk membeli perlengkapan menulis. Sebab, kelancaran dan produktivitas menulis juga dipengaruhi oleh sarana yang mendukung.

Ketika Anda menulis buku untuk penerbitan indi, Anda juga memerlukan modal awal. Sejak biaya pracetak, seperti editing, layout, serta pembuatan cover. Hingga biaya penerbitan buku serta pemasaran.

Colleen juga mengingatkan, bahwa untuk tahun pertama, bisa jadi Anda harus mengeluarkan uang lebih banyak daripada yang Anda hasilkan. Misalnya, buku pertama belum laris. Maka harus sabar untuk mendapat ‘kembalian’ dan keuntungan dari buku-buku setelahnya.

  • Mengorbankan Keinginan untuk Melakukan Semua Hal

Sangat banyak keinginan yang ingin kita capai dalam kehidupan. Ingin belajar menjadi chef, ingin belajar melukis, ingin bisa fotografi, ingin menjadi atlet handal, ingin pandai menjahit, ingin unggul dalam public speaking, ingin juara dalam marketing, dan lain-lain.

Sangat banyak keinginan dalam hidup. “Aku ingin begini, aku ingin begitu, banyak sekali”, ujar Nobita. Saat mulai terjun dalam projek pembuatan buku, kita harus mengorbankan beberapa keinginan.

Harus ada prioritas. Tak semua dalam hidup bisa kita dapatkan. Jika telah meniatkan diri untuk menjadi penulis produktif, pilih beberapa kegiatan yang bisa berjalan beriringan. Harus rela mengorbankan beberapa keinginan yang tak bisa didapatkan.

  • Mengorbankan Kesenangan Sesaat

Ada sangat banyak kesenangan yang ingin kita dapatkan di setiap waktu. Misalnya ingin jalan-jalan ke pantai, ke mal, atau ke taman wisata. Ingin sering menonton fim, atau menghadiri konser, atau jalan-jalan kuliner.

Namun ketika sudah berada dalam mode menulis, ‘kesenangan sesaat’ seperti itu harus dikorbankan. Meski ada film sangat bagus yang tengah rilis, harus rela tidak ikut nonton pada prime time. Karena sudah terpatok oleh jadwal menulis.

Ada teman yang mampir ke rumah mengajak makan malam keluar, harus dikorbankan ketika telah berada dalam jadwal rutin menulis. Kesenangan seperti itu bisa ditunda lain kali. Bikin janjian baru, yang tidak melanggar jadwal menulis.

Colleen menyatakan, “Jika Anda ingin sukses dalam jangka panjang, harus bersedia menunda kepuasan. Menulis itu seperti lari jarak jauh”.

  • Mengorbankan Zona Nyaman

Penulis harus bersedia mengorbankan zona nyaman. Saat proses menulis, dirinya asyik ‘bersembunyi’ untuk menyelesaikan projek buku. Segala kesulitan diatasi demi segera selesainya penulisan buku.

Setelah selesai menulis, ternyata harus belajar mengedit tulisan sendiri. Harus cermat, teliti, membaca ulang berkali-kali. Ini memerlukan sikap mental yang berbeda dengan proses menulis.

Selesai editing, Anda harus berpikir melakukan layout dan membuat desain cover –atau menyerahkan kepada pihak profesional. Selanjutnya Anda harus mencari penerbit handal.

Setelah buku masuk penerbit, Anda mulai berpikir tentang pemasaran dan penjualan buku. Rupanya situasi dan kondisi selalu berubah setiap waktu. Penulis tidak bisa berada di zona nyaman.

Tom Venuto menyatakan, bahwa manusia cenderung menghindar dari perubahan karena sering kali terasa menyakitkan. “Begitu Anda meninggalkan zona nyaman, Anda mengalami rasa sakit karena kehilangan kenyamanan”, ujarnya.

Venuto mengingatkan bahwa semua perubahan positif terjadi di luar zona nyaman, meskipun perubahan itu menyakitkan. “Inilah alasan mengapa banyak orang gagal untuk maju dan sukses. Karena tidak mau menanggung rasa sakit akibat perubahan”, ujar Venuto.

Anda siap menjadi penulis sukses? Berkorbanlah.

Bahan Bacaan

Colleen M. Story, 5 Sacrifices You Have to Make to be a Successful Writer, www.writingandwellness.com, 28 Mei 2018

Jeff Goins, How Busy Writers Can Stay Productive & Keep Their Sanity, www.goinswriter.com 

MEMBANGUN KEJUJURAN LITERASI

 


.

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

“Saya tidak suka menulis nonfiksi, karena harus mencantumkan daftar pustaka. Saya tidak suka repot dengan mencari kepustakaan, maka saya menulis fiksi yang tidak perlu daftar pustaka”. Ungkapan seperti ini sering saya jumpai di berbagai kelas menulis.

Pertama harus diluruskan dulu pemahaman bahwa fiksi tidak perlu daftar pustaka, kalau nonfiksi harus dengan daftar pustaka. Ini cara pandang yang tidak tepat. Mencantumkan daftar pustaka atau tidak dalam tulisan, bukan berdasarkan jenis fiksi atau nonfiksi.

Baik tulisan fiksi maupun nonfiksi, berlaku ketentuan yang sama. Bisa mencantumkan daftar pustaka, bisa pula tidak menggunakan daftar pustaka. Ada yang memerlukan referensi, ada pula yang tidak memerlukan referensi.

Ada cerpen yang harus mencantumkan daftar pustaka, ada pula cerpen yang tidak perlu daftar pustaka. Demikian pula ada tulisan opini yang harus mencantumkan daftar pustaka, ada yang tidak perlu daftar pustaka.

Alasan Pencantuman Sumber Referensi

Daftar pustaka atau sumber referensi dicantumkan, adalah bagian dari kejujuran literasi. Bagian dari pertanggungjawaban ilmiah. Bagian dari pengakuan dan penghormatan atas karya orang lain.

Ketika merujuk atau mengutip karya, pendapat, dan data dari pihak lain dalam tulisan kita, maka harus mencantumkan sumber rujukannya. Misalnya, saya membuat cerpen yang menceritakan kehidupan seorang penyintas kanker. Ketika saya mengutip pendapat ahli kesehatan terkait jenis kanker tersebut, maka saya harus mencantumkan sumber rujukannya.

Jika saya tidak mencantumkan sumber rujukan, padahal jelas-jelas saya merujuk atau mengutip, maka saya telah melakukan plagiat. Pendapat orang lain saya akui sebagai pendapat pribadi saya. Ini plagiat, yang merupakan tindakan tercela, sekaligus melanggar hukum.

Saya tidak bisa beralasan, “Ini kan tulisan fiksi, jadi tidak perlu menuliskan referensi”. Lagi-lagi, perlu referensi atau tidak, bukan dilihat dari jenis tulisan –fiksi atau nonfiksi. Namun dari aktivitas yang kita lakukan, mengambil rujukan / kutipan atau tidak.

Jika ada bagian dalam tulisan kita yang merujuk atau mengutip tulisan, pendapat atau data orang lain, maka harus kita cantumkan sumber rujukannya. Mungkin kita mengambil dari internet, mungkin dari buku, koran, majalah, atau jurnal. Mungkin kita mendapatkan dari wawancara, atau dari suatu forum kajian, seminar, majelis taklim, dan berbagai bentuk forum lainnya.

Hindari Plagiat

Jika saya mengatakan, “Yogya terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan”, tanpa menyebutkan sumber rujukan, maka saya telah melakukan plagiat. Mungkin kalimat itu saya gunakan untuk memperindah tulisan novel, cerpen, opini, artikel atau esai. Karena frasa tersebut sangat indah.

Namun itu bukan kalimat saya. Ungkapan “Yogya terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan” adalah milik sastrawan Joko Pinurbo. Di manapun saya meletakkannya, bahkan jika saya letakkan dalam sebuah gambar atau poster, tetap saja itu kalimat milik Joko Pinurbo.

Saya harus menulis pemilik kalimat ini, sebagai bentuk pertanggungjawaban. Tanpa menuliskannya, maka saya telah melakukan plagiat. Seakan-akan itu kalimat saya. Padahal jelas bukan karangan saya.

Ketika saya bertemu hujan, saya suka menuliskan, “tahukah kamu lelaki paling tak berperasaan di bumi? Dialah yang jauh dari kekasih saat hujan tapi tak menulis satu pun puisi”. Di manapun saya meletakkan frasa ini, harus mencantumkan pemiliknya.

Tanpa menyebut Sujiwo Tejo sebagai pemilik frasa tersebut, maka saya telah melakukan plagiat. Seakan saya yang telah menciptakan kalimat indah tersebut. Padahal itu kalimat karangan Sujiwo Tejo.

Tentang teknik mencantumkan sumber rujukan, itu urusan lain. Ada banyak cara dan banyak pilhan menuliskannya. Namun nomer satu, harus mengedepankan kejujuran ilmiah dan kejujuran akademik. Bahwa jika kita mengambil pendapat, karangan, karya, data pihak lain –sebagian ataupun seluruhnya—harus kita cantumkan sumber rujukannya.

Inilah tekad kita dalam membangun kejujuran literasi. Selamat menulis.

MENGATASI ENAM KEBUNTUAN MENULIS

 


.

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Buntu. Blank. Tidak mengerti lagi mau menulis apa. Anda pernah merasakan kondisi seperti itu?

Kebuntuan menulis, sangat banyak dialami oleh para penulis. Sudah membuka laptop, sudah menentukan tema, sudah memulai menulis, namun baru mendapatkan beberapa paragraf, mendadak buntu. Tidak bisa meneruskan lagi tulisannya. Akhirnya memilih menutup laptop.

Kondisi ini yang membuat seseorang tidak pernah menghasilkan karya tulis seumur hidupnya, karena tulisannya tidak pernah selesai. Alasannya, karena buntu di tengah proses menulis, sehingga tidak bisa meneruskan menulis. Tiap menulis, tidak pernah selesai, selalu buntu.

Bagaimana mengatasi kebuntuan dalam menulis? Yang sangat penting adalah, kenali tipe kebuntuan Anda, agar bisa menemukan solusi yang tepat. Mari kita bedah jenis-jenis kebuntuan dalam menulis.

Enam Jenis Kebuntuan dalam Menulis

Dari pengalaman belajar menulis bersama para peserta KMO, saya menemukan paling tidak ada enam jenis kebuntuan dalam menulis.

Pertama, Buntu karena Kehabisan Ide

Ini jenis pertama dari kebuntuan menulis. Buntu, karena kehabisan ide. Tidak tahu lagi akan menulis apa, karena ide yang ada sudah dituliskan semua.

Misalnya, punya ide untuk menulis tentang “Mendidik Anak di Masa Pandemi”, kemudian mulai menuangkan ide ke dalam tulisan. Di tengah menulis, buntu, karena tidak tahu lagi sisi apa yang harus ditulis.

Solusi

Solusi untuk buntu karena kehabisan ide, tentu saja adalah dengan mencari ide. Tapi, bagaimana cara mencari ide? Sangat banyak caranya.

  1. Baca buku karya orang yang ahli di bidangnya, untuk mendapatkan ide guna meneruskan tulisan Anda
  2. Baca artikel yang temanya sama dengan yang tengah Anda tulis, bisa Anda dapatkan di web atau blog, atau di majalah dan koran
  3. Mengobrol dengan teman yang memiliki kompetensi pada tema tersebut, minta pendapat serta masukan

Cara-cara di atas, bukan untuk menjadikan bacaan tersebut sebagai referensi, tetapi sebagai cara memunculkan ide setelah buntu. Jadi, membaca buku atau artikel untuk mendapatkan inspirasi, mendapatkan ide yang bisa dituliskan berikutnya.

Kedua, Buntu karena Kehabisan Bahan

Jenis buntu yang kedua adalah karena kehabisan bahan atau referensi. Ide masih banyak banget, tapi tidak punya bahan atau data atau referensi.

Misalnya, menulis tentang “Mendidik Anak di Masa Pandemi”, lalu sampai pada bagian yang mengulas tentang Pola Asuh Anak. Anda merasa harus merujuk kepada pendapat ahli, apa saja yang menjadi pola asuh anak, karena Anda tidak punya bahannya.

Karena Anda tidak tahu apa saja Pola Asuh Anak secara akademis, maka menjadi buntu. Anda tidak bisa meneruskan menulis, kecuali Anda sudah mendapatkan referensinya. Tidak mungkin tema seperti itu dikarang sendiri, karena jelas sudah banyak rujukan teorinya.

Bisa jadi Anda memerlukan data tertentu, seperti jumlah siswa di wilayah tempat Anda tinggal yang mengalami kesulitan belajar jarak jauh. Data seperti ini tidak mungkin dikarang sendiri. Harus berdasarkan survei yang terpercaya.

Solusi

Jika buntu karena kehabisan bahan, berhentilah menulis untuk mencari referensi atau bahan. Caranya sangat banyak dan variatif, tergantung bahan atau referensi apa yang Anda perlukan.

  1. Datang ke perpustakaan, cari data atau buku atau referensi yang dibutuhkan, sesuai tema yang sedang Anda tulis
  2. Lakukan browsing menggunakan mesin pencari, untuk mencari data yang Anda perlukan. Pastikan Anda hanya mengakses dan mengambil data dari lembaga, instansi yang kredibel. Jangan mengambil dari sembarangan web.
  3. Menghubungi secara langsung pihak terkait, yang memiliki akses data, seperti BPS, Pemda, atau lembaga-lembaga terkait.

Ketiga, Buntu karena Terjebak Mengedit Saat Menulis

Proses menghasilkan karya tulis, secara umum terbagi menjadi tiga bagian. Bahian pertama adalah proses kreatif menuangkan ide ke dalam tulisan. Ini yang disebut sebagai menulis.

Bagian kedua, proses mengedit tulisan. Ini adalah proses memeriksa agar tidak ada isi yang salah, atau agar sesuai dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) dan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Bagian ketiga, proses kreatif menghias tulisan, membuat agar keseluruhan tulisan menjadi lebih baik dan menarik. Enak dibaca, mengalir, dan membuat pembaca nyaman.

Nah, yang mudah membuat buntu –terutama bagi penulis pemula—adalah ketika ketiga proses itu dicampur aduk. Baru menulis tiga paragraf, lalu mengedit. Merasa tulisannya kurang bagus, lalu bingung bagaimana cara memperbaiki tulisan. Ini tiga proses dilakukan sekaligus, yaitu menulis, mengedit dan menghias tulisan. Akhirnya buntu dan tidak melanjutkan menulis.

Solusi

Jika kebuntuan terjadi karena terjebak mengedit saat menulis, maka Anda harus melakukan hal-hal berikut.

  1. Berhentilah mengedit, dan fokuslah menulis
  2. Pisahkan aktivas menulis dengan mengedit dan menghias tulisan
  3. Selesaikan dulu tulisanAnda, baru Anda melakukan proses editing, dan nantinya menghias tulisan agar lebih bagus, sebelum diposting.

Keempat, Buntu karena Kurang Persiapan

Di antara penyebab kebuntuan menulis adalah karena kurang persiapan sebelum menulis. Apa saja persiapan sebelum menulis? Di antaranya adalah menyiapkan tema yang jelas, membuat outline / kerangka tulisan, atau plot cerita untuk fiksi.

Semakin jelas kerangka dan plot tulisan, semakin mudah untuk menuangkan ke dalam tulisan. Namun jika tidak menyiapkan kerangka, mudah mengalami kebingungan di tengah menulis. Akhirnya tidak bisa meneruskan proses menyelesaikan tulisan.

Solusi

Jika Anda buntu karena kurang persiapan, bisa Anda coba lakukan beberapa alternatif solusi berikut ini.

  1. Buatlah kerangka tulisan, walaupun Anda sudah mulai menulis setengah bagian. Ini untuk menghindari peluang kebuntuan berikutnya.
  2. Yang paling ideal adalah membuat perencanaan yang matang, baik dari segi tema, bahan, maupun kerangka / plot tulisan

Beberapa penulis terbiasa melakukan persiapan dengan sangat serius, misalnya dengan survei lokasi yang menjadi setting cerita. Termasuk melakukan survei sosial menggunakan metode survei akademik. Ini contoh kesungguhan dalam merencanakan sebuah tulisan.

Kelima, Buntu karena Menulis yang Bukan ‘Pilihannya’

Sebagian mengalami kebuntuan karena berada pada rimba yang “bukan habitatnya”. Seorang penulis nonfiksi bisa mengalami kebuntuan saat harus menulis kisah fiksi. Seorang penulis fiksi bisa mengalami kebuntuan saat harus menuliskan artikel nonfiksi. Itu karena memasuki kawasan yang bukan pilihan dirinya.

Ada penulis yang mampu melahirkan karya sama baiknya antara fiksi dan nonfiksi. Sementara sebagian besar hanya memiliki kemampuan salah satu jenis saja. Maka ketika spesialis fiksi diminta menulis nonfiksi, akan berpeluang menemukan kebuntuan. Sebaliknya ketika spesialis nonfiksi diminta menulis fiksi, akan mudah mengalami kebuntuan.

Solusi

Untuk contoh kebuntuan ini, saya hanya memiliki saran sederhana saja.

  1. Selesaikan semampunya, karena berada pada wilayah yang bukan pilihannya
  2. Jika memang memiliki spesialisasi –fiksi atau nonfiksi—lebih baik fokus kepada yang menjadi spesialisasinya. Karena itu adalah pilihan ‘habitatnya’.

Keenam, Buntu karena Kejenuhan

Kadang, seseorang menulis sudah dalam siatuasi lelah. Baik lelah karena terlalu lama menulis, ataupun menulis dilakukan pada kondisi fisik dan mental yang sudah sangat lelah.

Dalam situasi kelelahan seperti ini, muncullah kejenuhan. Dan jika kejenuhan sudah muncul, maka akan muncul kebuntuan. Buntu, tidak bisa meneruskan menulis lagi, saking lelahnya.

Solusi

Jika mengalami kebuntuan akibat kelelahan atau kejenuhan, solusinya adalah sebagai berikut.

  1. Hentikan menulis, beristirahatlah. Tubuh kita memiliki ambang batas kemampuan.
  2. Jika kejenuhan ringan, bisa istirahat sejenak, dengan minum, makan cemilan, mendengarkan murottal, shalat sunnah, mendengarkan musik, refreshing keluar ruang, atau olah raga.
  3. Namun untuk kejenuhan yang sudah dosis tinggi, tidak ada cara lain, kecuali dengan tidur. Besok pagi tulisan dilanjutkan lagi dalam keadaan sudah fresh.

Selamat menulis, dan selamat mengatasi kebuntuan.

MENGUBAH CURHAT MENJADI TULISAN LEZAT

 


.

Oleh : Cahyadi Takariawan

“I find writing to be emotionally calming” – Barton Goldsmith (2015)

.

Dunia kita saat ini sudah sangat maju secara teknologi. Namun kemajuan teknologi tidak selalu bermakna kebaikan dalam kehidupan. Kadang justru sebaliknya.

Saat manusia diperbudak oleh teknologi. Saat itu teknologi telah mengendalikan kehidupan manusia. Padahal semestinya manusia mengendalikan teknologi. Dampaknya, hadirlah sangat banyak kelelahan dalam kehidupan.

Di titik ini, kadang manusia harus kembali ke cara-cara ‘tradisional’ dalam menyelesaikan permasalahan kehidupannya. Julia Cameron, misalnya, ia mengajak manusia modern untuk tidak selalu bergantung dengan teknologi.

Curhat dengan “Morning Pages”

Penulis buku “The Artist’s Way, Morning Pages Journal” itu merekomendasikan agar Anda memiliki kebiasaan “morning pages.” Yang dia sebut sebagai morning pages adalah Anda menulis setiap pagi dengan tulisan tangan. Bukan menulis melalui gadget, laptop atau komputer.

Siapkan kertas dan pulpen, dan menulislah setiap pagi hari. Ini untuk membuat suasana jiwa menjadi lebih baik. Menuliskan semua ketidaknyamanan, beban yang menekan, serta masalah yang menghimpit. Ini adalahaktivitas curhat yang dilakukan secara mandiri.

Dengan ditulis menggunakan pulpen dan kertas, suasana jiwa akan lebih nyaman dan tenang. Seakan semua beban telah dicurahkan melalui tulisan. Biasanya curhat dilakukan dengan mengobrol dan bercerita kepada seseorang, dengan morning pages aktivitas curhat dilakukan melalui tulisan tangan.

Namun cara seperti ini menurut Barton Goldsmith (2015) “tidak akan berhasil untuk semua orang”. Artinya, ini hanya salah satu teknik saja. Mungkin cocok untuk sebagian orang, dan tidak cocok untuk orang lainnya.

Healing dengan ‘Gratitue Journal’

Barton mengajukan alternatif teknik lainnya, dengan “gratitue journal”. Tentu saja ini juga hanya salah satu teknik. Bisa cocok untuk sebagian orang dan tidak cocok untuk sebagian yang lain.

Yang dimaksud dengan “gratitue journal” adalah menuliskan rasa syukur. Setiap malam, sebelum tidur, Anda menuliskan tiga sampai lima hal yang Anda syukuri. Namun Anda tidak boleh menuliskan hal yang sama setiap hari. Untuk itu Anda harus menelisik secara jujur, hal apakah yang memberikan Anda rasa syukur.

Menurut Barton, latihan ini mungkin tampak sederhana. Namun karena Anda melakukannya sebelum tidur, maka rasa syukur masuk ke alam bawah sadar Anda. Dalam beberapa minggu setelah melakukan “gratitue journal”, banyak orang mengaku memiliki kehidupan yang lebih positif.

Cara ini bisa membantu untuk mengurangi kepedihan emosional, karena Anda merasa lebih nyaman dan percaya diri dalam kehidupan. Sekaligus akan membawa lebih banyak emosi positif dari orang-orang di sekitar Anda.

Menulis untuk Pelepasan Beban

Baik ‘morning pages’ maupun ‘gratitue journal’, keduanya adalah bentuk healing. Maka isinya sangat mungkin berupa hal-hal yang sangat pribadi, dan merupakan aib untuk diketahui orang lain.

Mungkin saja seorang perempuan akan menulis pada morning pages-nya kalimat-kalimat berikut.

“Aku sangat kecewa. Ternyata dia masih terus jalan dengan selingkuhannya. Sudah janji berkali-kali tidak akan ketemuan lagi dengan cewek itu. Nyatanya masih sering tidur di hotel bareng dia”.

Mungkin saja seorang laki-laki akan menulis pada ‘gratitue journal’, kalimat-kalimat gratitue berikut.

“Syukurlah istriku tidak tahu kalau aku masih sering tidur bareng sama si doi. Dia hanya tahu kalau aku masih chating. Hanya sebatas itu. Untung saja semua bukti hotel sudah aku lenyapkan”.

Kalimat-kalimat seperti itu sangat pribadi. Tidak patut untuk diekspos ke publik. Akan membuka aib keluarga, dan membuat semakin runyam masalah.

Oleh karena ‘morning page’ dan ‘gratitue journal’ adalah proses healing, maka hanya untuk pelepasan beban, katarsis dan relaksasi. Bukan untuk dipublikasikan. Bukan untuk konsumsi publik.

Mengubah Curhat Menjadi Tulisan Lezat

Mungkinkah tulisan yang bercorak healing itu dipublikasikan? Sangat mungkin. Namun memerlukan proses editing yang teliti.

Sebuah curhat tentang kondisi diri dan keluarga, bisa diolah menjadi tulisan fiksi maupun nonfiksi yang menyentuh hati. Karena ditulis dengan ketajaman emosi, ditulis sepenuh (luka) hati.

Sangat banyak novel dan buku-buku laris, ditulis dari penderitaan. Dari pelepasan beban. Namun pembaca tidak tahu bahwa kisah itu adalah curhat pribadi. Karena telah diolah sedemikian rupa menjadi energi positif yang menginspirasi.

Bagaimana cara mengolah curhat menjadi tulisan yang lezat memikat? Tunggu postingan berikutnya.

Bahan Bacaan

Menulis untuk Menyiapkan Generasi Literasi Masa Depan

   RUANGMENULIS    4 SEPTEMBER 2022  3 MIN READ   Oleh: Eli Halimah “ The youth today are the leader tomorrow” Ungkapan di atas artinya, “Pe...